Friday, May 27, 2016 0 comments

Diary May 27, 2016

Sepuluh menit lagi kelas dimulai. Aku hanya memiliki waktu lima menit untuk bersiap diri, dan lima menit untuk transportasi. Berharap jam milik dosen berputar terbalik.

Orang-orang masih senantiasa menunggu di luar. Beberapa ada yang bertengger di sudut, empat orang sedang asik mengobrol di depan kelas, kebanyakan orang mengambil posisi abstrak, dan ada dua orang yg menyambutku setelah berjuang melawan anak tangga.

Tanda kelas belum di mulai. Syukurnya

Ruang kelas tampak begitu sepi. Banyak ruas kosong yang masih belum terisi. Kelas pagi memang lawan terberat mahasiswa pecinta malam. Dengan perut yang sedari tadi terus menjerit, aku duduk dengan pasrah sembari memejamkan mataku dan meletakkan kepalaku pada pangkuan buku.

Mataku terus berotasi pada arloji yang tertenteng di lengan bagian kanan. Berkali-kali kulihat, waktu terasa tak berputar dengan benar. Selalu di posisi yang sama. Keajaiban yang hanya bisa terjadi di kelas.

Kusambut dengan suka ria saat dosen mengakhiri pelajarannya. Kasur. Itu hal pertama yang terbesit di kepalaku. Dengan gerakan super cepat, aku berhasil menjadi yang pertama keluar kelas. Sesampainya kaki ini menapaki pertengahan lorong, mataku kembali berpijar laksana bohlam lampu yang dialiri tegangan oleh ribuan gardu listrik. Begitu cerah. Satu hal lagi keajaiban yang hanya bisa terjadi di luar kelas.

---------

Setelah ibadah sholat Jum'at, aku masih mempunyai kelas siang yang menunggu. Sama seperti kelas pagi, aku pun tiba di kelas dengan waktu di ujung tanduk. Sungguh bersahaja aku hari ini tidak diusir.

Untungnya kelas hanya terdiri dari satu jam. Aku dipersilahkan lagi untuk kembali ke surgaku. Kamar.

Beberapa detik pintu kamarku terbuka, handphone ku tiba-tiba berdering. Di ujung sana ada suara yang menagih janji. Janjiku dengan salah seorang kerabat pada pukul 4 sore. Ku lihat jam, jarum menunjukkan pukul 3. 

"Ibu sudah di tempat, datang ya." Suara itu dengan lihainya bersenandung. 

Buru-buru aku melepas sepatuku, menggantinya dengan sandal. Belum sempat aku mengganti baju, dan aku berangkat kembali setelah tiba, menuju stasiun.

Di sana kami berbincang cukup lama. Setelah itu, kami pergi untuk mengisi perut. Satay. Makanan surga. Di akhiri membeli oleh-oleh di malioboro, kami berpisah pada persimpangan jalan. Aku mengantongi beberapa helai uang yang diselipkannya pada tangan ini saat memberiku beberapa buah tangan asal daerahnya. I'm so lucky.

Aku pulang dengan riang gembira. Menikmati angin yang berhembus, aku melaju begitu lambat. Bersenandung denga suka cita sepanjang jalan. Menebar senyuman kepada entah. 

Tak lama setelah sampai di kamar, handphone ku berdering kembali. Sebuah pesan. Salah seorang teman ternyata. Mengatakan bahwa ia mengerjakan kuis dan mengisi absen kelasku yang harusnya aku hadiri setelah kelas siang tadi. Namun aku tidak bisa hadir, perihal saudara jauh yang datang. Baiknya ia mau mengerjakan kuis milikku tanpa aku minta. Terimakasih banyak!

Bahagiaku langsung pudar setelah sepatah kalimat terakhir dalam pesan itu. Ia bilang bahwa ada test membaca kitab. Yang di mana ini menjadi sebuah petaka. Quiz yang terisi, absen yang tertanda tangani, manusia yang tembus pandang? Namaku akan otomatis tercoret dari mata kuliah itu jika ketahuan. Ia bilang masih belum terlambat, jika aku berangkat sekarang dengan kecepatan penuh. 

Belum sempat aku duduk di kasur, dan aku harus berangkat lagi. Tanpa mengganti baju, dan mengganti sandal menjadi sepatu. Tertatih aku meraih kuda besiku lagi. Seandainya ia bisa berbicara, entah kalimat makian apa yang akan keluar.

Aku menghempaskan segalanya. Angin yang berhembus sendu tadi, berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Orang-orang sepanjang jalan tiba-tiba menjadi sosok idiot. Kata-kata kotor tumpah ruah dalam satu hembusan napas. 

Ku parkir motor sedekat mungkin dengan lorong yang menuju gedung perkuliahan. Aku lari sepanjang jalan, mengacuhkan teman-teman kelas yang sedang berjalan turun untuk pulang. Mengabaikan pandangan-pandangan heran. 

Temanku berdiri di ujung lorong, bersiap untuk turun. Kami bertatapan selama satu detik kurang, "Lari!" katanya.

Tiba di ruangan dengan napas tersengal-sengal. Menarik napas panjang tidak membantu banyak. Kakiku kram. Aku hanya berdua dengan dosen di ruangan itu. Ku baca penggalan kata Arab itu dengan susah payah. Beberapa huruf tak tahu lagi harus ku baca seperti apa, napasku menggebu-gebu siap meledak, mata lawanku melihatnya dengan tatapan heran. Ughhh, sungguh lelah.

Syukurnya hanya berlangsung kurang lebih dua menit. Aku kembali turun ke lorong itu dengan wajah dan tubuh lesu. Kakiku masih terasa kram. Masih susah untuk mengembalikkan tempo pernapasan. Rambutku seperti tersengat halilintar. 

---------

Ku buka pintu kamarku lagi, berharap handphone ini tak berdering lagi. Sungguh aku lelah. 

Aku terbaring dengan duka cita keletihan. Bolak-balik itu menyebalkan.



Saturday, May 21, 2016 0 comments

Diary Mei 21, 2016

Tertiup angin yang ku kenal. Berhembus beriringan dengan suara tak asing di telinga. Aromanya menyeruak melapisi sudut-sudut kamar. Jendela tanpa pelindung terbuka lebar-lebar. Menyambut datangnya ia. Hujan tiba.

Menyadari itu semua, tubuhku hanya bisa merespon seperti biasanya. Mengantuk. Sedang atau tidak melakukan apapun, tubuh ini selalu kelelahan. Aku lupa cara untuk bersemangat. Sedangkan hari-hari selalu mengejar dengan ambisi tanpa melihat kondisi. Sungguh menyebalkan.

Terbangun saat matahari pada posisi ganasnya, mataku berjuang mendapatkan fokus. Tanpa banyak basa-basi ku ambil posisi terduduk di depan komputerku dan mengambil secangkir air putih. Tak seperti hari-hari biasa, di mana aku membutuhkan loading yang relatif lama untuk bangkit dari tempat ternikmat ini. Seperti dalam pelukan angsa.

Ku nyalakan beberapa playlist yang terdiri dari musik-musik indie. Ini juga tidak seperti biasanya. Tetapi sesaat setelah mendengar alunannya, aku jatuh dalam lamunan panjang. Termenung meratapi kegelisahan yang berkepanjangan. Aku mengengadah ke atas, hanya terlihat langit tanpa barisan awan. Ku lemparkan pandangan ke kiri dan ke kanan hanya terlihat pemandangan yang tak terbendung, menakjubkan namun hampa. Kakiku secara inisiatif bergerak semaunya. Memijak sesuatu yang asing dengan gagah berani. Terlihat sepucuk pohon bertengger di ujung sana. Mataku melihatnya sangat jelas. Itu bukan fatamorgana atau semacamnya, itu sosok nyata.

Tetapi....

Aku tidak tahu. Ratusan langkah terlampau tanpa rasa. Tetesan keringat menggantung di pelupuk mata. Napas ku tersengal-sengal. Kedua kakiku sudah mati rasa. Pohon itu masih dalam sikap sempurnanya pada jarak yang tak kunjung berkurang.

Lamunanku terpecah oleh gemuruh hujan. Membiaskan imajinasiku berserakan. 

Terkadang ku cairkan isi pikiran ini dalam sajak. Tak menghiraukan apa maknanya, dan sebagus apa baitnya. Hanya setangkai sampah yang harus dibuang pada tempatnya. 

Seperti,


Namamu

Terang tak bersayap
Kilau menggenapkan asa
Membombardir segala aturan
Geraknya membunuh telak

Gugusmu memerangi kesepian
Mengakar pada kanopi kehidupan
Hempaskan segalanya

Saat itu aku tahu
Terang tak bicara
Semuanya jatuh dalam pelukan


Esok sampai jumpa


Sampai saat ini aku berbicara dengan diriku sendiri, apa yang telah aku lakukan sampai saat ini? Tolong beritahu aku cara untuk hidup.


Pikiran yang bergerak tak beraturan membimbingku pada satu tempat, di mana aku hanya bisa menangis tanpa air mata. 

Aku benci diriku.

Friday, May 6, 2016 0 comments

Diary May 06, 2016

Ku lihat jam sudah jatuh pada pukul setengah lima pagi. Kamar ini masih tetap berantakan, indahnya tidak pernah tahan lama setelah terakhir kali aku bersihkan. Selalu ada sampah yang bermain-main di dalam sini. Ntah siapa yang mengundang mereka, tetapi rasanya sampah-sampah itu sudah bersinkronisasi dengan sang kamar. Tak pernah bosan-bosan untuk dibersihkan, dan kamar ini membuka pintunya lebar-lebar supaya mereka semua bisa masuk. Apa jangan-jangan sampah itu merupakan makhluk yang mempunyai suatu inteligensi, di mana eksistensi mereka tidak nyata. Namun mereka selalu ada di depan mata kita. Seperti manusia.

Dunia ini terlalu penuh dengan hal-hal yang kompleks untuk dimengerti. Orang-orang sibuk berdebat satu sama lain demi memenangkan argumentasi mereka. Berpacu dalam teori yang mereka sudah kembangkan setelah melewati jutaan eksperimen. Saat sepakat dengan satu kebenaran, maka munculah orang yang paling berjasa. Tetapi yang kita ingat hanyalah satu nama. Nama manusia yang paling tersanjung dan kita anggap sempurna. Bukankah itu aneh? Yang berkorban bukan hanya satu orang. Bagaimana tentang orang yang selalu membersihkan kamar mandinya? Orang yang membawakannya kopi agar selalu terjaga? Orang yang selalu bisa menahan kantuknya demi mendengarkan ceritamu? Atau orang yang selalu melantunkan syair pada setiap doanya. Apa yang terjadi dengan mereka semua?

Mereka semua tenggelam. Melebur menjadi kabut tak tersentuh. Begitu ironisnya melihat manusia terbagi atas kualitas yang merajalela, dan perspektif menjadi penasehatnya. 


Jasa kita bukan apa-apa bagi mereka yang masih dibutakan oleh perspektif. Nama kita tidak akan tersebut. Di dalam hati mereka, kita tak lebih sebagai batu pijakan untuk mencapai puncak. Di mata mereka kita hanya sekedar pemain figuran sebagai bumbu peramai. Di bibir,kita adalah pelatih terbaik untuk lidah mereka guna menarik perhatian pujangga tercintanya. Dengan kata lain, kita tak lebih dari pemeran pembantu.

Satu orang, dengan ribuan bahkan jutaan pemeran pembantu, yang terkenang hanya satu nama. Orang itu takkan pernah mau repot-repot memandang posisi kedua. Pecuma saja berlomba-lomba menjadi yang terbaik di mata orang lain. Sesungguhnya kita semua adalah makhluk pencipta strata tanpa sadar.

Inilah kenapa yang selalu membuatku terlalu sering terjaga pada saat malam hari. Otak ku terlalu suka mengawang pada hal-hal sepele kehidupan. Dialog antara jiwa dan pikiran membawaku pergi ke dimensi lain, dimana aku dilempar ke dalamnya untuk merenung. Apapun bisa aku lakukan di sana, aku memiliki segalanya, aku menjadi Tuhan dalam dunia ciptaanku. 

Sebenarnya aku tidak pandai menjelaskan sesuatu. Minimnya kosa kata ditambah pemikiran terlalu abstrak membuat tulisan ini tidak layak pandang. Aku heran sampai sekarang masih ada saja yang mau membaca tulisan ini. Percayalah, cerita di atas itu nggak sesederhana yang aku tulis. Krisis kosa kata dalam menjelaskan sesuatu ternyata petaka. Aku nggak berharap ada yang menikmati, dan juga mengerti apa yang aku ceritakan. 

"Jangan biarkan hatimu menang terlalu mudah."

Tapi setidaknya kalian mengerti sepotong kalimat barusan.

Tuesday, May 3, 2016 0 comments

Diary May 03, 2016

Hidup memakan 'kehidupan' lainnya untuk hidup.
Aku tahu. Aku akan menjadi seperti apa yang telah aku lakukan.
Berharap, setidaknya aku terasa enak saat menggelinding masuk di tenggorokan mu.

Musim-musim bergantian mati. Hembusan angin menggantikan jeritan kematian. Seorang pria, tidak terpengaruh pada pesona kota, menengadah ke langit dan melihat bulan, menyadari betapa hambarnya sinar itu.

Hari-harinya ia jalani bersusah payah melewati lautan lumpur hisap, hujan yang turun terasa seperti alkohol. Berkeliaran di sudut-sudut kota membawa ketidakpedulian dalam ujung matanya. Melebur menjadi satu dengan kawanan orang-orang yang sama. Keanehannya menyembul keluar. Sendirian.

Tampak seperti bayangan setengah transparan, ikut menyelimuti keramaian. Dimana aku tidak bisa membedakan yang mana diriku. Terisi penuh oleh penderitaan, kesedihan, rintihan, kelaparan sinar matahari, kematian pun tak ingin menjemput.

Jika aku bernyanyi di tengah raungan hujan, akankah awan memisahkan dirinya? Hidupku sudah seperti tulang kering di tengah keramaian musim panas.

Yang Terhormat, 
Masa laluku yang menjijikan

Tatkala jika ini adalah hembusan nafas terakhirku dengan sisa hari penuh muak serta mimpi buruk. Sepatah syair ini aku kancingkan untuk mengakhiri benang ikatan. Di kehidupan selanjutnya, bunga kita akan bermekaran. Menjatuhi kelopak demi kelopak , memberi tahu dirimu bahwa masa pergantian dimulai.

Hari esok satu demi satu mati. Tertatih-tatih kita mengejarnya, tidak akan tercapai. Satu kedipan mata, mereka berubah menjadi masa lalu. Tapi bagi kita yang meronta-ronta menjalani kehidupan, kobaran api kita terlalu plin-plan. Kita selalu menambahkan arti pada suatu fakta. Hiduplah sesuka hati untuk beberapa saat. Bahkan jika dirimu membenci dirimu sendiri, bertanya-tanya siapa yang ada di dalam. Bernyanyilah, mungkin kegelapan perlahan akan menghilang. Arti kehidupan kan mengikutimu di belakang.

Inilah hidup yang diberikan oleh mimpi yang telah membusuk.

Dengan wajah letih berlari, kita pernah beristirahat bersama. Mengedarkan pandangan satu sama lain. Menyipitkan mata atas pantulan cahaya matahari tenggelam. Aku tidak dapat memastikan haruskah aku pergi sekarang atau kembali. Secepatnya kupersiapkan punggung ini memikul beban kembali.

Yang Terhormat,
Masa lalu terakhirku

Ini adalah syair nostalgia. Seperti yang kubayangkan. Hari-hari memuakkan serta mimpi buruk itu hanyalah awal. Dan sekarang mereka sudah berada jauh di ujung sana.

Kelopak bunga berjatuhan, kembali pada putaran kebangkitan. 

Musim-musim hidup kembali satu demi satu.

 
;