UAS sebentar lagi tiba. Belum ada persiapan apapun dari sekarang. Mungkin dari 100% materi yang udah di kasih sama dosen, yang didapat dan dicerna oleh otakku hanya 23%. Nilai UTS yang jeblok abis, nggak tau apa-apa soal materi, absen yang bolong-bolong, telat bangun. Ntah itu semua bisa membuat aku lulus apa nggak semester ini. Aku nggak yakin.
Selama hidup merantau di negeri orang, Yogyakarta. Aku nggak pernah terlalu memusingkan hidup sederhana—terkadang kekurangan—selama tinggal disini. Yang aku pusingkan cuman pendidikanku yang disebut kuliah. Belum lagi biaya kuliah yang nggak masuk akal. Banyak rasa bersalah pada orang tua terus menghantui. Yang lama-lama akan mengakibatkan depresi.
Aku sendiri tahu, bahwa dari awal memang nggak ada keinginan untuk kuliah. Tapi apa yang bakal aku lakuin jika aku nggak menempuh pendidikan ini? Masa depan yang bagaimana aku akan dapat? Berapa orang yang telah ku kecewakan? Seberapa banyak uang yang sudah mengalir sia-sia? Itu semua bukan tanggung jawab remeh.
Sebegitu takutnya dengan masa depan yang suram, aku mengikuti kebanyakan orang lakukan. Kuliah memang sangat bagus untuk menunjang masa depan. Tapi ada sesuatu yang seperti tertusuk mata pisau yang sangat terasah, ketika meminta biaya pendidikan untuk di lunasi. Ada suara lirih yang menyanggupi kesulitan tersebut. Ketika memohon untuk dikirimkan sedikit uang untuk sesuap nasi, ada suara perih yang berusaha tegar untuk terus menyanggupi kebutuhan anaknya. Itulah orang tua.
Menyelipkan namaku di setiap bait doa yang dikirimkannya ke langit. Berharap Tuhan selalu melindungiku disini. Tuhan menjawabnya. Namun diriku tidak. Aku tahu bahwa aku masih menjadi beban orang tuaku, sementara aku tidak menghasilkan apa-apa untuk membanggakan mereka.
Hujan terus mengguyur kota Jogja. Terkadang matahari masih sering menyengat terik pada siangnya.
Kata orang jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan, teruslah berusaha tanpa memandangi kegagalan-kegagalan yang pernah dilakukan. Aku memang takut dengan masa depanku, tapi aku lebih takut ketika aku mencapai kesuksesanku, tapi mata mereka tidak dapat lagi melihatku berdiri dengan gagahnya sembari menyanjung nama mereka. Waktu terus berjalan. Tak terhitung hal yang sia-sia aku lakukan selama ini.
Untuk apa kesuksesan tapi mereka sudah tak ada? Jika belum bagaimana kalau akan? Positiflah. Berpikir positif? Aku hanya berusaha berpikir rasional.
Saat ini aku masih berani bermimpi, karena ada orang tua dan keluargaku yang membantuku menopang beban itu. Menjadi dewasa membuatku takut. Takut akan kenyataan bahwa ujian kehidupan akan terus menerus datang dan juga tanggung jawab yang harus aku pikul serta pilihan yang menentukan bagaimana hidupku selanjutnya.
Apakah dengan kuliah ini aku bisa meraih masa depan yang aku inginkan? Ataukah aku harus berani mengecewakan keluargaku sekali lagi untuk meraih masa depan dengan berhenti kuliah? Aku masih bertanya tentang itu pada Tuhan.
Sekarang, aku hanya bisa menjadi daun yang jatuh tepat di atas sungai yang mengalir merdu. Tenang. Tidak mempertanyakan akan dibawa kemana. Tetapi tetap yakin. Karena aku membuat pilihan untuk terlepas dari belunggu pohon yang terus mengikatku dan tidak akan pernah membawaku kemana-mana. Aku lebih memilih untuk bertaruh. Tapi ingat batas.
Sampai suatu saat sungai yang mengalir merdu tersebut memiliki sebuah percabangan yang akan menentukan masa depanku. Jika saat itu tiba. Pilihan harus ditetapkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment