Monday, September 26, 2016 0 comments

Diary September 26, 2016

Pantai. Sudah cukup lama aku tidak menikmati destinasi wisata seperti itu. Terpaan angin laut yang segar, butiran-butiran pasir bertumpah ruah, bintang laut, karang yang tetap berdiri kokoh walau terkena gempuran ombak ribuan kali tiap harinya, cukup rindu batin ini berkata.

Hari jumat lalu, aku bersama teman-teman dari himpunan mahasiswa kampus, pergi ke pantai untuk camping di sana. Dengan persiapan seadanya, dan bekal secukupnya, malam itu cukup berkesan bagiku. Dua tenda kami dirikan, di depannya kami juga membangun sebuah api unggun sebagai penghangat. Semuanya berkumpul di sekitarannya, ada yang bermain mini games, beberapa sibuk melihat desir ombak yang lalu lalang, sebagian membakar ubi dan jagung, lalu sisanya menceritakan banyak hal satu sama lain. Dalam keriuhan malam itu, sebagian diri ini jatuh dalam suka cita, dan sebagian lagi masih sibuk bertanya-tanya tentang kehidupan.

Tidak banyak angin yang berhembus malam itu, bisa dibilang cukup menggerahkan. Sesekali rintik hujan turun, namun hal tersebut tak mengacaukan acara yang sedang berlangsung. Apa yang kami lakukan di sana, menurutku seperti seorang anak yang berlari sejauh mungkin dari rumah, mencari lebih banyak waktu agar bisa bermain lebih bebas tanpa batasan. Jika dipikir kembali, apa yang membuat kita lari dari nikmatnya sebuah rumah? Tentu saja hanya diri kita yang bisa menjawabnya.

Setelah api mulai meredup, dan kami sudah kehabisan kayu untuk mengobarkannya lagi, kami semua terpisah dalam kelompok-kelompok kecil berbentuk lingkaran tak sempurna. Bukan berarti di antara kami ada sesuatu hal dan semacamnya. Mungkin bisa dibilang, kami saling menghargai bagaimana masing-masing orang menikmati suasana. Dalam lingkaran kecilku yang berisi lima orang, kami berbagi keluh kesah. Terkadang saat cerita itu terlalu menyedihkan untukku, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa membantu banyak. Aku hanya bisa menatap mata pencerita itu sedalam mungkin, berharap ia mampu mengartikannya sendiri.

Pantai. Tempat kedua paling strategis untuk merenung setelah kamar. Tiap bagian-bagian di dalamnya sanggup untuk membantu pikiranmu terbang melayang, melupakan masalah duniawi untuk sesaat, dan sebagai tempat pengistirahatan terbaik. Jika gunung memberimu arti perjuangan, maka lautan memberimu arti kedamaian.

Malam benar-benar sudah jatuh. Dari dua tenda yang kami dirikan, hanya sebagian kecil yang tidur di dalamnya. Kebanyakan orang memilih untuk tidur bersama angin malam. Termasuk aku. Awan yang sedari tadi mendung dan menutupi cahaya rembulan, kini mulai luruh. Bintang-bintang mulai menampakkan wujudnya, air lautan mulai pasang, desir ombak semakin keras menggempur karang, dan para pencerita mulai mengakhiri pertunjukannya. 
Monday, September 19, 2016 0 comments

Diary September 19, 2016

Hmmm...
Selalu ku ikuti ke mana arah dua bola mata itu menuju. Sedikitpun tidak ada niatan untuk mengenyahkan imajinasiku terhadap apa yang aku lihat saat itu. Segala bentuk gerak-geriknya ku abadikan dalam memori. Seakan-akan semesta luntur dalam satu garis senyumannya. Jika saja penguasa waktu dapat memberiku waktu lebih, mungkin aku akan gunakan kesempatan itu untuk menelusuri jauh lebih dalam tentang dirinya. Sebaik mungkin.

Bagiku, hal ini bukan sekadar kegiatan tak bermakna, melainkan hasrat tersembunyi yang tak semua orang tahu tentangku. Baik di dalam maupun di luar, tersimpan sebuah misteri di tiap bagiannya. Tidakkah hal ini wajar untuk menggugah rasa penasaran seorang manusia, termasuk aku, melakukan hal seperti itu? Ayolah, seorang pujangga yang sedang berkagum, itu tidak melulu soal cinta.

Rasa kagum timbul karena berbagai macam hal. Mungkin fisik, materi, bakat, kebaikan, dan sebagainya. Memang benar, rasanya selalu ada hal yang bisa kita jadikan alasan jika ada seseorang yang bertanya akan munculnya rasa kekaguman itu sendiri. Tapi bagiku, rasa kagumku pada orang itu bukan karena adanya suatu alasan. Entah mengapa, secara tidak langsung, membuat diri ini merasa sebagai manusia berkualitas super rendah jika dihadapkan langsung pada sosok yang aku kagumi tersebut. Anehnya, aku tidak tahu deskripsi apa yang pas untuk menjelaskan kekaguman yang satu ini.

Aku sadar posisiku. Aku pun tahu posisinya. Gap di antara aku dan dia begitu jauh sekali. Lebih baik begini kurasa. 

Jarak.

Hal yang pernah aku benci, sekarang malah menjadi perisaiku. Melindungiku dari rasa yang tidak seharusnya ada. Karena aku tahu, rasa kagum bisa berubah menjadi apa saja, dan aku tidak ingin hal itu berubah. Aku berusaha keras untuk tidak mengacaukan segalanya. Biarlah yang sudah baik tetap menjadi baik. Tidak perlu untuk meminta lebih. Karena, berharap itu bukan jalanku.

Semoga semuanya tetap begini adanya. Biarkanlah aku tetap menikmatimu dari sisi gelapku.

Wednesday, September 14, 2016 0 comments

Diary September 14, 2016

Titik-titik hujan mulai menampakkan dirinya. Mendarat begitu lembutnya di sebuah kaca jendela. Membasahi tanah yang kering, melepaskan dahaga bagi para tanaman dan juga pepohonan. Menciptakan sebuah aroma yang begitu khas yang semua orang pasti bisa merasakannya. Aroma yang begitu candu. Bahkan sebagian orang berpikir bahwa menghirup aroma seperti ini merupakan sebuah kebahagiaan istimewa tersendiri. 

Bagi orang yang membenci hujan sekalipun, aroma ini sungguh memikat. Tapi dibalik itu semua, terlihat jelas bahwa langit sedang menangis. Seolah-olah ia mewakili kesedihan semua orang yang telah kehilangan air matanya untuk menangis. 

Hujan tampak mulai deras, air yang jatuh tidak lagi mendarat lembut. Pepohonan dan tanaman seakan-akan menari karena terkena terpaan angin yang cukup kuat. Aroma yang tercium semakin kuat tetapi dalam sekejap pun ia menghilang. Air mulai menggenang di sudut-sudut tertentu. Sampah yang dibuang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab mulai mengapung di atasnya. 

Di saat itu, aku berkenalan dengannya. 
Tuesday, September 6, 2016 0 comments

Diary September 6, 2016

Sudah dua tahun aku tinggal di Jogja sebagai mahasiswa perantauan. Rumah ternyaman beserta orang-orang di dalamnya kutinggalkan jauh di sana. Pergi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Menelusuri lebih dalam tentang nilai-nilai yang menjadikan kita makhluk Bumi. Seperti kebanyakan orang, satu rumah tak cukup bagi spesies rakus seperti kita. Dengan ini, di tanah ini, sekarang juga, tempat ini menjadi rumah kedua ku. Dan aku mengatakan pada tiap langkahku, untuk terus mencari rumah-rumah yang baru di kemudian hari. Sampai kaki ini tak bisa lagi berjalan.

Banyak hal di sini yang bisa mengajarkanku sesuatu. Terlalu banyak. Walau belum sepenuhnya, rasa penasaranku pada banyak hal, sedikit demi sedikit terjawab. Aku banyak bertemu dengan berbagai ragam manusia, dari yang mempunyai pikiran kompleks, sampai orang yang mempunyai masa lalu yang lebih pilu dari pada yang aku rasakan. Di bandingkan masalah mereka semua, masalahku bukanlah apa-apa. Mereka sedang bersusah payah melawan dunia, sedangkan aku masih sibuk menoleh ke belakang.

Dari situ semua, aku banyak belajar, bahwa sesuatu yang hilang memang takkan pernah bisa digantikan. Tapi mereka semua masih sanggup untuk berjalan dengan banyak kehilangan, kenapa aku tidak? Memang, kualitas manusia ku sangatlah rendah, tak ada yang bisa kubanggakan di dalamnya. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa memiliki apa yang dimiliki oleh kaum-kaum spesialis. Kami manusia jelata menolak untuk dibedakan dan juga tak ingin disamakan dengan kalian-kalian semua.

Bolehkah aku untuk jujur pada diriku saat ini? Bahwa sesungguhnya aku tidak bisa lagi menahan semuanya. Aku lelah memikul semuanya sendirian, Nostalgia dengan rasa lama membuatku makin membutuhkannya, bahu untukku bersandar, jiwa yang tak pernah lelah menghadapi egoisme ku, jari-jemari yang senantiasa kugenggam erat, dan mata yang selalu kagum akan semua kebodohanku. Sayang, semuanya tak bisa ku dapatkan di sini. Mungkin di perjalananku berikutnya.


 
;