Friday, May 6, 2016

Diary May 06, 2016

Ku lihat jam sudah jatuh pada pukul setengah lima pagi. Kamar ini masih tetap berantakan, indahnya tidak pernah tahan lama setelah terakhir kali aku bersihkan. Selalu ada sampah yang bermain-main di dalam sini. Ntah siapa yang mengundang mereka, tetapi rasanya sampah-sampah itu sudah bersinkronisasi dengan sang kamar. Tak pernah bosan-bosan untuk dibersihkan, dan kamar ini membuka pintunya lebar-lebar supaya mereka semua bisa masuk. Apa jangan-jangan sampah itu merupakan makhluk yang mempunyai suatu inteligensi, di mana eksistensi mereka tidak nyata. Namun mereka selalu ada di depan mata kita. Seperti manusia.

Dunia ini terlalu penuh dengan hal-hal yang kompleks untuk dimengerti. Orang-orang sibuk berdebat satu sama lain demi memenangkan argumentasi mereka. Berpacu dalam teori yang mereka sudah kembangkan setelah melewati jutaan eksperimen. Saat sepakat dengan satu kebenaran, maka munculah orang yang paling berjasa. Tetapi yang kita ingat hanyalah satu nama. Nama manusia yang paling tersanjung dan kita anggap sempurna. Bukankah itu aneh? Yang berkorban bukan hanya satu orang. Bagaimana tentang orang yang selalu membersihkan kamar mandinya? Orang yang membawakannya kopi agar selalu terjaga? Orang yang selalu bisa menahan kantuknya demi mendengarkan ceritamu? Atau orang yang selalu melantunkan syair pada setiap doanya. Apa yang terjadi dengan mereka semua?

Mereka semua tenggelam. Melebur menjadi kabut tak tersentuh. Begitu ironisnya melihat manusia terbagi atas kualitas yang merajalela, dan perspektif menjadi penasehatnya. 


Jasa kita bukan apa-apa bagi mereka yang masih dibutakan oleh perspektif. Nama kita tidak akan tersebut. Di dalam hati mereka, kita tak lebih sebagai batu pijakan untuk mencapai puncak. Di mata mereka kita hanya sekedar pemain figuran sebagai bumbu peramai. Di bibir,kita adalah pelatih terbaik untuk lidah mereka guna menarik perhatian pujangga tercintanya. Dengan kata lain, kita tak lebih dari pemeran pembantu.

Satu orang, dengan ribuan bahkan jutaan pemeran pembantu, yang terkenang hanya satu nama. Orang itu takkan pernah mau repot-repot memandang posisi kedua. Pecuma saja berlomba-lomba menjadi yang terbaik di mata orang lain. Sesungguhnya kita semua adalah makhluk pencipta strata tanpa sadar.

Inilah kenapa yang selalu membuatku terlalu sering terjaga pada saat malam hari. Otak ku terlalu suka mengawang pada hal-hal sepele kehidupan. Dialog antara jiwa dan pikiran membawaku pergi ke dimensi lain, dimana aku dilempar ke dalamnya untuk merenung. Apapun bisa aku lakukan di sana, aku memiliki segalanya, aku menjadi Tuhan dalam dunia ciptaanku. 

Sebenarnya aku tidak pandai menjelaskan sesuatu. Minimnya kosa kata ditambah pemikiran terlalu abstrak membuat tulisan ini tidak layak pandang. Aku heran sampai sekarang masih ada saja yang mau membaca tulisan ini. Percayalah, cerita di atas itu nggak sesederhana yang aku tulis. Krisis kosa kata dalam menjelaskan sesuatu ternyata petaka. Aku nggak berharap ada yang menikmati, dan juga mengerti apa yang aku ceritakan. 

"Jangan biarkan hatimu menang terlalu mudah."

Tapi setidaknya kalian mengerti sepotong kalimat barusan.

0 comments:

Post a Comment

 
;