Biarkan hati ini terus berharap. Melepaskan angan setinggi langit di angkasa. Tanpa perlu merasa khawatir untuk jatuh ke tanah.
Untuk orang yang pernah jatuh cinta.
Tahukah engkau ada tangisan dari setiap senyum yang kau ciptakan?
Tahukah engkau penderitaan orang yang tersembunyi dibalik kebahagian itu?
Tahukah engkau penderitaan orang yang tersembunyi dibalik kebahagian itu?
Semua tersirat jelas, namun tak nampak. Tapi terasa pekat.
Selalu ada namamu yang terselip di setiap bait lagu dan doa ini panjatkan, kau tahu? Namamu masih belum bisa lepas. Melekat erat di dalam hati ini, dan selalu memberontak ketika ingin mengucap nama wanita selain dirimu.
Ampunilah dosa-dosaku, biarkan hati ini merasakan ketenangan kembali. Sama seperti waktu pertama kali kita bertukar sapa. Kedamaian terus meluap-luap entah dari mana sumbernya berasal.
Aku tidak akan pernah tahu.
Hati ini sudah sangat lama cacat, ia kini sudah tidak bisa berjalan dengan kaki sendiri seperti seharusnya. Ketergantunganku terhadapmu membuatku lupa cara untuk berdiri dengan kaki sendiri.
******
Sekali lagi untuk orang yang sedang belajar untuk jatuh cinta, bersiaplah untuk patah hati. Hati yang sudah terbiasa akan ketergantungan dengan orang yang kita cintai, membuat kita lupa cara mencintai diri kita sendiri.
Jangan memanjakan diri dengan cinta dan kasih sayang orang lain. Ketika orang yang kita andalkan pergi, kita menjadi orang yang cacat seumur hidup. Tertatih-tatih untuk melawan masa depan.
Mengembalikan hati yang patah juga tidak mudah. Waktu berbicara.
Jangan anggap remeh orang yang sudah lupa cara merasakan jatuh cinta. Beribu-ribu wanita & pria yang menggoda, tidak ada artinya kalau hati ini lupa cara kerjanya. Perasaan kita tanpa sadar sudah berubah menjadi batu yang keras.
Jatuh cinta memang datang dengan cara yang tidak terduga, dan mampu keluar dari akal sehat. Satuh hal yang dapat di duga dari orang yang jatuh cinta. Hatinya akan selalu bergetar.
Tahukah kamu hati ini yang sudah terbiasa dengan kenyamanan dan kelembutan indah rumahmu, jangan pernah dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Walaupun hatiku tidak bergetar lagi melihatmu. Jangan pernah perlakukan orang yang pernah tinggal sementara di rumah hatimu, menjadi sesosok yang sangat asing bagimu. Yang tidak ingin kau lihat bahkan kau ajak bicara. Jangan!
Walaupun rumah-rumah lainnya lebih mewah, megah, dan berselimut batu mulia disetiap mata memandang. Tapi untuk apa kalau tidak bisa membuat kita merasa nyaman di dalamnya?
Kamu rumahku. Ketika kamu memutuskan untuk mengusirku pergi, ntah bagaimana caraku mencari rumah sepertimu. Aku hampir seratus persen yakin tidak akan pernah menemukan yang sepertimu.
Setidaknya, ketika kamu mengusirku pergi, berikanlah aku waktu untuk menerima kenyataan yang ada. Perlahan-lahan. Biasakanlah tubuh ini. Tanamkan dalam-dalam di otakku bahwa matahari tidak lagi bersinar pada tempatnya, bulan tidak lagi menemani malamku, musim tidak pernah berganti, angin tidak lagi berhembus menembus kulit ini, dan dirimu yang bisa kupeluk kapan saja ketika beratnya dunia jatuh menimpaku.
Aku tidak bermaksud untuk menahanmu terbang ke langit. Tolong temani aku sejenak di dasar tanah untuk waktu yang singkat, hingga kaki ini bisa berdiri lagi. Tanpa perlu merangkul lagi pundakmu. Ku yakin itu tidak akan membutuhkan waktu yang lama.
Sayap. Berikan saja aku sayap. Aku tidak butuh lagi kaki palsu ini untuk berdiri dan berjalan. Aku ingin terbang bebas mengikuti angin yang berhembus serta musim yang terus berganti untuk mencari rumah baru. Mengubur dan meninggalkan semua memori lampau di dasar tanah, dan berjanji tidak akan pernah aku buka lagi bagaimanapun caranya.
*****
Hari ini, sudah resmi satu tahun aku menikmati kesendirian. Ya itu bisa di bilang berkah dan juga musibah. Setiap tahun yang akan berganti, selalu ada hal yang ingin aku tinggalkan. Itu salah satu kebiasaan di setiap tahun baruku.
Selama setahun ini, aku sudah lupa rasanya jatuh hati, hahah. Cukup alay. Tapi tidak untuk orang yang mengalami hal yang sama sepertiku. Ntah berapa banyak wanita yang menawan dan berparas cantik aku sukai dan kagumi. Tapi itu semua tidak berasal dari perasaan, hanya cara untuk menyembunyikan betapa pecundangnya hati ini.
Pecundang yang takut untuk belajar berdiri lagi, setelah sekian lama bergantung dengan orang yang pernah atau kita sebut dengan kekasih.
Takut jatuh.
Itu kuncinya. Ada dinding yang sangat besar yang memisahkan perasaan ingin belajar jatuh cinta lagi dengan benar-benar jatuh cinta.
Trauma.
Menggumpal dan terus menghantui pikiran ini untuk mencoba lagi. Bahkan untuk memikirkannya pun aku takut. Rasa itu terus berkembang seiring waktu berjalan. Apalagi saat tahu bahwa diriku sudah sangat tertinggal jauh di belakangnya, dan menyadari bahwa sudah terlambat untuk mengejar.
Tidak bisa terus begini. Aku perlu berusaha. Tapi dari mana?
Bantu aku. Tolong.
****
Aku bingung, kenapa trauma ini bertahan begitu lamanya mengendap di tubuh ini?
***
Cinta kita sudah sangat lama pudar. Tak membekas.
Tapi kenapa jejak dirimu di hati ini tidak?
**
Sihir macam apa yang kau tancapkan?
Apakah sudah tidak ada rumah lagi yang mampu menerima seorang pecundang di dalamnya?
Apakah sudah tidak ada rumah lagi yang mampu menerima seorang pecundang di dalamnya?
Tidak adakah jari jemari yang pas dengan milikku untuk ku genggam, layaknya milikmu?
Apakah ini sebuah kutukan yang kau berikan padaku akan dosa-dosa yang kulakukan padamu?
Karma?
Apakah ini sebuah kutukan yang kau berikan padaku akan dosa-dosa yang kulakukan padamu?
Karma?
Ataukah hati ini sudah berkarat?
Ah! Persetan dengan itu semua.
*
Aku memikirkanmu malam ini.
Ketika posisi matahari tidak lagi pada tempatnya, bulan tidak menyinari malamku, angin tidak lagi berhembus mesra, dunia lupa dengan keberadaanku, orang-orang memasang mahkota duri di kepala ku, dan orang-orang tidak mempercayai semua omonganku. Percayalah aku masih merindukanmu. Memoar 'saat itu' terputar ulang terus-menerus.
Andai saja waktu bisa diulang, mungkin aku akan terus mengulang waktu yang ada untuk tetap bisa menikmati masa-masa itu.
Jika saja suaraku dapat menggapaimu di masa lalu. Dibalik segala rasa penyesalanku, mungkin aku akan berbisik kecil di telingamu.
Bahwa, "Aku membutuhkanmu saat ini."
Sesederhana itu.
Sesederhana itu.


0 comments:
Post a Comment