Wednesday, September 14, 2016

Diary September 14, 2016

Titik-titik hujan mulai menampakkan dirinya. Mendarat begitu lembutnya di sebuah kaca jendela. Membasahi tanah yang kering, melepaskan dahaga bagi para tanaman dan juga pepohonan. Menciptakan sebuah aroma yang begitu khas yang semua orang pasti bisa merasakannya. Aroma yang begitu candu. Bahkan sebagian orang berpikir bahwa menghirup aroma seperti ini merupakan sebuah kebahagiaan istimewa tersendiri. 

Bagi orang yang membenci hujan sekalipun, aroma ini sungguh memikat. Tapi dibalik itu semua, terlihat jelas bahwa langit sedang menangis. Seolah-olah ia mewakili kesedihan semua orang yang telah kehilangan air matanya untuk menangis. 

Hujan tampak mulai deras, air yang jatuh tidak lagi mendarat lembut. Pepohonan dan tanaman seakan-akan menari karena terkena terpaan angin yang cukup kuat. Aroma yang tercium semakin kuat tetapi dalam sekejap pun ia menghilang. Air mulai menggenang di sudut-sudut tertentu. Sampah yang dibuang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab mulai mengapung di atasnya. 

Di saat itu, aku berkenalan dengannya. 

0 comments:

Post a Comment

 
;