Semakin terbawa arus waktu, aku terus berubah. Bermetamorfosis atau sekedar metafora belaka. Tidak ada yang penting. Jam hidupku berkurang hari demi hari. Tanpa sempat ku niikmati, tahu-tahu matahari sudah terbit di ufuk barat.
Pagi itu, kusambut sapaan mentari pagi dengan rindu. Dengan harmoni yang pas, dan sedikit melodi, ia tetap tak beranjak hingga aku genap mengumpulkan jiwaku yang memuai. Aku bersyukur, sinar matahari bukan lawanku. Kita berdua cukup bersahabat, hanya saja pada siang hari, ia cukup tak teratur. Merubah segalanya mengikuti kehendaknya. Garis yang simetris, dengan sekonyong-konyongnya, berubah menjadi siku-siku.
Dengan mantap ku ambil earphone yang terletak di ujung meja komputer. Cepat dan pasti. Aku tidak tahu memulai kebiasaan ini sejak kapan, tapi ini membuatku merasa aman. Ceritanya cukup panjang, namun dari semua itu, benda ini adalah salah satu bentuk pelarianku. Menepis semua segala bentuk aspirasi sampah tak berguna, dengan cara klasik. Metode ini juga sangat efektif mengusir orang yang ingin mengajak kita berdiskusi tentang drama. Ku pautkan pada kedua telingaku, dan siap menjalani kebosanan maksimal di depan.
Mataku sayup saat mengarungi lobi. Orang-orang sibuk bergumam satu sama lain. Ntah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi aku terlalu mengantuk untuk menghiraukan obrolan mereka. Terkadang terasa asik bila menguping pembicaraan orang-orang, dan berpura-pura kita tida tahu menahu apa yang sedang terjadi. Cukup lucu ketika orang-orang tersadar, bahwa ada orang lain yang tahu rahasia mereka saat ku ucapkan kata kuncinya. Ada kenikmatan tak terucap namun mencuat begitu jelas, menembus langit-langit, yang terus bersandiwara.
Mengenai sandiwara, kita semua pemain dari sebuah pentas kecil-kecilan yang diadakan oleh Tuhan. Skenario beserta dialog sudah tersusun rapih dan terencana. Spesifik. Khas Tuhan. Tentunya ada perbedaan kualitas kepandaian dari bersandiwara itu sendiri. Membuat dinding berlapis-lapis, dan merebutkan peran utama. Pelitnya berbagi, selalu mencari profit semaksimal mungkin.
Kita hanya dianugerahi dua topeng oleh sutradara. Kita diberi hak untuk memakai yang mana saja. Topeng depan dan topeng belakang. Menurutmu mana yang lebih bagus? Saling bertukar topeng diizinkan. Tidak ada kecacatan yang meliputi bagian-bagian topeng tersebut. Umumnya orang-orang memakai topeng depan untuk penampilan normal, kadang-kadang ada yang beridealisme topeng belakanglah jati diri kita sendiri. Well, itu tidak semuanya salah. Sudah diberi kebebasan, masih membuat idealisme? Manusia aneh. Di beri kebebasan, tetapi lebih memilih terikat aturan. Sekejap, pola hidup berkoloni menjadi pilihan sempurna bagi orang-orang cinta aturan. Ketika aturan mereka tersentuh satu dengan lainnya, mereka meminta kebebasan absolut pada Tuhan. Aku heran, kenapa manusia selalu suka dengan paradoks.
Tidak ada kecacatan bukan berarti tidak bisa hancur kan?
Mempercayakan waktu untuk menyembuhkan jati diri yang hancur, sudah cukup omong kosong di telingaku.
Aku meneruskan perjalananku ke taman. Taman yang dipenuhi pohon-pohon cemara. Kanopinya menjadi payung hidup yang menyegarkan. Melindungi dari sengatan cahaya matahari yang terlalu moody siang ini.
Buku yang sudah kusiapkan untuk momen ini sudah meluncur dan siap baca. Tanpa perlu pemanasan, aku menggigitnya tanpa ragu-ragu. Pelarianku yang ternikmat.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment