Friday, July 15, 2016 0 comments

Diary July 15, 2016

Sesaat, waktu berputar, begitu pikirku. Selangkah lagi hingga tiba pada persimpangan jalan. Mengedarkan pandangan ke kiri dan kekanan, memastikan sesuatu sudah berjalan sebagaimana mestinya. Setelah tenggelam di kedalaman tak terhingga, tanpa sedikitpun cahaya matahari yang menembus lapisan-lapisan, hanya terisi penuh oleh kegelapan, sepercik cahat mengilat. Meraung sesak karena pupusnya harapan. 

Ku lihat kembali ujung sepatuku, dan kembali mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, ternyata semuanya masih sama. Papan nama itu, dedaunan kering berserakan, desir tangisan di mana-mana, terik matahari musim panas, dan sepasang gelang anyaman menggantung pada kedua tangan. Sempat berpikir keajaiban tiba. Faktanya, aku tidak pernah berjalan.

Bibirku terjahit teramat rapat. Berlomba dengan keheningan pada setiap keramaian. Apa yang terucap tak lebih dari dusta. Bersembunyi anggun di balik koleksi topeng yang terpajang rapi pada dinding kamar.

Aku melangkah tak bersuara. Angin-angin kecil menghempaskan dedauan di sekitarku. Setelah ku tinggalkan untuk beberapa saat, tempat ini masih elok. Pemandangan kota ini masih menjadi yang terbaik dalam hati. Orang-orang yang sibuk berbagi keluh kesah kehidupan, mencoba menceritakan segalanya pada daun gugur, berharap kenangan buruk itu terbawa hanyut oleh sentilan angin. Tapi memori terakhir pada tempat ini hanyalah kita berdua yang tahu, dan aku tak ingin hal itu untuk dibawa pergi, walau Tuhan sekalipun.



 
;