Tuesday, June 21, 2016

Diary June 21, 2016

Sesaat mata ini ingin terlelap. Kayuhan kakiku sebentar lagi mencapai batas alam sadar. Sebelumnya aku ingin membiarkan segala bentuk celotehan pikiran yang terlewat menjadi angin lalu. Masih dengan mata tertutup, pikiran yang sama terus terngiang di dasar kepala. Meminta untuk dikeluarkan. Mendobrak paksa aturan.

Yah memang sedikit hypocrite, dan sedikit berlebihan tentunya. Hehe.


Dalam mata tiap individu, ia mempunyai semesta yang sangat luas. Mempunyai apa yang tidak kita punya. Dan kekurangan apa yang bagi kita itu kelebihan. Cermin pribadi kita dalam satu lensa berbeda dengan yang lain. Simetris mereka belum tentu sebuah garis lurus, namun diagonal ataupun heksagonal. Satu kedipannya menyimpan jutaan memori atau pandangan dalam satu sudut vertikal maupun horizontal. Semuanya tersusun rapi. Tentu saja, dalam perspektif tak ada atas atau bawah, depan atau belakang, kiri atau kanan, salah maupun benar. Yang ada hanyalah ada. Segalanya teruntai tanpa kusut dalam satu kebebasan. Kebebasan berpendapat, mereka bilang.


Sebenarnya aku tidak terlalu setuju penggunaan kata "Kebebasan Berpendapat" sebagai satu tolok ukur untukku—tidak—bagi kita semua yang merasa terlalu sering menikmati keindahan omong kosong kata tersebut. Kata itu terlalu simpel. Begitu sempit untuk menjelaskan sebuah jagat raya. Namun aku tidak atau belum tahu juga apa yang bisa menggantikan kata tersebut. 


Apanya yang kebebasan kalau minoritas pendapat akan selalu menjadi minor? Dari mananya kebebasan kalau kreasi saja dibatasi aturan? Banggakah kita mengganti kebebasan orang dengan kebebasan lainnya? Mungkinkah mayoritas itu kualitas? Omong kosong kah jika aku berkata bebas itu sebenarnya tidak bebas? Atau kebebasan itu fana?


Mungkin benar, berpendapat harus melihat keadaan. Lihatlah sekitarmu sebelum berpikir. Apakah kiri dan kanan tidak tertukar? Adakah orang yang mendengar? Pastikan bibirmu tidak tersumpal. Sejak kapan kebebasan memandang keadaan? Waktu? Tempat? Orang? Perasaan? Bebas tidak mengenal itu semua.


Ayolah. Aku memang belum bebas sepenuhnya. Belum tentu juga aku bisa menjadi seperti apa yang kukatakan. Di bandingkan dengan perkataan, yang kulakukan sama sekali belum mencerminkan. Meraih kebebasan sejati tak semulus dan selancar pena bergores. Rasa manusiawi. Hati nuranilah yang membatasinya. Perasaan kasih dalam diri manusia meniadakan arti kebebasan itu sendiri. Kadang apapun yang ingin kita lakukan, ucapkan, tak pernah terwujud. Karena apa? Karena kita masih perlu mimikirkan perasaan, norma, tanggung jawab, kepercayaan, dan lain sebagainya. Bagiku, kebebasan tidak ada yang bisa sepenuhnya bebas, jikalau kita masih memikirkan hal-hal di atas. 


Tapi apa salah kalau menjadikan itu sebagai sesuatu yang dapat nyata? Kembali lagi pada kebebasan berpendapat.

Akhir-akhir ini aku menjadi sering kepikiran atas apa yang ingin kulakukan di masa depan. Mencari kebebasan mungkin akan tercantum ke dalam to do list ku esok.


Satu hal lagi, aku bersyukur dunia diciptakan begitu luas. Dengan begitu, aku bebas memiliki siapapun. Dirimu, dirinya, mereka, kita, aku. Tanpa perlu alasan. Tanpa perlu takut. Bahwa yang bukan siapa-siapa, bisa memiliki segalanya. Setidaknya dalam dunia kita sendiri. 


"Dalam duniaku, aku adalah raja bermahkota. Di sampingku, terduduk manis seorang ratu tanpa mahkota. Tidak perlu bertanya siapa, rakyatku mengerti semuanya."


0 comments:

Post a Comment

 
;