Thursday, April 19, 2018 1 comments

Diary April 19, 2018 Shit Cleaner

Aku adalah manusia normal. Selayaknya manusia normal, aku hanya meminta apa yang sudah seharusnya dimiliki oleh kebanyakan manusia normal juga dalam kehidupanku. Penat menghadapi segala kebusukan-kebusukan yang mulai mengentarakan diri dengan gagah ke permukaan. Semua itu tak lain dan tak bukan menjadi skenario terburuk dalam sepanjang hidupku.

Aku merasa selama ini aku hidup hanya menjadi pembersih kotoran. Menjemukan sekali bagaimana rasanya harus menyelesaikan dan selalu berkutat pada masalah-masalah yang bukan aku sendiri yang menanamnya. Dan buruknya lagi, akulah yang kecipratan untuk menanggung segalanya.

Beban yang aku terima dari membersihkan kotoran-kotoran orang tak sepadan dibandingkan kemampuanku untuk mengikhlaskan melepas kumpulan angan-angan kecil yang tumpah ruah menjerit minta diselamatkan. Seandainya bibirku pandai berucap seribu bahasa, ingin juga aku berkata kepada angan-angan kecil itu bahwa aku ingin diselamatkan juga. Tidak ada yang lebih buruk dari pada setengah hidup.

Tak jarang aku menumpulkan egoismeku demi kepentingan bersama. Menyadarkan otak dari lamunan panjang bahwa mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki sayap seperti burung. Mungkin saja tujuan hidupku ternyata adalah sebagai budak kelancaran tatanan hidup. 

Permasalahan yang sering kali timbul pada tiap manusia yang mencoba pasrah terhadap hidupnya pasti ada saat di mana satu titik di dalam diri mereka yang mendobrak, mengaung, serta meronta-ronta tersiksa melihat mereka diperlakukan seperti itu. Mereka menolak, itu jelas.

Tidak banyak yang bisa manusia lakukan ketika dihadapkan pada posisi tanpa pilihan. Hati merenung sedalam mungkin untuk menemukan kilatan cahaya di jurang terdalam, sedangkan pikiran mencoba mengais-ngais memori yang berserakan, lalu menempelkannya ke dalam buku kenangan berdebu jika suatu saat ia tidak bisa melihatnya lagi.

Aku adalah manusia normal. Selayaknya manusia normal, aku juga memiliki banyak kekurangan. Tapi dari sekian banyak kekuranganku, hanya kali ini saja aku mengutuk habis-habisan ketidakberdayaanku menyampaikan sampah-sampah yang sudah mengendap di balik dahi. Kalaupun terpaksa, bibirku akan mengeluarkan benang abu-abu yang hanya bisa dimengerti oleh diriku seorang.

Menjemukan. Tidak ada kata yang lebih tepat dari pada itu. 






Wednesday, February 28, 2018 0 comments

Diary February 28, 2018 Still Nothing

Hari ini merupakan penghujung di bulan Februari. Masih dalam keadaan yang sama serta kebimbangan yang sama pula. Bisa dikatakan bahwa aku sama sekali masih belum bergerak menuju apa yang aku cari. Aku tak menyangka mencari sebuah tujuan bisa sesulit ini. Melihat teman-teman, saudara, sibuk mengejar yang mereka cari, kakiku malah membatu. 


Sungguh memuakkan.
Monday, January 1, 2018 0 comments

Diary January 1, 2018 Goodbye Funniest Year

Baru saja aku selesai merayakan pesta tahun baruku. Sama seperti biasanya, letupan-letupan kembang api menghiasi gelapnya langit malam. 

Dulu ketika kecil, aku begitu suka ketika melihat kembang api, bahkan sampai menangis merengek-rengek jika tidak dibelikan. Malam akhir tahunku selalu aku habiskan dengan melihat kilauan gemerlap itu melalui beranda rumah. Aku senang sekali! Entah kenapa seiring bertambahnya umur kesenangan itu berangsur-angsur pudar. Tidak lagi ada yang namanya kegembiraan menyaksikan hal-hal seperti itu. Apapun itu alasannya, tolong seseorang beritahu aku.

Lucu sekali bagaimana banyak hal yang sudah terjadi di hidupku di tahun 2017 ini. Aku ingin mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun yang paling terlucu dalam sejarah hidupku. Bagaimana tidak, segalanya bisa berubah dalam sebuah kedipan mata! Kalian pasti tahu apa yang aku maksudkan itu.

Ada saatnya manusia harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga. Ada kalanya manusia harus terpaksa melepaskan apa yang selama ini mereka idam-idamkan. Dan ada waktunya manusia untuk merasa pasrah dengan apa yang sudah terjadi. Aku pernah berusaha melawannya, tetapi pada akhirnya aku lah pihak yang dikalahkan.

Melawan sesuatu itu benar-benar tidak mudah.

Dan di sinilah aku sekarang. Belajar perlahan untuk mengikhlaskan. Terkadang terbesit rasa iri melihat kawan yang sibuk mengejar mimpinya, sedangkan kakiku terjangkar pada sebuah pengabdian palsu. Aku tidak mengatakan bahwa hidupku sekarang penuh penderitaan. Tidak! 

Sungguh tidak ada penderitaan terkait masalah finansial atau sosialku atau apapun itu, Malah sebaliknya, segala kebutuhan ku terpenuhi dengan mudah. Apapun itu keinginanku, aku bisa mengabulkannya. Bukan niat diri ini ingin menyombongkan, tetapi memang begitu faktanya. Sayang saja aku merasa kurang dalam satu hal. Seakan-akan aku kehilangan potongan kecil yang belum bisa aku temukan untuk melengkapi puzzle ini.

Aku tahu masih banyak orang-orang yang lebih kekurangan dibandingkan diriku ini. Tapi aku tetaplah manusia, yang selalu merasa kurang puas dengan apa yang sudah aku miliki sekarang ini. Aku sungguh tau itu.

Bisakah aku berubah di tahun ini? Siapa yang tahu.
 
;