Adzan Subuh sudah berkumandang, beberapa ayam juga sudah mulai mengaung, tapi tetap saja mata tak ingin buru-buru untuk terlelap. Seminggu, atau bahkan lebih, berhasil sudah aku memutar rotasi tidur manusia biasa. Benar sekali, Bulan menjadi Matahari, dan Matahari menjadi Bulanku. Ini bukan lagi masalah besar, banyak orang di luar sana yang sama juga mengalami seperti ini, bedanya adalah alasan mereka mengapa menghindari Matahari, and of course i have my own reason.
Aku punya kebiasaan buruk sebelum tidur, yaitu terjun bebas dalam imajinasiku sendiri. Aku tutup mataku sebagaimana manusia tertidur, tapi di saat itu juga aku tidak langsung jatuh dalam mimpiku. Kalian dapat membedakannya? Berimajinasi dan bermimpi menurutku dua hal yang berbeda, namun terkadang di suatu kesempatan, kedua hal ini dapat menjadi satu kesatuan. Aku tidak punya kata-kata yang pantas untuk menerjemahkannya menjadi lebih baik, tapi begitulah maksudku.
Ini tahun ketigaku mempunyai kebiasaan aneh ini, mungkin beberapa orang juga melakukannya. Aku tidak tahu pasti.
Dalam kasusku, kebiasaan burukku ini tidak jarang membuatku jengah. Ketika sedang asik-asiknya membuat kerajaan atau sekedar curhat tentang masalah perasaan kepada Unicorn di dalam kastil abu-abu, kuasaku akan imaji tersebut diambil alih oleh ntah siapa. Harusnya aku yang mengatur, segalanya, tapi mendadak aku yang jadi diatur. Tiba-tiba ia selalu menampilkan figur-figur, nama-nama, ataupun benda-benda yang membuatku jengkel. Bahkan memori-memori absurd tidak dilewatkannya, dan membuatnya menjadi lebih konyol.
Entah siapa yang dengan kurang ajar merebut hak asasi manusia malang ini untuk berimajinasi bebas.
Lalu aku memilih untuk bangun saja, dan melakukan sesuatu apapun itu, sampai bayangan tersebut hilang. Ketika aku sudah melupakannya, aku lanjutkan lagi perbincanganku dengan Unicorn yang tadi sempat terkacaukan. Berharap tidak ada lagi pengganggu dan distorsi lainnya.
Kampretnya, ketika aku memilih untuk bangun dari imajinasiku sendiri (yang telah diambil alih kuasanya), lalu memilih untuk menyibukkan diri sejenak hingga rasa kantuk datang lalu melanjutkannya lagi, yang terjadi pada imajinasiku bagian kedua ini malah makin konyol dan tolol.
Aku melakukan proses bangun dan tidur itu bisa sampai berulang-ulang kali, bahkan kepalaku sampai pusing. Maka dari itu aku memilih untuk tetap terjaga sampai alarm tubuhku benar-benar menandakan bahwa aku harus tidur, dan meniadakan kebiasaanku itu.
Well, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kebiasaanku ini, hanya saja di saat banyak masalah yang terjadi seperti saat ini, aku pikir bukanlah hal yang bagus dan aku ingin untuk berpikir normal. Karena tentu saja apa yang aku imajinasikan ada sangkut pautnya tentang apa yang terjadi di lingkunganku. Semakin gelap suasana yang terjadi, semakin menyebalkan juga apa yang kubayangkan. Begitupun sebaliknya.
Aku tidak berharap kalian untuk bisa mengerti maksudku. Aku juga sadar ini seperti terlalu mengada-ada, tapi ini sungguhan. Tetapi intinya alasanku lari dari Matahari adalah untuk menghindari kebiasaanku yang satu ini, tidak lebih.
Jika ditanya lebih suka bermimpi atau berimajinasi, akan ku jawab dengan pilihan kedua. Mengapa? Karena aku lebih leluasa mengatur segalanya, walaupun tidak juga, tetapi aku bisa memilih orang-orang yang ingin aku masukkan dan sesuka hati membuang orang-orang yang tidak aku butuhkan dalam panggungku.
Tetapi mimpi tidak, mimpiku hanya menampilkan apa yang aku butuhkan. Jika aku membutuhkan seseorang, maka orang tersebutlah yang muncul di sana. Semakin aku menyangkal bahwa aku tidak membutuhkan orang tersebut, semakin sering pula orang tersebut muncul. Dan aku merasa kasihan juga terus-terusan mengundang orang itu datang repot-repot hanya untuk mimpiku semata.
Do i have to say that name? I don't think so, cause i always do already.


0 comments:
Post a Comment