Orang-orang masih senantiasa menunggu di luar. Beberapa ada yang bertengger di sudut, empat orang sedang asik mengobrol di depan kelas, kebanyakan orang mengambil posisi abstrak, dan ada dua orang yg menyambutku setelah berjuang melawan anak tangga.
Tanda kelas belum di mulai. Syukurnya
Ruang kelas tampak begitu sepi. Banyak ruas kosong yang masih belum terisi. Kelas pagi memang lawan terberat mahasiswa pecinta malam. Dengan perut yang sedari tadi terus menjerit, aku duduk dengan pasrah sembari memejamkan mataku dan meletakkan kepalaku pada pangkuan buku.
Mataku terus berotasi pada arloji yang tertenteng di lengan bagian kanan. Berkali-kali kulihat, waktu terasa tak berputar dengan benar. Selalu di posisi yang sama. Keajaiban yang hanya bisa terjadi di kelas.
Kusambut dengan suka ria saat dosen mengakhiri pelajarannya. Kasur. Itu hal pertama yang terbesit di kepalaku. Dengan gerakan super cepat, aku berhasil menjadi yang pertama keluar kelas. Sesampainya kaki ini menapaki pertengahan lorong, mataku kembali berpijar laksana bohlam lampu yang dialiri tegangan oleh ribuan gardu listrik. Begitu cerah. Satu hal lagi keajaiban yang hanya bisa terjadi di luar kelas.
---------
Setelah ibadah sholat Jum'at, aku masih mempunyai kelas siang yang menunggu. Sama seperti kelas pagi, aku pun tiba di kelas dengan waktu di ujung tanduk. Sungguh bersahaja aku hari ini tidak diusir.
Untungnya kelas hanya terdiri dari satu jam. Aku dipersilahkan lagi untuk kembali ke surgaku. Kamar.
Beberapa detik pintu kamarku terbuka, handphone ku tiba-tiba berdering. Di ujung sana ada suara yang menagih janji. Janjiku dengan salah seorang kerabat pada pukul 4 sore. Ku lihat jam, jarum menunjukkan pukul 3.
"Ibu sudah di tempat, datang ya." Suara itu dengan lihainya bersenandung.
Buru-buru aku melepas sepatuku, menggantinya dengan sandal. Belum sempat aku mengganti baju, dan aku berangkat kembali setelah tiba, menuju stasiun.
Di sana kami berbincang cukup lama. Setelah itu, kami pergi untuk mengisi perut. Satay. Makanan surga. Di akhiri membeli oleh-oleh di malioboro, kami berpisah pada persimpangan jalan. Aku mengantongi beberapa helai uang yang diselipkannya pada tangan ini saat memberiku beberapa buah tangan asal daerahnya. I'm so lucky.
Aku pulang dengan riang gembira. Menikmati angin yang berhembus, aku melaju begitu lambat. Bersenandung denga suka cita sepanjang jalan. Menebar senyuman kepada entah.
Tak lama setelah sampai di kamar, handphone ku berdering kembali. Sebuah pesan. Salah seorang teman ternyata. Mengatakan bahwa ia mengerjakan kuis dan mengisi absen kelasku yang harusnya aku hadiri setelah kelas siang tadi. Namun aku tidak bisa hadir, perihal saudara jauh yang datang. Baiknya ia mau mengerjakan kuis milikku tanpa aku minta. Terimakasih banyak!
Bahagiaku langsung pudar setelah sepatah kalimat terakhir dalam pesan itu. Ia bilang bahwa ada test membaca kitab. Yang di mana ini menjadi sebuah petaka. Quiz yang terisi, absen yang tertanda tangani, manusia yang tembus pandang? Namaku akan otomatis tercoret dari mata kuliah itu jika ketahuan. Ia bilang masih belum terlambat, jika aku berangkat sekarang dengan kecepatan penuh.
Belum sempat aku duduk di kasur, dan aku harus berangkat lagi. Tanpa mengganti baju, dan mengganti sandal menjadi sepatu. Tertatih aku meraih kuda besiku lagi. Seandainya ia bisa berbicara, entah kalimat makian apa yang akan keluar.
Aku menghempaskan segalanya. Angin yang berhembus sendu tadi, berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Orang-orang sepanjang jalan tiba-tiba menjadi sosok idiot. Kata-kata kotor tumpah ruah dalam satu hembusan napas.
Ku parkir motor sedekat mungkin dengan lorong yang menuju gedung perkuliahan. Aku lari sepanjang jalan, mengacuhkan teman-teman kelas yang sedang berjalan turun untuk pulang. Mengabaikan pandangan-pandangan heran.
Temanku berdiri di ujung lorong, bersiap untuk turun. Kami bertatapan selama satu detik kurang, "Lari!" katanya.
Tiba di ruangan dengan napas tersengal-sengal. Menarik napas panjang tidak membantu banyak. Kakiku kram. Aku hanya berdua dengan dosen di ruangan itu. Ku baca penggalan kata Arab itu dengan susah payah. Beberapa huruf tak tahu lagi harus ku baca seperti apa, napasku menggebu-gebu siap meledak, mata lawanku melihatnya dengan tatapan heran. Ughhh, sungguh lelah.
Syukurnya hanya berlangsung kurang lebih dua menit. Aku kembali turun ke lorong itu dengan wajah dan tubuh lesu. Kakiku masih terasa kram. Masih susah untuk mengembalikkan tempo pernapasan. Rambutku seperti tersengat halilintar.
---------
Ku buka pintu kamarku lagi, berharap handphone ini tak berdering lagi. Sungguh aku lelah.
Aku terbaring dengan duka cita keletihan. Bolak-balik itu menyebalkan.
Aku terbaring dengan duka cita keletihan. Bolak-balik itu menyebalkan.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact