Tuesday, May 3, 2016

Diary May 03, 2016

Hidup memakan 'kehidupan' lainnya untuk hidup.
Aku tahu. Aku akan menjadi seperti apa yang telah aku lakukan.
Berharap, setidaknya aku terasa enak saat menggelinding masuk di tenggorokan mu.

Musim-musim bergantian mati. Hembusan angin menggantikan jeritan kematian. Seorang pria, tidak terpengaruh pada pesona kota, menengadah ke langit dan melihat bulan, menyadari betapa hambarnya sinar itu.

Hari-harinya ia jalani bersusah payah melewati lautan lumpur hisap, hujan yang turun terasa seperti alkohol. Berkeliaran di sudut-sudut kota membawa ketidakpedulian dalam ujung matanya. Melebur menjadi satu dengan kawanan orang-orang yang sama. Keanehannya menyembul keluar. Sendirian.

Tampak seperti bayangan setengah transparan, ikut menyelimuti keramaian. Dimana aku tidak bisa membedakan yang mana diriku. Terisi penuh oleh penderitaan, kesedihan, rintihan, kelaparan sinar matahari, kematian pun tak ingin menjemput.

Jika aku bernyanyi di tengah raungan hujan, akankah awan memisahkan dirinya? Hidupku sudah seperti tulang kering di tengah keramaian musim panas.

Yang Terhormat, 
Masa laluku yang menjijikan

Tatkala jika ini adalah hembusan nafas terakhirku dengan sisa hari penuh muak serta mimpi buruk. Sepatah syair ini aku kancingkan untuk mengakhiri benang ikatan. Di kehidupan selanjutnya, bunga kita akan bermekaran. Menjatuhi kelopak demi kelopak , memberi tahu dirimu bahwa masa pergantian dimulai.

Hari esok satu demi satu mati. Tertatih-tatih kita mengejarnya, tidak akan tercapai. Satu kedipan mata, mereka berubah menjadi masa lalu. Tapi bagi kita yang meronta-ronta menjalani kehidupan, kobaran api kita terlalu plin-plan. Kita selalu menambahkan arti pada suatu fakta. Hiduplah sesuka hati untuk beberapa saat. Bahkan jika dirimu membenci dirimu sendiri, bertanya-tanya siapa yang ada di dalam. Bernyanyilah, mungkin kegelapan perlahan akan menghilang. Arti kehidupan kan mengikutimu di belakang.

Inilah hidup yang diberikan oleh mimpi yang telah membusuk.

Dengan wajah letih berlari, kita pernah beristirahat bersama. Mengedarkan pandangan satu sama lain. Menyipitkan mata atas pantulan cahaya matahari tenggelam. Aku tidak dapat memastikan haruskah aku pergi sekarang atau kembali. Secepatnya kupersiapkan punggung ini memikul beban kembali.

Yang Terhormat,
Masa lalu terakhirku

Ini adalah syair nostalgia. Seperti yang kubayangkan. Hari-hari memuakkan serta mimpi buruk itu hanyalah awal. Dan sekarang mereka sudah berada jauh di ujung sana.

Kelopak bunga berjatuhan, kembali pada putaran kebangkitan. 

Musim-musim hidup kembali satu demi satu.

0 comments:

Post a Comment

 
;