Wednesday, December 30, 2015 0 comments

Diary December 30, 2015

Seperti biasa, masih terbangun dengan mood yang nggak beraturan. Tertidur dengan sangat liar, setelah berbelanja segala macem untuk perayaan tahun baru besok malam. 

Btw, ini pertama kalinya aku nge-blog lewat hp. Biasanya saat nge-blog pasti kututup pintu kamar rapat rapat, lampu kamar di padamkan, pintu jendela tertutup namun tak rapat, memutar lagu instrumental, dan aku mulai menulis di depan komputer tercinta.

Tetapi ini malah sebaliknya. Hanya ditemani secangkir kopi, duduk dipangkuan matras, terduduk manis di teras kosan. Aku menulis.

Pertama kalinya aku akan menghabiskan malam pergantian tahun di jogja. Sebelumnya pasti di Bali. Dan, ini pertama kalinya juga aku merayakan tahun baru sama seperti kebanyakan orang. Jangan tanya bagaimana aku menghabiskan malam pergantian tahun sebelum-sebelumnya. Bagaimana acara besok akan berjalan, apakah sama garingnya seperti malam-malam sebelumnya? Who knows?

Malam tahun baru bertepatan dengan ulang tahun mama dan papaku, selalu ada perayaan kecil untuk merayakannya. Melupakan segala sumringahnya malam tahun baru, untuk waktu yang berkualitas dan bermakna. Besok akan jadi malam pertama aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada mereka berdua.

Untuk mama & papa, semoga kalian panjang umur dan sehat selalu. Walaupun saat ini aku belum bisa menghasilkan sesuatu yang membanggakan, tapi percayalah aku akan. Hanya satu yang bisa aku katakan, harapan kalian padaku yang saat ini aku pikul, pasti akan kubawanya puncak. Sebelum kaki kalian tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya, badan yang terlalu rapuh untuk bangun, dan sebelum mata terpejam untuk selamanya. I'll be on top. Baktiku hanya untuk kalian. 

Sekali lagi,
selamat ulang tahun untuk Mama & Papa. We do love you, more than anything in this world.

Monday, December 28, 2015 0 comments

Diary December 28, 2015

Nggak ada yang spesial untuk hari ini. Salah satu hari yang akan tenggelam sama seperti hari-hari sebelumnya. Membosankan. 

Dimana orang-orang sedang sibuk untuk persiapan ujian besok, aku masih asik sendiri dengan duniaku sendiri. Masa bodoh tentang ujian. Lulus dengan nilai pas-pasan pun aku bersyukur. Ah sudahlah, lupakan saja.

Apa aku seseorang yang tensi darahnya rendah? Kenapa setiap bangun tidur, ada saja yang membuatku kesal. Ntah itu hal kecil atau hal kecil yang sedikit besar. Akhir-akhir ini setiap kali aku terbangun, hal yang aku selalu ingin lakukan pertama kali adalah menendang semua isi kamar satu persatu dan berkata, "Tempat ini terlalu sempit buat isi kepalaku."

Apa lagi? 

Posisiku saat ini memang sedang menulis diary blog, tetapi sebenernya aku ingin membanting layar monitor yang ada didepan mataku saat ini. Mempreteli CPU yang lemot. Mematahkan keyboard yang nggak becus untuk menyampaikan kata-kata. 

Kalau boleh jujur, rusaknya moodku disetiap kali aku terbangun adalah gara-gara wanita sialan itu pergi. Sebelum mengenal wanita itu rasanya dunia bisa berputar sebagaimana mestinya. Nggak seperti sekarang. Rasanya terlalu berantakan. Di setiap sisinya nggak terurus. Dalam satu minggu, wanita itu bisa hadir di dalam mimpi ku 2-3 kali. Tetapi saat aku bangun, semuanya hanya ilusi. Mengesalkan sekali. 

Sudah hampir satu tahun aku tidak ketemu dan berbicara langsung. Kalau pun aku ketemu, mungkin aku akan... akan... ntah lah. 

Biasanya kalau saat-saat seperti ini terjadi, Dota sebagai pelarianku. Aku bisa mengembalikan segalanya seperti sedia kala. Sampai saat ini belum ada yang lain. Itu waktu aku di Bali. Nah kalau di Jogja? Berhubung aku tidak ada koneksi yang mumpuni, terpaksa aku harus bermain di luar. Namun prioritas dompet selama di jogja adalah nomor satu makan, kedua dan ketiga sesuai keadaaan. Makannya aku tidak mempunyai tempat untuk melampiaskan itu semua. 

Menulis dan menceritakan sesuatu memang sedikit membantu. Tapi terlalu banyak gundah yang nggak bisa di ungkapkan dan dengan kata-kata yang pas. Sekalipun aku mendapatkan kalimat yang cocok, mungkin kalimat tersebut akan terdengar seperti random shits di kepala kalian. 

So, i really fucking hate u. Dear fucking life ruiner.
0 comments

Lets Draw a Dream

Aku tahu kenapa impian nggak pernah datang tepat di depan keningku. Aku tahu kenapa sampai saat ini aku tidak tahu apa bakatku sebenarnya. Aku sekarang tahu bahwa pada dasarnya manusia tidak mempunyai bakat.

Mungkin impian ini terdengar konyol, tapi impian orang sukses yang terkabul berawal dari ide konyol bukan? Aku ingin menjadi seorang penulis. Oke, cukup.

Di hidup seperti sekarang, seorang penulis mungkin tidak akan mendapat singgasana bermartabat, seperti profesi lainnya. Tapi aku menantikan hari, dimana orang-orang akan membaca karya seseorang yang sudah berada entah dimana dengan perasaan bahagia. Membagi sedikit kebahagiaan kecil. Memberikan imagi keberanian yang menular. Menawarkan dunia, yang dimana kita bisa melakukan apa saja. Dan memberikan secarik kertas putih yang belum ternoda, yang meraung-raung untuk digambarkannya sebuah mimpi yang kelak akan menggerakan dunia. Deskripsi singkat seorang penulis dimataku. Profesi yang mulia bukan?

Mungkin, kalau saja dulu aku tidak pernah menyerah dengan apa yang aku tekuni. Mungkin aku akan menadikannya sebuah impian. Bad thing happened for a reason. Pun aku tidak menyerah, segala sesuatu yang aku geluti  tidak kulakukan sebagaimana mestinya. Setengah-setengah. Sungguh, mimpi tidak akan terwujud semudah itu. Tidak pernah all out untuk segala bidang. Apapun yang kamu sukai, lakukanlah dengan prinsip 'Totalitas Tanpa Batas'. Setidaknya untukku.

Belajar dari nge-blog, aku bisa menyampaikan aspirasi yang aku punya. Walaupun banyak yang masih tersangkut di kepala, karena susahnya mencari pilihan kata yang pas. Tapi aku senang untuk bercerita. Bagaimanapun juga, dengan menulis sesuatu kita bisa menciptakan dunia dimana hanya kita yang mengerti. Dunia yang sempurna. Kecacatan yang mendamba. Kisah kasih candu. Awan menari riang. Matahari bersinar berdampingan dengan bulan. Bintang menjadi penerang gelapnya kamar. Bidadari ayu. Tidak ada air mata yang menetes. Hidup bersama dengan orang-orang yang di cintai. Dan yang paling aku suka, kita bisa meniadakan eksistensi perpisahan. Hal yang paling aku benci di dunia ini.

Impian ini mengharuskanku untuk memperbanyak membaca. Tentu saja. Penulis mana yang tidak suka membaca? Aku menggeser hobi-hobi ringan seperti, memprioritaskan novel dari pada komik saat di toko buku, Menyempatkan membaca satu halaman buku setiap hari. Mencari novel-novel recommended untuk dibaca selanjutnya. Yah, saat ini memang baru itu saja. Soon, i'll make this dream come true step by step. Berpikir jangka panjang memang bijak. But not for dreams. Mengejar mimpi berbeda dengan investasi. Setiap langkah mimpi yang kita pijak, mempunyai pelajaran untuk kita.

Bayangkan jika seorang pemuda mempunyai mimpi untuk berada di puncak gunung tertinggi di dunia. Tetapi ia menggunakan pesawat atau helikopteror something like that—untuk berada di puncak gunung tersebut. Memang, mimpi dia terwujud. Tapi tidak ada usaha yang berarti didalamnya. Apakah ada kepuasan diri? Tidak. Dia berpikir terlalu instan. Tanpa ia sadari, banyak pendaki dibawahnya yang mati-matian untuk berada di puncak dengan penuh perjuangan berharap untuk berhasil mendapatkan mimpi tersebut. Pun dia berhasil, usaha yang dihasilkan tidaklah percuma. Ia mendapatkan pemandangan yang tidak semua mata bisa melihat.  Bukan angin lagi yang berhembus, melainkan awan yang bernyanyi. Dingin yang ntah mengapa menjadi hangat. Pelajaran disetiap langkahnya membuat surga yang tidak mengecewakan. Alhasil, pemuda tersebut seakan-akan kehilangan serpihan kecil dalam mimpi yang terwujud itu.

Mimpi tidak seperti pasar perdagangan, yang bisa kita ukur dengan grafik dan pola. Mimpi terjadi begitu saja. Tanpa kita sadari. 


Saturday, December 26, 2015 0 comments

Diary December 24, 2015

Terbangun dari nyenyaknya tidur seraya dengan perut yang menjerit-jerit, aku melihat isi dompet. Ya, walaupun cukup untuk dua hari kedepan, aku nggak yakin dengan uang segini bisa mencukupiku sampai minggu depan.

Ini karena film yang sudah aku tunggu-tunggu tayang di bioskop. Sebuah film yang diangkat dari novel yang penulisnya saat ini menjadi panutanku. Aku tidak peduli berapa uang yang tersisa pada dompetku saat itu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan tiga puluh ribu dari dompet yang saat itu malu-malu untuk keluar.

Sedikit kecewa dengan filmnya. Menontonnya pun tidak seseru membaca bukunya. Banyak adegan-adegan yang di loncati. Membuat karakter-karakter yang ada didalamnya seolah-olah tidak bernyawa. Ya walaupun begitu, aku tetep mengapresiasi film tersebut. Tidak terlalu buruk. Masih meninggalkan sedikit rasa merinding pada saat menontonnya. Okelah, that's life. Yang selalu ditunggu, belum tentu sesuai harapan kita. Aku tidak menyesal menonton film itu, tetapi dompet ku iya.

Setelah dari bioskop, aku dan kawan-kawanku mencari makan. Tentu saja menyesuaikan budget. Lanjut menemani salah seorang kawan ke mall, mencari sebuah baju kemeja yang berwarna hijau tosca untuk adiknya. Tanpa diketahui kaki ini sudah meraung-raung kelelahan untuk berjalan. Kami sudah mengitari seisi mall tidak menemukan baju kemeja hijau tosca tersebut. Entah itu karena tidak teliti mencari, atau fokus untuk mencuci mata melihat wanita-wanita berparas ayu yang sedang menikmati liburan. Tetapi, sekalipun kita menemukannya, bajunya tidak pas untuk seukuran adiknya. Setelah putus asa mencari, salah seorang kawan membeli satu loyang pizza yang berukuran jumbo beserta makanan-makanan lain didalamnya. Bersyukurlah kau dompet 

Kami tidak langsung pulang kerumah masing-masing. Berangkat dengan 6 orang pasukan, hanya tersisa 4 orang yang ingin menghabiskan malamnya bersama untuk begadang. Kami bercerita panjang lebar. Tanpa kami sadari, asbak rokok sudah terisi penuh. Kulit kacang bertebaran dimana-mana. Cangkir kopi yang semakin menipis. Angin malam yang terus menyeringai. Dan, sedikit rahasia kecil terungkap di obrolan sepanjang malam itu.
Saturday, December 19, 2015 0 comments

Re-Life

Ingin rasanya mengulang kehidupan. Melupakan penat hidup yang dialami. Menghapus orang-orang yang tidak berguna. Menghilangkan rasa sakit di masa itu. Tidak membuka lembar cinta yang seharusnya. Serta membenarkan kesalahan-kesalahan bodoh yang telah dilakukan.

Aku ingin menghapus itu semua. Mungkin hidup akan terasa lebih indah seraya bayi yang baru lahir. Putih. Tanpa dosa.

Kebanyakan waktu manusia tersita dengan sesuatu yang mereka anggap penting, namun aslinya tidak berharga sama sekali. Manusia makhluk yang bodoh, yang tidak bisa melihat tanah yang selangkah ada didepan matanya. Membuat kesalahan-kesalahan fatal, yang berujung mengumpat kepada Tuhan.

Orang bijak berkata,
"Tidak ada pilihan yang salah. Yang salah adalah tidak memilih."
Tetapi jika kita memilih pilihan yang nahas nya tidak tepat. Caci makian selalu disambut dengan suka cita dan antusias oleh para manusia-manusia tak berguna itu.

Mengulang kehidupan ada di keyakinan para umat hindu. Reinkarnasi. Tetapi kamu bisa menjadi apa saja setelah reinkarnasi tersebut. Tergantung perbuatanmu di masa hidup yang sebelumnya. Ikatan reinkarnasi tersebut akan selalu terulang hingga makhluk tersebut mencapai Moksa.

Walaupun aku bukan umat hindu, dan tidak mengikuti keyakinan mereka. Tapi aku setuju bahwa manusia seharusnya diberi kesempatan satu kali lagi. Rasanya tidak adil untuk memberikan satu kesempatan pada manusia, sedangkan godaan iblis ada dimana-mana.

Percayalah aku dulu bukan seseorang yang menutup diri seperti sekarang ini. Membatasi pertemanan.
Tidak ikut berkumpul dengan teman kelas. Menjaga jarak di setiap jenis hubungan. Seseorang yang pernah dekat telah men-doktrinku. Beginilah aku.

Bodoh untuk berkenalan, tapi tau cara bersahabat. Kalimat yang pas.

Aku ingin hidup di dalam mimpi. Mereka selalu memberikan apa yang kita mau. Mengabulkan keinginan yang mustahil. Biarpun segala sesuatunya hanya omong kosong dan ilusi. Selama kita bisa hidup bahagia kenapa tidak?

Mungkin jika Nabi Adam tidak diturunkan di Bumi. Sepertinya kita akan bahagia hidup di surga sang Pencipta.

Beratus-ratus orang sudah berlalu-lalang di kehidupanku. Entah kehadiran mereka berguna untuk hdupku atau tidak. Aku tidak peduli. Selama aku mempunyai keluargaku serta orang-orang yang selalu mendukungku. Aku ingin sesegera mungkin menghapus ingatan tentang mereka semua. Memori dalam otakku tidak akan cukup untuk menampung mereka semua. Terlalu banyak sampah yang mengendap yang harus dibuang.

Demi Tuhan, aku ingin amnesia sesaat. 

Thursday, December 10, 2015 0 comments

Scared of Future

UAS sebentar lagi tiba. Belum ada persiapan apapun dari sekarang. Mungkin dari 100% materi yang udah di kasih sama dosen, yang didapat dan dicerna oleh otakku hanya 23%. Nilai UTS yang jeblok abis, nggak tau apa-apa soal materi, absen yang bolong-bolong, telat bangun. Ntah itu semua bisa membuat aku lulus apa nggak semester ini. Aku nggak yakin.

Selama hidup merantau di negeri orang, Yogyakarta. Aku nggak pernah terlalu memusingkan hidup sederhana—terkadang kekurangan—selama tinggal disini. Yang aku pusingkan cuman pendidikanku yang disebut kuliah. Belum lagi biaya kuliah yang nggak masuk akal. Banyak rasa bersalah pada orang tua terus menghantui. Yang lama-lama akan mengakibatkan depresi.

Aku sendiri tahu, bahwa dari awal memang nggak ada keinginan untuk kuliah. Tapi apa yang bakal aku lakuin jika aku nggak menempuh pendidikan ini? Masa depan yang bagaimana aku akan dapat? Berapa orang yang telah ku kecewakan? Seberapa banyak uang yang sudah mengalir sia-sia? Itu semua bukan tanggung jawab remeh.


Sebegitu takutnya dengan masa depan yang suram, aku mengikuti kebanyakan orang lakukan. Kuliah memang sangat bagus untuk menunjang masa depan. Tapi ada sesuatu yang seperti tertusuk mata pisau yang sangat terasah, ketika meminta biaya pendidikan untuk di lunasi. Ada suara lirih yang menyanggupi kesulitan tersebut. Ketika memohon untuk dikirimkan sedikit uang untuk sesuap nasi, ada suara perih yang berusaha tegar untuk terus menyanggupi kebutuhan anaknya. Itulah orang tua. 


Menyelipkan namaku di setiap bait doa yang dikirimkannya ke langit. Berharap Tuhan selalu melindungiku disini. Tuhan menjawabnya. Namun diriku tidak. Aku tahu bahwa aku masih menjadi beban orang tuaku, sementara aku tidak menghasilkan apa-apa untuk membanggakan mereka.


Hujan terus mengguyur kota Jogja. Terkadang matahari masih sering menyengat terik pada siangnya. 


Kata orang jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan, teruslah berusaha tanpa memandangi kegagalan-kegagalan yang pernah dilakukan. Aku memang takut dengan masa depanku, tapi aku lebih takut ketika aku mencapai kesuksesanku, tapi mata mereka tidak dapat lagi melihatku berdiri dengan gagahnya sembari menyanjung nama mereka. Waktu terus berjalan. Tak terhitung hal yang sia-sia aku lakukan selama ini. 


Untuk apa kesuksesan tapi mereka sudah tak ada? Jika belum bagaimana kalau akan? Positiflah. Berpikir positif? Aku hanya berusaha berpikir rasional.


Saat ini aku masih berani bermimpi, karena ada orang tua dan keluargaku yang membantuku menopang beban itu. Menjadi dewasa membuatku takut. Takut akan kenyataan bahwa ujian kehidupan akan terus menerus datang dan juga tanggung jawab yang harus aku pikul serta pilihan yang menentukan bagaimana hidupku selanjutnya.


Apakah dengan kuliah ini aku bisa meraih masa depan yang aku inginkan? Ataukah aku harus berani mengecewakan keluargaku sekali lagi untuk meraih masa depan dengan berhenti kuliah? Aku masih bertanya tentang itu pada Tuhan.


Sekarang, aku hanya bisa menjadi daun yang jatuh tepat di atas sungai yang mengalir merdu. Tenang. Tidak mempertanyakan akan dibawa kemana. Tetapi tetap yakin. Karena aku membuat pilihan untuk terlepas dari belunggu pohon yang terus mengikatku dan tidak akan pernah membawaku kemana-mana. Aku lebih memilih untuk bertaruh. Tapi ingat batas.

Sampai suatu saat sungai yang mengalir merdu tersebut memiliki sebuah percabangan yang akan menentukan masa depanku. Jika saat itu tiba. Pilihan harus ditetapkan.

Wednesday, December 9, 2015 0 comments

Dreamer Just Dreamer

Apakah ada diantara kalian sudah ada yang menemukann tujuan hidupnya? Atau arti hidup itu sendiri? Atau bahkan masih dalam proses mencari jati diri?

Andai menemukan tiga poin tersebut semudah bermain games, mungkin aku sudah sibuk menjalankan poin-poin tersebut untuk mencapai kesuksesan hidup. 

Nyatanya itu semua nggaklah mudah. Mungkin kita harus merasakan jatuh ribuan kali, terpuruk beratus-ratus kali, dan merasa putus asa berjuta-juta kali, untuk menemukan tujuan hidup kita.

Dulu waktu aku berumur sekitar 7 tahunan, aku punya impian untuk menjadi seorang tentara. Yang memiliki wibawa tinggi, kuat, sosok yang mampu melindungi seseorang. Menginjak usia 12 tahun, aku membuang impian lamaku menjadi seorang tentara, menjadi seorang atlet sepak bola. Impian itupun tak bertahan lama setelah aku bertemu dengan yang namanya online games. Disaat itu juga aku berhenti yang namanya olahraga. Minus dimataku semakin dan semakin bertambah. Kondisi fisik pun tidak lagi menunjang untuk berolah-raga.

Sebenarnya tidak hanya itu, banyak impian-impian yang berguguran tanpa sempat ku coba. Seiring beranjak usia dan menginjak dewasa, bukannya sudah seharusnya memantapkan tujuan. Tapi coba lihat disini, aku masih dengan riangnya bersantai-santai. 

Seiring beranjaknya usia juga, impian-impian itu tidak pernah lagi terpikirkan di kepala. Mungkin aku terlalu mengalir pada arus kehidupan. Hingga lupa siapa diriku. 

Banyak diluaran sana memperkenalkan cara untuk mencari jati diri kita sebenarnya. Tapi apa perlu se-frustasi itu untuk mencari jawabannya? Karena setiap insan tidak semua sama. 

Karena hakikat manusia di ciptakan di bumi ini adalah terus mencari jawaban akan pertanyaan yang selalu berkelebat di pikiran manusia tersebut.

Bagaimana caranya? Who knows?
Karena yang tahu tentangmu, hanya dirimu sendiri.

Saat ini, samar-samar aku sudah mendapatkan secercah cahaya akan hal tersebut. Sebuah gambaran kasar apa tujuan serta impian-impianku. Yang aku perlukan saat ini adalah motivasi. Untuk menjaga komitmen yang sedang aku pegang teguh.

Tapi apakah akan berhasil? 

Mungkin tidak. Mungkin aku harus membuang mimpi ini suatu saat. Dan menggantinya dengan mimpi-mimpi yang lain.

Tidakkah kau takut untuk 'jatuh'?

Orang macam apa yang tidak takut 'jatuh'? Waktu yang sudah dihabiskan untuk sebuah impian bukan hal yang sepele. Orang yang sudah sukses di bidangnya pun masih takut untuk merasakan 'jatuh'.

Apakah putus asa akan menghalangi langkahmu untuk maju?

Jelas. Putus asa suatu saat pasti akan datang. Nggak banyak yang bisa kita lakukan pada momen tersebut terjadi. Saat itu tiba, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Agar diberikan sebuah cahaya terang yang akan membimbing kita. Dan meminta agar diberikan sebuah penolong yang akan menghancurkan impian kita menjadi debu, dan perlahan-lahan membangun sesuatu yang lebih kokoh dengan abu tersebut.

Apa kau yakin?

Apa itu keyakinan? Apa yang perlu di yakini? Semua kata-kata yang kuucuap adalah dusta dan tak berarti. Sampai ada orang yang membuktikannya. Yang tak lain adalah diriku sendiri.



Walaupun hari ini aku hanya bisa berkhayal tak beraturan, berharap tanpa tujuan, memikirkan sesuatu yang tak nyata, berpikir tanpa akal sehat, tidak berguna bagi orang lain, menikmati duniaku sendiri, selalu berbicara sendirian. Aku bahagia.

Bahagia membuat kita terus bermimpi, bermimpi menghasilkan harapan, harapan membangun masa depan, masa depan yang baik membuat kita bahagia. 

Semuanya saling terkait satu sama lain. Menyisakan garis tipis yang sulit untuk di ungkapkan untuk menjelaskannya lebih jauh lagi.






Thursday, December 3, 2015 0 comments

Forgot How to Love

Nostalgia indah sudah tiba. Senyuman terus berkelebat diwajah ini. Tidak ada kalimat ilmiah untuk menjelaskan perasaan ini. Membawa harapan ini kembali pada tempat yang seharusnya. Padahal ia tahu, dirinya tidak kemana-mana.

Biarkan hati ini terus berharap. Melepaskan angan setinggi langit di angkasa. Tanpa perlu merasa khawatir untuk jatuh ke tanah.

Untuk orang yang pernah jatuh cinta.
Tahukah engkau ada tangisan dari setiap senyum yang kau ciptakan?
Tahukah engkau penderitaan orang yang tersembunyi dibalik kebahagian itu?

Semua tersirat jelas, namun tak nampak. Tapi terasa pekat.

Selalu ada namamu yang terselip di setiap bait lagu dan doa ini panjatkan, kau tahu? Namamu masih belum bisa lepas. Melekat erat di dalam hati ini, dan selalu memberontak ketika ingin mengucap nama wanita selain dirimu.

Ampunilah dosa-dosaku, biarkan hati ini merasakan ketenangan kembali. Sama seperti waktu pertama kali kita bertukar sapa. Kedamaian terus meluap-luap entah dari mana sumbernya berasal.

Aku tidak akan pernah tahu.

Hati ini sudah sangat lama cacat, ia kini sudah tidak bisa berjalan dengan kaki sendiri seperti seharusnya. Ketergantunganku terhadapmu membuatku lupa cara untuk berdiri dengan kaki sendiri.

******

Sekali lagi untuk orang yang sedang belajar untuk jatuh cinta, bersiaplah untuk patah hati. Hati yang sudah terbiasa akan ketergantungan dengan orang yang kita cintai, membuat kita lupa cara mencintai diri kita sendiri. 

Jangan memanjakan diri dengan cinta dan kasih sayang orang lain. Ketika orang yang kita andalkan pergi, kita menjadi orang yang cacat seumur hidup. Tertatih-tatih untuk melawan masa depan.

Mengembalikan hati yang patah juga tidak mudah. Waktu berbicara. 

Jangan anggap remeh orang yang sudah lupa cara merasakan jatuh cinta. Beribu-ribu wanita & pria yang menggoda, tidak ada artinya kalau hati ini lupa cara kerjanya. Perasaan kita tanpa sadar sudah berubah menjadi batu yang keras. 

Jatuh cinta memang datang dengan cara yang tidak terduga, dan mampu keluar dari akal sehat. Satuh hal yang dapat di duga dari orang yang jatuh cinta. Hatinya akan selalu bergetar. 

Tahukah kamu hati ini yang sudah terbiasa dengan kenyamanan dan kelembutan indah rumahmu, jangan pernah dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Walaupun hatiku tidak bergetar lagi melihatmu. Jangan pernah perlakukan orang yang pernah tinggal sementara di rumah hatimu, menjadi sesosok yang sangat asing bagimu. Yang tidak ingin kau lihat bahkan kau ajak bicara. Jangan!

Walaupun rumah-rumah lainnya lebih mewah, megah, dan berselimut batu mulia disetiap mata memandang. Tapi untuk apa kalau tidak bisa membuat kita merasa nyaman di dalamnya? 

Kamu rumahku. Ketika kamu memutuskan untuk mengusirku pergi, ntah bagaimana caraku mencari rumah sepertimu. Aku hampir seratus persen yakin tidak akan pernah menemukan yang sepertimu.

Setidaknya, ketika kamu mengusirku pergi, berikanlah aku waktu untuk menerima kenyataan yang ada. Perlahan-lahan. Biasakanlah tubuh ini. Tanamkan dalam-dalam di otakku bahwa matahari tidak lagi bersinar pada tempatnya, bulan tidak lagi menemani malamku, musim tidak pernah berganti, angin tidak lagi berhembus menembus kulit ini, dan dirimu yang bisa kupeluk kapan saja ketika beratnya dunia jatuh menimpaku.

Aku tidak bermaksud untuk menahanmu terbang ke langit. Tolong temani aku sejenak di dasar tanah untuk waktu yang singkat, hingga kaki ini bisa berdiri lagi. Tanpa perlu merangkul lagi pundakmu. Ku yakin itu tidak akan membutuhkan waktu yang lama.

Sayap. Berikan saja aku sayap. Aku tidak butuh lagi kaki palsu ini untuk berdiri dan berjalan. Aku ingin terbang bebas mengikuti angin yang berhembus serta musim yang terus berganti untuk mencari rumah baru. Mengubur dan meninggalkan semua memori lampau di dasar tanah, dan berjanji tidak akan pernah aku buka lagi bagaimanapun caranya.

*****

Hari ini, sudah resmi satu tahun aku menikmati kesendirian. Ya itu bisa di bilang berkah dan juga musibah. Setiap tahun yang akan berganti, selalu ada hal yang ingin aku tinggalkan. Itu salah satu kebiasaan di setiap tahun baruku. 

Selama setahun ini, aku sudah lupa rasanya jatuh hati, hahah. Cukup alay. Tapi tidak untuk orang yang mengalami hal yang sama sepertiku. Ntah berapa banyak wanita yang menawan dan berparas cantik aku sukai dan kagumi. Tapi itu semua tidak berasal dari perasaan, hanya cara untuk menyembunyikan betapa pecundangnya hati ini. 

Pecundang yang takut untuk belajar berdiri lagi, setelah sekian lama bergantung dengan orang yang pernah atau kita sebut dengan kekasih.

Takut jatuh.

Itu kuncinya. Ada dinding yang sangat besar yang memisahkan perasaan ingin belajar jatuh cinta lagi dengan benar-benar jatuh cinta. 

Trauma.

Menggumpal dan terus menghantui pikiran ini untuk mencoba lagi. Bahkan untuk memikirkannya pun aku takut. Rasa itu terus berkembang seiring waktu berjalan. Apalagi saat tahu bahwa diriku sudah sangat tertinggal jauh di belakangnya, dan menyadari bahwa sudah terlambat untuk mengejar.

Tidak bisa terus begini. Aku perlu berusaha. Tapi dari mana? 

Bantu aku. Tolong.

****

Aku bingung, kenapa trauma ini bertahan begitu lamanya mengendap di tubuh ini? 

***

Cinta kita sudah sangat lama pudar. Tak membekas.

Tapi kenapa jejak dirimu di hati ini tidak?

**

Sihir macam apa yang kau tancapkan?

Apakah sudah tidak ada rumah lagi yang mampu menerima seorang pecundang di dalamnya?

Tidak adakah jari jemari yang pas dengan milikku untuk ku genggam, layaknya milikmu?

Apakah ini sebuah kutukan yang kau berikan padaku akan dosa-dosa yang kulakukan padamu?

Karma?

Ataukah hati ini sudah berkarat?

Ah! Persetan dengan itu semua.

*

Aku memikirkanmu malam ini. 

Ketika posisi matahari tidak lagi pada tempatnya, bulan tidak menyinari malamku, angin tidak lagi berhembus mesra, dunia lupa dengan keberadaanku, orang-orang memasang mahkota duri di kepala ku, dan orang-orang tidak mempercayai semua omonganku. Percayalah aku masih merindukanmu. Memoar 'saat itu' terputar ulang terus-menerus.

Andai saja waktu bisa diulang, mungkin aku akan terus mengulang waktu yang ada untuk tetap bisa menikmati masa-masa itu.

Jika saja suaraku dapat menggapaimu di masa lalu. Dibalik segala rasa penyesalanku, mungkin aku akan berbisik kecil di telingamu. 

Bahwa, "Aku membutuhkanmu saat ini."
Sesederhana itu.

Wednesday, December 2, 2015 0 comments

Maturity Side of Love



Cerita mana yang mengatakan bahwa menjadi dewasa itu sesuatu hal yang indah? Sungguh penyesalan bagiku yang pernah berpikir kalau menjadi dewasa kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan, memilih pilihan sesuka hati, kebebasan, terlihat lebih keren, mempunyai suara untuk berpendapat di keluarga ataupun masyarakat, di hormati, dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang tidak dewasa berharap untuk didewasakan.

Kebahagiaan tidak datang dengan berperilaku dewasa, percayalah. Tapi dengan cobaan hidup yang menerpa kita dan menghujat kita terus menerus, seperti ada yang berkembang didalam diri kita. Pasti. Semakin kuat, semakin tegar, terus tumbuh, tentunya semakin dewasa dalam arti yang sesungguhnya.

Kamu tidak akan pernah tahu cara Tuhan menempa dan membuat kamu untuk menjadi seseorang yang benar-benar dewasa. Bukan orang tua kamu, bukan sahabat, bukan kekasih, dan bukan juga orang lain. Hanya kamu dan Tuhan.

Salah satunya adalah kasih sayang. Yang mungkin orang lain menyebutnya dengan ‘Cinta’. Sungguh terdengar menggelikan mendengar kata itu. Bagaimana kalau kita ganti dengan ‘Sayang’? Terdengar lebih romantis dan lebih dewasa bukan? Ya setidaknya bagiku seperti itu.

Takaran warna-warni kasih sayang orang-orang berbeda. Menyayangi dan mengasihi orang lain harus berbeda-beda caranya. Ya. Tuhan sengaja menciptakannya seperti itu. 

Pernah ada cerita seorang kawan yang mencoba mendekati temen sekelas kami berdua. Parasnya cantik, tidak terlalu banyak bergaul layaknya perempuan lain kebanyakan. Sebelum teman ku ini mendekati sang wanita, aku memintanya untuk memperjelas lagi apa status si perempuan. Tanpa banyak pikir panjang temanku ini langsung meng-iyakan saran yang kuberikan barusan. Dia berjanji akan menanyakannya sore itu setelah pulang kuliah. Sudah nggak sabar untuk menunggu hasilnya esok hari.

Keesokan harinya dengan cepat aku bertanya kepada dia, apa balasan dari perempuan incarannya. Katanya ia sudah memiliki pasangan. Cukup sedih dan turut simpati mendengar ceritanya. Ntah kenapa wanita berparas ayu selalu dan pasti already taken by someone. Tidak bisakah kalian para wanita membiarkan imajinasi dan harapan pria yang kesepian dan jauh dari rumah ini terkabul? 

Kawanku ini tidak langsung menerima kenyataan itu mentah-mentah. Di tanyalah pertanyaan yang sama dengan nada benar-benar untuk memperjelas kalimat apa yang telah diterima di dalam otaknya.
"Kamu nggak bohong kan?" ujar kawan ku yang ia kirim lewat medsos. Pertanyaan yang ia lontarkan menurutku cukup bodoh. Kembali lagi ke poin awal, takaran kasih sayang orang berbeda-beda.

Tapi kalimat selanjutnya yang perempuan itu berikan membuat pikiranku geli dan aneh. 
"Udah dewasa, ngapain bohong?"
Sungguh aku ingin muntah rasanya. Rasa aneh yang susah untuk di deskripsikan. Bagaimana bisa wanita itu menganggap dirinya sudah dewasa? Apa mempunyai sepasang kekasih dan sudah menjalani hubungan yang cukup lama bisa dinamakan dewasa? Apakah dia ingin terlihat intelek di mata kawanku ini? 

Aku belum menganggap diriku seseorang yang sudah dewasa sama sekali. Belum. Sangat jauh.

Perempuan itu mengucapkan kalimat bahwa ia sudah dewasa dengan entengnya. Fisik memang iya. Tapi apakah pikiran dan perilakunya sudah? Masih merasa aneh dengan perkataan wanita itu. Tapi aku tidak ingin memikirnya lebih dalam lagi. Itu bisa membuatku gila.

Ada juga yang menganggap kedewasaan terhadap kasih sayang adalah merelakannya dengan orang lain. Ada lagi yang menganggap dirinya sudah dewasa dengan bergonta-ganti pasangan tiap bulannya, dan masih banyak lagi fakta-fakta kosong yang tak berisi lainnya.

Sama seperti waktu aku pertama kali merasakan namanya berpacaran. Rasanya aku sudah cukup dewasa untuk mencoba jenjang itu. Ego masa muda yang tak tertahankan. Dalam sekejap cara pandangku terhadap sesuatu berubah.

Dari 'Sesuatu yang berubah' itulah yang menghasilkan diriku yang saat ini. 

Kita semua pasti pernah yang namanya jatuh cinta. Apa lagi disaat kita masih muda. Siapa yang tidak ingin mencoba merasakannya? Dan barangsiapa yang sedang jatuh cinta, bersiaplah untuk patah hati. Kalau dewasa adalah sembuh dari patah hati, lebih baik kita tidak belajar untuk mengenalnya.

Jangan pernah belajar untuk jatuh cinta.
 
;