Selalu saja begitu. Selalu saja ada yang diambil pergi. Selalu saja aku dipaksa kembali. Selalu saja dipaksa untuk pergi. Selalu saja dienyahkan begitu saja. Selalu dan selalu. Ingin rasanya memaki, tapi entah pada siapa.
Di saat semuanya baik-baik saja, ada saja masalah yang menghampiri. Ntah kenapa masalah tidak pernah mau berteman baik dengan kehidupan manusia. Sekali saja itu tampaknya sungguh mustahil. Bayangkan saja jika semua itu dapat terjadi, tentunya tidak akan begini. Setengah hatiku memintaku kembali karena rasa tanggung jawab, tetapi setengah hatiku yang lainnya memilih untuk tetap tinggal. Jujur aku tidak tahu mana yang harus aku pilih. Maka dari itu aku sungguh benci dengan perpisahan.
Segala hal yang sudah aku ciptakan selama ini, di sini, bukan lagi sesuatu yang remeh. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa berpamitan. Tetapi berpamitan membuatku jauh lebih sulit untuk menerima kenyataan, aku tahu pasti itu akan pahit sekali untuk diriku. Lalu yang paling menyebalkannya adalah aku tidak bisa melakukan apa-apa, selain meneteskan air mata.
Aku nyaman di sini. Aku mendapatkan kebebasanku. Aku mendapatkan keluarga baru. Aku menemukan orang-orang yang aku cintai dan kagumi. Walaupun fakta bahwa ada orang tuaku yang bersusah payah demi memberi makan kebebasan ego ini selalu mengikutiku kapanpun, seperti bayangan. Aku sungguh mengerti itu.
Setahun yang lalu aku sudah menduga bakal terjadi hal seperti ini. Tapi tetap saja hati ini tidak bisa terima begitu saja.
Sekarang aku sadar, pergi dan pulang itu selalu berjalan berdampingan. Seperti kita hidup selalu bersanding dengan kematian, tidak akan pernah terpisah. Kapan kita akan pergi dan pulang tidak ada yang bisa menebak. Mimpi menjadi alasan terkuatku untuk terus pergi, tetapi rumah menjadi dambaanku untuk selalu kembali. Tetapi jika aku, saat ini, tidak menginginkan keduanya, apa yang harus aku lakukan? Apakah ada jalan tengah antara memilih untuk pergi atau kembali? Tolong beri tahu aku.
Begitulah, lihat saja bagaimana kehidupan selalu saja mempunyai cara untuk membuat kita meratap atas segudang pilihan.
Bagaimanapun, saat ini orang tuaku lebih jauh membutuhkanku ketimbang ego kebebasanku semata. Aku akan mengalah.
Mimpiku akan kukubur sampai entah kapan aku bisa memimpikannya lagi. Aku harus mulai belajar memikul sesuatu di pundakku. Mencari lagi orang-orang baru yang terus datang dan pergi. Menciptakan ulang keluarga keduaku. Menyukai pengalaman-pengalaman baru. Mencari lagi seorang wanita. Kembali lagi menjadi diriku yang selalu menempelkan earphone di lingkungan baru. Memilih ulang mata kuliah yang disukai. Dan di antara itu semua yang paling sulit adalah berpisah dengan perasaanku sendiri.
Siklus keparat!
Mungkin kalian akan lupa tentang keberadaanku. Boleh saja, itu terserah kalian. Tapi sebelum itu, izinkan aku untuk membuat lebih banyak kenangan lagi untuk aku simpan pribadi, sebelum aku pergi.
Aku ingin segalanya berjalan seperti biasa ketika saat itu tiba.


0 comments:
Post a Comment