Thursday, April 19, 2018 1 comments

Diary April 19, 2018 Shit Cleaner

Aku adalah manusia normal. Selayaknya manusia normal, aku hanya meminta apa yang sudah seharusnya dimiliki oleh kebanyakan manusia normal juga dalam kehidupanku. Penat menghadapi segala kebusukan-kebusukan yang mulai mengentarakan diri dengan gagah ke permukaan. Semua itu tak lain dan tak bukan menjadi skenario terburuk dalam sepanjang hidupku.

Aku merasa selama ini aku hidup hanya menjadi pembersih kotoran. Menjemukan sekali bagaimana rasanya harus menyelesaikan dan selalu berkutat pada masalah-masalah yang bukan aku sendiri yang menanamnya. Dan buruknya lagi, akulah yang kecipratan untuk menanggung segalanya.

Beban yang aku terima dari membersihkan kotoran-kotoran orang tak sepadan dibandingkan kemampuanku untuk mengikhlaskan melepas kumpulan angan-angan kecil yang tumpah ruah menjerit minta diselamatkan. Seandainya bibirku pandai berucap seribu bahasa, ingin juga aku berkata kepada angan-angan kecil itu bahwa aku ingin diselamatkan juga. Tidak ada yang lebih buruk dari pada setengah hidup.

Tak jarang aku menumpulkan egoismeku demi kepentingan bersama. Menyadarkan otak dari lamunan panjang bahwa mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki sayap seperti burung. Mungkin saja tujuan hidupku ternyata adalah sebagai budak kelancaran tatanan hidup. 

Permasalahan yang sering kali timbul pada tiap manusia yang mencoba pasrah terhadap hidupnya pasti ada saat di mana satu titik di dalam diri mereka yang mendobrak, mengaung, serta meronta-ronta tersiksa melihat mereka diperlakukan seperti itu. Mereka menolak, itu jelas.

Tidak banyak yang bisa manusia lakukan ketika dihadapkan pada posisi tanpa pilihan. Hati merenung sedalam mungkin untuk menemukan kilatan cahaya di jurang terdalam, sedangkan pikiran mencoba mengais-ngais memori yang berserakan, lalu menempelkannya ke dalam buku kenangan berdebu jika suatu saat ia tidak bisa melihatnya lagi.

Aku adalah manusia normal. Selayaknya manusia normal, aku juga memiliki banyak kekurangan. Tapi dari sekian banyak kekuranganku, hanya kali ini saja aku mengutuk habis-habisan ketidakberdayaanku menyampaikan sampah-sampah yang sudah mengendap di balik dahi. Kalaupun terpaksa, bibirku akan mengeluarkan benang abu-abu yang hanya bisa dimengerti oleh diriku seorang.

Menjemukan. Tidak ada kata yang lebih tepat dari pada itu. 






Wednesday, February 28, 2018 0 comments

Diary February 28, 2018 Still Nothing

Hari ini merupakan penghujung di bulan Februari. Masih dalam keadaan yang sama serta kebimbangan yang sama pula. Bisa dikatakan bahwa aku sama sekali masih belum bergerak menuju apa yang aku cari. Aku tak menyangka mencari sebuah tujuan bisa sesulit ini. Melihat teman-teman, saudara, sibuk mengejar yang mereka cari, kakiku malah membatu. 


Sungguh memuakkan.
Monday, January 1, 2018 0 comments

Diary January 1, 2018 Goodbye Funniest Year

Baru saja aku selesai merayakan pesta tahun baruku. Sama seperti biasanya, letupan-letupan kembang api menghiasi gelapnya langit malam. 

Dulu ketika kecil, aku begitu suka ketika melihat kembang api, bahkan sampai menangis merengek-rengek jika tidak dibelikan. Malam akhir tahunku selalu aku habiskan dengan melihat kilauan gemerlap itu melalui beranda rumah. Aku senang sekali! Entah kenapa seiring bertambahnya umur kesenangan itu berangsur-angsur pudar. Tidak lagi ada yang namanya kegembiraan menyaksikan hal-hal seperti itu. Apapun itu alasannya, tolong seseorang beritahu aku.

Lucu sekali bagaimana banyak hal yang sudah terjadi di hidupku di tahun 2017 ini. Aku ingin mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun yang paling terlucu dalam sejarah hidupku. Bagaimana tidak, segalanya bisa berubah dalam sebuah kedipan mata! Kalian pasti tahu apa yang aku maksudkan itu.

Ada saatnya manusia harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga. Ada kalanya manusia harus terpaksa melepaskan apa yang selama ini mereka idam-idamkan. Dan ada waktunya manusia untuk merasa pasrah dengan apa yang sudah terjadi. Aku pernah berusaha melawannya, tetapi pada akhirnya aku lah pihak yang dikalahkan.

Melawan sesuatu itu benar-benar tidak mudah.

Dan di sinilah aku sekarang. Belajar perlahan untuk mengikhlaskan. Terkadang terbesit rasa iri melihat kawan yang sibuk mengejar mimpinya, sedangkan kakiku terjangkar pada sebuah pengabdian palsu. Aku tidak mengatakan bahwa hidupku sekarang penuh penderitaan. Tidak! 

Sungguh tidak ada penderitaan terkait masalah finansial atau sosialku atau apapun itu, Malah sebaliknya, segala kebutuhan ku terpenuhi dengan mudah. Apapun itu keinginanku, aku bisa mengabulkannya. Bukan niat diri ini ingin menyombongkan, tetapi memang begitu faktanya. Sayang saja aku merasa kurang dalam satu hal. Seakan-akan aku kehilangan potongan kecil yang belum bisa aku temukan untuk melengkapi puzzle ini.

Aku tahu masih banyak orang-orang yang lebih kekurangan dibandingkan diriku ini. Tapi aku tetaplah manusia, yang selalu merasa kurang puas dengan apa yang sudah aku miliki sekarang ini. Aku sungguh tau itu.

Bisakah aku berubah di tahun ini? Siapa yang tahu.
Saturday, September 30, 2017 0 comments

Diary September 30, 2017 Her day

Pagi yang normal. Setelah semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan rencanaku pada hari ini, akupun akhirnya bergegas. Bermodalkan dompet, dan buku Agatha Christie (untuk jaga-jaga bilamana aku kesepian), serta masker, aku berangkat ke bandara.

Hari ini adalah hari spesialnya. Di mana ia telah melakukan perjuangan selama empat tahun, diapun terbebas dari tanggung jawabnya. Orang-orang pun akan berpendapat demikian jika hari ini tiba. Semuanya harus istimewa, dihadiri orang-orang istimewa, dan diisi kenangan-kenangan istimewa. Aku rasa semua begitu, kecuali aku.

Aku sudah mempersiapkan beberapa kado untuknya. Ku titipkan pada kedua orang kawanku yang berada di sana. Dia sebelumnya memang meminta sebuah kado, tapi aku telah mempersiapkan dua buah kado. Sebenarnya ada satu lagi, tapi rasanya ini tidak pantas untuk disebut sebuah kado. Tapi di balik itu semua, aku berharap ia senang dengan apa yang kuberikan.

Aku datang tepat waktu. Setelah check in selesai, aku langsung berjalan menuju gate 2. Tanpa perlu menunggu lagi, aku langsung disambut dan diarahkan ke pesawat.

Pemandangan yang tidak pernah terlewatkan ketika berada di kabin pesawat: Kepala penumpang yang jadi mangsa empuk kompartemen bagasi. Selalu terjadi, kalau bukan orang lain, ya aku sendiri.

Sesampainya di jogja, bersama dengan ojek online, aku berangkat lagi menuju tempat acara.

Sedikit info, aku memang sengaja tidak mengabari satupun temanku di sini. Tak satupun. Bahkan dia sendiri tidak tahu kalau aku datang ke acara wisudanya. Well, tidak ada alasan khusus, hanya saja aku tidak ingin repot-repot menjawab pertanyaan mereka satu persatu. 

Jujur saja, penyamaranku cukup sederhana, dengan pakaian serba hitam, kepala tertutup rapat dengan topi, serta masker yang sudah kupersiapkan sebelumnya, penyamaranku sukses tanpa satupun ada yang menyadari. Layaknya tinja. Eh, maksudku ninja.

Aku beruntung juga acara itu terdapat banyak orang di dalamnya, jadi tak perlu susah susah untuk memaksimalkan teknik kamuflase yang sudah kusiapkan matang-matang malam sebelumnya. Namun ada juga permasalahan lain di balik mulusnya rencanaku, yaitu gerah.

Kalau dulu aku tidak percaya warna hitam membuat panas terasa dua kali lipat, hari ini aku harus terpaksa percaya.

Waktu menunjukan pukul 10. Orang-orang kian bertambah banyak. Walau berada di ruang terbuka, bernapas pun jadi susah. Gerah apa lagi. 

Terlihat satu persatu wisudawan keluar. Aku tak bisa melihat siapapun berkat kerumunan orang ini. Akhirnya aku memilih untuk berpindah tempat dan melihatnya dari kejauhan saja, dibantu kamera handphone yang punya kekuatan 10x zoom tentunya. Dan apa yang aku tunggu kini muncul juga.

Aku hanya duduk, melihat orang-orang mulai menyalaminya satu persatu, ada yang memberi bunga, ada yang memberinya pelukan, ada yang mengeluarkan hadiahnya, ada yang mengajaknya foto, sedangkan aku hanya terdiam manis memandangnya dari kejauhan.

Cantiknya berbeda hari ini. Aku memang tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya, tapi kurasa mau diapakan pun ia tetap anggun. Aku bahkan sanggup kalau diminta bertahan berjam-jam hanya duduk diam seperti ini.

Aku sungguh tidak masalah. Aku malah tidak menyesal melakukan ini semua. Seandainya orang-orang tahu aku melakukan ini, mungkin mereka akan berkata kepadaku bahwa aku gila. Aku tidak menyangkalnya, aku sendiri juga bingung, sejak kapan aku bisa menjadi segila ini.

Tenang saja, aku tidak mengharapkan apapun dari orang itu. Aku senang melakukan ini semua, baik untuknya ataupun diriku sendiri.

Setelahnya, orang-orang melanjutkan kembali ke acaranya masing-masing. Aku saat itu sudah kehilangan jejaknya. Ntah ke mana dia pergi, aku sudah tak tahu lagi. Mungkin merayakannya bersama keluarganya. Yasudahlah, pikirku.

Beberapa saat kemudian, ia menyampaikan terimakasihnya padaku atas kado yang kuberikan lewat chat. Dan selanjutnya tidaklah terlalu penting.



I guess that was probably the last time I ever see her again. Even 'goodbye' are the hardest thing to tell. Without anything, it ended just like that. Woooossshhh.

Funny isn't? The person who gave you the best memories, becomes a memory itself. But still, this town already marked by her. So whenever Jogja come across my mind, I would think about her.

Thankyou for your time. 
Sunday, September 24, 2017 0 comments

Diary September 24, 2017 Confused

Bisa dikatakan sudah tiga bulan ini aku tidak menyentuh blog. Selain tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan, kesibukanku pada perputaran kehidupan yang monoton, bisa dikatakan menjadi alasan utama mengapa aku kehilangan semangat untuk menulis. Anehnya, otakku sebenarnya tidak seperti itu, ia tetap aktif layaknya gunung yang siap meletus kapan saja, namun lava yang ia pendam tak langsung juga ia keluarkan, melainkan disimpan untuk dirinya sendiri. Penuh kontradiksi bukan?


----

Aku selalu tidak bisa berbaikan dengan perpisahan, selalu. Terutama jika hal itu terjadi kepada orang-orang yang sudah aku anggap istimewa dalam kehidupanku. Orang-orang boleh saja mengatakan hal ini adalah wajar, salah satu bagian dari proses kehidupan yang kita manusia tidak punya daya untuk menghentikannya. Lalu, jika benar begitu, apakah hidup hanya selalu tentang bertamu dari satu rumah ke rumah lainnya?

Konsep ini sungguh mengerikan, sampai-sampai ingin memaki aku dibuatnya. Tapi pada siapa? 

***

Aku memiliki seorang wanita yang aku suka. Tepat pada minggu lalu, aku mengatakan hal tersebut padanya. Bukan berarti kami langsung memiliki hubungan yang romantis sebagaimana pada umumnya. Tidak, kami tidak melakukan hal seperti itu. Aku rasa ia cukup dewasa menyikapi hal ini, apalagi pada dasarnya aku mengatakan hal tersebut semata-mata keinginanku saja. Aku sama sekali tidak berkeinginan mengetahui jawabannya ataupun responnya, karena menurutku yang semacam itu tidaklah penting.

Tapi pertama-tama aku bersyukur, karena apa yang aku pikirkan tidak menjadi kenyataan. Kedua, aku juga bersyukur kita masih bisa berbicara seperti biasanya. Ketiga, aku senang bisa mengenalnya. Dan di balik itu semua, aku telah melakukan apa yang tidak akan membuatku menyesal di esok hari.

Jika melihat lagi hukum alam seperti yang kita bicarakan di atas, rasanya aku cukup khawatir. Jujur saja aku khawatir. Walaupun aku tahu, dia pun juga tahu, kelak pada suatu saat nanti kita akan mempunyai kehidupan masing-masing. Dan aku pun tidak boleh menyangkalnya, bahwa yang aku takutkan adalah harus berhadapan lagi dengan perpisahan.

Kami memang sangat jarang sekali keluar bersama, apalagi berdua. Kami juga tidak banyak bicara ketika ada banyak orang-orang di sekitar kita. Menyapa pun kami hanya sebatas senyum. 

Kami lebih sering bercakapan via chatting. Kami sering juga bisa menghabiskan 3-5 jam di telepon. Terkadang aku juga sempat main ke depan kosnya, yang di mana hal ini bisa dihitung dengan jari jumlahnya.

Sedikit akan terdengar menggelikan, tapi bukan berarti jika kami lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya ketimbang kehidupan asli, tandanya aku tidak perlu terlalu bersedih ketika orang itu pergi bukan? Setidaknya kesedihan akan kepergian orang itu tidak akan berlangsung lama.

Well, aku rasa hal itu benar. Aku memang tidak akan terlalu bersedih, dan tidak akan juga sebegitu terpuruknya. 

Tapi biarkan aku mengatakan satu fakta lagi, bahwa kesedihan itu sifatnya adalah subjektif. Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya, sampai hal itu kalian rasakan sendiri. Hingga saat itu tiba, kita manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan seperti yang orang lain itu rasakan, hanya akan menilai objektif. 



Ada satu lagi ketakutanku selain perpisahan.




Aku takut untuk dilupakan.
Wednesday, May 31, 2017 0 comments

Diary May 31, 2017 Shitty Life

Sudah tidak kuat lagi rasanya aku menahan untuk menceritakan semua ini. Perasaan sudah geram sekali untuk mengungkapkan. Awalnya aku ingin membiarkannya berlalu begitu saja, tapi ada saja yang suka melempar garam di area luka. Hidup juga begitu, kadang hobi sekali untuk bercanda. Dia tidak tahu bahwa sense humornya parah sekali, sampai-sampai bikin muak saja.

Di saat-saat seperti ini aku selalu teringat kata-kata mantan pacarku, kalau dipikir dan setelah mengalaminya, apa yang dia katakan ada benarnya juga. Dulu aku sering sekali berdebat dengannya gara-gara pendapatnya tentang ini, aku rasa apa yang dia pikirkan ini adalah sebuah pernyataan konyol. Tapi sekarang malah aku yang merasa bodoh karena tidak menyadarinya jauh lebih cepat. Dan sekarang aku mesti repot-repot menuai apa yang aku tanam. 

Seperti yang selalu aku katakan dari dulu, kepergian adalah sesuatu yang pasti. Kita tidak tahu kapan, namun cepat atau lambat pasti akan tiba waktunya. Seberapa besar langkah yang sudah kita persiapkan untuk menghindarinya, tidak akan berpengaruh sama sekali. Tidak ada gunanya menentang hukum alam. Yang ada hanyalah membiarkan ekspetasi kita melayang-layang tak tergenggam.

Aku sudah melihat banyak sekali orang datang dan pergi di hidupku. Mereka semua datang dengan cara yang berbeda-beda, tak sedikit juga ada yang datang dengan cara-cara yang unik. Ada yang mengetuk, dan ada juga yang langsung main nyelonong saja. Setiap kali ada yang datang di kehidupanku, aku selalu berpikir, "apakah orang ini akan bertahan lama diam di kehidupanku?" atau, "apa kehadirannya akan berpengaruh dalam hidupku?". Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggeliat di pikiranku sepersekian detik sebelum aku hendak menjulurkan tanganku demi sebuah tanda perkenalan.

Dari setiap orang-orang yang pergi, semuanya selalu meninggalkan tanda tanya besar. Sekuat apapun aku mencari jawabannya, yang kudapatkan hanyalah tangan kosong. Percuma mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas-jelas menjadi kodrat alam. Kepergian orang-orang sudah cukup banyak meninggalkan tanda tanya, tak perlu lagi kau melemparkan sejuta tanda tanyamu juga kepadanya hanya demi sebuah jawaban, karena semuanya bakal sia-sia.

Itu yang aku pelajari dalam hidupku.

Di mana-mana orang yang bertamu harus selalu berpamitan kepada tuan rumah ketika ingin pergi. Kita selalu diajarkan untuk seperti itu bukan? 

Tapi ketika orang-orang yang selalu masuk di rumahmu selalu datang dan pulang tanpa berpamitan, lama kelamaan bukannya kalian akan berpikir bahwa mungkin ajaran sudah mulai berganti? Atau mungkin begitulah cara bertamu yang sesungguhnya, pergi tanpa berpamitan.

Seperti sebuah kepercayaan yang sudah mengakar di dalam diri, apa yang aku percayai belum tentu kalian percaya. Sulit untuk mengindahkan pendapat orang di zaman sekarang, walau begitu aku sambut perbedaan dengan teramat senang. Tapi ntah kenapa orang-orang sebegitu sulitnya memahami itu semua.

Apa salah ketika aku melakukan apa yang sudah menjadi kepercayaanku? Aku sangat menghargai sekali orang-orang yang tidak menyinggung atau mengolok keputusan orang lain dan menerima segalanya dengan rasa penuh pengertian.

Bagi segelintir orang yang terlanjur nyaman, pergi bukanlah sesuatu yang mudah asal kalian tahu. Mungkin kalian bisa melihat dari luar bahwa orang itu baik-baik saja, jadi kalian bisa dengan sesuka hatinya menggoda orang tersebut atau bahkan mencaci maki keputusannya. Ingatlah, yang kalian lihat hanyalah bungkusnya saja.

Uhhh sial, tak bisakah aku pergi meninggalkan ini semua dengan sedikit ketentraman dalam hati? Melangkah pergi saja sudah menjadi hal yang sangat sulit. Ditambah lagi fakta bahwa aku harus meninggalkan orang-orang yang sudah membantu membentukku menjadi manusia macam sekarang ini, membuat perasaanku menjadi lebih tak karu-karuan. 

Jika diilustrasikan, mungkin perasaanku akan berbentuk seperti nasi omelet yang sedang kawin dengan kaktus sambil jongkok, nggak jelas.

Kata seseorang, aku lebih suka pergi meninggalkan benci. Aku tak membantahnya. Karena aku memang lebih benci dengan diriku sendiri yang harus terpaksa pergi. Bukan hanya itu, dari awal memang aku benci diriku sendiri. Benci karena tak bisa berbuat apa-apa, benci karena hanya bisa membuat orang sekitarku merasa sedih, benci karena selalu tidak bisa diandalkan, benci karena tidak berguna, benci karena aku sangat menjijikan, benci dengan nasibku sendiri, dan kalau dilanjutkan lagi mungkin aku bakal bunuh diri karena saking bencinnya aku dengan diriku sendiri.

Kalian semua boleh membenciku, jika perlu kalian boleh sediakan mahkota duri lalu pakaikan itu di kepalaku. Kalian boleh menganggap semua yang aku katakan dusta. Kalian boleh menghapus namaku di daftar hadir hidup kalian. Kalian bahkan sangat diperbolehkan meminta dunia untuk tidak lagi mempercayaiku. Pokoknya terserah kalian saja deh.

Aku tidak marah apalagi sampai dendam pada kalian semua. Siapapun boleh membenciku, tapi aku tak ada sedikit niatan untuk menjadikan kalian musuh, dan tak ingin juga menjadikan aku sebagai musuh kalian. Itu pilihan kalian sendiri mau menganggapku bagaimana setelah ini, aku tidak ingin ikut campur lebih jauh.

Aku menulis ini tak lebih hanya untuk melampiaskan hasrat pribadiku yang tak tersalurkan. Sungguh tidak ada keinginan untuk berkonfrontasi. Aku hanya ingin menuliskan apa yang sedang aku pikirkan. Karena cuma di sinilah satu-satunya tempatku berkata bebas. Satu-satunya tempat yang dengan senang hati menyambut kegelisahanku dan selalu mendengarkan apapun yang aku ceritakan. 





Walau bagaimanapun, kita semua sudah berbagi yang namanya kenangan. Nama boleh terlupa, tapi kenangan tidak. Karena sesungguhnya aku tidak ingin semuanya berakhir begitu saja, dan semoga kehidupan berbaik hati untuk tetap membiarkan otakku terus mengingat kalian semua sampai aku tutup usia nanti.

Monday, May 1, 2017 0 comments

Diary May 1, 2017 Somewhat Paradox

Adzan Subuh sudah berkumandang, beberapa ayam juga sudah mulai mengaung, tapi tetap saja mata tak ingin buru-buru untuk terlelap. Seminggu, atau bahkan lebih, berhasil sudah aku memutar rotasi tidur manusia biasa. Benar sekali, Bulan menjadi Matahari, dan Matahari menjadi Bulanku. Ini bukan lagi masalah besar, banyak orang di luar sana yang sama juga mengalami seperti ini, bedanya adalah alasan mereka mengapa menghindari Matahari, and of course i have my own reason.

Aku punya kebiasaan buruk sebelum tidur, yaitu terjun bebas dalam imajinasiku sendiri. Aku tutup mataku sebagaimana manusia tertidur, tapi di saat itu juga aku tidak langsung jatuh dalam mimpiku. Kalian dapat membedakannya? Berimajinasi dan bermimpi menurutku dua hal yang berbeda, namun terkadang di suatu kesempatan, kedua hal ini dapat menjadi satu kesatuan. Aku tidak punya kata-kata yang pantas untuk menerjemahkannya menjadi lebih baik, tapi begitulah maksudku.

Ini tahun ketigaku mempunyai kebiasaan aneh ini, mungkin beberapa orang juga melakukannya. Aku tidak tahu pasti. 

Dalam kasusku, kebiasaan burukku ini tidak jarang membuatku jengah. Ketika sedang asik-asiknya membuat kerajaan atau sekedar curhat tentang masalah perasaan kepada Unicorn di dalam kastil abu-abu, kuasaku akan imaji tersebut diambil alih oleh ntah siapa. Harusnya aku yang mengatur, segalanya, tapi mendadak aku yang jadi diatur. Tiba-tiba ia selalu menampilkan figur-figur, nama-nama, ataupun benda-benda yang membuatku jengkel. Bahkan memori-memori absurd tidak dilewatkannya, dan membuatnya menjadi lebih konyol. 

Entah siapa yang dengan kurang ajar merebut hak asasi manusia malang ini untuk berimajinasi bebas. 

Lalu aku memilih untuk bangun saja, dan melakukan sesuatu apapun itu, sampai bayangan tersebut hilang. Ketika aku sudah melupakannya, aku lanjutkan lagi perbincanganku dengan Unicorn yang tadi sempat terkacaukan. Berharap tidak ada lagi pengganggu dan distorsi lainnya. 

Kampretnya, ketika aku memilih untuk bangun dari imajinasiku sendiri (yang telah diambil alih kuasanya), lalu memilih untuk menyibukkan diri sejenak hingga rasa kantuk datang lalu melanjutkannya lagi, yang terjadi pada imajinasiku bagian kedua ini malah makin konyol dan tolol. 

Aku melakukan proses bangun dan tidur itu bisa sampai berulang-ulang kali, bahkan kepalaku sampai pusing. Maka dari itu aku memilih untuk tetap terjaga sampai alarm tubuhku benar-benar menandakan bahwa aku harus tidur, dan meniadakan kebiasaanku itu. 

Well, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kebiasaanku ini, hanya saja di saat banyak masalah yang terjadi seperti saat ini, aku pikir bukanlah hal yang bagus dan aku ingin untuk berpikir normal. Karena tentu saja apa yang aku imajinasikan ada sangkut pautnya tentang apa yang terjadi di lingkunganku. Semakin gelap suasana yang terjadi, semakin menyebalkan juga apa yang kubayangkan. Begitupun sebaliknya.



Aku tidak berharap kalian untuk bisa mengerti maksudku. Aku juga sadar ini seperti terlalu mengada-ada, tapi ini sungguhan. Tetapi intinya alasanku lari dari Matahari adalah untuk menghindari kebiasaanku yang satu ini, tidak lebih. 


Jika ditanya lebih suka bermimpi atau berimajinasi, akan ku jawab dengan pilihan kedua. Mengapa? Karena aku lebih leluasa mengatur segalanya, walaupun tidak juga, tetapi aku bisa memilih orang-orang yang ingin aku masukkan dan sesuka hati membuang orang-orang yang tidak aku butuhkan dalam panggungku. 

Tetapi mimpi tidak, mimpiku hanya menampilkan apa yang aku butuhkan. Jika aku membutuhkan seseorang, maka orang tersebutlah yang muncul di sana. Semakin aku menyangkal bahwa aku tidak membutuhkan orang tersebut, semakin sering pula orang tersebut muncul. Dan aku merasa kasihan juga terus-terusan mengundang orang itu datang repot-repot hanya untuk mimpiku semata.

Do i have to say that name? I don't think so, cause i always do already.

 
;