Menyadari itu semua, tubuhku hanya bisa merespon seperti biasanya. Mengantuk. Sedang atau tidak melakukan apapun, tubuh ini selalu kelelahan. Aku lupa cara untuk bersemangat. Sedangkan hari-hari selalu mengejar dengan ambisi tanpa melihat kondisi. Sungguh menyebalkan.
Terbangun saat matahari pada posisi ganasnya, mataku berjuang mendapatkan fokus. Tanpa banyak basa-basi ku ambil posisi terduduk di depan komputerku dan mengambil secangkir air putih. Tak seperti hari-hari biasa, di mana aku membutuhkan loading yang relatif lama untuk bangkit dari tempat ternikmat ini. Seperti dalam pelukan angsa.
Ku nyalakan beberapa playlist yang terdiri dari musik-musik indie. Ini juga tidak seperti biasanya. Tetapi sesaat setelah mendengar alunannya, aku jatuh dalam lamunan panjang. Termenung meratapi kegelisahan yang berkepanjangan. Aku mengengadah ke atas, hanya terlihat langit tanpa barisan awan. Ku lemparkan pandangan ke kiri dan ke kanan hanya terlihat pemandangan yang tak terbendung, menakjubkan namun hampa. Kakiku secara inisiatif bergerak semaunya. Memijak sesuatu yang asing dengan gagah berani. Terlihat sepucuk pohon bertengger di ujung sana. Mataku melihatnya sangat jelas. Itu bukan fatamorgana atau semacamnya, itu sosok nyata.
Tetapi....
Aku tidak tahu. Ratusan langkah terlampau tanpa rasa. Tetesan keringat menggantung di pelupuk mata. Napas ku tersengal-sengal. Kedua kakiku sudah mati rasa. Pohon itu masih dalam sikap sempurnanya pada jarak yang tak kunjung berkurang.
Lamunanku terpecah oleh gemuruh hujan. Membiaskan imajinasiku berserakan.
Terkadang ku cairkan isi pikiran ini dalam sajak. Tak menghiraukan apa maknanya, dan sebagus apa baitnya. Hanya setangkai sampah yang harus dibuang pada tempatnya.
Seperti,
Namamu
Terang tak bersayap
Kilau menggenapkan asa
Membombardir segala aturan
Geraknya membunuh telak
Gugusmu memerangi kesepian
Mengakar pada kanopi kehidupan
Hempaskan segalanya
Saat itu aku tahu
Terang tak bicara
Semuanya jatuh dalam pelukan
Esok sampai jumpa
Sampai saat ini aku berbicara dengan diriku sendiri, apa yang telah aku lakukan sampai saat ini? Tolong beritahu aku cara untuk hidup.
Pikiran yang bergerak tak beraturan membimbingku pada satu tempat, di mana aku hanya bisa menangis tanpa air mata.
Aku benci diriku.


0 comments:
Post a Comment