Saturday, September 30, 2017 0 comments

Diary September 30, 2017 Her day

Pagi yang normal. Setelah semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan rencanaku pada hari ini, akupun akhirnya bergegas. Bermodalkan dompet, dan buku Agatha Christie (untuk jaga-jaga bilamana aku kesepian), serta masker, aku berangkat ke bandara.

Hari ini adalah hari spesialnya. Di mana ia telah melakukan perjuangan selama empat tahun, diapun terbebas dari tanggung jawabnya. Orang-orang pun akan berpendapat demikian jika hari ini tiba. Semuanya harus istimewa, dihadiri orang-orang istimewa, dan diisi kenangan-kenangan istimewa. Aku rasa semua begitu, kecuali aku.

Aku sudah mempersiapkan beberapa kado untuknya. Ku titipkan pada kedua orang kawanku yang berada di sana. Dia sebelumnya memang meminta sebuah kado, tapi aku telah mempersiapkan dua buah kado. Sebenarnya ada satu lagi, tapi rasanya ini tidak pantas untuk disebut sebuah kado. Tapi di balik itu semua, aku berharap ia senang dengan apa yang kuberikan.

Aku datang tepat waktu. Setelah check in selesai, aku langsung berjalan menuju gate 2. Tanpa perlu menunggu lagi, aku langsung disambut dan diarahkan ke pesawat.

Pemandangan yang tidak pernah terlewatkan ketika berada di kabin pesawat: Kepala penumpang yang jadi mangsa empuk kompartemen bagasi. Selalu terjadi, kalau bukan orang lain, ya aku sendiri.

Sesampainya di jogja, bersama dengan ojek online, aku berangkat lagi menuju tempat acara.

Sedikit info, aku memang sengaja tidak mengabari satupun temanku di sini. Tak satupun. Bahkan dia sendiri tidak tahu kalau aku datang ke acara wisudanya. Well, tidak ada alasan khusus, hanya saja aku tidak ingin repot-repot menjawab pertanyaan mereka satu persatu. 

Jujur saja, penyamaranku cukup sederhana, dengan pakaian serba hitam, kepala tertutup rapat dengan topi, serta masker yang sudah kupersiapkan sebelumnya, penyamaranku sukses tanpa satupun ada yang menyadari. Layaknya tinja. Eh, maksudku ninja.

Aku beruntung juga acara itu terdapat banyak orang di dalamnya, jadi tak perlu susah susah untuk memaksimalkan teknik kamuflase yang sudah kusiapkan matang-matang malam sebelumnya. Namun ada juga permasalahan lain di balik mulusnya rencanaku, yaitu gerah.

Kalau dulu aku tidak percaya warna hitam membuat panas terasa dua kali lipat, hari ini aku harus terpaksa percaya.

Waktu menunjukan pukul 10. Orang-orang kian bertambah banyak. Walau berada di ruang terbuka, bernapas pun jadi susah. Gerah apa lagi. 

Terlihat satu persatu wisudawan keluar. Aku tak bisa melihat siapapun berkat kerumunan orang ini. Akhirnya aku memilih untuk berpindah tempat dan melihatnya dari kejauhan saja, dibantu kamera handphone yang punya kekuatan 10x zoom tentunya. Dan apa yang aku tunggu kini muncul juga.

Aku hanya duduk, melihat orang-orang mulai menyalaminya satu persatu, ada yang memberi bunga, ada yang memberinya pelukan, ada yang mengeluarkan hadiahnya, ada yang mengajaknya foto, sedangkan aku hanya terdiam manis memandangnya dari kejauhan.

Cantiknya berbeda hari ini. Aku memang tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya, tapi kurasa mau diapakan pun ia tetap anggun. Aku bahkan sanggup kalau diminta bertahan berjam-jam hanya duduk diam seperti ini.

Aku sungguh tidak masalah. Aku malah tidak menyesal melakukan ini semua. Seandainya orang-orang tahu aku melakukan ini, mungkin mereka akan berkata kepadaku bahwa aku gila. Aku tidak menyangkalnya, aku sendiri juga bingung, sejak kapan aku bisa menjadi segila ini.

Tenang saja, aku tidak mengharapkan apapun dari orang itu. Aku senang melakukan ini semua, baik untuknya ataupun diriku sendiri.

Setelahnya, orang-orang melanjutkan kembali ke acaranya masing-masing. Aku saat itu sudah kehilangan jejaknya. Ntah ke mana dia pergi, aku sudah tak tahu lagi. Mungkin merayakannya bersama keluarganya. Yasudahlah, pikirku.

Beberapa saat kemudian, ia menyampaikan terimakasihnya padaku atas kado yang kuberikan lewat chat. Dan selanjutnya tidaklah terlalu penting.



I guess that was probably the last time I ever see her again. Even 'goodbye' are the hardest thing to tell. Without anything, it ended just like that. Woooossshhh.

Funny isn't? The person who gave you the best memories, becomes a memory itself. But still, this town already marked by her. So whenever Jogja come across my mind, I would think about her.

Thankyou for your time. 
Sunday, September 24, 2017 0 comments

Diary September 24, 2017 Confused

Bisa dikatakan sudah tiga bulan ini aku tidak menyentuh blog. Selain tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan, kesibukanku pada perputaran kehidupan yang monoton, bisa dikatakan menjadi alasan utama mengapa aku kehilangan semangat untuk menulis. Anehnya, otakku sebenarnya tidak seperti itu, ia tetap aktif layaknya gunung yang siap meletus kapan saja, namun lava yang ia pendam tak langsung juga ia keluarkan, melainkan disimpan untuk dirinya sendiri. Penuh kontradiksi bukan?


----

Aku selalu tidak bisa berbaikan dengan perpisahan, selalu. Terutama jika hal itu terjadi kepada orang-orang yang sudah aku anggap istimewa dalam kehidupanku. Orang-orang boleh saja mengatakan hal ini adalah wajar, salah satu bagian dari proses kehidupan yang kita manusia tidak punya daya untuk menghentikannya. Lalu, jika benar begitu, apakah hidup hanya selalu tentang bertamu dari satu rumah ke rumah lainnya?

Konsep ini sungguh mengerikan, sampai-sampai ingin memaki aku dibuatnya. Tapi pada siapa? 

***

Aku memiliki seorang wanita yang aku suka. Tepat pada minggu lalu, aku mengatakan hal tersebut padanya. Bukan berarti kami langsung memiliki hubungan yang romantis sebagaimana pada umumnya. Tidak, kami tidak melakukan hal seperti itu. Aku rasa ia cukup dewasa menyikapi hal ini, apalagi pada dasarnya aku mengatakan hal tersebut semata-mata keinginanku saja. Aku sama sekali tidak berkeinginan mengetahui jawabannya ataupun responnya, karena menurutku yang semacam itu tidaklah penting.

Tapi pertama-tama aku bersyukur, karena apa yang aku pikirkan tidak menjadi kenyataan. Kedua, aku juga bersyukur kita masih bisa berbicara seperti biasanya. Ketiga, aku senang bisa mengenalnya. Dan di balik itu semua, aku telah melakukan apa yang tidak akan membuatku menyesal di esok hari.

Jika melihat lagi hukum alam seperti yang kita bicarakan di atas, rasanya aku cukup khawatir. Jujur saja aku khawatir. Walaupun aku tahu, dia pun juga tahu, kelak pada suatu saat nanti kita akan mempunyai kehidupan masing-masing. Dan aku pun tidak boleh menyangkalnya, bahwa yang aku takutkan adalah harus berhadapan lagi dengan perpisahan.

Kami memang sangat jarang sekali keluar bersama, apalagi berdua. Kami juga tidak banyak bicara ketika ada banyak orang-orang di sekitar kita. Menyapa pun kami hanya sebatas senyum. 

Kami lebih sering bercakapan via chatting. Kami sering juga bisa menghabiskan 3-5 jam di telepon. Terkadang aku juga sempat main ke depan kosnya, yang di mana hal ini bisa dihitung dengan jari jumlahnya.

Sedikit akan terdengar menggelikan, tapi bukan berarti jika kami lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya ketimbang kehidupan asli, tandanya aku tidak perlu terlalu bersedih ketika orang itu pergi bukan? Setidaknya kesedihan akan kepergian orang itu tidak akan berlangsung lama.

Well, aku rasa hal itu benar. Aku memang tidak akan terlalu bersedih, dan tidak akan juga sebegitu terpuruknya. 

Tapi biarkan aku mengatakan satu fakta lagi, bahwa kesedihan itu sifatnya adalah subjektif. Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya, sampai hal itu kalian rasakan sendiri. Hingga saat itu tiba, kita manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan seperti yang orang lain itu rasakan, hanya akan menilai objektif. 



Ada satu lagi ketakutanku selain perpisahan.




Aku takut untuk dilupakan.
Wednesday, May 31, 2017 0 comments

Diary May 31, 2017 Shitty Life

Sudah tidak kuat lagi rasanya aku menahan untuk menceritakan semua ini. Perasaan sudah geram sekali untuk mengungkapkan. Awalnya aku ingin membiarkannya berlalu begitu saja, tapi ada saja yang suka melempar garam di area luka. Hidup juga begitu, kadang hobi sekali untuk bercanda. Dia tidak tahu bahwa sense humornya parah sekali, sampai-sampai bikin muak saja.

Di saat-saat seperti ini aku selalu teringat kata-kata mantan pacarku, kalau dipikir dan setelah mengalaminya, apa yang dia katakan ada benarnya juga. Dulu aku sering sekali berdebat dengannya gara-gara pendapatnya tentang ini, aku rasa apa yang dia pikirkan ini adalah sebuah pernyataan konyol. Tapi sekarang malah aku yang merasa bodoh karena tidak menyadarinya jauh lebih cepat. Dan sekarang aku mesti repot-repot menuai apa yang aku tanam. 

Seperti yang selalu aku katakan dari dulu, kepergian adalah sesuatu yang pasti. Kita tidak tahu kapan, namun cepat atau lambat pasti akan tiba waktunya. Seberapa besar langkah yang sudah kita persiapkan untuk menghindarinya, tidak akan berpengaruh sama sekali. Tidak ada gunanya menentang hukum alam. Yang ada hanyalah membiarkan ekspetasi kita melayang-layang tak tergenggam.

Aku sudah melihat banyak sekali orang datang dan pergi di hidupku. Mereka semua datang dengan cara yang berbeda-beda, tak sedikit juga ada yang datang dengan cara-cara yang unik. Ada yang mengetuk, dan ada juga yang langsung main nyelonong saja. Setiap kali ada yang datang di kehidupanku, aku selalu berpikir, "apakah orang ini akan bertahan lama diam di kehidupanku?" atau, "apa kehadirannya akan berpengaruh dalam hidupku?". Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggeliat di pikiranku sepersekian detik sebelum aku hendak menjulurkan tanganku demi sebuah tanda perkenalan.

Dari setiap orang-orang yang pergi, semuanya selalu meninggalkan tanda tanya besar. Sekuat apapun aku mencari jawabannya, yang kudapatkan hanyalah tangan kosong. Percuma mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas-jelas menjadi kodrat alam. Kepergian orang-orang sudah cukup banyak meninggalkan tanda tanya, tak perlu lagi kau melemparkan sejuta tanda tanyamu juga kepadanya hanya demi sebuah jawaban, karena semuanya bakal sia-sia.

Itu yang aku pelajari dalam hidupku.

Di mana-mana orang yang bertamu harus selalu berpamitan kepada tuan rumah ketika ingin pergi. Kita selalu diajarkan untuk seperti itu bukan? 

Tapi ketika orang-orang yang selalu masuk di rumahmu selalu datang dan pulang tanpa berpamitan, lama kelamaan bukannya kalian akan berpikir bahwa mungkin ajaran sudah mulai berganti? Atau mungkin begitulah cara bertamu yang sesungguhnya, pergi tanpa berpamitan.

Seperti sebuah kepercayaan yang sudah mengakar di dalam diri, apa yang aku percayai belum tentu kalian percaya. Sulit untuk mengindahkan pendapat orang di zaman sekarang, walau begitu aku sambut perbedaan dengan teramat senang. Tapi ntah kenapa orang-orang sebegitu sulitnya memahami itu semua.

Apa salah ketika aku melakukan apa yang sudah menjadi kepercayaanku? Aku sangat menghargai sekali orang-orang yang tidak menyinggung atau mengolok keputusan orang lain dan menerima segalanya dengan rasa penuh pengertian.

Bagi segelintir orang yang terlanjur nyaman, pergi bukanlah sesuatu yang mudah asal kalian tahu. Mungkin kalian bisa melihat dari luar bahwa orang itu baik-baik saja, jadi kalian bisa dengan sesuka hatinya menggoda orang tersebut atau bahkan mencaci maki keputusannya. Ingatlah, yang kalian lihat hanyalah bungkusnya saja.

Uhhh sial, tak bisakah aku pergi meninggalkan ini semua dengan sedikit ketentraman dalam hati? Melangkah pergi saja sudah menjadi hal yang sangat sulit. Ditambah lagi fakta bahwa aku harus meninggalkan orang-orang yang sudah membantu membentukku menjadi manusia macam sekarang ini, membuat perasaanku menjadi lebih tak karu-karuan. 

Jika diilustrasikan, mungkin perasaanku akan berbentuk seperti nasi omelet yang sedang kawin dengan kaktus sambil jongkok, nggak jelas.

Kata seseorang, aku lebih suka pergi meninggalkan benci. Aku tak membantahnya. Karena aku memang lebih benci dengan diriku sendiri yang harus terpaksa pergi. Bukan hanya itu, dari awal memang aku benci diriku sendiri. Benci karena tak bisa berbuat apa-apa, benci karena hanya bisa membuat orang sekitarku merasa sedih, benci karena selalu tidak bisa diandalkan, benci karena tidak berguna, benci karena aku sangat menjijikan, benci dengan nasibku sendiri, dan kalau dilanjutkan lagi mungkin aku bakal bunuh diri karena saking bencinnya aku dengan diriku sendiri.

Kalian semua boleh membenciku, jika perlu kalian boleh sediakan mahkota duri lalu pakaikan itu di kepalaku. Kalian boleh menganggap semua yang aku katakan dusta. Kalian boleh menghapus namaku di daftar hadir hidup kalian. Kalian bahkan sangat diperbolehkan meminta dunia untuk tidak lagi mempercayaiku. Pokoknya terserah kalian saja deh.

Aku tidak marah apalagi sampai dendam pada kalian semua. Siapapun boleh membenciku, tapi aku tak ada sedikit niatan untuk menjadikan kalian musuh, dan tak ingin juga menjadikan aku sebagai musuh kalian. Itu pilihan kalian sendiri mau menganggapku bagaimana setelah ini, aku tidak ingin ikut campur lebih jauh.

Aku menulis ini tak lebih hanya untuk melampiaskan hasrat pribadiku yang tak tersalurkan. Sungguh tidak ada keinginan untuk berkonfrontasi. Aku hanya ingin menuliskan apa yang sedang aku pikirkan. Karena cuma di sinilah satu-satunya tempatku berkata bebas. Satu-satunya tempat yang dengan senang hati menyambut kegelisahanku dan selalu mendengarkan apapun yang aku ceritakan. 





Walau bagaimanapun, kita semua sudah berbagi yang namanya kenangan. Nama boleh terlupa, tapi kenangan tidak. Karena sesungguhnya aku tidak ingin semuanya berakhir begitu saja, dan semoga kehidupan berbaik hati untuk tetap membiarkan otakku terus mengingat kalian semua sampai aku tutup usia nanti.

Monday, May 1, 2017 0 comments

Diary May 1, 2017 Somewhat Paradox

Adzan Subuh sudah berkumandang, beberapa ayam juga sudah mulai mengaung, tapi tetap saja mata tak ingin buru-buru untuk terlelap. Seminggu, atau bahkan lebih, berhasil sudah aku memutar rotasi tidur manusia biasa. Benar sekali, Bulan menjadi Matahari, dan Matahari menjadi Bulanku. Ini bukan lagi masalah besar, banyak orang di luar sana yang sama juga mengalami seperti ini, bedanya adalah alasan mereka mengapa menghindari Matahari, and of course i have my own reason.

Aku punya kebiasaan buruk sebelum tidur, yaitu terjun bebas dalam imajinasiku sendiri. Aku tutup mataku sebagaimana manusia tertidur, tapi di saat itu juga aku tidak langsung jatuh dalam mimpiku. Kalian dapat membedakannya? Berimajinasi dan bermimpi menurutku dua hal yang berbeda, namun terkadang di suatu kesempatan, kedua hal ini dapat menjadi satu kesatuan. Aku tidak punya kata-kata yang pantas untuk menerjemahkannya menjadi lebih baik, tapi begitulah maksudku.

Ini tahun ketigaku mempunyai kebiasaan aneh ini, mungkin beberapa orang juga melakukannya. Aku tidak tahu pasti. 

Dalam kasusku, kebiasaan burukku ini tidak jarang membuatku jengah. Ketika sedang asik-asiknya membuat kerajaan atau sekedar curhat tentang masalah perasaan kepada Unicorn di dalam kastil abu-abu, kuasaku akan imaji tersebut diambil alih oleh ntah siapa. Harusnya aku yang mengatur, segalanya, tapi mendadak aku yang jadi diatur. Tiba-tiba ia selalu menampilkan figur-figur, nama-nama, ataupun benda-benda yang membuatku jengkel. Bahkan memori-memori absurd tidak dilewatkannya, dan membuatnya menjadi lebih konyol. 

Entah siapa yang dengan kurang ajar merebut hak asasi manusia malang ini untuk berimajinasi bebas. 

Lalu aku memilih untuk bangun saja, dan melakukan sesuatu apapun itu, sampai bayangan tersebut hilang. Ketika aku sudah melupakannya, aku lanjutkan lagi perbincanganku dengan Unicorn yang tadi sempat terkacaukan. Berharap tidak ada lagi pengganggu dan distorsi lainnya. 

Kampretnya, ketika aku memilih untuk bangun dari imajinasiku sendiri (yang telah diambil alih kuasanya), lalu memilih untuk menyibukkan diri sejenak hingga rasa kantuk datang lalu melanjutkannya lagi, yang terjadi pada imajinasiku bagian kedua ini malah makin konyol dan tolol. 

Aku melakukan proses bangun dan tidur itu bisa sampai berulang-ulang kali, bahkan kepalaku sampai pusing. Maka dari itu aku memilih untuk tetap terjaga sampai alarm tubuhku benar-benar menandakan bahwa aku harus tidur, dan meniadakan kebiasaanku itu. 

Well, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kebiasaanku ini, hanya saja di saat banyak masalah yang terjadi seperti saat ini, aku pikir bukanlah hal yang bagus dan aku ingin untuk berpikir normal. Karena tentu saja apa yang aku imajinasikan ada sangkut pautnya tentang apa yang terjadi di lingkunganku. Semakin gelap suasana yang terjadi, semakin menyebalkan juga apa yang kubayangkan. Begitupun sebaliknya.



Aku tidak berharap kalian untuk bisa mengerti maksudku. Aku juga sadar ini seperti terlalu mengada-ada, tapi ini sungguhan. Tetapi intinya alasanku lari dari Matahari adalah untuk menghindari kebiasaanku yang satu ini, tidak lebih. 


Jika ditanya lebih suka bermimpi atau berimajinasi, akan ku jawab dengan pilihan kedua. Mengapa? Karena aku lebih leluasa mengatur segalanya, walaupun tidak juga, tetapi aku bisa memilih orang-orang yang ingin aku masukkan dan sesuka hati membuang orang-orang yang tidak aku butuhkan dalam panggungku. 

Tetapi mimpi tidak, mimpiku hanya menampilkan apa yang aku butuhkan. Jika aku membutuhkan seseorang, maka orang tersebutlah yang muncul di sana. Semakin aku menyangkal bahwa aku tidak membutuhkan orang tersebut, semakin sering pula orang tersebut muncul. Dan aku merasa kasihan juga terus-terusan mengundang orang itu datang repot-repot hanya untuk mimpiku semata.

Do i have to say that name? I don't think so, cause i always do already.

Sunday, April 16, 2017 0 comments

Diary April 16, 2017 Farewell Freedom

Selalu saja begitu. Selalu saja ada yang diambil pergi. Selalu saja aku dipaksa kembali. Selalu saja dipaksa untuk pergi. Selalu saja dienyahkan begitu saja. Selalu dan selalu. Ingin rasanya memaki, tapi entah pada siapa.

Di saat semuanya baik-baik saja, ada saja masalah yang menghampiri. Ntah kenapa masalah tidak pernah mau berteman baik dengan kehidupan manusia. Sekali saja itu tampaknya sungguh mustahil. Bayangkan saja jika semua itu dapat terjadi, tentunya tidak akan begini. Setengah hatiku memintaku kembali karena rasa tanggung jawab, tetapi setengah hatiku yang lainnya memilih untuk tetap tinggal. Jujur aku tidak tahu mana yang harus aku pilih. Maka dari itu aku sungguh benci dengan perpisahan.

Segala hal yang sudah aku ciptakan selama ini, di sini, bukan lagi sesuatu yang remeh. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa berpamitan. Tetapi berpamitan membuatku jauh lebih sulit untuk menerima kenyataan, aku tahu pasti itu akan pahit sekali untuk diriku. Lalu yang paling menyebalkannya adalah aku tidak bisa melakukan apa-apa, selain meneteskan air mata.

Aku nyaman di sini. Aku mendapatkan kebebasanku. Aku mendapatkan keluarga baru. Aku menemukan orang-orang yang aku cintai dan kagumi. Walaupun fakta bahwa ada orang tuaku yang bersusah payah demi memberi makan kebebasan ego ini selalu mengikutiku kapanpun, seperti bayangan. Aku sungguh mengerti itu.

Setahun yang lalu aku sudah menduga bakal terjadi hal seperti ini. Tapi tetap saja hati ini tidak bisa terima begitu saja.

Sekarang aku sadar, pergi dan pulang itu selalu berjalan berdampingan. Seperti kita hidup selalu bersanding dengan kematian, tidak akan pernah terpisah. Kapan kita akan pergi dan pulang tidak ada yang bisa menebak. Mimpi menjadi alasan terkuatku untuk terus pergi, tetapi rumah menjadi dambaanku untuk selalu kembali. Tetapi jika aku, saat ini, tidak menginginkan keduanya, apa yang harus aku lakukan? Apakah ada jalan tengah antara memilih untuk pergi atau kembali? Tolong beri tahu aku.

Begitulah, lihat saja bagaimana kehidupan selalu saja mempunyai cara untuk membuat kita meratap atas segudang pilihan.

Bagaimanapun, saat ini orang tuaku lebih jauh membutuhkanku ketimbang ego kebebasanku semata. Aku akan mengalah. 

Mimpiku akan kukubur sampai entah kapan aku bisa memimpikannya lagi. Aku harus mulai belajar memikul sesuatu di pundakku. Mencari lagi orang-orang baru yang terus datang dan pergi. Menciptakan ulang keluarga keduaku. Menyukai pengalaman-pengalaman baru. Mencari lagi seorang wanita. Kembali lagi menjadi diriku yang selalu menempelkan earphone di lingkungan baru. Memilih ulang mata kuliah yang disukai. Dan di antara itu semua yang paling sulit adalah berpisah dengan perasaanku sendiri.

Siklus keparat!

Mungkin kalian akan lupa tentang keberadaanku. Boleh saja, itu terserah kalian. Tapi sebelum itu, izinkan aku untuk membuat lebih banyak kenangan lagi untuk aku simpan pribadi, sebelum aku pergi.


Aku ingin segalanya berjalan seperti biasa ketika saat itu tiba.

Sunday, March 26, 2017 0 comments

Diary March 26, 2017 Nyepi's Night

Well, sudah lama aku nggak menulis diary, terakhir rasanya sudah dua minggu lebih yang lalu sejak terakhir aku mem-posting tulisanku. Rasanya seperti punya sesuatu yang tertinggal entah di mana ketika tidak menulis blog.  Seakan-akan aku memiliki hutang yang harus segera dibayar. Padahal aku sendiri juga bingung, apa yang ingin aku tuliskan di dalam diary ini. dan mengapa aku harus merasa sebegitu bersalahnya jika tidak menulis? Ah, entahlah.

Baru-baru ini aku membuat blog baru. Alasannya sederhana saja, karena blog yang baru saja aku buat, dikhususkan hanya untuk menceritakan kenangan yang terjadi di dalam mata kameraku saja. Aku pikir tidak apa untuk menjadikannya satu di dalam sini, namun aku berubah pikiran. Blog ini sudah terlalu penuh dengan cuitan hati maupun pikiran yang tidak penting namun tetap aku sampaikan. Maka aku ingin membiarkan blog ini tetap sebagaimana mestinya. Walaupun isinya bisa saja aku hapus dan mengaturnya ulang, tetapi aku memilih untuk tidak melakukannya.

Kalian mungkin bisa mengunjungi blog baru ku di sini, jika kalian memang ingin membuang waktu kalian dengan sia-sia, aku menyambutnya dengan teramat senang.

Banyak kejadian yang sudah terjadi di sekitarku belakangan ini, dari yang berguna sampai yang super duper nggak penting. Tapi aku tidak akan membahasnya, karena aku lupa. After all, im just a normal human, sorry about that.

Tiga hari lagi, tepatnya hari Selasa, umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Nyepi. Sebagaimana yang kita tahu, pada hari itu bali akan terasa sunyi sekali. Kalian bisa melihat betapa lengangnya jalan aspal di depan rumahmu, hilangnya suara bising kendaraan bermotor, burung-burung bebas menyapa satu sama lain, saat relaksasi yang paling pas, tidurmu bisa 10x lipat lebih nyaman dari biasanya, dan orang non Hindu pun diwajibkan juga mentaati peraturan yang berlaku. Itulah sedikit dari banyaknya  keistimewaan Hari Raya Nyepi.

Dari banyak hal yang istimewa tentang Nyepi, ada satu hal yang paling aku tunggu jika hari itu tiba. Yaitu malam hari.

Ketika Matahari digantikan oleh Bulan, ada sesuatu yang menakjubkan terjadi di langit Bali saat itu. Bintang-bintang tanpa ragunya bertebaran di angkasa. Tak perlu repot-repot menyediakan teleskop, mata telanjang pun lebih dari cukup untuk melihat keindahannya. 

Terakhir aku melihatnya, bintang-bintang yang bertaburan itu mirip sekali dengan Bima Sakti. Aku bagaikan berada di luar angkasa, berandaku adalah kokpit pesawatku, dan rumahku adalah kursi penumpangnya. Kalian mungkin tidak memahaminya, tapi sungguh, satu kata yang akan terlontar dari bibirmu hanyalah satu, yaitu "indah", aku berani menjaminnya. Jujur, aku mengagumi keindahan malam saat Hari Raya Nyepi.

Aku sangat bingung bagaimana menggambarkannya. Indah, indah, indah, hanya itu yang aku ucapkan berulang-ulang di dalam hati. 

Segelas teh lalu diantarkan oleh ibuku. Tak ingin rasanya aku cepat-cepat menghabiskan minuman yang berada di dalam cangkir itu. Aku memilih untuk menyeruputnya sediki demi sedikit, agar dapat menemaniku melihat keindahan tersebut sedikit lebih lama.

Bedanya ketika aku melihat wajahmu, aku tidak perlu teh, dan aku tidak perlu lama-lama untuk menunggu malam Nyepi tiba.

Monday, March 6, 2017 0 comments

Diary March 6. 2017 Trip 1: Punthuk Setumbu

Sabtu dini hari kemarin pukul 02.30 WIB aku dan temanku Rio berangkat menuju Magelang. Lebih tepatnya kami berdua akan pergi menuju Punthuk Setumbu, salah satu destinasi wisata di daerah Magelang yang mempunyai objek wisata sunrise. Sebenarnya pada Kamis malam aku sudah merencanakan akan pergi sendirian ke tempat itu dan berangkat pada Jum'at dini hari. Tapi saat itu aku keasikan bermain game di komputerku lalu tanpa sadar matahari sudah menyambut masuk dari lubang ventilasi. 

Sayang sekali aku batal berkencan dengan diriku sendiri, maafkan aku diriku.

Aku rasa berjalan jauh hanya dengan seorang diri akan mengajarkanku tentang arti-arti yang belum dapat kutemukan sampai saat ini. Bukan ingin untuk melebih-lebihkan, tapi nyatanya begitu. Dalam hidupmu, segala sesuatunya tergantung pada dirimu sendiri, dan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering kali menggelintir di otak manusia, kamu sendiri yang harus mencarinya, entah dengan cara bagaimana. 

Dalam kurun waktu 24 jam, bisa sampai setengahnya aku menghabiskan waktuku dengan diriku sendiri. Tiap hari selalu begitu, waktuku bersama diriku sendiri lebih banyak ketimbang waktuku untuk pekerjaan sosial di luar sana. Hal-hal yang biasa aku lakukan saat sendirian pun tidak sepenuhnya berkesan, terkadang malah tidak berguna sama sekali. Dan dari sekian lamanya aku hidup, aku tidak mengenali siapa yang ada di dalam tubuh ini dan apa maunya. Itulah permasalahanku.

Kita kembali lagi ke topik awal. 

Aku hanya membawa sedikit barang ketika hendak pergi, karena memang nggak ingin repot-repot, apalagi jarak tempuh ke sana tidak terlalu jauh. Berbekal sebuah tas, kamera, tripod, dan uang lima puluh ribu, kami pun meluncur.

Seperti yang sudah diduga ketika berpergian dini hari, jalanan luar biasa lengang. Lampu jalan yang remang dan redup itu terasa terang sekali. Aku tidak tahu kalau jalan yang sebesar itu, yang selalu diramaikan oleh bus serta kendaraan besar lainnya, terlihat begitu romantis jika lengang begini. Pas rasanya jika yang duduk di kursi belakang motormu saat itu adalah kekasihmu. Berdua di jalan yang sepi sunyi, saling menghangatkan satu sama lain di tengah dinginnya angin malam, diiringi suara klakson bus yang nyaring, serta diterangi sayup-sayup lampu jalan, sungguh nuansa yang tak terganti pikirku. Sayang, yang ada di belakangku saat itu adalah seorang pria. 

Kalau tidak salah kami tiba pukul empat kurang sepuluh menit, tidak sulit untuk mencari tempatnya, akses jalannya pun cukup mudah. Loket tiket belum dibuka sampai benar-benar pukul empat tepat. Aku melihat sekeliling dan ternyata hanya ada sekitar dua puluh orang termasuk kami. Sengaja aku memarkir diriku di depan gerbang loket agar dilayani lebih dulu. Ketika sudah memegang tiket masuk, aku bergegas mengajak Rio agar segera masuk, karena aku ingin mempunyai waktu lebih untuk memilih spot mana yang menurutku paling tepat. Dan kami berdua adalah orang yang pertama kali masuk pada saat itu.

Layaknya dataran tinggi, kami harus berkorban tenaga untuk bisa mencapai puncak. Aku sempat bertanya kepada penjaga parkir motor, katanya jarak antara pintu masuk sampai puncak adalah 300 meter. Bentuk medan tanahnya tidak terlalu curam, apalagi sepanjang jalannya sudah dibuatkan tangga, mempermudah sekali untuk manusia-manusia macam aku. Setelah setengah perjalanan berlangsung, aku memaksa berhenti untuk istirahat. Walaupun medannya mudah, tetapi aku hanyalah seorang manusia dengan stamina super cetek, jadi mohon dimaklumi. Dua menit kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi.

Sampai di puncak, yang ada hanyalah gelap gulita. Rasanya mustahil untuk melihat spot mana yang terbaik. Aku jadi tidak tahu garis yang sejajar dengan matahari terbit. 

Sambutan yang akan kalian dapat ketika sampai di puncak. 






Satu-satunya pemandangan yang indah yang kudapat di kegelapan itu adalah gemerlap cahaya yang nggak kalah bagusnya dengan pemandangan Bukit Bintang pada malam hari. Dengan bermodalkan insting amatirku, aku mulai mencari spot lalu mendirikan tripod untuk mencoba mengambil beberapa gambar.

Keletihan perjalanan 300 meter itu sekejap langsung lenyap ketika disuguhkan pemandangan seperti itu. 



Kemudian hal berikutnya yang kulakukan adalah membeli kopi. Jangan khawatir haus atau lapar, di sana terdapat warung kecil yang menyediakan minuman dan juga pop mie, lumayan untuk mengganjal matamu dari kantuk dan jeritan perut. 

Selanjutnya yang kami lakukan hanyalah menikmati suasana yang ada.

Selama beberapa saat kami sempat tidak melihat matahari yang harusnya sudah beranjak naik, akibat kabut yang begitu tebalnya. Terlihat sekali bagaimana malunya cahaya matahari untuk menampakkan dirinya. Aku dan Rio serta pengunjung lainnya mulai menampakkan raut wajah sedikit kecewa, beberapa sudah meninggalkan posisinya dan memilih untuk duduk saja. Karena tak mau usahaku sia-sia, aku masih mantap menunggu dengan posisi yang tak bergeser satu milimeter pun, sembari ditemani pasangan asing yang sedang asik berciuman tepat di sampingku. 


Penantianku mulai menghasilkan sesuatu, dan pasangan asing itu sudah tak lagi menempelkan bibirnya satu sama lain. Kabut yang tadinya menutupi segala pengelihatan kian memudar. Walaupun tidak sepenuhnya memudar, setidaknya cahaya matahari masih bisa membelah itu semua demi menyapa kami semua. Ketika matahari sudah mulai menampakan dirinya, gemerlap cahaya malam yang baru saja kita lihat sudah digusur oleh lebatnya kabut. 

Aku bagai berada di atas awan. 
Rasanya saat itu aku sedang menjadi predator yang berdiri agung di puncak rantai makanan. Akulah yang tertinggi dari yang tertinggi. Walaupun hanya imajinasiku saja, tapi perasaan itu sungguh mengagumkan sekali!





Kalau kalian perhatikan lagi, dari puncak Punthuk Setumbu kalian bisa melihat Candi Borobudur dari tempat itu. Dan kini matahari sudah bersinar penuh, tidak ada lagi kabut yang mengganggu pekerjaannya. Potret-potret inilah yang menjadi klimaks-ku menikmati matahari terbit. Semoga kalian bisa ikut menikmatinya.



Puas rasanya jikalau sudah memiliki apa yang kita inginkan. Perjalananku di sini ternyata tidak sia-sia. Cuaca pun tampaknya sedang berpihak kepadaku hari itu. Tidak ada hambatan-hambatan yang berarti selama proses. Senang sekali rasanya berpergian seperti ini. Jujur saja, walaupun dari kecil aku tinggal di daerah penuh kawasan wisata, bahkan menjadi salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia, jarang sekali aku bisa menikmati wisata-wisata itu seperti kali ini. Aku tidak tahu alasannya, mungkin niatku yang menjadi pembeda.

Setelah matahari mulai meninggi, hal yang kami berikutnya adalah mengambil potret diri masing-masing untuk kenang-kenangan, tak lengkap rasanya jika tidak melakukannya.

Kalau tidak salah saat itu waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB, aku sudah kehabisan objek gambar. Sinar matahari sudah sepenuhnya menyeruak. Seketika itu Rio menyarankanku untuk mengambil gambar seorang kakek tua yang sedang duduk di gubuk sambil menghisap rokoknya. Mungkin kakek tua itu yang membersihkan tempat ini dari rumput liar, karena ia juga memegang sebuah arit di tangannya.

Tak perlu pikir panjang, aku pun menyetujui gagasan itu. Perlahan aku menghampiri kakek tersebut, seolah-olah aku sedang kebingungan mencari objek gambar. Aku berhenti tepat di depannya, dan langsung mengambil posisi sedikit jongkok.

Awalnya si kakek tidak sadar bahwa ada sebuah mata kamera yang sedang menghunuskan pandangan tepat kepada dirinya. Lalu tak lama kemudian kakek itu mulai melirikku. Mungkin dia sudah mulai merasakan risih melihat ada orang yang senantiasa setengah jongkok dengan begitu lama di depannya. Karena tak mau kelihatan seperti penguntit yang mengambil gambar orang secara diam-diam, aku pun terpaksa sedikit ber-akting (padahal kenyataanya memang penguntit). 

Saat matanya mulai bertatapan langsung pada mata kameraku, aku langsung mengalihkan pandangan dan berpura-pura seolah sedang mengambil gambar yang ada di sekitarnya. Entah itu tanah, semut, ranting pohon, kentut orang, aku hanya menjepret asal, apapun itu asal bisa menutupi niatku untuk mengambil gambar dirinya.

Ketika ia mulai beranjak dari tempat duduknya, memilih untuk berdiri menyandar di pagar pembatas, diam-diam aku juga mengikutinya. Sepertinya aku punya bakat untuk menjadi penguntit, kenapa tidak ku sadari dari dulu? Hahaha

Dan beginilah hasilnya, baa dumm tsss!



Dan yang terakhir, saat perjalanan turun ke bawah, aku melihat pemandangan yang lumayan membuat eyegasm. Sungguh, tempat ini tak henti-hentinya memanjakan mata.


Itulah beberapa kenangan yang dapat aku bagikan mengenai perjalanan kali ini. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sini, udaranya sejuk. Tapi karena kami harus pulang untuk ikut meramaikan wisuda kakak-kakak alumni himpunan kami di kampus, aku pun mengikhlaskannya untuk pergi. 

Aku tidak tahu angin akan menggiring kakiku ke mana lagi. Semoga saja aku bisa singgah lagi ke tempat-tempat seperti ini lagi. Semoga. 



Wednesday, March 1, 2017 0 comments

Diary March 1, 2017

Sampah. Semuanya sampah. Aku, kamu, mereka, kalian, kita semua sampah. Hidup penuh dengan pembuangan. Kalian tinggal memlih, ingin membuang atau dibuang. Tetapi ingat, apapun pilihannya kita hanyalah sekadar produk masal yang mempunyai masa guna. Jika masa gunamu bagi seseorang telah habis, tak perlu lagi bukan untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya bukan? Dan itu berlaku untuk sebaliknya.

Begitulah hidup beriringan dengan manusia-manusia "sementara", yang hanya menumpang lewat di kehidupan kita.
Friday, February 3, 2017 0 comments

Story of Nobody

Menarik sekali mencintai manusia.

Seorang anak manusia diperkenalkan pada suatu masa. Masa-masa di mana gejolak rasa mengalir bebas. Tanpa arah dan tak beraturan. Terkadang rasa itu sendiri merebut kewarasannya sebagai mahkluk berinteligensi. Dilihatnya sepanjang jalan penuh kawanan bunga dengan beraneka ragam keindahan, sembari sulur duri menyiksanya tiap kali ia melangkah. Dalam kesendiriannya ia selalu meratap.

Secangkir kesedihan diletakkan di atas mejanya. Tak terpungkiri lagi bagaimana geramnya ia disuguhi kudapan seperti itu. Yang ia cari hanyalah setetes kebahagiaan, namun kehidupan selalu memberinya sepucuk getir. Terheran ia melihat ketidakadilan macam ini. Bolehkah ia mengumpat sekarang?

Wanita itu. Ya. Wanita itu membuat dirinya kacau. Kesadarannya berhamburan entah kemana. Dirinya pun menengadah ke langit luas. Melukis imaji tentang manusia yang telah hilang.

Hanya itu yang bisa ia lakukan
Friday, January 27, 2017 0 comments

Diary January 27, 2017 Ready to Create Memories!

Seperti biasa, aku menulis blog hanya kala dini hari. Tidak ada alasan spesifik kenapa bisa begitu, hanya saja mungkin inilah waktu yang nyaman untuk seseorang untuk bercerita. Dimana suara hiruk pikuk manusia sosial tak lagi didengar, hilangnya suara mesin baja beroda yang berderu-deru, dan hanya menyisakan pelukis cerita beserta beberapa pendengarnya. Aku suka itu, apapun ceritanya, kupikir semuanya akan terdengar romantis jika diceritakannya pada dini hari begini.

Sebenarnya aku tidak mempunyai apa-apa untuk diceritakan. Tadinya aku sudah ingin tertidur. Namun di tengah perjalanan, antara alam ini dengan dunia mimpi, jembatan yang aku lalui itu tiba-tiba rontok, alias hancur lebur. Asal kalian tahu, hal yang seperti ini sangat lumrah di kegiatan tidurku. Setelah itu terjadi, otakku tak henti-hentinya mengimajinasikan sesuatu. Ketimbang aku memikirkan yang aneh-aneh, menulis blog rasanya menjadi pilihan yang paling bijak.

Oh iya!

Sabtu kemarin aku resmi mempunyai sebuah kamera! Aku memang sudah lama menginginkan benda ini. Alasannya sih simpel, karena aku ingin mempunyai hardcopy dari semua kenangan yang telah terjadi, dan aku ingin memasukkannya ke dalam lembaran-lembaran frame.

Awalnya sih ibuku menawarkanku untuk membeli handphone baru sesaat setelah aku kembali ke rumah, karena dilihatnya ponsel milikku ini sudah mulai nggak jelas kelakuannya. Di telepon suka sulit, padahal hidupku di Jogja sana bukan di tengah-tengah hutan.

Lalu dengan seketika aku melihat cahaya yang akan mengabulkan impian lama. Berhubung ibuku orangnya pengertian, dengan cepat aku langsung menegosiasikan tawaran ponsel barunya dengan sebuah kamera, alhasil tanpa bersusah payah hal itu terwujud dengan mudahnya. Ibuku memang malaikat.

Sebenarnya aku juga ingin mempunyai handphone baru. Smartphone-ku ini sudah ketinggalan tiga generasi, apalagi operating system-nya sudah nggak bisa diperbarui lagi, nggak bisa digunakan buat meng-upgrade aplikasi terbaru, sering lemot-lemotan juga, kadang sampai nggak bisa dipake buat telepon atau ditelepon orang (Ibuku yang paling sering jadi korbannya), pesan yang dikirim lima menit lalu bisa jadi nyampenya tengah malem, mata kameranya udah mulai rabun, dan masih banyak lagi!

Tetapi, dari sekian banyaknya alasan, mempunyai handphone baru nggak bakal membantuku menghilangkan rasa kesepian, semahal apapun itu. Bukan karena sombong, tapi semua orang bebas mempunyai pendapat masing-masing kan? Yang aku inginkan hanyalah nggak mau melupakan ingatan. Otakku nggak pernah mengingat kebahagian banyak, keseringan kenangan suram yang sering awet di kepala. 

Dengan handphone yang bisa dikatakan sudah butut di zaman ini, aku sedikit mempunyai keramaian tersendiri di dalamnya. Aku bahagia ibuku masih bisa mengisi penuh daftar panggilan telepon masuk, aku senang ketika benda ini menerima pesan dari si Mbak, aku suka sejarah yang dilalui benda ini sejak awal aku membelinya, apapun yang berkaitan dengan memori, kurasa handphone ini lebih banyak menyimpan kenangan-kenangan dibandingkan barang-barang milikku lainnya. 

Cita-cita sejak dua tahun yang lalu kini tercapai sudah. Sekarang aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengenang. Otakku juga nggak perlu terbebani dengan yang namanya mengingat. Tinggal menekan pelatuk dengan komposisi yang pas, krekkk, sebuah kenangan tercipta!

P.S: Sebenernya ini cuitan dari dua hari yang lalu, hanya saja baru malem ini aku upload. Pertama dikarenakan ketiduran pas waktu nulis. Kedua, kelupaan.
Monday, January 23, 2017 0 comments

Diary January 23, 2017 Vague

Hmmmm....
Ini adalah hari kesepuluhku berada di rumah. Setelah enam bulan lamanya ditempa di perantauan, aku dihisap kembali ke tempat semuanya dimulai. Tempat segala permasalahanku berasal dan bermuara. Bersatu padu menyambutku dengan hingar bingar, lalu olehnya dikenakkan mahkota duri di kepalaku sebagai sebuah simbol. Simbol yang mengekang kakiku untuk berlari dari kenyataan.

Aku tidak membenci tempat ini, dulu pernah namun sekarang tidak lagi. Seiring bertambahnya usia, tubuh dan hatiku larut dalam kepasrahan yang harus membuatku menerima segalanya yang sudah terjadi. Dan sekarang aku rasa aku telah bisa menerimanya sebaik yang aku bisa.

Mungkin aku akan berada di sini kurang lebih selama sebulan, dan kira-kira pertengahan bulan Februari aku harus sudah kembali lagi ke Jogja. Kebanyakan hal yang kulakukan di sini dihabiskan untuk membantu orang tuaku menjalankan bisnisnya, sesekali pergi nongkrong dan berlibur dengan kawan lama yang notabene itu-itu aja, sisanya direnggut oleh kasurku tercinta.

Secara mendadak, aku kehilangan alasan untuk memperhatikan hal-hal serta orang yang kupedulikan di Jogja sana ketika berada di sini. Entah apakah tempat ini mempunyai kekuatan mendistraksi, atau tempat ini memang mempunyai ruang isolasi tak terlihat hanya untukku seorang? Aku tidak tahu.

Yang jelas otakku seperti tidak punya waktu untuk memikirkan apapun yang berkaitan dengan kewajiban di Jogja, bahkan rasanya perasaanku juga dibiarkan tertinggal di sana. Sekalipun memikirkannya, bentuknya sekilas seperti angin berhembus. Wusssshhhhh, menghilang begitu saja dan terlupa. 

Sebenarnya aku tidak sibuk-sibuk amat menjalani rutinitas sehari-hari hingga sampai melupakan kehidupanku yang lainnya di sana. Teramat banyak waktu yang bisa kugunakan untuk sekadar menyapa kebahagiaanku yang berada di Jogja sana. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku sendiri heran, apa sebenarnya yang aku pikirkan.

Sekarang pukul satu dini hari waktu setempat. Biasanya aku tak pernah tidur selarut ini. Di sini, perlahan-lahan jam tidurku kembali teratur, walau belum sepenuhnya. Demi menulis blog ini aku rela merusak lagi jam tidurku yang sudah mulai benar. Mataku mulai terkatup-katup tiap menulis bait kata. Beginilah perjuangan seorang manusia yang tidak mempunyai tempat curhat di dunia nyata. Sebelum tidur menghanyutkan kalimat yang ingin diucapkan, baiknya aku tuangkan sekarang juga.

Bohong ding. Sebenarnya mataku masih terang benderang. Ini semuanya gara-gara kopi buatan karyawan ibuku yang menyodorkan secangkir kopi padaku tiba-tiba. Well, biasanya tidak dibuatkan kalau tidak kuminta, tapi hari ini dia membuatkanku kopi begitu saja tanpa alasan yang kongkrit. Tetapi dua kalimat terakhir paragraf di atas memang kenyataan.

Aku selalu meminta kopi dengan sedikit gula, bahkan kadang-kadang tanpa gula. Kopi yang dipakai juga kalau tidak salah jenisnya robusta dan buatan produk lokal.

Panggil saja ia dengan si Mas. Si Mas ini adalah satu-satunya karyawan ibuku yang menjadi langgananku untuk soal membuatkan kopi. Sangat jarang aku meminta karyawan-karyawan lainnya untuk membuatkanku kopi selain dia. Bukan karena kopi buatannya enak, melainkan karena aku malas menjelaskan lagi bentuk kopi bagaimana yang aku inginkan.

Walau rasa kopi buatannya tidak menentu dari agak sedikit pahit, sedikit pahit, lumayan pahit, agak sedikit lumayan pahit, dan pahit, aku tak mempermasalahkannya. Mempertahankan rasa pahit yang sesuai secara terus menerus sama susahnya dengan usaha agar perasaan mencinta itu agar tetap ada. *Apasi

Tapi kali ini kopi buatan si Mas berbeda seratus persen. Kopi yang biasa dibuatkannya berwarna hitam polos, kini berubah menjadi warna cokelat kehitaman. Dilihat saja sudah tercium pahit bagaimana yang menanti. Aromanya seperti sudah siap membunuh rasa kantuk selama tujuh hari tujuh malam. Butuh waktu lama untuk membiarkan ampasnya larut ke dalam dasar cangkir. Aku pikir aku bisa mengatasinya, ternyata aku meremehkannya.

Benar saja, baru sedikit seruputan, kepalaku seperti mendapat tendangan salto tepat di belakang kepala. Hanya sedikit tegukan saja rasanya aku telah membiarkan kafein menghadirkan pesta di otakku. Dan pada akhirnya aku menyerah lalu membiarkan isi cangkir itu setengah tak terminum. Cepatlah berlalu pestamu itu kawan, biarkan manusia biasa ini kembali menikmati mimpi indah.

Ngomong-ngomong soal mimpi, semoga saja kita bertemu lagi di sana. Kasur tercintaku di sini suka menghadirkan mimpi-mimpi random, alias nggak jelas. Aku kepengen ngobrol panjang lebar lagi. Hadir kek gitu sekali-sekali.

Okelah kalau begitu, capek ngetik. Pengen nyoba tidur, siapa tau pesta kafeinnya udah kelar. Selamat malam ya buat yang di sana :)











Eh ini udah dini hari ding.
Sunday, January 1, 2017 0 comments

Diary January 1, 2017 New Year, New Lost

Katakan satu hal tentang bagaimana seorang manusia dapat jatuh cinta?

Beberapa orang menjawabnya dengan mudah. Dan beberapa hanya membiarkan perasaan yang ada hanyalah ada. Semua orang punya alasannya masing-masing mengapa ia memilih untuk jatuh cinta. Bahkan terkadang mereka sendiri tidak tahu bahwa virus itu telah menyebar di dalam dirinya tanpa sempat diketahui. Membiarkan diri mereka perlahan-lahan terhisap oleh kenikmatan yang fana.

Tetapi yang aku alami ini berbeda. Aku dan dia terhubung satu sama lain melalui ruang dan waktu yang berbeda. Tempat yang hanya muncul ketika seharusnya muncul. Tidak setiap hari kita bisa bertemu, hanya jika ia memang berkehendak saja.

Pertemuan kami selalu singkat, tetapi segalanya bermakna. Puas sekali melihatnya dari jarak sedekat ini. Kami bisa bersenda gurau semalam suntuk jika kami mau. Tidak seperti waktu-waktu bahagia pada umumnya. Detik bergulir begitu lambat di sini. Tak terbayang bagaimana gembiranya aku jika bisa memamerkan ini kepada orang-orang. Tetapi sayang, matahari terbit selalu berhasil memaksaku untuk melupakannya. Sial.

Jatuh cinta itu proses misterius. Penjelasan sains mungkin sudah berulang kali menerangkan bahwa jatuh cinta itu salah satu dari human error. Menurutku, apapun itu narasi singkat mengenai proses jatuh cinta, semuanya terdengar absurd. Jatuh cinta itu tidak ada yang masuk akal. Terjadinya pun tidak diduga-duga. Seketika timbul begitu saja.

Kalau masih ada yang berpikir kenapa seseorang bisa jatuh cinta kepada seseorang, mungkin kalian sudah melontarkan satu-satunya pertanyaan tidak berguna se-antero jagat raya. Tidak peduli tempat atau waktu, siapapun bebas menyukai siapa saja. Bahkan seorang gelandangan pun bebas mencintai seorang ratu jika ia mau. Masalahnya adalah berani atau tidaknya dia mengatakannya?

Aku bukanlah orang bijak. Sedikitpun tak pernah aku berpikir demikian. Tapi berbahagialah bagi kalian yang sekarang sedang memendam rasa kepada seseorang. Tidak perlu memaksakan diri untuk mendapatkan segalanya. Biarpun keindahannya bukan kamu yang menuai, itu tak jadi masalah. Karena apapun yang menjadi milik, akan selalu pergi. Akan selalu begitu sampai ia benar-benar menemukan rumah. Yang kalian butuhkan saat ini hanyalah menyiapkan diri menjadi rumah yang ideal baginya, dan selalu menyambut hangat langkah kakinya saat masuk ke dalam pintumu.

Tetapi aku sih tidak akan melakukannya seperti itu.

Sekali lagi aku tegaskan, aku bukanlah orang bijak. Yang aku katakan belum tentu itulah yang aku lakukan. Memangnya menjadi lebih baik demi seekor kutu loncat adalah sebuah perjuangan? Itu sama saja dengan kebodohan. Ketololan agung yang tak bisa diselamatkan lagi.

Debur ombak berdesir kencang. Cahaya remang-remang berkilauan sepanjang tepi. Di atas kepala, bintang-bintang menyapa ramah. Membuat hati merasa di rumah yang tak pernah terjamah.

Begitulah jatuh cinta kurasa.

Rasanya tak perlu banyak memperdebatkan tentang bagaimana mendapatkan seseorang yang terkasih. Apalagi menceritakan perasaan yang tak tersampaikan pada semua orang. Berharap seolah-olah itu bakal meringankannya. Ku pikir tak perlu serepot-repot itu memikirkan nafsu hati.

Semua orang akan kehilangan. Semua orang akan meninggalkan seseorang. Apa yang datang tak akan ragu juga untuk pergi. Mencintai bukan perkara sepele. Semua orang tahu itu. Pertanyaannya adalah, masih pentingkah arti memiliki itu sekarang untukmu?

Sebenarnya aku kesal membahas hal-hal seperti ini. Tetapi otakku terlalu sempit untuk memikirkan hal lain. Khas otakku, membanjiri dirinya sendiri dengan badai yang sudah lama berlalu. 

Andai saja aku bisa meminta pertolongan kepada seseorang untuk menyingkirkan penyakit yang sudah lama berkembang biak ini, kira-kira akankah ada yang sudi menolongku?











Ahhh, tahun sudah berganti cangkang lagi.  Aku kalah untuk kesekian kalinya.

 
;