Friday, April 29, 2016 0 comments

Diary April 29, 2016

Aku masih tidak bisa. Sepertinya sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyentuh garis rapuh itu. Garis yang hanya bisa dilewati oleh manusia-manusia kelas atas serta berjiwa besar. Tidak akan ada tempat untuk aku tinggal di dalamnya. Lebih tepatnya, bilik ternyaman miliknya.

Semua orang pasti pernah tersesat pada suatu keanehan. Bertanya-tanya bagaimana kita bisa sampai disini atau apa yang sedang terjadi. Tempat itu berdesir layaknya sebuah pinggiran laut dan menyeruakkan aroma Firdaus. Berdiri jutaan pohon yang menjulang ke udara seiring kedua mata itu beredar. Tanpa memperdulikan eksistensi makhluk di dalamnya, ia meratap. Bukannya membuat timbul rasa kegelisahan terdalam, namun terperangkap dalam suatu kenyamanan yang malah membuatnya ingin menelusuri hutan tak bernama tersebut. Ia berkabung dan mencaci dirinya yang tidak mempunyai kendali akan kuasa waktu.

Pada dasarnya orang yang merasa dirinya baik-baik saja pada posisi tersebut, akan terlihat aneh melalui kaca mata orang-orang tak berguna di sekelilingnya. Beberapa dari mereka mencoba untuk memberikan solusi sebagaimana mestinya. Ada yang berniat untuk mendengarkan tetapi tak lebih untuk membasahi rasa penasaran, dan juga segelintir yang menertawakan.

Telingaku sudah mati rasa terhadap cerita-cerita delusif mereka. 

Aku mendambakan tempat itu. Di mana hujan selalu turun tiap harinya di kala senja, dan malamnya penuh bertabur bintang kejora yang teratur. Kalau saja aku bisa sampai di situ, akan aku ajarkannya bagaimana cara membuat rasi bintang sesungguhnya. 

Kelak kedua mata itu akan ada yang memiliki. Seorang pejuang sejati dengan seribu bahkan jutaan pengalaman, akan berdiri di sampingnya, mengajarkan bagaimana berjalan sesungguhnya. Saat itu tiba, maka kau resmi menjadi kaleidskop ku, yang hanya bisa kunikmati dengan menggunakan alat bantu. Membuat rasi bintang terdengar konyol, jika kau mempunyai penawaran untuk bisa berjalan dengan benar, ditemani kesatria, tanpa menghiraukan rasa takut di setiap langkah kecilmu itu. Perlahan, kau menjadi fana untukku.

Tercipta sebagai makhluk tak bermateri, dan dipenuhi kebencian abadi, menyadarkanku bahwa kualitas manusia itu nyata adanya. Setiap mata berbeda kualitas. Setiap pikiran membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Dan setiap hati mengkategorikan keduanya dalam satu tingkatan empiris. Di mana yang saat ini kita sebut prioritas. 

Semakin besar usahamu, semakin besar juga keinginanmu, maka semakin besar peluangmu berada pada rantai terbawah dari Piramida. 

Kenapa?

Karena mata dan pikiran adalah makhluk bodoh yang mudah terbuai dengan kekaguman tak berkreasi. Mereka terlalu sering mendengarkan suara-suara palsu di sekitarnya, dan menjadikan itu sebuah testimoni alam bawah sadar. Mata di butakan oleh keinginan, pikiran di hancurkan dengan doktrin. Mereka berdua adalah makhluk bodoh yang dengan gampangnya terjerembab oleh rayuan. Inilah mengapa suara hati tidak pernah ramai pengunjung. Ia tak diberi andil dalam pembentukan keyakinan.

Berhentilah berusaha. Karena apa? Orang-orang ini terlalu sibuk mengaliri cawan di mata serta pikiran mereka. Mereka semua terlalu idiot untuk memahami sesuatu. Mereka tidak tahu siapa yang bekerja di balik layar. Mereka tidak peduli tentang proses. Mereka menginginkan hasil. Semaksimal mungkin.

Apa ada orang idiot yang hanya bermodal harapan menentukan kualitas manusia yang berdiri di depannya? Tetapi kalau kalian masih ingin menjadi yang tertinggi di mata orang lain, maka yang terbodoh tidak usah dipertanyakan lagi.

Orang-orang bersifat sementara. Mengetuk pintu rumah kita hanya untuk bertamu dengan membawa tangan kosong. Silahkan menikmati lautan Samsara dipenuhi manusia-manusia palsu yang mencoba menghiburmu menggunakan bunga di tangan kanannya, dan tersembunyi belati di bibirnya.

Sebagai orang yang masih hidup di masa lalu, aku tidak pernah bisa belajar dengan apa yang telah terjadi. Kenyataan ku mentalkan mentah-mentah. Jika sekarang kau berdiri di pelupuk mataku, akan kukatakan bahwa hidup itu hanya soal kepergian. Kepergian menjumpai kita setiap saat, kadang cukup teratur dan juga tak terduga. Hidup itu bagaimana membedakan orang yang akan pergi dan menetap. Hidup itu seni ketidakteraturan yang berpola. Kepergian akan menyadarkanmu, bahwa merangkai kata lebih mudah merangkai kembali harapan yang berserakan.

Sampah!

Katakan semuanya putri. Keluarkan semua pedang yang kau sembunyikan di balik singgasana itu. Gunakanlah untuk mengancamku putri. Hunuskan mata tertajam yang kau miliki tepat di mana benda berdetak ini berada. Siksa aku sebagaimana pendosa seharusnya. Ceritakanlah pada seluruh rakyatmu bagaimana sadisnya kau membunuh. Berikan bangkaiku pada anjing penjagamu. Akhiri putaran reinkarnasiku sekarang juga putri. Kabulkan permintaanku yang ingin menghembuskan nafas terakhir ini pada surga para pendosa. Jangan biarkan Sang Pencipta meneruskan permainannya. Kau lah pemenangnya putri. Kedua tangan itu. Kelak akan membebaskan satu hati. Hati ini.
Monday, April 18, 2016 0 comments

Diary April 18, 2016

Hari masih cerah seperti biasanya. Hujan belum berkeinginan untuk mengintervensi sejuknya hari. Libur ini akan tidak berarti kalau hanya dinikmati di dalam ruang sepi. Merujuk kasih melawan hati yang terikat mati. Oleh senja yang bergemuruh rapi.

Tiga orang senantiasa mengisi ruang kosong di dalam kamar kecil ini. Sembari ditemani iringan lagu terkini, kami bertiga bernyanyi hingga tenggorokan terasa serak. Anjas dan Satria. Kedua teman yang, untungnya, bisa menemani tubuh tua ini untuk menikmati hari sebagaimana mestinya. Aku bersyukur dipertemukan oleh mereka, dan diizinkan Tuhan untuk satu atap melawan getir realita mahasiswa yang selalu dipecundangi dunia.

Kami bertiga cenderung mempunyai kemiripan satu sama lain. Kebiasaan kami yang tak jauh berbeda melelehkan batasan pada titik aman pertemanan. Mengumbar aib satu sama lain, hingga berbagi duka masa lalu yang mungkin kami anggap sebuah petaka terindah. Seketika, waktu menyulap arogansi pribadi menjadi rangkulan siap sedia ketika dibutuhkan. Dengan satu kaki, kami bisa berjalan di tengah malam bertabur gugus keraguan.

Mereka perlahan menggiringku meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan. Bukan melupakan. 







Saturday, April 16, 2016 0 comments

Diary April 16, 2016

Jatuh di pangkuan langit yang sama, merayu serta merajuk untuk diharap, berwarna jingga.

Kedua mata ini belum kehilangan dayanya. Detik yang berjalan tak membantu mata ini untuk beristirahat. Raja waktu sedang berbaik hati, memberikan keindahan di tengah malam berkabut, bagi ia yang belum tahu jalan pulang. Gulir waktu dibuatnya berjalan terlambat, seraya aku sedang menikmati celah-celah kecil yang bisa ku manfaatkan demi mengais sepeser kebahagiaan.

Tubuh ini telah banyak menjadi saksi percintaan antar dimensi. Perbedaan setiap detil ruas sudah layaknya menjadi kudapan pagi hari. Pengharapan yang tak tergenggam namun patut untuk diperjuangkan. Menunggu dengan sabar, hingga nanti cawan porselen tersebut terisi penuh. Berkalbu bahwa semuanya kelak menjadi nyata. Harapan kata mereka.

Saat pelukan kabut menyelimuti malam ini, tak luput sang embun repot-repot jatuh turun ke Bumi. Menceritakan segala dongeng manusia yang dilihatnya dari langit ke tujuh, melalui tiap inci partikelnya yang selalu mendamba. Tawaku lepas dibuatnya. Mengguncang seluruh isi ruangan. Mendengarnya saja membuat perut ini kesakitan. Ia menyadarkanku bahwa sesungguhnya kita tak lebih dari makhluk konyol. 

Hati manusia terlalu banyak mengintervensi setiap kejadian. Seakan-akan sosok tersebut adalah ratu lebah mereka. Dan tubuhnya tak lebih dari seonggok kurir tak bermakna nyawanya. Eksistensinya terlalu mudah untuk digantikan dengan yang baru. Namun, setiap cerita selalu ada garis akhir. Batas penutup dari segala perjuangan penuh peluh, dengan sedikit menuangkan tinta kekesalan sedalam-dalamnya. Aku akui, membuat akhir adalah hal yang paling sulit untuk sebuah cerita.

Terlalu lama menjadi idola jawaban abu-abu, hal tersebut bukan masalah besar. Karena, semua cerita lebih baik tidak dibiarkan terjawab. 

Sesungguhnya aku juga salah satu orang yang terjebak dalam percintaan antar dimensi. Tersekat oleh dinding keraguan, tanpa ada pintu masuk. Terikat oleh kenikmatan kesendirian masing-masing, yang entah itu dusta atau bukan. Aku hanyalah makhluk yang tak bermateri, sedangkan ia berupa mutiara di dalam cangkang terbuka. Tidak ada yang mampu untuk mengais keindahannya. Tetapi semua orang bisa merasakan kebahagiaan hanya dengan melihat dirinya. Sungguh pemandangan yang elok menurutku.

Hanya dengan satu garis melengkung terpampang di wajahnya, cukup untuk menghipnotis kawanan serigala yang haus akan darah segar. Ia mampu mengatur ritme gejolak di dada seindah melodi. Wajahnya lincah mengayunkan kata tanpa banyak basa-basi. Nada-nada yang terucap persis yang dinyanyikan oleh Siren legenda Yunani. Menghanyutkan para pelaut kedalam lautan terdalam.

Ya, kita berbeda dimensi. 
Harapan kata mereka.





Tuesday, April 12, 2016 0 comments

Diary April 12, 2016

Aku lelah berlari. Tertancap jelas bagaimana kalimat itu mengulang detik tiap detik. Menghunusku setiap saat mengancam untuk sebuah makanan. Menggerogoti tiap celah pada ruas otak kiri, tanpa banyak narasi. Luapannya siap membludak laksana gunung meletus. Benci untuk mengatakannya, tapi apa yang bisa aku lakukan di saat-saat seperti ini?

Ini semua berasal dari satu awalan yang sial. Membuatku hanyut dalam kencangnya kaki menapak, tak sadar betapa gelapnya di ujung sana. Pandanganku hanya satu. Lurus. 

Ku edarkan pandanganku ke segala sudut, rapat-rapat, dan tak kudapatinya lagi. Alasanku untuk terus berlari. Yang sampai saat ini tak henti-henti mengejarku untuk meminta ganti rugi atas kesalahan-kesalahan masa lampau. Tetapi kaki ini seakan tak patuh pada inti hati. Ia terus ingin berlari jauh sampai ke tepi itu, meluapkan racun yang sudah lama mengendap. Meluluhkan dinding yang selama ini aku bangun. 

Matahari bisa jadi sudah muak, terbit dan terbenam, melihatku tak kunjung sampai. 

Sadar bahwa bukan kinerja kaki ini yang bermasalah, mataku yang buta karena terlalu larut dalam keraguan. Kalau saja aku bisa menghapus keraguan itu, tak terhitung sudah berapa kali tempat itu terlewati. Bodohnya.

Lariku tidaklah sempurna. Banyak cacat di sana sini. Aku hanya bisa berlari pada pelarian yang berujung pada pelarian lainnya. Siklus ini akan selamanya begini. Pelarian yang tak kunjung padam.

Tidak di sana, tidak di sini semua sama saja. Selalu ada tempat untukku bersembunyi dari realitas fana. Sekarang sudah tidak bisa begini lagi. 

Kebebasan sudah menagih haknya kembali.
Ajari aku berhenti berlari. Kalau itu membutuhkan sakit sebagai syarat, apapun kuterima. Ingin sekali aku berhenti dari tamasya tak berujung ini. Merasakan kembali sesuatu yang sudah lama hilang dari genggaman.

Aku lelah.





Friday, April 8, 2016 0 comments

Diary April 8, 2016

Semakin terbawa arus waktu, aku terus berubah. Bermetamorfosis atau sekedar metafora belaka. Tidak ada yang penting. Jam hidupku berkurang hari demi hari. Tanpa sempat ku niikmati, tahu-tahu matahari sudah terbit di ufuk barat.

Pagi itu, kusambut sapaan mentari pagi dengan rindu. Dengan harmoni yang pas, dan sedikit melodi, ia tetap tak beranjak hingga aku genap mengumpulkan jiwaku yang memuai. Aku bersyukur, sinar matahari bukan lawanku. Kita berdua cukup bersahabat, hanya saja pada siang hari, ia cukup tak teratur. Merubah segalanya mengikuti kehendaknya. Garis yang simetris, dengan sekonyong-konyongnya, berubah menjadi siku-siku. 

Dengan mantap ku ambil earphone yang terletak di ujung meja komputer. Cepat dan pasti. Aku tidak tahu memulai kebiasaan ini sejak kapan, tapi ini membuatku merasa aman. Ceritanya cukup panjang, namun dari semua itu, benda ini adalah salah satu bentuk pelarianku. Menepis semua segala bentuk aspirasi sampah tak berguna, dengan cara klasik. Metode ini juga sangat efektif mengusir orang yang ingin mengajak kita berdiskusi tentang drama. Ku pautkan pada kedua telingaku, dan siap menjalani kebosanan maksimal di depan.

Mataku sayup saat mengarungi lobi. Orang-orang sibuk bergumam satu sama lain. Ntah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi aku terlalu mengantuk untuk menghiraukan obrolan mereka. Terkadang terasa asik bila menguping pembicaraan orang-orang, dan berpura-pura kita tida tahu menahu apa yang sedang terjadi. Cukup lucu ketika orang-orang tersadar, bahwa ada orang lain yang tahu rahasia mereka saat ku ucapkan kata kuncinya. Ada kenikmatan tak terucap namun mencuat begitu jelas, menembus langit-langit, yang terus bersandiwara.

Mengenai sandiwara, kita semua pemain dari sebuah pentas kecil-kecilan yang diadakan oleh Tuhan. Skenario beserta dialog sudah tersusun rapih dan terencana. Spesifik. Khas Tuhan. Tentunya ada perbedaan kualitas kepandaian dari bersandiwara itu sendiri. Membuat dinding berlapis-lapis, dan merebutkan peran utama. Pelitnya berbagi, selalu mencari profit semaksimal mungkin. 

Kita hanya dianugerahi dua topeng oleh sutradara. Kita diberi hak untuk memakai yang mana saja. Topeng depan dan topeng belakang. Menurutmu mana yang lebih bagus? Saling bertukar topeng diizinkan. Tidak ada kecacatan yang meliputi bagian-bagian topeng tersebut. Umumnya orang-orang memakai topeng depan untuk penampilan normal, kadang-kadang ada yang beridealisme topeng belakanglah jati diri kita sendiri. Well, itu tidak semuanya salah. Sudah diberi kebebasan, masih membuat idealisme? Manusia aneh. Di beri kebebasan, tetapi lebih memilih terikat aturan. Sekejap, pola hidup berkoloni menjadi pilihan sempurna bagi orang-orang cinta aturan. Ketika aturan mereka tersentuh satu dengan lainnya, mereka meminta kebebasan absolut pada Tuhan. Aku heran, kenapa manusia selalu suka dengan paradoks.

Tidak ada kecacatan bukan berarti tidak bisa hancur kan? 

Mempercayakan waktu untuk menyembuhkan jati diri yang hancur, sudah cukup omong kosong di telingaku. 

Aku meneruskan perjalananku ke taman. Taman yang dipenuhi pohon-pohon cemara. Kanopinya menjadi payung hidup yang menyegarkan. Melindungi dari sengatan cahaya matahari yang terlalu moody siang ini.

Buku yang sudah kusiapkan untuk momen ini sudah meluncur dan siap baca. Tanpa perlu pemanasan, aku menggigitnya tanpa ragu-ragu. Pelarianku yang ternikmat.

Friday, April 1, 2016 0 comments

Diary April 1, 2016

Setiap hari aku selalu berpikir, aku mungkin tidak bisa menjadi pemilik sinar terangnya. Tak juga inti kehidupannya. Akulah sampah yang tertiup angin semilir melewati hadapannya. Tak terindah, maupun berguna. Tatkala senja, aku selalu meratap. Terus meratap. Hingga aku bertanya, bahwa apa diriku ini?
Aku selalu menyangkalnya, selalu dan selalu. Dan, semuanya terasa begitu dingin tanpa arah.

Entah sejak kapan, aku menjadi seorang masokis. Yang begitu adiktif akan rasa sakit. Mengerang-erang untuk terus di jatuhkan dalam dan semakin dalam dari jurang yang teramat tinggi. Saat aku jatuh, aku meminta angin untuk menekanku lebih keras, aku meminta reruntuhan bebatuan menjatuhi tubuhku, aku memelas kepada rombongan burung gereja untuk mendengar pinta ini. Dengan harapan, semakin tertusuknya aku di bawah nanti.

Ketika aku tahu bagaimana rasanya sakit teramat dalam, mungkin aku akan menyalahkan Tuhan. Siklus manusia bukan?

Padahal kita sendiri yang ingin terbang, tapi tidak siap untuk jatuh. Kita sendiri yang berharap ingin mencintai, tetapi tidak siap untuk tak dicintai. Selalu berharap dari kejauhan, tetapi tidak terima akan kenyataan. Selalu berjuang sendiri, namun mengeluh jika tak dibantu. Apalah ini.

Hidup sebagai masokis dengan ideologi pesimisme sungguh bencana. 

Bagaikan tumbuhan yang selalu bisa hidup tanpa air dan pupuk. Sebagai sosok independen, itu bukanlah kebanggaan. Karena ia sudah terbiasa. Hanya saja, ketika ia diberi setetes air dan segenggam kompos, itu akan menimbulkan rasa candu yang luar biasa bagi dirinya. Karena ia sudah lupa, bagaimana rasanya bernostalgia dengan "sesuatu" yang pernah hilang, dan kini ia rasakan kembali.

Dasar aku. Aku termakan oleh keyakinanku sendiri. 

Permasalahannya disini,
bagaimana ketika tumbuhan tersebut tak lagi diberikan setetes air dan segenggam kompos tiap harinya, minggunya, atau tahunnya? 

Tumbuhan yang selalu beridiri dengan independen, dengan mudahnya bergeser menjadi dependen. Ketergantungan. Ketika hal itu terjadi, bagaimana kita bisa menyelamatkan sang tumbuhan tersebut?

Tentu butuh waktu yang lama untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Kembali pun, tidak akan sama seperti sebelumnya. Dan sepanjang waktu, tumbuhan tersebut, akan tersiksa oleh hama yang bisa disebut candu. Sungguh begitu lama dan ada kemungkinan hama tersebut tak akan pernah hilang. Candunya beralih dari kenikmatan setetes air dan segenggam kompos, menjadi borok yang selalu menggerogotinya setiap hari.

Tak lagi ia percaya dengan semuanya. 

***

Bangunan tinggi disana-sini.
Orang-orang berlomba menciptakan hiruk pikuk. 
Musik berdentang begitu lantang menusuk gendang. 
Yang tua bercerita tentang kehidupan. 
Yang muda selalu omong kosong tentang keberanian. 
Agama berusaha menjadi pemersatu semua anomali. 
Para pemimpin hanya bisa memberi ilusi. 
Pendosa semakin berjaya. 
Ketulusan hanyalah fana. 
Dan semua yang aku lihat hanyalah fatamorgana.
Akulah sepi diantara ramai.

***

Karena semuanya percuma, kunang-kunang tidak akan bisa terbang menyentuh bulan, dan cahayanya tak akan pernah bisa lebih terang dibandingkan bintang-bintang di sekitarnya.

Biarkan kunang-kunang ini tenggelam dalam harapannya. Hingga suatu saat, ada yang menyadari usahanya dari kejauhan. Harapan akan selalu menghasilkan harapan yang lainnya. Dasar aku.

 
;