Selalu ku ikuti ke mana arah dua bola mata itu menuju. Sedikitpun tidak ada niatan untuk mengenyahkan imajinasiku terhadap apa yang aku lihat saat itu. Segala bentuk gerak-geriknya ku abadikan dalam memori. Seakan-akan semesta luntur dalam satu garis senyumannya. Jika saja penguasa waktu dapat memberiku waktu lebih, mungkin aku akan gunakan kesempatan itu untuk menelusuri jauh lebih dalam tentang dirinya. Sebaik mungkin.
Bagiku, hal ini bukan sekadar kegiatan tak bermakna, melainkan hasrat tersembunyi yang tak semua orang tahu tentangku. Baik di dalam maupun di luar, tersimpan sebuah misteri di tiap bagiannya. Tidakkah hal ini wajar untuk menggugah rasa penasaran seorang manusia, termasuk aku, melakukan hal seperti itu? Ayolah, seorang pujangga yang sedang berkagum, itu tidak melulu soal cinta.
Rasa kagum timbul karena berbagai macam hal. Mungkin fisik, materi, bakat, kebaikan, dan sebagainya. Memang benar, rasanya selalu ada hal yang bisa kita jadikan alasan jika ada seseorang yang bertanya akan munculnya rasa kekaguman itu sendiri. Tapi bagiku, rasa kagumku pada orang itu bukan karena adanya suatu alasan. Entah mengapa, secara tidak langsung, membuat diri ini merasa sebagai manusia berkualitas super rendah jika dihadapkan langsung pada sosok yang aku kagumi tersebut. Anehnya, aku tidak tahu deskripsi apa yang pas untuk menjelaskan kekaguman yang satu ini.
Aku sadar posisiku. Aku pun tahu posisinya. Gap di antara aku dan dia begitu jauh sekali. Lebih baik begini kurasa.
Jarak.
Hal yang pernah aku benci, sekarang malah menjadi perisaiku. Melindungiku dari rasa yang tidak seharusnya ada. Karena aku tahu, rasa kagum bisa berubah menjadi apa saja, dan aku tidak ingin hal itu berubah. Aku berusaha keras untuk tidak mengacaukan segalanya. Biarlah yang sudah baik tetap menjadi baik. Tidak perlu untuk meminta lebih. Karena, berharap itu bukan jalanku.
Semoga semuanya tetap begini adanya. Biarkanlah aku tetap menikmatimu dari sisi gelapku.


0 comments:
Post a Comment