Saturday, September 30, 2017 0 comments

Diary September 30, 2017 Her day

Pagi yang normal. Setelah semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan rencanaku pada hari ini, akupun akhirnya bergegas. Bermodalkan dompet, dan buku Agatha Christie (untuk jaga-jaga bilamana aku kesepian), serta masker, aku berangkat ke bandara.

Hari ini adalah hari spesialnya. Di mana ia telah melakukan perjuangan selama empat tahun, diapun terbebas dari tanggung jawabnya. Orang-orang pun akan berpendapat demikian jika hari ini tiba. Semuanya harus istimewa, dihadiri orang-orang istimewa, dan diisi kenangan-kenangan istimewa. Aku rasa semua begitu, kecuali aku.

Aku sudah mempersiapkan beberapa kado untuknya. Ku titipkan pada kedua orang kawanku yang berada di sana. Dia sebelumnya memang meminta sebuah kado, tapi aku telah mempersiapkan dua buah kado. Sebenarnya ada satu lagi, tapi rasanya ini tidak pantas untuk disebut sebuah kado. Tapi di balik itu semua, aku berharap ia senang dengan apa yang kuberikan.

Aku datang tepat waktu. Setelah check in selesai, aku langsung berjalan menuju gate 2. Tanpa perlu menunggu lagi, aku langsung disambut dan diarahkan ke pesawat.

Pemandangan yang tidak pernah terlewatkan ketika berada di kabin pesawat: Kepala penumpang yang jadi mangsa empuk kompartemen bagasi. Selalu terjadi, kalau bukan orang lain, ya aku sendiri.

Sesampainya di jogja, bersama dengan ojek online, aku berangkat lagi menuju tempat acara.

Sedikit info, aku memang sengaja tidak mengabari satupun temanku di sini. Tak satupun. Bahkan dia sendiri tidak tahu kalau aku datang ke acara wisudanya. Well, tidak ada alasan khusus, hanya saja aku tidak ingin repot-repot menjawab pertanyaan mereka satu persatu. 

Jujur saja, penyamaranku cukup sederhana, dengan pakaian serba hitam, kepala tertutup rapat dengan topi, serta masker yang sudah kupersiapkan sebelumnya, penyamaranku sukses tanpa satupun ada yang menyadari. Layaknya tinja. Eh, maksudku ninja.

Aku beruntung juga acara itu terdapat banyak orang di dalamnya, jadi tak perlu susah susah untuk memaksimalkan teknik kamuflase yang sudah kusiapkan matang-matang malam sebelumnya. Namun ada juga permasalahan lain di balik mulusnya rencanaku, yaitu gerah.

Kalau dulu aku tidak percaya warna hitam membuat panas terasa dua kali lipat, hari ini aku harus terpaksa percaya.

Waktu menunjukan pukul 10. Orang-orang kian bertambah banyak. Walau berada di ruang terbuka, bernapas pun jadi susah. Gerah apa lagi. 

Terlihat satu persatu wisudawan keluar. Aku tak bisa melihat siapapun berkat kerumunan orang ini. Akhirnya aku memilih untuk berpindah tempat dan melihatnya dari kejauhan saja, dibantu kamera handphone yang punya kekuatan 10x zoom tentunya. Dan apa yang aku tunggu kini muncul juga.

Aku hanya duduk, melihat orang-orang mulai menyalaminya satu persatu, ada yang memberi bunga, ada yang memberinya pelukan, ada yang mengeluarkan hadiahnya, ada yang mengajaknya foto, sedangkan aku hanya terdiam manis memandangnya dari kejauhan.

Cantiknya berbeda hari ini. Aku memang tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya, tapi kurasa mau diapakan pun ia tetap anggun. Aku bahkan sanggup kalau diminta bertahan berjam-jam hanya duduk diam seperti ini.

Aku sungguh tidak masalah. Aku malah tidak menyesal melakukan ini semua. Seandainya orang-orang tahu aku melakukan ini, mungkin mereka akan berkata kepadaku bahwa aku gila. Aku tidak menyangkalnya, aku sendiri juga bingung, sejak kapan aku bisa menjadi segila ini.

Tenang saja, aku tidak mengharapkan apapun dari orang itu. Aku senang melakukan ini semua, baik untuknya ataupun diriku sendiri.

Setelahnya, orang-orang melanjutkan kembali ke acaranya masing-masing. Aku saat itu sudah kehilangan jejaknya. Ntah ke mana dia pergi, aku sudah tak tahu lagi. Mungkin merayakannya bersama keluarganya. Yasudahlah, pikirku.

Beberapa saat kemudian, ia menyampaikan terimakasihnya padaku atas kado yang kuberikan lewat chat. Dan selanjutnya tidaklah terlalu penting.



I guess that was probably the last time I ever see her again. Even 'goodbye' are the hardest thing to tell. Without anything, it ended just like that. Woooossshhh.

Funny isn't? The person who gave you the best memories, becomes a memory itself. But still, this town already marked by her. So whenever Jogja come across my mind, I would think about her.

Thankyou for your time. 
Sunday, September 24, 2017 0 comments

Diary September 24, 2017 Confused

Bisa dikatakan sudah tiga bulan ini aku tidak menyentuh blog. Selain tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan, kesibukanku pada perputaran kehidupan yang monoton, bisa dikatakan menjadi alasan utama mengapa aku kehilangan semangat untuk menulis. Anehnya, otakku sebenarnya tidak seperti itu, ia tetap aktif layaknya gunung yang siap meletus kapan saja, namun lava yang ia pendam tak langsung juga ia keluarkan, melainkan disimpan untuk dirinya sendiri. Penuh kontradiksi bukan?


----

Aku selalu tidak bisa berbaikan dengan perpisahan, selalu. Terutama jika hal itu terjadi kepada orang-orang yang sudah aku anggap istimewa dalam kehidupanku. Orang-orang boleh saja mengatakan hal ini adalah wajar, salah satu bagian dari proses kehidupan yang kita manusia tidak punya daya untuk menghentikannya. Lalu, jika benar begitu, apakah hidup hanya selalu tentang bertamu dari satu rumah ke rumah lainnya?

Konsep ini sungguh mengerikan, sampai-sampai ingin memaki aku dibuatnya. Tapi pada siapa? 

***

Aku memiliki seorang wanita yang aku suka. Tepat pada minggu lalu, aku mengatakan hal tersebut padanya. Bukan berarti kami langsung memiliki hubungan yang romantis sebagaimana pada umumnya. Tidak, kami tidak melakukan hal seperti itu. Aku rasa ia cukup dewasa menyikapi hal ini, apalagi pada dasarnya aku mengatakan hal tersebut semata-mata keinginanku saja. Aku sama sekali tidak berkeinginan mengetahui jawabannya ataupun responnya, karena menurutku yang semacam itu tidaklah penting.

Tapi pertama-tama aku bersyukur, karena apa yang aku pikirkan tidak menjadi kenyataan. Kedua, aku juga bersyukur kita masih bisa berbicara seperti biasanya. Ketiga, aku senang bisa mengenalnya. Dan di balik itu semua, aku telah melakukan apa yang tidak akan membuatku menyesal di esok hari.

Jika melihat lagi hukum alam seperti yang kita bicarakan di atas, rasanya aku cukup khawatir. Jujur saja aku khawatir. Walaupun aku tahu, dia pun juga tahu, kelak pada suatu saat nanti kita akan mempunyai kehidupan masing-masing. Dan aku pun tidak boleh menyangkalnya, bahwa yang aku takutkan adalah harus berhadapan lagi dengan perpisahan.

Kami memang sangat jarang sekali keluar bersama, apalagi berdua. Kami juga tidak banyak bicara ketika ada banyak orang-orang di sekitar kita. Menyapa pun kami hanya sebatas senyum. 

Kami lebih sering bercakapan via chatting. Kami sering juga bisa menghabiskan 3-5 jam di telepon. Terkadang aku juga sempat main ke depan kosnya, yang di mana hal ini bisa dihitung dengan jari jumlahnya.

Sedikit akan terdengar menggelikan, tapi bukan berarti jika kami lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya ketimbang kehidupan asli, tandanya aku tidak perlu terlalu bersedih ketika orang itu pergi bukan? Setidaknya kesedihan akan kepergian orang itu tidak akan berlangsung lama.

Well, aku rasa hal itu benar. Aku memang tidak akan terlalu bersedih, dan tidak akan juga sebegitu terpuruknya. 

Tapi biarkan aku mengatakan satu fakta lagi, bahwa kesedihan itu sifatnya adalah subjektif. Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya, sampai hal itu kalian rasakan sendiri. Hingga saat itu tiba, kita manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan seperti yang orang lain itu rasakan, hanya akan menilai objektif. 



Ada satu lagi ketakutanku selain perpisahan.




Aku takut untuk dilupakan.
 
;