Monday, April 18, 2016

Diary April 18, 2016

Hari masih cerah seperti biasanya. Hujan belum berkeinginan untuk mengintervensi sejuknya hari. Libur ini akan tidak berarti kalau hanya dinikmati di dalam ruang sepi. Merujuk kasih melawan hati yang terikat mati. Oleh senja yang bergemuruh rapi.

Tiga orang senantiasa mengisi ruang kosong di dalam kamar kecil ini. Sembari ditemani iringan lagu terkini, kami bertiga bernyanyi hingga tenggorokan terasa serak. Anjas dan Satria. Kedua teman yang, untungnya, bisa menemani tubuh tua ini untuk menikmati hari sebagaimana mestinya. Aku bersyukur dipertemukan oleh mereka, dan diizinkan Tuhan untuk satu atap melawan getir realita mahasiswa yang selalu dipecundangi dunia.

Kami bertiga cenderung mempunyai kemiripan satu sama lain. Kebiasaan kami yang tak jauh berbeda melelehkan batasan pada titik aman pertemanan. Mengumbar aib satu sama lain, hingga berbagi duka masa lalu yang mungkin kami anggap sebuah petaka terindah. Seketika, waktu menyulap arogansi pribadi menjadi rangkulan siap sedia ketika dibutuhkan. Dengan satu kaki, kami bisa berjalan di tengah malam bertabur gugus keraguan.

Mereka perlahan menggiringku meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan. Bukan melupakan. 







0 comments:

Post a Comment

 
;