Thursday, December 29, 2016 0 comments

Diary December 29, 2016 Infinite Stupidity

Hidup sebagai pengangguran. Itulah yang kurasakan sekarang. Menghabiskan detik demi detik di sebuah bilik berukuran 2x3 meter yang menjadi istanaku. Tak banyak kegiatan produktif yang kulakukan. Bahkan bisa dibilang tidak ada sama sekali. Duduk berjam-jam di depan komputer, entah itu sekadar berselancar di dunia maya, atau bermain games. 

Well, sesungguhnya aku tak ingin menghabiskan liburanku dengan sepi begini, tak juga meriah tentunya. Sebenarnya aku tidak meminta lebih. Hanya saja, bisakah seseorang ini mendapatkan kedamaian batin di bulan keparat ini?

Oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tolong lupakan kalimatku barusan. Bulan ini sungguh indah.

Hmmm.
Apa yang akan kita bahas hari ini? Oh iya! Bagaimana tentang seseorang yang pernah bodoh untuk seseorang, dan seseorang yang rela membodohi dirinya sendiri. Alasannya kenapa? Mungkin karena secara kebetulan aku mempunyai pengalaman atas keterkaitan yang erat mengenai menjadi bodoh dan seseorang yang rela membodohi dirinya sendiri. Sesungguhnya pengalaman itu cukup kental jika dirasa-rasa kembali.

Inilah kekuatan magis dari bilik persegi. Hal-hal yang tidak penting untuk dirisaukan kembali selalu menggoda untuk didiskusikan. Di mana-mana dapat kita lihat terjadinya human error atau aku lebih suka mengatakannya dengan istilah disfungsi hati. Itu cukup elegan bukan untuk didengar?

Apa yang ku maksud disfungsi hati ini bukan tentang bagaimana hati tak lagi berfungsi sebagai penawar racun di tubuh kita, mengatur sirkulasi hormon, dan sebagainya. Bukan seperti itu. Disfungsi hati yang aku ceritakan di sini adalah bagaimana seseorang lebih memilih untuk menutup mata dan dengan sukarela mendengar kebohongan, daripada melihat kenyataan yang penuh omong kosong.

Sulit sekali menjelaskan bagaimana rasanya. Tetapi hal itu berlangsung begitu saja. Kalian tidak pernah tahu apa dan siapa yang sedang berjalan di sampingmu saat itu. Yang semula aku pikir semuanya akan baik-baik saja, dan berjalan seperti apa yang sudah direncanakan. Kemudian kenyataan selalu menggiringku pada keputusasaan. Namun selalu berhasil ku tepis mentah-mentah. Untuk beberapa waktu aku bisa menahan semuanya. Tetapi "batas" selalu menjadi penutup cerita.

Orang bodoh dengan orang yang membodohi dirinya sendiri berjalan berdampingan pada suatu masa. Tidakkah itu lucu bagi kalian? Tentu tak ada masa depan bagi mereka di sana. Lebih baik mereka tak pernah bertemu. Sepertinya hampir tidak ada gunanya kombinasi mereka berdua di dunia ini. Atau lebih baik mereka mati saja? 

Orang normal pasti akan mengatakan bahwa, "Setiap orang punya kesempatan." Tapi coba lihat, kesempatan apa yang aku punya di sini? Tampaknya mataku sangat bermasalah di sini. Melihat kesempatan saja tidak becus. Bagaimana bisa membawa tubuh ini ke tahap perkembangan. Yang ada hanyalah jalan di tempat. Bukan hal yang mustahil jika sampai kapanpun jiwa ini akan selalu tersesat dalam pencarian tujuan. Terkadang menjadi bodoh hanya membutuhkan keberuntungan untuk menang.

Mengorbankan segalanya demi seseorang juga terdengar menggelikan. Aku kenal orang seperti itu. Atau lebih tepatnya "pernah". Orang ini melakukan apapun yang diminta oleh orang yang dicintainya. Setiap kali pertikaian umum sepasang kekasih terjadi, ia selalu menjadi pihak yang mengalah. Dirinya membiarkan angin menghempaskan raganya begitu saja, berseluncur serta terombang-ambing di atas tariannya. Padahal jika ia jatuh, hati serapuh itupun akan hancur menjadi debu dalam sekejap. Membodohi diri sendiri juga ada batasannya asal kau tahu.

Anehnya, mereka berdua bertemu. Selalu berjalan bersama-sama seperti sahabat sejati. Mereka percaya tak ada orang yang lebih pantas berdiri di samping mereka selain mereka sendiri. Apa yang ada di depan mereka, tak lebih mereka jadikan sebuah objek hiburan. Mereka adiktif satu sama lain. Ketergantungan yang hanya dapat dipuaskan dengan selalu bersama. 

Satu hal yang tak mereka sadari. Perlahan ada yang menggerogoti itu semua. 
Mau tau hal itu apa?

Boredom! Bosan! 

Memang apa lagi? Kalian pikir aku bakal memberikan jawaban istimewa? Hahahha, nggak bakal. Lagi pula tak ada jawaban yang pantas selain itu.

Hidup ini membosankan. Selalu ada yang beruntung dan tidak. Ada yang terlahir kaya dan juga gelandangan. Pintar dan bodoh. Susah dan mudah. Mencintai tapi tak dicintai. Berusaha namun disia-siakan. Mempercayai tetapi dikhianati. Dia yang menanam namun orang lain yang menuai. Berbicara jujur selalu didustakan. Berbicara dusta semakin dicap pembohong.

Sebenarnya apa yang dunia ini mau? 

Akhir-akhir ini dia selalu hadir di mimpiku. Aku sudah tak mengingat jelas bagaimana, namun samar-samar aku masih bisa membayangkannya. Dia hanya mengucapkan sepatah dua kata kepadaku. Namun yang dilontarkannya selalu sebuah pertanyaan. Pertanyaan dan pertanyaan. Hanya itu yang ia lakukan di setiap mimpiku akhir-akhir ini.

Namun kalian tahu apa? Apapun itu pertanyaannya, selalu ku jawab dengan senang hati. Air mataku meluap ke mana-mana. Jantungku berdegub sama kencangnya seperti hujan kemarin. Tanganku mengalami tremor parah. Dengan lantang kusuarakan jawaban atas pertanyaannya. Seketika kebahagiaan membanjiri sekujur tubuhku. 

Begitu aku menjawab pertanyaannya, secara otomatis mataku selalu langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa itu semua hanyalah mimpi. Namun dengan alaminya ada senyuman di wajahku ketika ku terbangun. Tanpa harus ada komedi, hal itu terjadi begitu wajar dan murni.

Hey, walaupun cuman hanya imajinasiku, tapi aku senang bisa berbicara denganmu seperti bagaimana aku mengenalmu dulu. Silahkan mampir setiap waktu. Pintu ini selalu terbuka setiap saat. Jadi jangan sungkan-sungkan ya ^^.

P.S: Kamu terlihat manis dengan rambut pendek itu. Hahahaha.

Wednesday, December 21, 2016 0 comments

Diary December 21, 2016 I'm Sucks

Manusia semakin mudah menciptakan sesuatu. Demikian pula bagaimana mudahnya mereka menentukan nasib-nasib orang yang berada di bawah kakinya. Banyak hal-hal yang dibolak-balikan faktanya oleh mereka. Arogansi tak berujung semakin menggiring kita kepada kehancuran masif. Para pemimpin mulai mengibarkan panji absolutnya. Di mana pikir mereka masyarakat hanyalah hewan ternak tak berpendidikan. Tak heran jika adanya hari akhir sudah diprediksi sejak dahulu kala.

Aku tidak mengatakan apa yang terjadi ini seratus persen karena ulah mereka semua. Di sadari atau tidaknya, kita juga ikut bermain di dalamnya.

Mungkin saja ketika suatu negara dibombardir tanpa ampun, dirimu hanya duduk manis sembari meneguk secangkir teh di depanmu, dan tangan kirimu asyik mengotak-atik media sosial di ponselmu. Berpura-pura iba dengan memberi lantunan doa di postinganmu dengan hashtag super komplit. Pikirmu hal seperti itu membantu? Tentu! Bagi kaum masa kini hal seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membantu kawanan manusia yang mati secara massal.

Lebih mudah untuk membantu wanita yang sedang dilecehkan di jalanan dengan mengunggah video rekaman amatir kita. 

Seiring mudahnya informasi diciptakan, semakin mudah pula manusia mengirim doa-doa yang tak akan sampai. Alias tersesat. Hahaha. 

Well, aku tidak ingin berperan sebagai misionaris di sini. Aku sama seperti kalian semua. Aku cuman bisa diam. Bahkan terkadang aku tertawa melihat kejadian-kejadian yang seharusnya tidak kutertawakan. Hei, lagipula kita tak bisa melakukan apa-apa di sini. Kalau mau jadi superhero sungguhan, seharusnya kalian sudah terbang menuju lokasi kejahatan sejak lama. Itupun kalau rudal berbaik hati mempersilahkanmu lewat. Pfft.

Sebenarnya aku adalah manusia yang baik hati asal kau tahu. Aku punya beberapa sisi yang mungkin juga kalian punya. Aku bisa merasa super kasihan terhadap sesama secara berlebihan. Membantu sesuka hati pada siapapun tanpa meminta sedikit pujian ataupun sepeser uang. Selalu menerima dengan lapang jika menjadi pihak yang disingkirkan ketika sudah tidak diperlukan lagi. Ataupun hanya bisa menjadi pendengar di suatu lingkup obrolan. Pada akhirnya aku hanya bisa terpaksa diam.

Diam. Diam. Dan diam.

Bukannya kita memiliki kesempatan untuk bersuara? 
Tidak! Selama kita dipimpin orang-orang bodoh. 
Tidak! Jika masih ada dari kita yang lebih mementingkan untuk membalas ucapan ketimbang mendengarkan.
Tidak! Ketika kalian tidak mempunya siapa-siapa untuk sekadar bersandar.

Kesal sekali melihat hal-hal tolol yang berkecamuk saat ini. Manusia saling bunuh. Para petinggi yang makin tak bermutu. Orang bodoh kian terkenal. Perang agama yang tak kunjung usai. Perdebatan tak berguna yang berkepanjangan. Peraturan-peraturan konyol. Pemusnahan kreasi. Kebebasan dengan syarat, Arghhhh, apapun itu, semuanya bikin muak.

Menjijikan sekali bagaimana aku hanya bisa duduk dan terdiam begitu cantiknya di sini seperti kalian semua. Menuliskan ini semua tak sedikitpun membuat keadaan ini menjadi lebih baik. Tak sedikitpun.


Sunday, December 11, 2016 0 comments

Diary December 11, 2016 Art Of Grey

Belakangan ini aku mempelajari sesuatu. Mungkin di luar sana hal ini sudah menjadi hal basi yang tak perlu dibahas lagi. Beberapa di antara kalian pun pasti juga menganggapnya demikian. Atau mungkin kalian tidak percaya sama sekali? Boleh saja, itu sesuka kalian. Yang ingin aku katakan di sini adalah betapa idiotnya kita ini. Hidup hanya dengan modal kepercayaan, tanpa tahu apa yang kita jalani sesungguhnya. 


Baikkah itu? Burukkah itu? Pantaskah kita menaruh harapan di sana? Apa ada yang paling mulia selain ketulusan tanpa pertanyaan? Membiarkan anak domba terlepas di lautan penuh kebebasan tanpa ada seorangpun gembala yang menuntunnya, bukankah itu sedikit kejam? Oh, itu bukan level kejam lagi namanya, namun sadistic.



"Kehidupan hanyalah panggung drama," kata mereka. Aku tidak terlalu senang mendengar ataupun menggunakan kalimat itu. Ya walaupun sedikit benar, tapi kurasa ada yang sedikit salah di sana. Jika diandaikan kepada realitas, pantaskah seorang pengemis menjadi aktor di sebuah pentas masif seperti itu? Bisa jadi dia mungkin dibutuhkan sebagai peran pembantu. Tapi coba kalian pikir, untuk apa hidup jika hanya menjadi sebuah eksistensi yang hanya secuil kotoran hidung. Menjijikan sekali.



Kalian mungkin bisa menarik contoh di sebuah lingkaran sosial. Lihatlah bagaimana cara mereka menjunjung tinggi kata "kebersamaan" itu. Menjeritkan semboyan yang hanya dimiliki oleh mereka sendiri. Di kejauhan aku mendengar salah seorang meneriakkan, "Solidaritas tanpa batas!" Dengan api yang berkobar di kedua matanya. Sungguh aku ingin ketawa.



Nyatanya di belakang panggung, semua manusia sosial itu berlomba-lomba hanya untuk merebutkan satu hal. Peran utama. 



Tampaknya aku lari dari topik awal. Dasar aku, selalu bersemangat jika membahas hal-hal yang hanya ada di imajinasiku saja. Baiklah kita mulai dari awal lagi.



Aku setuju jika dikatakan bahwa hidup itu sesungguhnya taruhan besar-besaran. Dari sebelum kita dilahirkan di muka bumi, bahkan kita sudah memulai permainan ini. Siapapun yang membaca ini berarti kalian sudah mengantongi kemenangan pada taruhan pertama. Selamat! Anda memenangkan selembar tiket untuk hidup di dunia.



Hahaha.



Haha.



Ha.



H...



Sampah!



Siapa pula yang ingin ikut bertaruh jika pada akhirnya jadi begini. Aku terlahir menjadi seorang penjudi terburuk. Terimakasih untuk siapapun yang telah memberiku tiket tak berguna itu. Brengsek!


Wednesday, November 23, 2016 0 comments

Diary November 23, 2016 When Cherry Blossoms Fall

Sesungguhnya, tidak ada makhluk selain wanita yang menyimpan segudang rahasia. Lihat saja dari cara bagaimana mereka bertingkah. Bibir itu tak henti-hentinya tersenyum di balik lubang yang menganga seluas samudera di hatinya. Kedua bohlam matanya tak kunjung redup saat diterpa gelap malam. Tangan mungilnya melambai-lambai di kejauhan meminta juru penyelamat untuk segera datang. Namun kicauan merdunya tak pernah secuil pun berkeinginan untuk berhenti bergelora. Ia selalu mempesona bagi siapapun mata yang melihatnya. Ohhh Tuhan, bagaimana bisa engkau ciptakan makhluk rapuh seindah ini?

Di balik kecantikannya, banyak tersirat pesan-pesan tak berwujud. Hanya manusia pilihannya lah yang mengerti arti bahasa itu. Sungguh ketidakadilan bagi kaum fana ini. Bagaimana tidak? Jelas-jelas manusia seperti aku ini hanyalah seonggok boneka tua yang bernasib buruk untuk hidup di bumi. Sampah masyarakat. Tak berguna eksistensinya di muka bumi. Mungkin jika aku tak lahir, dunia ini bisa menghemat oksigen untuk orang yang lebih membutuhkan. Sedangkan wanita itu? Tentu saja bagi makhluk yang selalu menyispkan Surga di setiap sudut tubuhnya, aku bukanlah sosok yang pantas untuk menatap semesta berpijar yang tersembunyi di balik kedua matanya. Bukan juga sebuah entitas yang berhak untuk melihat kecantikannya. Bahkan mengaguminya saja adalah sebuah dosa untukku. Tetapi anehnya, ia menganggapku sama seperti dirinya. Makhluk kelas atas.

Kepalaku pusing memikirkannya. Aku bukanlah anak dari saudagar kaya raya. Tak juga memiliki paras menawan, bahkan aku sendiri terkadang tertawa melihat tampang tak jelasku ini. Gaya pakaianku bisa dibilang standar, tidak terbelakang, tidak juga kekinian. Perutku setiap hari hanya mengolah makanan-makanan dengan label sepuluh ribu-an di atasnya. 

Intinya, pikirannya salah jika menatapku dengan kilat yang menyiratkan bahwa aku sama seperti ia.

Pikiranku ini mungkin saja salah sasaran. Atau bisa jadi aku hanya berpikir terlalu mengawang-awang melewati ambang batas wajar. Tetapi sungguh, wanita itu makhluk yang kompleks. Kau tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka baik itu verbal maupun visual. Semuanya seakan-akan tak terjadi apa-apa, namun sebenarnya badai sedang berkecamuk. Walaupun spesiesku ditakdirkan untuk memilih salah satu dan mencintai mereka, aku tidak berkenan melakukannya. Aku lebih memilih untuk membiarkan perasaan itu tetap ada, dan tak kubiarkan terlontar. Lebih baik kutinggalkan bunga terbaik untuk berkembang. Mengawasi dirinya berlalu-lalang di kejauhan sana, menebar senyum kepada sesamanya, dan aku di sini terduduk diam memperhatikan segala rahasianya. Bagiku itu sudah merupakan sebuah anugerah terdahsyat.

Pada akhirnya, aku hanya bisa mengatakan bahwa semakin dalam aku menelusuri rahasia dalam dirinya, maka semakin dalam juga aku terjatuh ke dalam jurang tak bermuara. Karena begitulah pesona wanita bekerja bukan? Jika saat ini kalian sedang berpikiran bahwa aku sedang jatuh cinta atau tidak (walaupun tidak ada yang peduli soal hal ini), maka ketahuilah para pembaca setia blog pecundang ini, aku nyatakan dengan jelas, bahwa jawabanya adalah iya. Penuh penekanan pada huruf "y" tentunya.

Tetapi dengan siapa?
Wanita malang mana yang dicintai bajingan ini?

Masih belum jera kah?

Kalian memang kurang ajar mempertanyakan hal-hal seperti itu. Bebaskanlah pendosa ini untuk melarung lagi dalam sungai samsara mu teman, biarkan aku mengelilingi lagi bagian-bagian Bumi yang mengajarkanku rasa sakit itu. Aku sudah siap menghadapinya. Asal kau tahu, aku datang bukan dengan tangan kosong, selama ini tubuhku sudah kebal dengan tetek bengek kehidupan. Harapan pupus? Itu bagiku hanya taik kambing. Omong kosong. Lagi pula sejak awal memang aku tidak berkeinginan menjadikannya milik. Silahkan saja kau bawa ia pergi lagi bersama antek-antekmu itu. Seperti yang kau lakukan dulu. Bawa saja! Aku tidak peduli! Bahkan jika kau menjauhkannya dengan secara perlahan, itu bukan masalah besar. 

Lagipula kau sendiri yang menjadikanku seorang masokis. Apa kau lupa? Hal sepele macam kehilangan atau sebangsanya cuman bakalan menjadi makanan siangku. Mungkin jika ditambahi bumbu penyedap tertentu aku akan meminta tambahan porsi.

Ingat, bunga secantik apapun yang tumbuh di tempat terbaik sekalipun semuanya tetap akan layu pada masanya. Semua orang berhak memilih bunganya masing-masing. Bahkan jika perlu mereka diperbolehkan memetik bunga tersebut pada saat puncak klimaks kecantikannya. Beberapa melakukannya, sebagian sibuk mencari bunga mana yang cocok, dan sisanya hanya terpaku menatapi indahnya.

 Tetapi jika kau bertanya aku pada kelompok yang mana, mungkin aku termasuk yang terakhir. Menatap puas keceriaan bunga tersebut bersama embun pagi, hingga habis masa indahnya. Saat itu aku akan memetiknya, dan menanamnya kembali di pot kesayanganku, lalu membiarkannya tumbuh lagi. Dengan begitu aku sudah resmi menjadi juru penyelamatnya bukan?


Sunday, November 20, 2016 0 comments

Bon Anniversaire

Tentu saja kamu mengingat tanggal ini. Semua orang juga tak akan pernah melupakannya. Jikalau tanggal ini terlupa, atau sengaja dihapuskan eksistensinya, hal itu bukanlah masalah besar. Hanya saja seperti ada yang kurang di hidup kita sebagai manusia. Perayaan kecil yang bersirkulasi tiap setahun sekali, seraya membuat jantung berdebar-debar menunggu kedatangannya. Hei, bolehkah aku untuk mengucapkannya?

Aku lupa terakhir kali kita merayakannya dengan bagaimana. Kalau tidak salah waktu itu adalah di mana masa-masa perkuliahan di mulai. Itu sudah dua tahun lamanya, tentu saja aku lupa. Anehnya, tanggal ini tidak pernah bisa terlupa begitu saja.

Hei, masihkah kamu merayakannya hari ini? Aku tidak tahu ingin mengatakan apa. Padahal di depanku hanya ada sebuah monitor, tapi kenapa jemari ini terasa sulit untuk melebur rasa. Otakku mengayuh tak seperti biasanya. Seperti ada yang menghalanginya untuk bekerja. Menyebalkan rasanya.

Kita mungkin tak akan pernah lagi bertemu di dimensi yang sama. Kaki kita sudah berjalan mengikuti angin masing-masing. Aku sudah berubah, begitu pula dengan ia. Sesuatu yang dulu ada, bisa jadi sudah menghilang di masa kini. Tetapi kenapa waktu tak penah bisa melunturkan kebencian?

Hei, aku memang tak pernah berdoa untukmu. Bahkan aku tak pernah berdoa untuk diriku sendiri. Tetapi untuk hari ini saja, aku meminta kepada-Nya, agar kau diberikan kesehatan selalu. Apapun masalah yang kamu jalani, pasti bisa kamu jalani. Kamu adalah orang yang kuat yang aku tahu, teman-temanmu juga tahu itu. Segalanya akan baik-baik saja di hidupmu, dan selamanya akan baik-baik saja. Aku percaya.

Selamat ulang tahun, dan semoga yang terbaik selalu untukmu. :)



Wednesday, November 9, 2016 0 comments

Diary November 9, 2016

Aku terbangun pukul dua belas siang tadi. Aku membuka mata dan segera mengambil kaca mataku yang tergeletak di samping bantal. Lemari yang dihiasi kaca menyambutku sesaat setelah aku mencoba duduk merelaksasikan badan. Rambutku berantakan. Samar-samar terlihat ada garis yang membekas disekujur wajah. Tanda betapa pulasnya aku tertidur.

Waktu sepertinya bergurau. Satu minggu liburanku terasa tidak ada apa-apanya. Menguap begitu saja. Di isi dengan duduk selama berjam-jam di depan komputer, dan hanya keluar saat perut mulai meminta jatahnya. Dan lihat sekarang, aku hanya menikmati sisa-sisa penghujung liburan, dengan menulis blog. Sungguh cara yang elegan untuk mengakhiri liburan. Waktu selalu saja begitu. Membiarkan dirinya berputar cepat di saat-saat seperti ini.

Aku tidak pernah bosan membahas waktu di sini. Mau kapanpun itu, waktu yang hilang selalu menyenangkan untuk diulas kembali. Sayangnya di kehidupan nyata, semua orang membiarkan waktu begitu saja. Mungkin tak pernah sedikit pun terbesit di pikiran mereka untuk mengoreksi kesalahan waktu yang berputar. Atau mungkin itu hanya imajinasiku saja? Ah, yang jelas mereka semua tidak pernah mau mengusut segala sesuatunya lebih dalam. Aku yakin itu.

Sebenarnya siapakah yang menentukan siang dan malam itu? Sudah seharusnya kah bahwa manusia memulai aktifitasnya pada pagi hari, bukan malam hari? Apa mungkin satu hari hanya terdiri dari 24 jam? Salahkah bila seorang manusia menentukan waktunya sendiri? Dan masih banyak lagi gumaman tentang waktu ini.

Di saat kita membutuhkan waktu sebagai penyembuh luka, ia berjalan sungguh lambat. Membuat kaki kita tertatih untuk meneruskan kehidupan fana ini. Dan ketika bahagia jatuh di mata kita, jarum jam melintas begitu saja. Lihat betapa egoisnya ia. Sepertinya otak kita hanya didesain untuk selalu menyalahkan waktu bukan? Apapun kondisinya, kita selalu begitu. Atau hanya otakku saja yang berpikiran seperti itu? Ah, aku tidak peduli.

Beberapa dari kalian mungkin berpacu kepada waktu yang akan datang. Menyusun rencana-rencana yang sudah kalian ramu untuk menjadi impian. Tetapi, sebagian orang, termasuk aku, masih hidup dalam bayang-bayang masa lampau. Kita selalu hidup di tepi tebing. Ini bukan melulu tentang cinta yang aku bicarakan. Melainkan waktu-waktu yang membuat kita menjadi manusia yang seperti saat ini. Apa yang kita lakukan di masa itu, mengubah kita sedemikian rupa menjadi sosok yang berbeda sama sekali. Puing-puing kecil kenangan yang masih tersimpan di memori aman tak tersentuh. Sepertinya tak ada sedikitpun keinginan otak untuk menghapusnya. Dan jika aku memilih loncat dari tebing itu, maka saat itulah yang dikatakan manusia telah berubah.

Semua orang berubah. Semua orang berkembang. Beberapa maju, dan sisanya memilih untuk tinggal. Tergantung aturan waktu yang diberikan kepada masing-masing orang. Kalian pasti sudah tahu, bahwa tiap manusia mempunyai waktu yang berbeda. Bukan aturan universal yang aku maksud, namun cara kerja waktu menyembuhkan luka kepada seseorang itulah jawabannya. Cepat atau lambatnya waktu yang berjalan, tergantung orang itu sendiri. 

Untuk kalian yang tidak tahu cara menghindari kekejaman waktu, mungkin kalian harus mencari jawabannya sendiri. Seperti yang aku katakan, waktu tiap orang berbeda. Sampai sekarang pun aku masih mencari jawabannya. Namun yang aku tahu pasti, aku tidak akan mau menghabiskan waktuku hanya untuk mencari jawabannya. Aku tidak mau menjadi orang biasa saat kehabisan waktu. Meninggalkan bumi hanya untuk menjadi sama seperti lainnya?. Memikirkannya saja membuatku mual. Walaupun aku sendiri tidak tahu persis apa yang akan aku lakukan di masa depan nanti. 

Semoga saja bintang jatuh di tidurku malam ini. Memberikan jawaban yang selalu aku tunggu..

Saturday, October 22, 2016 1 comments

Diary October 22, 2016

Sekarang aku sedang bernostalgia kembali dengan manga-manga lama yang sudah pernah kubaca sebelumnya. Tak hanya alunan nada yang bisa menyimpan memori, semua hal bisa mengantongi kenangannya masing-masing. Jujur saja, saat aku membacanya, pikiran ini seperti dibawa terbang kembali pada masa itu. Walaupun aku sudah tahu jalan ceritanya akan berjalan seperti apa, namun itu tidak masalah. Membacanya kembali hanya cara sederhanaku untuk bisa merasakan kembali setangkai kenangan yang terlupa.

Kala itu aku memutuskan untuk cuti kuliah selama setahun. Selama cuti kuliah, aku tidak berkeinginan sama sekali untuk pulang ke tempat asal. Aku lebih memilih untuk tinggal di sini sampai libur semester genap dimulai. Dan saat itu juga adalah masa di mana aku baru-baru saja putus dengan pacarku. Kenangan tersebut juga termasuk di dalamnya, ditambah pula hal itu terjadi karena kebodohanku sendiri. Tak ada kata selain 'idiot' untuk mendeskripsikan diriku pada waktu itu. 

Andai saja mesin waktu itu nyata, akan kuperbaiki semuanya. Lalu, semenjak itu aku sadar, kehilangan seseorang membuatku lebih menghargai betapa spesialnya waktu seseorang yang telah diberikan kepada kita tiap momennya. Pikirku dulu waktuku dengannya tak terbatas. Namun ternyata tidak.

Tak lama setelah kejadian itu, pola hidupku berubah berantakan. Satu harian ku habiskan mengurung diri di kamar, atau mengajak beberapa teman pergi keluar untuk bermain paket malam di warnet hingga pagi, menonton serial film hingga tamat, membaca manga-manga romance ataupun tragedy, dan melakukan hal apapun itu selama bisa mendistraksi kekacauan jasmani yang tak terlihat tersebut. Perputaran itu terus berjalan dalam kurun waktu yang cukup lama. 

Hingga suatu hari, diri ini tak sanggup lagi melarikan diri dari kenyataan. Tiap gelisah, geram, sedih, takut, cemas, khawatir, dan sesal yang terpendam mendobrak paksa untuk keluar. Pada akhirnya air mataku jatuh. Tak kuasa lagi menahan apa yang seharusnya dikeluarkan. Ku tarik selimut dan mulai membungkus diriku ke dalamnya. Pikiranku melayang entah ke mana. Aku tak bisa melakukan apapun selain menangis. Untuk kedua kalinya aku menangisi dirinya. 

Masih dengan mata sembab, dan suara parau, aku mencoba meraih handphone ku. Ku telepon ibuku saat itu. Seperti biasa ibuku selalu cepat mengangkat teleponnya. Saat itu aku mengatakan bahwa aku memutuskan untuk pulang, dan kembali lagi ke Jogja saat liburan semester genap selesai. Ibuku menyetujuinya tanpa bertanya.

Aku terbang ke Bali seminggu kemudian. Di bandara aku dijemput oleh ibuku, beserta keluarga kecil kakak perempuanku. Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat sedikit perubahan terjadi selama aku pergi ke Jogja. Banyaknya kios-kios baru yang mengisi pinggiran jalan yang sebelumnya kosong. Sistem lalu lintas yang mulai banyak diperbaharui. Asrama polisi yang awalnya kumuh menjadi megah. Dan kurang lebih sisanya masih sama.

Selama di sana, aku tidak merasakan ada perbedaan yang terjadi ketika aku masih di Jogja. Pelarianku terasa sia-sia. Kekosongan dalam diri ini makin membentang luas. Segala upaya telah ku lakukan untuk menyingkirkan anomali ini. Termasuk menghindari segala tempat dan hal yang mungkin bisa membangkitkan kenangan. Sesekali aku berpergian dengan kawan lama ke suatu tempat untuk menghilangkan penat. Pernah juga aku mengunjungi sekolahku dulu untuk melihat keadaan adik-adik kelasku yang saat itu menjadi pengurus organisasi siswa, bertanya apakah ada masalah yang terjadi di dalam sekolah atau tidak. Setelah mendengarkan cerita mereka, sungguh menyenangkan bagiku melihat orang-orang yang dulu pernah ada di sekitarku tumbuh dan berkembang begitu pesat. Itu cukup membuatku iri.

Hal yang paling menyebalkan di antara mereka semua adalah, baik teman-temanku maupun adik-adik kelasku yang kutemui pada saat itu, mereka secara serentak mempertanyakan satu pertanyaan yang sama, "Apakah kamu masih sama dia?" Pertanyaan itu perlahan-lahan sedikit menyiksa. Tiap berpapasan seorang kenalan yang tau hubungan kami, mereka selalu melontarkan pertanyaan itu. Ini sedikit tidak adil, kenapa hanya aku yang harus menjawab pertanyaan itu semua. Lalu, ketika ditanya lagi apa alasan kami berpisah, aku hanya menjawab bahwa tujuan kami sudah berbeda. Sesederhana itu.

Aku tidak mempunyai kesibukan pasti di sini. Terkadang aku membantu bisnis orang tuaku jika diperlukan. Setelah itu selesai, aku kembali lagi pada putaran-putaran kehidupan yang monoton itu. Anehnya, semenjak aku putus, aku kini menyukai dan selalu membaca cerita-cerita yang berbau love tragedy, ataupun drama slice of life. Riwayat browserku penuh dengan rekomendasi manga apa saja yang terbaik dan pas untuk dibaca. Awalnya aku tidak terlalu suka membaca komik lewat internet, aku lebih memilih untuk membeli bukunya. Selain lebih nyaman untuk dibaca, buku-buku tersebut bisa mempercantik rak bukuku. Berhubung komik yang sedang ku cari selalu tak tersedia di toko buku, terpaksa aku membacanya lewat internet.

Salah satunya ialah Kimi no Iru Machi, jika diartikan dalam bahasa inggris menjadi A Town Where You Live. Garis besar ceritanya cukup klise, namun alur ceritanya menarik. Tak hanya tokoh utama saja yang berkembang, namun side character-nya pun juga ikut tumbuh di sana. Membuat kita seperti ikut juga mengalami kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya. Kesedihan dan kebahagiaan yang dituangkan sang mangaka berhasil merasuki pembacanya yang satu ini. Fantasiku jatuh berlebihan karenanya. Bagi yang baru saja kehilangan seseorang, membiarkan imajinasi melayang karena cerita seperti ini, sedikit membuatku nyaman. Aku bisa hidup dalam karakter fiktif itu tanpa mengganggu realitas, dan menikmati akhir cerita yang bahagia sesuka hati.

Pada pertengahan februari aku harus kembali lagi ke Jogja untuk mengurus perpindahan ke kampusku yang baru. Memang masih sering aku terngiang-ngiang kenangan masa-masa itu. Tapi aku masih bisa mengatasinya sampai sekarang.

Berbaikan dengan masa lalu ternyata hal yang sulit.

Wednesday, October 19, 2016 0 comments

Diary October 19, 2016

How much more i have to lose? Tell me, do you know how much pain i must endure? Just to see your face once again.

Why the seasons keep changing? Yesterday i had a dream. I can't even remember what was that dream. But, the memories coming trough from inside. Make me miss that time. The time when we fooling around. All those moments whenever we argued back there, i always just let you have it your way. Seems stupid, but your selfish nature made me love you even more. What kind of spell did u cast on me? 

I was stopped by memories. I cannot choose my next destination. It doesn't matter where i am is, but i can't help but look for you everywhere. On the station platform, in the alley windows, even though i know you couldn't be at such a place. Never thought i would wish upon a star, i just want to be there by your side. There would be nothing i can't do, i will risk everything just to embrace you.

If i just wanted to distract my loneliness, i should be happy with everyone. But it's not, everything so wrong when you're not around. The stars are hanging by a thread tonight, and i can't lie with myself anymore. Oh seasons, please don't change. I'm still missing the times, The times that we shared as one. I'm always searching for your figure to appear somewhere, at the intersection, in the middle of my dream, knowing there is no way you would be there.

If there is a miracle, i would show it to you right now, the new morning, the new me. I'd tell you what i couldn't say before, "I love you."

Incapable of words, frozen in place, i had lived roughly. The buildings by the road, the broken streetlamps, at the street corner, i'm still hoping for you to appear somewhere. It's not you, the fault lies with me. For unable to hide my own intensity.
Friday, October 14, 2016 0 comments

Diary October 14, 2016

Tak terasa sebentar lagi penghujung tahun tiba. Dengan itu genap sudah aku bergelut dalam kesendirian selama dua tahun. Terkadang ada suatu masa di mana aku merindukan melakukan hal-hal kecil itu. Menggelikan rasanya jika mengingat terlalu dalam bagaimana momen-momen bodoh itu terjadi. Bahkan secara teratur memori-memori itu muncul kembali, baik bulanan, maupun mingguan. Déjà vu berkepanjangan yang entah kapan akan berakhir.

Jika Sang Penjaga Waktu mengizinkan untuk memutar kembali pendulumnya, mungkin aku akan memilih untuk tidak berada di sana saat itu, lebih baik hari itu tak kugenggam ponsel ini, apakah segalanya berubah jika hari itu aku lebih memilih untuk tak menghubunginya? Apa yang akan terjadi? Mungkin aku yang sekarang akan lenyap, digantikan sosok baru yang telah lama menjadi jati diriku yang sebenarnya. Begitulah seharusnya.

Walau begitu, rasanya sudah terlalu banyak aku mengumpat pada waktu. Untuk sekarang, yang ada hanyalah ada. Terima segala kenyataan, dan melangkah seakan hari esok adalah hari terakhir. Klise bukan?





Thursday, October 6, 2016 0 comments

Diary October 6, 2016

Ku tulis catatan ini pada pukul dua dini hari, ketika saat-saat di mana perut mendapati dirinya kelaparan tengah malam, dan mata tak kunjung padam berkobar. Hujan mengiriku sembari angin semilir masuk melalui lubang ventilasi kecil yang terdapat di pojok ruangan. Dengan menggunakan boxer yang sejak SMP ku beli dan masih tetap ku gunakan, beserta sehelai singlet yang melapisi tubuh, tak ubahnya membuat ruangan ini menjadi sejuk. Panas tetap mengudara tampaknya.

Sampai saat ini, aku menulis blog hanya saat "ingin" itu tiba. Baik secara spontan maupun terencana. Apapun isi di dalamnya, tak lebih dari sekadar omong kosongku belaka. Bukan berarti kosong dalam arti sesungguhnya, namun hanya sontakan liar yang mencuat ketika tak terbendung lagi untuk ditahan. Tak ada keterkaitannya pada suatu medium. Sejenak aku juga terheran dan tersindir sendiri dengan apa yang aku tulis, namun apapun itu ketika saat aku membacanya kembali, senyum tipis tersungging dari bibirku.

Tak hanya foto yang dapat diabadikan dan tak hanya bahasa musik yang universal. Celotehan perasaan pada suatu masa tentang keindahan serta kesedihan tak kalah ingin untuk bersaing di bidang kekekalan. Bagiku yang tidak mempunyai banyak ruang untuk bercerita, blog menjadi suatu sahabat tersendiri yang membebaskanku untuk berbicara sesuka hati. Di mana segala pembacanya hanya sebuah patung bagiku, tak bicara, tak berjiwa. Walaupun sembilan puluh persen yang membaca tulisan ini hanya diriku seorang, tapi masih ada beberapa orang yang mungkin tidak punya kehidupan dan pekerjaan lain di luar sana, sampai-sampai mesti mengeluarkan waktunya sia-sia hanya untuk membaca blog pecundang ini. Poor you dude.

Siapapun kalian pembaca blog ini, jangan pernah mengatakan bahwa kalian adalah pembaca blog-ku tepat di depan wajahku. Just don't!

Setelah setahun menimba ilmu di kampus ini, di awal semester tiga, aku merasa banyak perubahan yang terjadi. Dari bagaimana aku bertingkah laku, tantangan kehidupan kuliah yang semakin menjadi, bertambahnya nama pada daftar buku teman ku, pengeluaran yang semakin tak beraturan, ketentraman berimajinasi di kamar semakin sulit didapatkan, keseruan bersama anggota organisasi, masalah yang tak kunjung padam, serta patah hati.


Banyak hal yang sulit aku sebutkan satu persatu. Soal patah hati, itu bukan karena aku sedang jatuh cinta, lalu harapanku pupus tak bersinar. Kata 'patah hati' itu kalau menurutku adalah sebuah kata yang pas untuk mendefinisikan sebuah disfungsi. Sampai titik itu ku rasa semuanya sudah paham.

Aku tidak mengikuti aliran apapun maupun ajaran apapun, namun aku percaya adanya reinkarnasi. Entah apa yang bisa membuat pikiranku mempercayainya, tetapi aku pun juga tak mempunyai teori maupun faktanya. Namun kepercayaan tetaplah kepercayaan. Keyakinan insan tercipta melalui unsur-unsur ketakutan dan keindahan otak masing-masing. Melebur menjadi satu dan menjadi pondasi kokoh yang menopang lurus atau tidaknya jalan hidup kita. 

Andai aku besok terlahir kembali, seperti apakah aku di masa nanti? Apapun! Selama aku masih bisa diberikan kesempatan untuk membaca ulang tulisan-tulisanku ini, dan juga me-refresh kembali segala disfungsi-ku.

Monday, September 26, 2016 0 comments

Diary September 26, 2016

Pantai. Sudah cukup lama aku tidak menikmati destinasi wisata seperti itu. Terpaan angin laut yang segar, butiran-butiran pasir bertumpah ruah, bintang laut, karang yang tetap berdiri kokoh walau terkena gempuran ombak ribuan kali tiap harinya, cukup rindu batin ini berkata.

Hari jumat lalu, aku bersama teman-teman dari himpunan mahasiswa kampus, pergi ke pantai untuk camping di sana. Dengan persiapan seadanya, dan bekal secukupnya, malam itu cukup berkesan bagiku. Dua tenda kami dirikan, di depannya kami juga membangun sebuah api unggun sebagai penghangat. Semuanya berkumpul di sekitarannya, ada yang bermain mini games, beberapa sibuk melihat desir ombak yang lalu lalang, sebagian membakar ubi dan jagung, lalu sisanya menceritakan banyak hal satu sama lain. Dalam keriuhan malam itu, sebagian diri ini jatuh dalam suka cita, dan sebagian lagi masih sibuk bertanya-tanya tentang kehidupan.

Tidak banyak angin yang berhembus malam itu, bisa dibilang cukup menggerahkan. Sesekali rintik hujan turun, namun hal tersebut tak mengacaukan acara yang sedang berlangsung. Apa yang kami lakukan di sana, menurutku seperti seorang anak yang berlari sejauh mungkin dari rumah, mencari lebih banyak waktu agar bisa bermain lebih bebas tanpa batasan. Jika dipikir kembali, apa yang membuat kita lari dari nikmatnya sebuah rumah? Tentu saja hanya diri kita yang bisa menjawabnya.

Setelah api mulai meredup, dan kami sudah kehabisan kayu untuk mengobarkannya lagi, kami semua terpisah dalam kelompok-kelompok kecil berbentuk lingkaran tak sempurna. Bukan berarti di antara kami ada sesuatu hal dan semacamnya. Mungkin bisa dibilang, kami saling menghargai bagaimana masing-masing orang menikmati suasana. Dalam lingkaran kecilku yang berisi lima orang, kami berbagi keluh kesah. Terkadang saat cerita itu terlalu menyedihkan untukku, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa membantu banyak. Aku hanya bisa menatap mata pencerita itu sedalam mungkin, berharap ia mampu mengartikannya sendiri.

Pantai. Tempat kedua paling strategis untuk merenung setelah kamar. Tiap bagian-bagian di dalamnya sanggup untuk membantu pikiranmu terbang melayang, melupakan masalah duniawi untuk sesaat, dan sebagai tempat pengistirahatan terbaik. Jika gunung memberimu arti perjuangan, maka lautan memberimu arti kedamaian.

Malam benar-benar sudah jatuh. Dari dua tenda yang kami dirikan, hanya sebagian kecil yang tidur di dalamnya. Kebanyakan orang memilih untuk tidur bersama angin malam. Termasuk aku. Awan yang sedari tadi mendung dan menutupi cahaya rembulan, kini mulai luruh. Bintang-bintang mulai menampakkan wujudnya, air lautan mulai pasang, desir ombak semakin keras menggempur karang, dan para pencerita mulai mengakhiri pertunjukannya. 
Monday, September 19, 2016 0 comments

Diary September 19, 2016

Hmmm...
Selalu ku ikuti ke mana arah dua bola mata itu menuju. Sedikitpun tidak ada niatan untuk mengenyahkan imajinasiku terhadap apa yang aku lihat saat itu. Segala bentuk gerak-geriknya ku abadikan dalam memori. Seakan-akan semesta luntur dalam satu garis senyumannya. Jika saja penguasa waktu dapat memberiku waktu lebih, mungkin aku akan gunakan kesempatan itu untuk menelusuri jauh lebih dalam tentang dirinya. Sebaik mungkin.

Bagiku, hal ini bukan sekadar kegiatan tak bermakna, melainkan hasrat tersembunyi yang tak semua orang tahu tentangku. Baik di dalam maupun di luar, tersimpan sebuah misteri di tiap bagiannya. Tidakkah hal ini wajar untuk menggugah rasa penasaran seorang manusia, termasuk aku, melakukan hal seperti itu? Ayolah, seorang pujangga yang sedang berkagum, itu tidak melulu soal cinta.

Rasa kagum timbul karena berbagai macam hal. Mungkin fisik, materi, bakat, kebaikan, dan sebagainya. Memang benar, rasanya selalu ada hal yang bisa kita jadikan alasan jika ada seseorang yang bertanya akan munculnya rasa kekaguman itu sendiri. Tapi bagiku, rasa kagumku pada orang itu bukan karena adanya suatu alasan. Entah mengapa, secara tidak langsung, membuat diri ini merasa sebagai manusia berkualitas super rendah jika dihadapkan langsung pada sosok yang aku kagumi tersebut. Anehnya, aku tidak tahu deskripsi apa yang pas untuk menjelaskan kekaguman yang satu ini.

Aku sadar posisiku. Aku pun tahu posisinya. Gap di antara aku dan dia begitu jauh sekali. Lebih baik begini kurasa. 

Jarak.

Hal yang pernah aku benci, sekarang malah menjadi perisaiku. Melindungiku dari rasa yang tidak seharusnya ada. Karena aku tahu, rasa kagum bisa berubah menjadi apa saja, dan aku tidak ingin hal itu berubah. Aku berusaha keras untuk tidak mengacaukan segalanya. Biarlah yang sudah baik tetap menjadi baik. Tidak perlu untuk meminta lebih. Karena, berharap itu bukan jalanku.

Semoga semuanya tetap begini adanya. Biarkanlah aku tetap menikmatimu dari sisi gelapku.

Wednesday, September 14, 2016 0 comments

Diary September 14, 2016

Titik-titik hujan mulai menampakkan dirinya. Mendarat begitu lembutnya di sebuah kaca jendela. Membasahi tanah yang kering, melepaskan dahaga bagi para tanaman dan juga pepohonan. Menciptakan sebuah aroma yang begitu khas yang semua orang pasti bisa merasakannya. Aroma yang begitu candu. Bahkan sebagian orang berpikir bahwa menghirup aroma seperti ini merupakan sebuah kebahagiaan istimewa tersendiri. 

Bagi orang yang membenci hujan sekalipun, aroma ini sungguh memikat. Tapi dibalik itu semua, terlihat jelas bahwa langit sedang menangis. Seolah-olah ia mewakili kesedihan semua orang yang telah kehilangan air matanya untuk menangis. 

Hujan tampak mulai deras, air yang jatuh tidak lagi mendarat lembut. Pepohonan dan tanaman seakan-akan menari karena terkena terpaan angin yang cukup kuat. Aroma yang tercium semakin kuat tetapi dalam sekejap pun ia menghilang. Air mulai menggenang di sudut-sudut tertentu. Sampah yang dibuang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab mulai mengapung di atasnya. 

Di saat itu, aku berkenalan dengannya. 
Tuesday, September 6, 2016 0 comments

Diary September 6, 2016

Sudah dua tahun aku tinggal di Jogja sebagai mahasiswa perantauan. Rumah ternyaman beserta orang-orang di dalamnya kutinggalkan jauh di sana. Pergi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Menelusuri lebih dalam tentang nilai-nilai yang menjadikan kita makhluk Bumi. Seperti kebanyakan orang, satu rumah tak cukup bagi spesies rakus seperti kita. Dengan ini, di tanah ini, sekarang juga, tempat ini menjadi rumah kedua ku. Dan aku mengatakan pada tiap langkahku, untuk terus mencari rumah-rumah yang baru di kemudian hari. Sampai kaki ini tak bisa lagi berjalan.

Banyak hal di sini yang bisa mengajarkanku sesuatu. Terlalu banyak. Walau belum sepenuhnya, rasa penasaranku pada banyak hal, sedikit demi sedikit terjawab. Aku banyak bertemu dengan berbagai ragam manusia, dari yang mempunyai pikiran kompleks, sampai orang yang mempunyai masa lalu yang lebih pilu dari pada yang aku rasakan. Di bandingkan masalah mereka semua, masalahku bukanlah apa-apa. Mereka sedang bersusah payah melawan dunia, sedangkan aku masih sibuk menoleh ke belakang.

Dari situ semua, aku banyak belajar, bahwa sesuatu yang hilang memang takkan pernah bisa digantikan. Tapi mereka semua masih sanggup untuk berjalan dengan banyak kehilangan, kenapa aku tidak? Memang, kualitas manusia ku sangatlah rendah, tak ada yang bisa kubanggakan di dalamnya. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa memiliki apa yang dimiliki oleh kaum-kaum spesialis. Kami manusia jelata menolak untuk dibedakan dan juga tak ingin disamakan dengan kalian-kalian semua.

Bolehkah aku untuk jujur pada diriku saat ini? Bahwa sesungguhnya aku tidak bisa lagi menahan semuanya. Aku lelah memikul semuanya sendirian, Nostalgia dengan rasa lama membuatku makin membutuhkannya, bahu untukku bersandar, jiwa yang tak pernah lelah menghadapi egoisme ku, jari-jemari yang senantiasa kugenggam erat, dan mata yang selalu kagum akan semua kebodohanku. Sayang, semuanya tak bisa ku dapatkan di sini. Mungkin di perjalananku berikutnya.


Friday, August 19, 2016 0 comments

Diary August 18, 2016

Tak ada sesuatu yang tak tumbuh. Layaknya tanaman yang tiap hari menatap langit, berharap waktu berhenti untuk sesaat, namun selalu ada waktu untuknya, mendapat giliran oleh dunia, untuk mekar mendewasa. Tak ubahnya manusia.

Lusa menjadi esok, esok menjadi hari ini, hari ini menjadi kemarin, dan kemarin menjadi masa lalu. Turut berduka cita atas datang dan hilangnya waktu manusia. Semuanya berjalan terlalu cepat. Terkadang, itu semua berlalu hanya dengan satu hentakan mata yang tertutup lalu terbuka. Melihat sekeliling bahwa semuanya tak lagi sama. Aku tak mungkin lagi bermain sesuka hati, namun kini aku harus mengikuti segala bentuk peraturan-peraturan murahan, konyol, gelap, dan tidak masuk akal, itulah permainan yang sedang kuhadapi sekarang. Aku tidak bisa berbicara banyak.

Melirik lagi ke masa-masa itu—terkadang aku masih memimpikannya, entah apa itu alasannya aku juga tidak tahu—aku merasa semua hal ini ada bukan tanpa siapa-siapa, begitu juga penyesalan. Di mimpi itu, teringat jelas bagaimana potongan-potongan kecil yang sudah berserakan di mana-mana, puing-puingnya kembali menjadi satu bagian utuh. Apa adanya dan selalu mendamba.

Biasanya, di dalam mimpiku, aku hanya menjadi sebuah penonton kehormatan di panggung opera terbesar se-jagat raya. Posisi dudukku di sana merupakan yang paling ternyaman dan strategis. Beberapa tamu berkicau samar-samar di belakangku tentang bagaimana beruntungnya menjadi aku. Pelayanan berkualitas yang tak semua tamu dapatkan. Anggur termahal terlihat disajikan di mejaku. Dan beberapa wanita ikut duduk disampingku, mengiringiku hingga acara selesai. 

Opera tersebut berjalan seperti skenario yang sudah dibuat, dan tak tampak sedikitpun ada kecacatan saat pentas berlangsung. Secara spesifik acara yang ditampilkan memanglah mengagumkan. Semua penonton berpesta pora seakan-akan mereka telah menyaksikan sebuah satu karya masterpiece, tidak sedikit penonton yang mengalirkan air mata karena kekagumannya. Mereka semua, kecuali aku. 

Aku memang tidak bergeming sedikitpun, namun itu bukan karena rasa kagum dan semacamnya. Melainkan aku tidak pernah puas akan semua mimpi-mimpi yang hinggap dalam tiap tidurku. Merubah seenaknya hakikat ilusinya. Seakan-akan merekalah kenyataan. Tapi, di balik itu aku senang, bahwa segala yang pergi tidak semuanya mati. Mereka selalu hadir. Setidaknya saat kita memejamkan mata.

Sekarang bercerita mengenai seseorang. Setiap manusia pasti akan mempunyai saat-saat dimana ia akan menciptakan masa depan bahkan semesta bersama dengan seseorang. Tidak perlu dijelaskan lagi siapa "seseorang" yang dimaksud. Kalau pun belum, suatu hari akan, jika dirasa hari itu tak kunjung tiba maka tanyakan, apakah ada yang salah di dalam dirimu. Tak usah khawatir, waktu akan menjelaskan semuanya bagi kita para anak domba.

Namun, setiap pengharapan akan selalu diikuti oleh keputusasaan. Ya. Kita para anak domba terlalu lemah untuk memijakkan kaki di tanah masa depan yang hanya berjarak sejengkal dari pelupuk mata. Berpikirnya bahwa masa depan hanyalah seperangkat hal yang terstruktur sedemikian rupa, yang kemudian kita jadikan seolah-olah hal tersebut tak lebih hebat dari yang kita bayangkan.

Kamu tidak akan tahu, seseorang yang berjalan di sampingmu menuju ke masa depan, mungkin saja akan tertinggal di belakang dan menjadi masa lalu, bahkan berlaku juga untuk sebaliknya. Jika kakimu berpikir bahwa ia membawamu menuju ke arah masa depan, dan dirimu hanya melihat dataran kosong penuh kehampaan tanpa impian, cobalah menoleh kebelakang. Jika saat dirimu menoleh kebelakang, dan melihat segala sesuatunya, tiap detiknya, tiap kedipan mata, tiap angin yang berhembus melewati sukma, dan bayangan dirinya, adalah sesuatu yang berharga dan membuatmu merasa ada di dalam rumah yang sesungguhnya, maka kakimu berdusta. Sesungguhnya dirimu tidaklah menuju ke mana-mana. Hati dan pikiran mengikat sayapmu di tanah. Dan selamat, karena dirimu bukanlah satu-satunya korban dari permainan waktu.

Ironis sekali rasanya. Bagaimana waktu bisa merubah segala benda menjadi sampah, kenangan menjadi angin lalu, cinta berubah menjadi benci, terang menjadi gelap, seseorang yang dekat tiba-tiba menjadi manusia asing, dari yang bebas menjadi terkekang, pengharapan berubah lara, usaha bukan lagi sama dengan hasil, dan di mana semua cerita menjadi derita.

Tak heran jika seseorang dengan mudahnya mengakhiri ceritanya dengan paksa. Bagi orang lain hal itu sama saja menggelikan. Kekonyolan manusia yang lumrah di mana-mana, pikir mereka. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dengan mudahnya berpikir dengan logika mereka yang tidak karuan arahnya kemana itu.

Dalam yakinku kini bertambah satu hal lagi yang pasti selain kepergian, ialah perubahan.

Manusia mana yang bisa menolak kedua hal itu?

"Berdoalah." kata mereka. 

Pfffttt.




Friday, July 15, 2016 0 comments

Diary July 15, 2016

Sesaat, waktu berputar, begitu pikirku. Selangkah lagi hingga tiba pada persimpangan jalan. Mengedarkan pandangan ke kiri dan kekanan, memastikan sesuatu sudah berjalan sebagaimana mestinya. Setelah tenggelam di kedalaman tak terhingga, tanpa sedikitpun cahaya matahari yang menembus lapisan-lapisan, hanya terisi penuh oleh kegelapan, sepercik cahat mengilat. Meraung sesak karena pupusnya harapan. 

Ku lihat kembali ujung sepatuku, dan kembali mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, ternyata semuanya masih sama. Papan nama itu, dedaunan kering berserakan, desir tangisan di mana-mana, terik matahari musim panas, dan sepasang gelang anyaman menggantung pada kedua tangan. Sempat berpikir keajaiban tiba. Faktanya, aku tidak pernah berjalan.

Bibirku terjahit teramat rapat. Berlomba dengan keheningan pada setiap keramaian. Apa yang terucap tak lebih dari dusta. Bersembunyi anggun di balik koleksi topeng yang terpajang rapi pada dinding kamar.

Aku melangkah tak bersuara. Angin-angin kecil menghempaskan dedauan di sekitarku. Setelah ku tinggalkan untuk beberapa saat, tempat ini masih elok. Pemandangan kota ini masih menjadi yang terbaik dalam hati. Orang-orang yang sibuk berbagi keluh kesah kehidupan, mencoba menceritakan segalanya pada daun gugur, berharap kenangan buruk itu terbawa hanyut oleh sentilan angin. Tapi memori terakhir pada tempat ini hanyalah kita berdua yang tahu, dan aku tak ingin hal itu untuk dibawa pergi, walau Tuhan sekalipun.



Tuesday, June 21, 2016 0 comments

Diary June 21, 2016

Sesaat mata ini ingin terlelap. Kayuhan kakiku sebentar lagi mencapai batas alam sadar. Sebelumnya aku ingin membiarkan segala bentuk celotehan pikiran yang terlewat menjadi angin lalu. Masih dengan mata tertutup, pikiran yang sama terus terngiang di dasar kepala. Meminta untuk dikeluarkan. Mendobrak paksa aturan.

Yah memang sedikit hypocrite, dan sedikit berlebihan tentunya. Hehe.


Dalam mata tiap individu, ia mempunyai semesta yang sangat luas. Mempunyai apa yang tidak kita punya. Dan kekurangan apa yang bagi kita itu kelebihan. Cermin pribadi kita dalam satu lensa berbeda dengan yang lain. Simetris mereka belum tentu sebuah garis lurus, namun diagonal ataupun heksagonal. Satu kedipannya menyimpan jutaan memori atau pandangan dalam satu sudut vertikal maupun horizontal. Semuanya tersusun rapi. Tentu saja, dalam perspektif tak ada atas atau bawah, depan atau belakang, kiri atau kanan, salah maupun benar. Yang ada hanyalah ada. Segalanya teruntai tanpa kusut dalam satu kebebasan. Kebebasan berpendapat, mereka bilang.


Sebenarnya aku tidak terlalu setuju penggunaan kata "Kebebasan Berpendapat" sebagai satu tolok ukur untukku—tidak—bagi kita semua yang merasa terlalu sering menikmati keindahan omong kosong kata tersebut. Kata itu terlalu simpel. Begitu sempit untuk menjelaskan sebuah jagat raya. Namun aku tidak atau belum tahu juga apa yang bisa menggantikan kata tersebut. 


Apanya yang kebebasan kalau minoritas pendapat akan selalu menjadi minor? Dari mananya kebebasan kalau kreasi saja dibatasi aturan? Banggakah kita mengganti kebebasan orang dengan kebebasan lainnya? Mungkinkah mayoritas itu kualitas? Omong kosong kah jika aku berkata bebas itu sebenarnya tidak bebas? Atau kebebasan itu fana?


Mungkin benar, berpendapat harus melihat keadaan. Lihatlah sekitarmu sebelum berpikir. Apakah kiri dan kanan tidak tertukar? Adakah orang yang mendengar? Pastikan bibirmu tidak tersumpal. Sejak kapan kebebasan memandang keadaan? Waktu? Tempat? Orang? Perasaan? Bebas tidak mengenal itu semua.


Ayolah. Aku memang belum bebas sepenuhnya. Belum tentu juga aku bisa menjadi seperti apa yang kukatakan. Di bandingkan dengan perkataan, yang kulakukan sama sekali belum mencerminkan. Meraih kebebasan sejati tak semulus dan selancar pena bergores. Rasa manusiawi. Hati nuranilah yang membatasinya. Perasaan kasih dalam diri manusia meniadakan arti kebebasan itu sendiri. Kadang apapun yang ingin kita lakukan, ucapkan, tak pernah terwujud. Karena apa? Karena kita masih perlu mimikirkan perasaan, norma, tanggung jawab, kepercayaan, dan lain sebagainya. Bagiku, kebebasan tidak ada yang bisa sepenuhnya bebas, jikalau kita masih memikirkan hal-hal di atas. 


Tapi apa salah kalau menjadikan itu sebagai sesuatu yang dapat nyata? Kembali lagi pada kebebasan berpendapat.

Akhir-akhir ini aku menjadi sering kepikiran atas apa yang ingin kulakukan di masa depan. Mencari kebebasan mungkin akan tercantum ke dalam to do list ku esok.


Satu hal lagi, aku bersyukur dunia diciptakan begitu luas. Dengan begitu, aku bebas memiliki siapapun. Dirimu, dirinya, mereka, kita, aku. Tanpa perlu alasan. Tanpa perlu takut. Bahwa yang bukan siapa-siapa, bisa memiliki segalanya. Setidaknya dalam dunia kita sendiri. 


"Dalam duniaku, aku adalah raja bermahkota. Di sampingku, terduduk manis seorang ratu tanpa mahkota. Tidak perlu bertanya siapa, rakyatku mengerti semuanya."


Thursday, June 16, 2016 0 comments

Diary June 26, 2016

Kala itu, setiap momen ku usahakan tertuang dalam satu cerita. Setidaknya hanya satu lembar tiap momen. Ku abadikan segalanya dalam satu tarikan tinta sembari melukis sesuatu yang terlihat di matanya.

Api membawanya terbang
Berarak tak bersinggung
Menari bersama kawanan bintang
Di langit sana ialah harapan

Berdoa tak memuja
Kawanan domba kehilangan gembala
Senja tiba bermakna
Seketika gelap

Kala itu
Ku lihat langit; ia bercermin
Ku tatap sorotnya; kedua matanya bukan milik
Ku pandang tangannya digenggam; harapan pupus

Sadar....
Ia milik semua

Degup kaki berjalan menjauh

Tak mungkin sosok itu
melihatku pergi

Hanya suara serangga
serta rasi bintang
Yang menggiring hati pulang

Melihat seseorang
tak pernah sesakit ini
sebelumnya

(28.05.2016)


Monday, June 6, 2016 0 comments

Diary June 6, 2016

Aku teringat kembali akan cerita masa kecil. Di mana aku berpikir semua orang selain aku merupakan sesuatu yang kosong. Mereka semua nyata. Namun dalam waktu yang sama mereka terlihat tidak hidup. Warna mereka hitam putih di mataku. Aku lah yang paling berwarna di antara yang hidup. 

Terkadang, saat aku berbicara dengan orang, aku berpikir kembali. Bagaimana bisa makhluk rendahan seperti mereka mempunyai jiwa? Mereka makhluk setengah-setengah bagiku. Ada dan tiada. 

Sempat terpikir bahwa satu orang manusia mempunya satu dunia. Orang tersebutlah yang paling nyata eksistensinya. Sedangkan yang lainnya tak lebih dari sekadar peran pembantu. Semesta ini mempunyai dunia paralel yang sangat luas. Bisa saja kita raja di dunia kita, tetapi di dunia orang lain kita menjadi seorang budak tak berarti.

Sampai titik di mana aku sadar. Manusia yang tadinya hanya hitam putih bisa merubah semuanya menjadi merah darah. 


Friday, May 27, 2016 0 comments

Diary May 27, 2016

Sepuluh menit lagi kelas dimulai. Aku hanya memiliki waktu lima menit untuk bersiap diri, dan lima menit untuk transportasi. Berharap jam milik dosen berputar terbalik.

Orang-orang masih senantiasa menunggu di luar. Beberapa ada yang bertengger di sudut, empat orang sedang asik mengobrol di depan kelas, kebanyakan orang mengambil posisi abstrak, dan ada dua orang yg menyambutku setelah berjuang melawan anak tangga.

Tanda kelas belum di mulai. Syukurnya

Ruang kelas tampak begitu sepi. Banyak ruas kosong yang masih belum terisi. Kelas pagi memang lawan terberat mahasiswa pecinta malam. Dengan perut yang sedari tadi terus menjerit, aku duduk dengan pasrah sembari memejamkan mataku dan meletakkan kepalaku pada pangkuan buku.

Mataku terus berotasi pada arloji yang tertenteng di lengan bagian kanan. Berkali-kali kulihat, waktu terasa tak berputar dengan benar. Selalu di posisi yang sama. Keajaiban yang hanya bisa terjadi di kelas.

Kusambut dengan suka ria saat dosen mengakhiri pelajarannya. Kasur. Itu hal pertama yang terbesit di kepalaku. Dengan gerakan super cepat, aku berhasil menjadi yang pertama keluar kelas. Sesampainya kaki ini menapaki pertengahan lorong, mataku kembali berpijar laksana bohlam lampu yang dialiri tegangan oleh ribuan gardu listrik. Begitu cerah. Satu hal lagi keajaiban yang hanya bisa terjadi di luar kelas.

---------

Setelah ibadah sholat Jum'at, aku masih mempunyai kelas siang yang menunggu. Sama seperti kelas pagi, aku pun tiba di kelas dengan waktu di ujung tanduk. Sungguh bersahaja aku hari ini tidak diusir.

Untungnya kelas hanya terdiri dari satu jam. Aku dipersilahkan lagi untuk kembali ke surgaku. Kamar.

Beberapa detik pintu kamarku terbuka, handphone ku tiba-tiba berdering. Di ujung sana ada suara yang menagih janji. Janjiku dengan salah seorang kerabat pada pukul 4 sore. Ku lihat jam, jarum menunjukkan pukul 3. 

"Ibu sudah di tempat, datang ya." Suara itu dengan lihainya bersenandung. 

Buru-buru aku melepas sepatuku, menggantinya dengan sandal. Belum sempat aku mengganti baju, dan aku berangkat kembali setelah tiba, menuju stasiun.

Di sana kami berbincang cukup lama. Setelah itu, kami pergi untuk mengisi perut. Satay. Makanan surga. Di akhiri membeli oleh-oleh di malioboro, kami berpisah pada persimpangan jalan. Aku mengantongi beberapa helai uang yang diselipkannya pada tangan ini saat memberiku beberapa buah tangan asal daerahnya. I'm so lucky.

Aku pulang dengan riang gembira. Menikmati angin yang berhembus, aku melaju begitu lambat. Bersenandung denga suka cita sepanjang jalan. Menebar senyuman kepada entah. 

Tak lama setelah sampai di kamar, handphone ku berdering kembali. Sebuah pesan. Salah seorang teman ternyata. Mengatakan bahwa ia mengerjakan kuis dan mengisi absen kelasku yang harusnya aku hadiri setelah kelas siang tadi. Namun aku tidak bisa hadir, perihal saudara jauh yang datang. Baiknya ia mau mengerjakan kuis milikku tanpa aku minta. Terimakasih banyak!

Bahagiaku langsung pudar setelah sepatah kalimat terakhir dalam pesan itu. Ia bilang bahwa ada test membaca kitab. Yang di mana ini menjadi sebuah petaka. Quiz yang terisi, absen yang tertanda tangani, manusia yang tembus pandang? Namaku akan otomatis tercoret dari mata kuliah itu jika ketahuan. Ia bilang masih belum terlambat, jika aku berangkat sekarang dengan kecepatan penuh. 

Belum sempat aku duduk di kasur, dan aku harus berangkat lagi. Tanpa mengganti baju, dan mengganti sandal menjadi sepatu. Tertatih aku meraih kuda besiku lagi. Seandainya ia bisa berbicara, entah kalimat makian apa yang akan keluar.

Aku menghempaskan segalanya. Angin yang berhembus sendu tadi, berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Orang-orang sepanjang jalan tiba-tiba menjadi sosok idiot. Kata-kata kotor tumpah ruah dalam satu hembusan napas. 

Ku parkir motor sedekat mungkin dengan lorong yang menuju gedung perkuliahan. Aku lari sepanjang jalan, mengacuhkan teman-teman kelas yang sedang berjalan turun untuk pulang. Mengabaikan pandangan-pandangan heran. 

Temanku berdiri di ujung lorong, bersiap untuk turun. Kami bertatapan selama satu detik kurang, "Lari!" katanya.

Tiba di ruangan dengan napas tersengal-sengal. Menarik napas panjang tidak membantu banyak. Kakiku kram. Aku hanya berdua dengan dosen di ruangan itu. Ku baca penggalan kata Arab itu dengan susah payah. Beberapa huruf tak tahu lagi harus ku baca seperti apa, napasku menggebu-gebu siap meledak, mata lawanku melihatnya dengan tatapan heran. Ughhh, sungguh lelah.

Syukurnya hanya berlangsung kurang lebih dua menit. Aku kembali turun ke lorong itu dengan wajah dan tubuh lesu. Kakiku masih terasa kram. Masih susah untuk mengembalikkan tempo pernapasan. Rambutku seperti tersengat halilintar. 

---------

Ku buka pintu kamarku lagi, berharap handphone ini tak berdering lagi. Sungguh aku lelah. 

Aku terbaring dengan duka cita keletihan. Bolak-balik itu menyebalkan.



 
;