Sesungguhnya, tidak ada makhluk selain wanita yang menyimpan segudang rahasia. Lihat saja dari cara bagaimana mereka bertingkah. Bibir itu tak henti-hentinya tersenyum di balik lubang yang menganga seluas samudera di hatinya. Kedua bohlam matanya tak kunjung redup saat diterpa gelap malam. Tangan mungilnya melambai-lambai di kejauhan meminta juru penyelamat untuk segera datang. Namun kicauan merdunya tak pernah secuil pun berkeinginan untuk berhenti bergelora. Ia selalu mempesona bagi siapapun mata yang melihatnya. Ohhh Tuhan, bagaimana bisa engkau ciptakan makhluk rapuh seindah ini?
Di balik kecantikannya, banyak tersirat pesan-pesan tak berwujud. Hanya manusia pilihannya lah yang mengerti arti bahasa itu. Sungguh ketidakadilan bagi kaum fana ini. Bagaimana tidak? Jelas-jelas manusia seperti aku ini hanyalah seonggok boneka tua yang bernasib buruk untuk hidup di bumi. Sampah masyarakat. Tak berguna eksistensinya di muka bumi. Mungkin jika aku tak lahir, dunia ini bisa menghemat oksigen untuk orang yang lebih membutuhkan. Sedangkan wanita itu? Tentu saja bagi makhluk yang selalu menyispkan Surga di setiap sudut tubuhnya, aku bukanlah sosok yang pantas untuk menatap semesta berpijar yang tersembunyi di balik kedua matanya. Bukan juga sebuah entitas yang berhak untuk melihat kecantikannya. Bahkan mengaguminya saja adalah sebuah dosa untukku. Tetapi anehnya, ia menganggapku sama seperti dirinya. Makhluk kelas atas.
Kepalaku pusing memikirkannya. Aku bukanlah anak dari saudagar kaya raya. Tak juga memiliki paras menawan, bahkan aku sendiri terkadang tertawa melihat tampang tak jelasku ini. Gaya pakaianku bisa dibilang standar, tidak terbelakang, tidak juga kekinian. Perutku setiap hari hanya mengolah makanan-makanan dengan label sepuluh ribu-an di atasnya.
Intinya, pikirannya salah jika menatapku dengan kilat yang menyiratkan bahwa aku sama seperti ia.
Pikiranku ini mungkin saja salah sasaran. Atau bisa jadi aku hanya berpikir terlalu mengawang-awang melewati ambang batas wajar. Tetapi sungguh, wanita itu makhluk yang kompleks. Kau tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka baik itu verbal maupun visual. Semuanya seakan-akan tak terjadi apa-apa, namun sebenarnya badai sedang berkecamuk. Walaupun spesiesku ditakdirkan untuk memilih salah satu dan mencintai mereka, aku tidak berkenan melakukannya. Aku lebih memilih untuk membiarkan perasaan itu tetap ada, dan tak kubiarkan terlontar. Lebih baik kutinggalkan bunga terbaik untuk berkembang. Mengawasi dirinya berlalu-lalang di kejauhan sana, menebar senyum kepada sesamanya, dan aku di sini terduduk diam memperhatikan segala rahasianya. Bagiku itu sudah merupakan sebuah anugerah terdahsyat.
Pada akhirnya, aku hanya bisa mengatakan bahwa semakin dalam aku menelusuri rahasia dalam dirinya, maka semakin dalam juga aku terjatuh ke dalam jurang tak bermuara. Karena begitulah pesona wanita bekerja bukan? Jika saat ini kalian sedang berpikiran bahwa aku sedang jatuh cinta atau tidak (walaupun tidak ada yang peduli soal hal ini), maka ketahuilah para pembaca setia blog pecundang ini, aku nyatakan dengan jelas, bahwa jawabanya adalah iya. Penuh penekanan pada huruf "y" tentunya.
Tetapi dengan siapa?
Wanita malang mana yang dicintai bajingan ini?
Masih belum jera kah?
Kalian memang kurang ajar mempertanyakan hal-hal seperti itu. Bebaskanlah pendosa ini untuk melarung lagi dalam sungai samsara mu teman, biarkan aku mengelilingi lagi bagian-bagian Bumi yang mengajarkanku rasa sakit itu. Aku sudah siap menghadapinya. Asal kau tahu, aku datang bukan dengan tangan kosong, selama ini tubuhku sudah kebal dengan tetek bengek kehidupan. Harapan pupus? Itu bagiku hanya taik kambing. Omong kosong. Lagi pula sejak awal memang aku tidak berkeinginan menjadikannya milik. Silahkan saja kau bawa ia pergi lagi bersama antek-antekmu itu. Seperti yang kau lakukan dulu. Bawa saja! Aku tidak peduli! Bahkan jika kau menjauhkannya dengan secara perlahan, itu bukan masalah besar.
Lagipula kau sendiri yang menjadikanku seorang masokis. Apa kau lupa? Hal sepele macam kehilangan atau sebangsanya cuman bakalan menjadi makanan siangku. Mungkin jika ditambahi bumbu penyedap tertentu aku akan meminta tambahan porsi.
Ingat, bunga secantik apapun yang tumbuh di tempat terbaik sekalipun semuanya tetap akan layu pada masanya. Semua orang berhak memilih bunganya masing-masing. Bahkan jika perlu mereka diperbolehkan memetik bunga tersebut pada saat puncak klimaks kecantikannya. Beberapa melakukannya, sebagian sibuk mencari bunga mana yang cocok, dan sisanya hanya terpaku menatapi indahnya.
Tetapi jika kau bertanya aku pada kelompok yang mana, mungkin aku termasuk yang terakhir. Menatap puas keceriaan bunga tersebut bersama embun pagi, hingga habis masa indahnya. Saat itu aku akan memetiknya, dan menanamnya kembali di pot kesayanganku, lalu membiarkannya tumbuh lagi. Dengan begitu aku sudah resmi menjadi juru penyelamatnya bukan?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment