Saturday, October 22, 2016 1 comments

Diary October 22, 2016

Sekarang aku sedang bernostalgia kembali dengan manga-manga lama yang sudah pernah kubaca sebelumnya. Tak hanya alunan nada yang bisa menyimpan memori, semua hal bisa mengantongi kenangannya masing-masing. Jujur saja, saat aku membacanya, pikiran ini seperti dibawa terbang kembali pada masa itu. Walaupun aku sudah tahu jalan ceritanya akan berjalan seperti apa, namun itu tidak masalah. Membacanya kembali hanya cara sederhanaku untuk bisa merasakan kembali setangkai kenangan yang terlupa.

Kala itu aku memutuskan untuk cuti kuliah selama setahun. Selama cuti kuliah, aku tidak berkeinginan sama sekali untuk pulang ke tempat asal. Aku lebih memilih untuk tinggal di sini sampai libur semester genap dimulai. Dan saat itu juga adalah masa di mana aku baru-baru saja putus dengan pacarku. Kenangan tersebut juga termasuk di dalamnya, ditambah pula hal itu terjadi karena kebodohanku sendiri. Tak ada kata selain 'idiot' untuk mendeskripsikan diriku pada waktu itu. 

Andai saja mesin waktu itu nyata, akan kuperbaiki semuanya. Lalu, semenjak itu aku sadar, kehilangan seseorang membuatku lebih menghargai betapa spesialnya waktu seseorang yang telah diberikan kepada kita tiap momennya. Pikirku dulu waktuku dengannya tak terbatas. Namun ternyata tidak.

Tak lama setelah kejadian itu, pola hidupku berubah berantakan. Satu harian ku habiskan mengurung diri di kamar, atau mengajak beberapa teman pergi keluar untuk bermain paket malam di warnet hingga pagi, menonton serial film hingga tamat, membaca manga-manga romance ataupun tragedy, dan melakukan hal apapun itu selama bisa mendistraksi kekacauan jasmani yang tak terlihat tersebut. Perputaran itu terus berjalan dalam kurun waktu yang cukup lama. 

Hingga suatu hari, diri ini tak sanggup lagi melarikan diri dari kenyataan. Tiap gelisah, geram, sedih, takut, cemas, khawatir, dan sesal yang terpendam mendobrak paksa untuk keluar. Pada akhirnya air mataku jatuh. Tak kuasa lagi menahan apa yang seharusnya dikeluarkan. Ku tarik selimut dan mulai membungkus diriku ke dalamnya. Pikiranku melayang entah ke mana. Aku tak bisa melakukan apapun selain menangis. Untuk kedua kalinya aku menangisi dirinya. 

Masih dengan mata sembab, dan suara parau, aku mencoba meraih handphone ku. Ku telepon ibuku saat itu. Seperti biasa ibuku selalu cepat mengangkat teleponnya. Saat itu aku mengatakan bahwa aku memutuskan untuk pulang, dan kembali lagi ke Jogja saat liburan semester genap selesai. Ibuku menyetujuinya tanpa bertanya.

Aku terbang ke Bali seminggu kemudian. Di bandara aku dijemput oleh ibuku, beserta keluarga kecil kakak perempuanku. Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat sedikit perubahan terjadi selama aku pergi ke Jogja. Banyaknya kios-kios baru yang mengisi pinggiran jalan yang sebelumnya kosong. Sistem lalu lintas yang mulai banyak diperbaharui. Asrama polisi yang awalnya kumuh menjadi megah. Dan kurang lebih sisanya masih sama.

Selama di sana, aku tidak merasakan ada perbedaan yang terjadi ketika aku masih di Jogja. Pelarianku terasa sia-sia. Kekosongan dalam diri ini makin membentang luas. Segala upaya telah ku lakukan untuk menyingkirkan anomali ini. Termasuk menghindari segala tempat dan hal yang mungkin bisa membangkitkan kenangan. Sesekali aku berpergian dengan kawan lama ke suatu tempat untuk menghilangkan penat. Pernah juga aku mengunjungi sekolahku dulu untuk melihat keadaan adik-adik kelasku yang saat itu menjadi pengurus organisasi siswa, bertanya apakah ada masalah yang terjadi di dalam sekolah atau tidak. Setelah mendengarkan cerita mereka, sungguh menyenangkan bagiku melihat orang-orang yang dulu pernah ada di sekitarku tumbuh dan berkembang begitu pesat. Itu cukup membuatku iri.

Hal yang paling menyebalkan di antara mereka semua adalah, baik teman-temanku maupun adik-adik kelasku yang kutemui pada saat itu, mereka secara serentak mempertanyakan satu pertanyaan yang sama, "Apakah kamu masih sama dia?" Pertanyaan itu perlahan-lahan sedikit menyiksa. Tiap berpapasan seorang kenalan yang tau hubungan kami, mereka selalu melontarkan pertanyaan itu. Ini sedikit tidak adil, kenapa hanya aku yang harus menjawab pertanyaan itu semua. Lalu, ketika ditanya lagi apa alasan kami berpisah, aku hanya menjawab bahwa tujuan kami sudah berbeda. Sesederhana itu.

Aku tidak mempunyai kesibukan pasti di sini. Terkadang aku membantu bisnis orang tuaku jika diperlukan. Setelah itu selesai, aku kembali lagi pada putaran-putaran kehidupan yang monoton itu. Anehnya, semenjak aku putus, aku kini menyukai dan selalu membaca cerita-cerita yang berbau love tragedy, ataupun drama slice of life. Riwayat browserku penuh dengan rekomendasi manga apa saja yang terbaik dan pas untuk dibaca. Awalnya aku tidak terlalu suka membaca komik lewat internet, aku lebih memilih untuk membeli bukunya. Selain lebih nyaman untuk dibaca, buku-buku tersebut bisa mempercantik rak bukuku. Berhubung komik yang sedang ku cari selalu tak tersedia di toko buku, terpaksa aku membacanya lewat internet.

Salah satunya ialah Kimi no Iru Machi, jika diartikan dalam bahasa inggris menjadi A Town Where You Live. Garis besar ceritanya cukup klise, namun alur ceritanya menarik. Tak hanya tokoh utama saja yang berkembang, namun side character-nya pun juga ikut tumbuh di sana. Membuat kita seperti ikut juga mengalami kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya. Kesedihan dan kebahagiaan yang dituangkan sang mangaka berhasil merasuki pembacanya yang satu ini. Fantasiku jatuh berlebihan karenanya. Bagi yang baru saja kehilangan seseorang, membiarkan imajinasi melayang karena cerita seperti ini, sedikit membuatku nyaman. Aku bisa hidup dalam karakter fiktif itu tanpa mengganggu realitas, dan menikmati akhir cerita yang bahagia sesuka hati.

Pada pertengahan februari aku harus kembali lagi ke Jogja untuk mengurus perpindahan ke kampusku yang baru. Memang masih sering aku terngiang-ngiang kenangan masa-masa itu. Tapi aku masih bisa mengatasinya sampai sekarang.

Berbaikan dengan masa lalu ternyata hal yang sulit.

Wednesday, October 19, 2016 0 comments

Diary October 19, 2016

How much more i have to lose? Tell me, do you know how much pain i must endure? Just to see your face once again.

Why the seasons keep changing? Yesterday i had a dream. I can't even remember what was that dream. But, the memories coming trough from inside. Make me miss that time. The time when we fooling around. All those moments whenever we argued back there, i always just let you have it your way. Seems stupid, but your selfish nature made me love you even more. What kind of spell did u cast on me? 

I was stopped by memories. I cannot choose my next destination. It doesn't matter where i am is, but i can't help but look for you everywhere. On the station platform, in the alley windows, even though i know you couldn't be at such a place. Never thought i would wish upon a star, i just want to be there by your side. There would be nothing i can't do, i will risk everything just to embrace you.

If i just wanted to distract my loneliness, i should be happy with everyone. But it's not, everything so wrong when you're not around. The stars are hanging by a thread tonight, and i can't lie with myself anymore. Oh seasons, please don't change. I'm still missing the times, The times that we shared as one. I'm always searching for your figure to appear somewhere, at the intersection, in the middle of my dream, knowing there is no way you would be there.

If there is a miracle, i would show it to you right now, the new morning, the new me. I'd tell you what i couldn't say before, "I love you."

Incapable of words, frozen in place, i had lived roughly. The buildings by the road, the broken streetlamps, at the street corner, i'm still hoping for you to appear somewhere. It's not you, the fault lies with me. For unable to hide my own intensity.
Friday, October 14, 2016 0 comments

Diary October 14, 2016

Tak terasa sebentar lagi penghujung tahun tiba. Dengan itu genap sudah aku bergelut dalam kesendirian selama dua tahun. Terkadang ada suatu masa di mana aku merindukan melakukan hal-hal kecil itu. Menggelikan rasanya jika mengingat terlalu dalam bagaimana momen-momen bodoh itu terjadi. Bahkan secara teratur memori-memori itu muncul kembali, baik bulanan, maupun mingguan. Déjà vu berkepanjangan yang entah kapan akan berakhir.

Jika Sang Penjaga Waktu mengizinkan untuk memutar kembali pendulumnya, mungkin aku akan memilih untuk tidak berada di sana saat itu, lebih baik hari itu tak kugenggam ponsel ini, apakah segalanya berubah jika hari itu aku lebih memilih untuk tak menghubunginya? Apa yang akan terjadi? Mungkin aku yang sekarang akan lenyap, digantikan sosok baru yang telah lama menjadi jati diriku yang sebenarnya. Begitulah seharusnya.

Walau begitu, rasanya sudah terlalu banyak aku mengumpat pada waktu. Untuk sekarang, yang ada hanyalah ada. Terima segala kenyataan, dan melangkah seakan hari esok adalah hari terakhir. Klise bukan?





Thursday, October 6, 2016 0 comments

Diary October 6, 2016

Ku tulis catatan ini pada pukul dua dini hari, ketika saat-saat di mana perut mendapati dirinya kelaparan tengah malam, dan mata tak kunjung padam berkobar. Hujan mengiriku sembari angin semilir masuk melalui lubang ventilasi kecil yang terdapat di pojok ruangan. Dengan menggunakan boxer yang sejak SMP ku beli dan masih tetap ku gunakan, beserta sehelai singlet yang melapisi tubuh, tak ubahnya membuat ruangan ini menjadi sejuk. Panas tetap mengudara tampaknya.

Sampai saat ini, aku menulis blog hanya saat "ingin" itu tiba. Baik secara spontan maupun terencana. Apapun isi di dalamnya, tak lebih dari sekadar omong kosongku belaka. Bukan berarti kosong dalam arti sesungguhnya, namun hanya sontakan liar yang mencuat ketika tak terbendung lagi untuk ditahan. Tak ada keterkaitannya pada suatu medium. Sejenak aku juga terheran dan tersindir sendiri dengan apa yang aku tulis, namun apapun itu ketika saat aku membacanya kembali, senyum tipis tersungging dari bibirku.

Tak hanya foto yang dapat diabadikan dan tak hanya bahasa musik yang universal. Celotehan perasaan pada suatu masa tentang keindahan serta kesedihan tak kalah ingin untuk bersaing di bidang kekekalan. Bagiku yang tidak mempunyai banyak ruang untuk bercerita, blog menjadi suatu sahabat tersendiri yang membebaskanku untuk berbicara sesuka hati. Di mana segala pembacanya hanya sebuah patung bagiku, tak bicara, tak berjiwa. Walaupun sembilan puluh persen yang membaca tulisan ini hanya diriku seorang, tapi masih ada beberapa orang yang mungkin tidak punya kehidupan dan pekerjaan lain di luar sana, sampai-sampai mesti mengeluarkan waktunya sia-sia hanya untuk membaca blog pecundang ini. Poor you dude.

Siapapun kalian pembaca blog ini, jangan pernah mengatakan bahwa kalian adalah pembaca blog-ku tepat di depan wajahku. Just don't!

Setelah setahun menimba ilmu di kampus ini, di awal semester tiga, aku merasa banyak perubahan yang terjadi. Dari bagaimana aku bertingkah laku, tantangan kehidupan kuliah yang semakin menjadi, bertambahnya nama pada daftar buku teman ku, pengeluaran yang semakin tak beraturan, ketentraman berimajinasi di kamar semakin sulit didapatkan, keseruan bersama anggota organisasi, masalah yang tak kunjung padam, serta patah hati.


Banyak hal yang sulit aku sebutkan satu persatu. Soal patah hati, itu bukan karena aku sedang jatuh cinta, lalu harapanku pupus tak bersinar. Kata 'patah hati' itu kalau menurutku adalah sebuah kata yang pas untuk mendefinisikan sebuah disfungsi. Sampai titik itu ku rasa semuanya sudah paham.

Aku tidak mengikuti aliran apapun maupun ajaran apapun, namun aku percaya adanya reinkarnasi. Entah apa yang bisa membuat pikiranku mempercayainya, tetapi aku pun juga tak mempunyai teori maupun faktanya. Namun kepercayaan tetaplah kepercayaan. Keyakinan insan tercipta melalui unsur-unsur ketakutan dan keindahan otak masing-masing. Melebur menjadi satu dan menjadi pondasi kokoh yang menopang lurus atau tidaknya jalan hidup kita. 

Andai aku besok terlahir kembali, seperti apakah aku di masa nanti? Apapun! Selama aku masih bisa diberikan kesempatan untuk membaca ulang tulisan-tulisanku ini, dan juga me-refresh kembali segala disfungsi-ku.

 
;