Aku
masih tidak bisa. Sepertinya sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyentuh
garis rapuh itu. Garis yang hanya bisa dilewati oleh manusia-manusia kelas atas serta berjiwa besar.
Tidak akan ada tempat untuk aku tinggal di dalamnya. Lebih tepatnya, bilik
ternyaman miliknya.
Semua
orang pasti pernah tersesat pada suatu keanehan. Bertanya-tanya bagaimana kita
bisa sampai disini atau apa yang sedang terjadi. Tempat itu berdesir layaknya sebuah pinggiran laut dan menyeruakkan aroma Firdaus. Berdiri jutaan pohon yang menjulang ke udara seiring kedua mata itu beredar. Tanpa memperdulikan eksistensi makhluk di dalamnya, ia meratap. Bukannya membuat timbul rasa kegelisahan terdalam, namun
terperangkap dalam suatu kenyamanan yang malah membuatnya ingin menelusuri
hutan tak bernama tersebut. Ia berkabung dan mencaci dirinya yang tidak mempunyai kendali akan kuasa waktu.
Pada
dasarnya orang yang merasa dirinya baik-baik saja pada posisi tersebut, akan
terlihat aneh melalui kaca mata orang-orang tak berguna di sekelilingnya. Beberapa dari mereka mencoba untuk memberikan solusi sebagaimana mestinya. Ada yang berniat untuk mendengarkan tetapi tak lebih untuk membasahi rasa penasaran, dan juga segelintir yang menertawakan.
Telingaku sudah mati rasa terhadap cerita-cerita delusif mereka.
Aku mendambakan tempat itu. Di mana hujan selalu turun tiap harinya di kala senja, dan malamnya penuh bertabur bintang kejora yang teratur. Kalau saja aku bisa sampai di situ, akan aku ajarkannya bagaimana cara membuat rasi bintang sesungguhnya.
Kelak kedua mata itu akan ada yang memiliki. Seorang pejuang sejati dengan seribu bahkan jutaan pengalaman, akan berdiri di sampingnya, mengajarkan bagaimana berjalan sesungguhnya. Saat itu tiba, maka kau resmi menjadi kaleidskop ku, yang hanya bisa kunikmati dengan menggunakan alat bantu. Membuat rasi bintang terdengar konyol, jika kau mempunyai penawaran untuk bisa berjalan dengan benar, ditemani kesatria, tanpa menghiraukan rasa takut di setiap langkah kecilmu itu. Perlahan, kau menjadi fana untukku.
Tercipta sebagai makhluk tak bermateri, dan dipenuhi kebencian abadi, menyadarkanku bahwa kualitas manusia itu nyata adanya. Setiap mata berbeda kualitas. Setiap pikiran membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Dan setiap hati mengkategorikan keduanya dalam satu tingkatan empiris. Di mana yang saat ini kita sebut prioritas.
Semakin besar usahamu, semakin besar juga keinginanmu, maka semakin besar peluangmu berada pada rantai terbawah dari Piramida.
Kenapa?
Karena mata dan pikiran adalah makhluk bodoh yang mudah terbuai dengan kekaguman tak berkreasi. Mereka terlalu sering mendengarkan suara-suara palsu di sekitarnya, dan menjadikan itu sebuah testimoni alam bawah sadar. Mata di butakan oleh keinginan, pikiran di hancurkan dengan doktrin. Mereka berdua adalah makhluk bodoh yang dengan gampangnya terjerembab oleh rayuan. Inilah mengapa suara hati tidak pernah ramai pengunjung. Ia tak diberi andil dalam pembentukan keyakinan.
Berhentilah berusaha. Karena apa? Orang-orang ini terlalu sibuk mengaliri cawan di mata serta pikiran mereka. Mereka semua terlalu idiot untuk memahami sesuatu. Mereka tidak tahu siapa yang bekerja di balik layar. Mereka tidak peduli tentang proses. Mereka menginginkan hasil. Semaksimal mungkin.
Apa ada orang idiot yang hanya bermodal harapan menentukan kualitas manusia yang berdiri di depannya? Tetapi kalau kalian masih ingin menjadi yang tertinggi di mata orang lain, maka yang terbodoh tidak usah dipertanyakan lagi.
Orang-orang bersifat sementara. Mengetuk pintu rumah kita hanya untuk bertamu dengan membawa tangan kosong. Silahkan menikmati lautan Samsara dipenuhi manusia-manusia palsu yang mencoba menghiburmu menggunakan bunga di tangan kanannya, dan tersembunyi belati di bibirnya.
Sebagai orang yang masih hidup di masa lalu, aku tidak pernah bisa belajar dengan apa yang telah terjadi. Kenyataan ku mentalkan mentah-mentah. Jika sekarang kau berdiri di pelupuk mataku, akan kukatakan bahwa hidup itu hanya soal kepergian. Kepergian menjumpai kita setiap saat, kadang cukup teratur dan juga tak terduga. Hidup itu bagaimana membedakan orang yang akan pergi dan menetap. Hidup itu seni ketidakteraturan yang berpola. Kepergian akan menyadarkanmu, bahwa merangkai kata lebih mudah merangkai kembali harapan yang berserakan.
Sampah!
Katakan semuanya putri. Keluarkan semua pedang yang kau sembunyikan di balik singgasana itu. Gunakanlah untuk mengancamku putri. Hunuskan mata tertajam yang kau miliki tepat di mana benda berdetak ini berada. Siksa aku sebagaimana pendosa seharusnya. Ceritakanlah pada seluruh rakyatmu bagaimana sadisnya kau membunuh. Berikan bangkaiku pada anjing penjagamu. Akhiri putaran reinkarnasiku sekarang juga putri. Kabulkan permintaanku yang ingin menghembuskan nafas terakhir ini pada surga para pendosa. Jangan biarkan Sang Pencipta meneruskan permainannya. Kau lah pemenangnya putri. Kedua tangan itu. Kelak akan membebaskan satu hati. Hati ini.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact