Aku lelah berlari. Tertancap jelas bagaimana kalimat itu mengulang detik tiap detik. Menghunusku setiap saat mengancam untuk sebuah makanan. Menggerogoti tiap celah pada ruas otak kiri, tanpa banyak narasi. Luapannya siap membludak laksana gunung meletus. Benci untuk mengatakannya, tapi apa yang bisa aku lakukan di saat-saat seperti ini?
Ini semua berasal dari satu awalan yang sial. Membuatku hanyut dalam kencangnya kaki menapak, tak sadar betapa gelapnya di ujung sana. Pandanganku hanya satu. Lurus.
Ku edarkan pandanganku ke segala sudut, rapat-rapat, dan tak kudapatinya lagi. Alasanku untuk terus berlari. Yang sampai saat ini tak henti-henti mengejarku untuk meminta ganti rugi atas kesalahan-kesalahan masa lampau. Tetapi kaki ini seakan tak patuh pada inti hati. Ia terus ingin berlari jauh sampai ke tepi itu, meluapkan racun yang sudah lama mengendap. Meluluhkan dinding yang selama ini aku bangun.
Matahari bisa jadi sudah muak, terbit dan terbenam, melihatku tak kunjung sampai.
Sadar bahwa bukan kinerja kaki ini yang bermasalah, mataku yang buta karena terlalu larut dalam keraguan. Kalau saja aku bisa menghapus keraguan itu, tak terhitung sudah berapa kali tempat itu terlewati. Bodohnya.
Lariku tidaklah sempurna. Banyak cacat di sana sini. Aku hanya bisa berlari pada pelarian yang berujung pada pelarian lainnya. Siklus ini akan selamanya begini. Pelarian yang tak kunjung padam.
Tidak di sana, tidak di sini semua sama saja. Selalu ada tempat untukku bersembunyi dari realitas fana. Sekarang sudah tidak bisa begini lagi.
Kebebasan sudah menagih haknya kembali.
Ajari aku berhenti berlari. Kalau itu membutuhkan sakit sebagai syarat, apapun kuterima. Ingin sekali aku berhenti dari tamasya tak berujung ini. Merasakan kembali sesuatu yang sudah lama hilang dari genggaman.
Aku lelah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment