Saturday, December 26, 2015

Diary December 24, 2015

Terbangun dari nyenyaknya tidur seraya dengan perut yang menjerit-jerit, aku melihat isi dompet. Ya, walaupun cukup untuk dua hari kedepan, aku nggak yakin dengan uang segini bisa mencukupiku sampai minggu depan.

Ini karena film yang sudah aku tunggu-tunggu tayang di bioskop. Sebuah film yang diangkat dari novel yang penulisnya saat ini menjadi panutanku. Aku tidak peduli berapa uang yang tersisa pada dompetku saat itu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan tiga puluh ribu dari dompet yang saat itu malu-malu untuk keluar.

Sedikit kecewa dengan filmnya. Menontonnya pun tidak seseru membaca bukunya. Banyak adegan-adegan yang di loncati. Membuat karakter-karakter yang ada didalamnya seolah-olah tidak bernyawa. Ya walaupun begitu, aku tetep mengapresiasi film tersebut. Tidak terlalu buruk. Masih meninggalkan sedikit rasa merinding pada saat menontonnya. Okelah, that's life. Yang selalu ditunggu, belum tentu sesuai harapan kita. Aku tidak menyesal menonton film itu, tetapi dompet ku iya.

Setelah dari bioskop, aku dan kawan-kawanku mencari makan. Tentu saja menyesuaikan budget. Lanjut menemani salah seorang kawan ke mall, mencari sebuah baju kemeja yang berwarna hijau tosca untuk adiknya. Tanpa diketahui kaki ini sudah meraung-raung kelelahan untuk berjalan. Kami sudah mengitari seisi mall tidak menemukan baju kemeja hijau tosca tersebut. Entah itu karena tidak teliti mencari, atau fokus untuk mencuci mata melihat wanita-wanita berparas ayu yang sedang menikmati liburan. Tetapi, sekalipun kita menemukannya, bajunya tidak pas untuk seukuran adiknya. Setelah putus asa mencari, salah seorang kawan membeli satu loyang pizza yang berukuran jumbo beserta makanan-makanan lain didalamnya. Bersyukurlah kau dompet 

Kami tidak langsung pulang kerumah masing-masing. Berangkat dengan 6 orang pasukan, hanya tersisa 4 orang yang ingin menghabiskan malamnya bersama untuk begadang. Kami bercerita panjang lebar. Tanpa kami sadari, asbak rokok sudah terisi penuh. Kulit kacang bertebaran dimana-mana. Cangkir kopi yang semakin menipis. Angin malam yang terus menyeringai. Dan, sedikit rahasia kecil terungkap di obrolan sepanjang malam itu.

0 comments:

Post a Comment

 
;