Wednesday, November 23, 2016 0 comments

Diary November 23, 2016 When Cherry Blossoms Fall

Sesungguhnya, tidak ada makhluk selain wanita yang menyimpan segudang rahasia. Lihat saja dari cara bagaimana mereka bertingkah. Bibir itu tak henti-hentinya tersenyum di balik lubang yang menganga seluas samudera di hatinya. Kedua bohlam matanya tak kunjung redup saat diterpa gelap malam. Tangan mungilnya melambai-lambai di kejauhan meminta juru penyelamat untuk segera datang. Namun kicauan merdunya tak pernah secuil pun berkeinginan untuk berhenti bergelora. Ia selalu mempesona bagi siapapun mata yang melihatnya. Ohhh Tuhan, bagaimana bisa engkau ciptakan makhluk rapuh seindah ini?

Di balik kecantikannya, banyak tersirat pesan-pesan tak berwujud. Hanya manusia pilihannya lah yang mengerti arti bahasa itu. Sungguh ketidakadilan bagi kaum fana ini. Bagaimana tidak? Jelas-jelas manusia seperti aku ini hanyalah seonggok boneka tua yang bernasib buruk untuk hidup di bumi. Sampah masyarakat. Tak berguna eksistensinya di muka bumi. Mungkin jika aku tak lahir, dunia ini bisa menghemat oksigen untuk orang yang lebih membutuhkan. Sedangkan wanita itu? Tentu saja bagi makhluk yang selalu menyispkan Surga di setiap sudut tubuhnya, aku bukanlah sosok yang pantas untuk menatap semesta berpijar yang tersembunyi di balik kedua matanya. Bukan juga sebuah entitas yang berhak untuk melihat kecantikannya. Bahkan mengaguminya saja adalah sebuah dosa untukku. Tetapi anehnya, ia menganggapku sama seperti dirinya. Makhluk kelas atas.

Kepalaku pusing memikirkannya. Aku bukanlah anak dari saudagar kaya raya. Tak juga memiliki paras menawan, bahkan aku sendiri terkadang tertawa melihat tampang tak jelasku ini. Gaya pakaianku bisa dibilang standar, tidak terbelakang, tidak juga kekinian. Perutku setiap hari hanya mengolah makanan-makanan dengan label sepuluh ribu-an di atasnya. 

Intinya, pikirannya salah jika menatapku dengan kilat yang menyiratkan bahwa aku sama seperti ia.

Pikiranku ini mungkin saja salah sasaran. Atau bisa jadi aku hanya berpikir terlalu mengawang-awang melewati ambang batas wajar. Tetapi sungguh, wanita itu makhluk yang kompleks. Kau tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka baik itu verbal maupun visual. Semuanya seakan-akan tak terjadi apa-apa, namun sebenarnya badai sedang berkecamuk. Walaupun spesiesku ditakdirkan untuk memilih salah satu dan mencintai mereka, aku tidak berkenan melakukannya. Aku lebih memilih untuk membiarkan perasaan itu tetap ada, dan tak kubiarkan terlontar. Lebih baik kutinggalkan bunga terbaik untuk berkembang. Mengawasi dirinya berlalu-lalang di kejauhan sana, menebar senyum kepada sesamanya, dan aku di sini terduduk diam memperhatikan segala rahasianya. Bagiku itu sudah merupakan sebuah anugerah terdahsyat.

Pada akhirnya, aku hanya bisa mengatakan bahwa semakin dalam aku menelusuri rahasia dalam dirinya, maka semakin dalam juga aku terjatuh ke dalam jurang tak bermuara. Karena begitulah pesona wanita bekerja bukan? Jika saat ini kalian sedang berpikiran bahwa aku sedang jatuh cinta atau tidak (walaupun tidak ada yang peduli soal hal ini), maka ketahuilah para pembaca setia blog pecundang ini, aku nyatakan dengan jelas, bahwa jawabanya adalah iya. Penuh penekanan pada huruf "y" tentunya.

Tetapi dengan siapa?
Wanita malang mana yang dicintai bajingan ini?

Masih belum jera kah?

Kalian memang kurang ajar mempertanyakan hal-hal seperti itu. Bebaskanlah pendosa ini untuk melarung lagi dalam sungai samsara mu teman, biarkan aku mengelilingi lagi bagian-bagian Bumi yang mengajarkanku rasa sakit itu. Aku sudah siap menghadapinya. Asal kau tahu, aku datang bukan dengan tangan kosong, selama ini tubuhku sudah kebal dengan tetek bengek kehidupan. Harapan pupus? Itu bagiku hanya taik kambing. Omong kosong. Lagi pula sejak awal memang aku tidak berkeinginan menjadikannya milik. Silahkan saja kau bawa ia pergi lagi bersama antek-antekmu itu. Seperti yang kau lakukan dulu. Bawa saja! Aku tidak peduli! Bahkan jika kau menjauhkannya dengan secara perlahan, itu bukan masalah besar. 

Lagipula kau sendiri yang menjadikanku seorang masokis. Apa kau lupa? Hal sepele macam kehilangan atau sebangsanya cuman bakalan menjadi makanan siangku. Mungkin jika ditambahi bumbu penyedap tertentu aku akan meminta tambahan porsi.

Ingat, bunga secantik apapun yang tumbuh di tempat terbaik sekalipun semuanya tetap akan layu pada masanya. Semua orang berhak memilih bunganya masing-masing. Bahkan jika perlu mereka diperbolehkan memetik bunga tersebut pada saat puncak klimaks kecantikannya. Beberapa melakukannya, sebagian sibuk mencari bunga mana yang cocok, dan sisanya hanya terpaku menatapi indahnya.

 Tetapi jika kau bertanya aku pada kelompok yang mana, mungkin aku termasuk yang terakhir. Menatap puas keceriaan bunga tersebut bersama embun pagi, hingga habis masa indahnya. Saat itu aku akan memetiknya, dan menanamnya kembali di pot kesayanganku, lalu membiarkannya tumbuh lagi. Dengan begitu aku sudah resmi menjadi juru penyelamatnya bukan?


Sunday, November 20, 2016 0 comments

Bon Anniversaire

Tentu saja kamu mengingat tanggal ini. Semua orang juga tak akan pernah melupakannya. Jikalau tanggal ini terlupa, atau sengaja dihapuskan eksistensinya, hal itu bukanlah masalah besar. Hanya saja seperti ada yang kurang di hidup kita sebagai manusia. Perayaan kecil yang bersirkulasi tiap setahun sekali, seraya membuat jantung berdebar-debar menunggu kedatangannya. Hei, bolehkah aku untuk mengucapkannya?

Aku lupa terakhir kali kita merayakannya dengan bagaimana. Kalau tidak salah waktu itu adalah di mana masa-masa perkuliahan di mulai. Itu sudah dua tahun lamanya, tentu saja aku lupa. Anehnya, tanggal ini tidak pernah bisa terlupa begitu saja.

Hei, masihkah kamu merayakannya hari ini? Aku tidak tahu ingin mengatakan apa. Padahal di depanku hanya ada sebuah monitor, tapi kenapa jemari ini terasa sulit untuk melebur rasa. Otakku mengayuh tak seperti biasanya. Seperti ada yang menghalanginya untuk bekerja. Menyebalkan rasanya.

Kita mungkin tak akan pernah lagi bertemu di dimensi yang sama. Kaki kita sudah berjalan mengikuti angin masing-masing. Aku sudah berubah, begitu pula dengan ia. Sesuatu yang dulu ada, bisa jadi sudah menghilang di masa kini. Tetapi kenapa waktu tak penah bisa melunturkan kebencian?

Hei, aku memang tak pernah berdoa untukmu. Bahkan aku tak pernah berdoa untuk diriku sendiri. Tetapi untuk hari ini saja, aku meminta kepada-Nya, agar kau diberikan kesehatan selalu. Apapun masalah yang kamu jalani, pasti bisa kamu jalani. Kamu adalah orang yang kuat yang aku tahu, teman-temanmu juga tahu itu. Segalanya akan baik-baik saja di hidupmu, dan selamanya akan baik-baik saja. Aku percaya.

Selamat ulang tahun, dan semoga yang terbaik selalu untukmu. :)



Wednesday, November 9, 2016 0 comments

Diary November 9, 2016

Aku terbangun pukul dua belas siang tadi. Aku membuka mata dan segera mengambil kaca mataku yang tergeletak di samping bantal. Lemari yang dihiasi kaca menyambutku sesaat setelah aku mencoba duduk merelaksasikan badan. Rambutku berantakan. Samar-samar terlihat ada garis yang membekas disekujur wajah. Tanda betapa pulasnya aku tertidur.

Waktu sepertinya bergurau. Satu minggu liburanku terasa tidak ada apa-apanya. Menguap begitu saja. Di isi dengan duduk selama berjam-jam di depan komputer, dan hanya keluar saat perut mulai meminta jatahnya. Dan lihat sekarang, aku hanya menikmati sisa-sisa penghujung liburan, dengan menulis blog. Sungguh cara yang elegan untuk mengakhiri liburan. Waktu selalu saja begitu. Membiarkan dirinya berputar cepat di saat-saat seperti ini.

Aku tidak pernah bosan membahas waktu di sini. Mau kapanpun itu, waktu yang hilang selalu menyenangkan untuk diulas kembali. Sayangnya di kehidupan nyata, semua orang membiarkan waktu begitu saja. Mungkin tak pernah sedikit pun terbesit di pikiran mereka untuk mengoreksi kesalahan waktu yang berputar. Atau mungkin itu hanya imajinasiku saja? Ah, yang jelas mereka semua tidak pernah mau mengusut segala sesuatunya lebih dalam. Aku yakin itu.

Sebenarnya siapakah yang menentukan siang dan malam itu? Sudah seharusnya kah bahwa manusia memulai aktifitasnya pada pagi hari, bukan malam hari? Apa mungkin satu hari hanya terdiri dari 24 jam? Salahkah bila seorang manusia menentukan waktunya sendiri? Dan masih banyak lagi gumaman tentang waktu ini.

Di saat kita membutuhkan waktu sebagai penyembuh luka, ia berjalan sungguh lambat. Membuat kaki kita tertatih untuk meneruskan kehidupan fana ini. Dan ketika bahagia jatuh di mata kita, jarum jam melintas begitu saja. Lihat betapa egoisnya ia. Sepertinya otak kita hanya didesain untuk selalu menyalahkan waktu bukan? Apapun kondisinya, kita selalu begitu. Atau hanya otakku saja yang berpikiran seperti itu? Ah, aku tidak peduli.

Beberapa dari kalian mungkin berpacu kepada waktu yang akan datang. Menyusun rencana-rencana yang sudah kalian ramu untuk menjadi impian. Tetapi, sebagian orang, termasuk aku, masih hidup dalam bayang-bayang masa lampau. Kita selalu hidup di tepi tebing. Ini bukan melulu tentang cinta yang aku bicarakan. Melainkan waktu-waktu yang membuat kita menjadi manusia yang seperti saat ini. Apa yang kita lakukan di masa itu, mengubah kita sedemikian rupa menjadi sosok yang berbeda sama sekali. Puing-puing kecil kenangan yang masih tersimpan di memori aman tak tersentuh. Sepertinya tak ada sedikitpun keinginan otak untuk menghapusnya. Dan jika aku memilih loncat dari tebing itu, maka saat itulah yang dikatakan manusia telah berubah.

Semua orang berubah. Semua orang berkembang. Beberapa maju, dan sisanya memilih untuk tinggal. Tergantung aturan waktu yang diberikan kepada masing-masing orang. Kalian pasti sudah tahu, bahwa tiap manusia mempunyai waktu yang berbeda. Bukan aturan universal yang aku maksud, namun cara kerja waktu menyembuhkan luka kepada seseorang itulah jawabannya. Cepat atau lambatnya waktu yang berjalan, tergantung orang itu sendiri. 

Untuk kalian yang tidak tahu cara menghindari kekejaman waktu, mungkin kalian harus mencari jawabannya sendiri. Seperti yang aku katakan, waktu tiap orang berbeda. Sampai sekarang pun aku masih mencari jawabannya. Namun yang aku tahu pasti, aku tidak akan mau menghabiskan waktuku hanya untuk mencari jawabannya. Aku tidak mau menjadi orang biasa saat kehabisan waktu. Meninggalkan bumi hanya untuk menjadi sama seperti lainnya?. Memikirkannya saja membuatku mual. Walaupun aku sendiri tidak tahu persis apa yang akan aku lakukan di masa depan nanti. 

Semoga saja bintang jatuh di tidurku malam ini. Memberikan jawaban yang selalu aku tunggu..

 
;