Sudah dua tahun aku tinggal di Jogja sebagai mahasiswa perantauan. Rumah ternyaman beserta orang-orang di dalamnya kutinggalkan jauh di sana. Pergi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Menelusuri lebih dalam tentang nilai-nilai yang menjadikan kita makhluk Bumi. Seperti kebanyakan orang, satu rumah tak cukup bagi spesies rakus seperti kita. Dengan ini, di tanah ini, sekarang juga, tempat ini menjadi rumah kedua ku. Dan aku mengatakan pada tiap langkahku, untuk terus mencari rumah-rumah yang baru di kemudian hari. Sampai kaki ini tak bisa lagi berjalan.
Banyak hal di sini yang bisa mengajarkanku sesuatu. Terlalu banyak. Walau belum sepenuhnya, rasa penasaranku pada banyak hal, sedikit demi sedikit terjawab. Aku banyak bertemu dengan berbagai ragam manusia, dari yang mempunyai pikiran kompleks, sampai orang yang mempunyai masa lalu yang lebih pilu dari pada yang aku rasakan. Di bandingkan masalah mereka semua, masalahku bukanlah apa-apa. Mereka sedang bersusah payah melawan dunia, sedangkan aku masih sibuk menoleh ke belakang.
Dari situ semua, aku banyak belajar, bahwa sesuatu yang hilang memang takkan pernah bisa digantikan. Tapi mereka semua masih sanggup untuk berjalan dengan banyak kehilangan, kenapa aku tidak? Memang, kualitas manusia ku sangatlah rendah, tak ada yang bisa kubanggakan di dalamnya. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa memiliki apa yang dimiliki oleh kaum-kaum spesialis. Kami manusia jelata menolak untuk dibedakan dan juga tak ingin disamakan dengan kalian-kalian semua.
Bolehkah aku untuk jujur pada diriku saat ini? Bahwa sesungguhnya aku tidak bisa lagi menahan semuanya. Aku lelah memikul semuanya sendirian, Nostalgia dengan rasa lama membuatku makin membutuhkannya, bahu untukku bersandar, jiwa yang tak pernah lelah menghadapi egoisme ku, jari-jemari yang senantiasa kugenggam erat, dan mata yang selalu kagum akan semua kebodohanku. Sayang, semuanya tak bisa ku dapatkan di sini. Mungkin di perjalananku berikutnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment