Pantai. Sudah cukup lama aku tidak menikmati destinasi wisata seperti itu. Terpaan angin laut yang segar, butiran-butiran pasir bertumpah ruah, bintang laut, karang yang tetap berdiri kokoh walau terkena gempuran ombak ribuan kali tiap harinya, cukup rindu batin ini berkata.
Hari jumat lalu, aku bersama teman-teman dari himpunan mahasiswa kampus, pergi ke pantai untuk camping di sana. Dengan persiapan seadanya, dan bekal secukupnya, malam itu cukup berkesan bagiku. Dua tenda kami dirikan, di depannya kami juga membangun sebuah api unggun sebagai penghangat. Semuanya berkumpul di sekitarannya, ada yang bermain mini games, beberapa sibuk melihat desir ombak yang lalu lalang, sebagian membakar ubi dan jagung, lalu sisanya menceritakan banyak hal satu sama lain. Dalam keriuhan malam itu, sebagian diri ini jatuh dalam suka cita, dan sebagian lagi masih sibuk bertanya-tanya tentang kehidupan.
Tidak banyak angin yang berhembus malam itu, bisa dibilang cukup menggerahkan. Sesekali rintik hujan turun, namun hal tersebut tak mengacaukan acara yang sedang berlangsung. Apa yang kami lakukan di sana, menurutku seperti seorang anak yang berlari sejauh mungkin dari rumah, mencari lebih banyak waktu agar bisa bermain lebih bebas tanpa batasan. Jika dipikir kembali, apa yang membuat kita lari dari nikmatnya sebuah rumah? Tentu saja hanya diri kita yang bisa menjawabnya.
Setelah api mulai meredup, dan kami sudah kehabisan kayu untuk mengobarkannya lagi, kami semua terpisah dalam kelompok-kelompok kecil berbentuk lingkaran tak sempurna. Bukan berarti di antara kami ada sesuatu hal dan semacamnya. Mungkin bisa dibilang, kami saling menghargai bagaimana masing-masing orang menikmati suasana. Dalam lingkaran kecilku yang berisi lima orang, kami berbagi keluh kesah. Terkadang saat cerita itu terlalu menyedihkan untukku, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa membantu banyak. Aku hanya bisa menatap mata pencerita itu sedalam mungkin, berharap ia mampu mengartikannya sendiri.
Pantai. Tempat kedua paling strategis untuk merenung setelah kamar. Tiap bagian-bagian di dalamnya sanggup untuk membantu pikiranmu terbang melayang, melupakan masalah duniawi untuk sesaat, dan sebagai tempat pengistirahatan terbaik. Jika gunung memberimu arti perjuangan, maka lautan memberimu arti kedamaian.
Malam benar-benar sudah jatuh. Dari dua tenda yang kami dirikan, hanya sebagian kecil yang tidur di dalamnya. Kebanyakan orang memilih untuk tidur bersama angin malam. Termasuk aku. Awan yang sedari tadi mendung dan menutupi cahaya rembulan, kini mulai luruh. Bintang-bintang mulai menampakkan wujudnya, air lautan mulai pasang, desir ombak semakin keras menggempur karang, dan para pencerita mulai mengakhiri pertunjukannya.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact