Monday, January 25, 2016 0 comments

Diary January 25, 2016

Aku menginjaknya lagi. Tanah ini. Dimana semua berawal dan terpaksa diakhiri. Bijak maupun tercela.

Wahai Kota Pahit. Buatmu yang selalu bergelimang kemewahan, mengapa tidak kau tambal lubang kemiskinan hati yang semakin lama dan setiap hari mulai menunjukkan sifat parasitnya. Menggerogoti setiap inci keindahanmu. Menciptakan bau kaos kaki busuk dimana-mana. Menyelubungi dirimu dengan kabut-kabut yang dicintai para pendosa.

Hai Kota Pahit, tidak cukupkah memori gelap ini kau sanggah di raga?
Pintu maksiat yang selalu terbuka menjulur liar keluar tak bermakna.
Biarlah itu semua menjadi misteri yang entah kemana..

Mataku terbelalak, seraya mengumpulkan jiwa-jiwa yang terpencar luas di alam mimpi. Selimut yang kupakai saat ini tak kuasa menghadapi suhu. Membuat badan ini selalu terpaku. Surga ini ternyata tidak jauh berubah. Ku tinggalkan dengan rindang, dan aku kembali seperti rendang.

Masih menjadi tempat pembuangan sampah barang-barang manusia. Aku tidak peduli akan itu semua. Surgaku yang sesungguhnya tidak akan rusak hanya dengan satu ton sampah menyelimuti. Kedua mataku memperhatikan setiap sudut. Terkaget. Ada satu benda, yang menyita perhatian. Sebuah karikatur dua orang manusia, pangeran dan putri, terpenjara di dalam sebuah pigura hitam tak tersentuh. Tidak ada tangan-tangan jahil yang berani menyentuhnya. Pangeran dan putri itu tampak bahagia. Begitupun sampai sekarang. Walaupun hanya pangeran yang merasakan.

Kota Pahit. Tempat terjadi segalanya. Dan diakhiri dengan paksa. Hari-hari telah berlalu sejak aku tiba. Hari-hari juga telah berlalu dengan cara yang membosankan. Kenapa dua tempat yang selalu aku huni selalu menjadi penjara. Aku heran. Aku tak merasa hidup, baik di sini maupun di sana. Semua situasi memperlakukan diriku sebagai budak yang tak punya kuasa dan di jatuhkan hukuman penjara selamanya, atas kesalahan yang sama sekali entah.

Aku berusaha menyampaikan semampuku. Tetapi seperti ada tembok besar yang menghalangi ucapanku. Aku korek tembok itu dalam-dalam, yang sekiranya hanya berdiameter  10 cm, dan kutuliskan kalimat ini. Apapun yang kukatakan, apapun yang kulakukan, berjuta-juta yang kuberikan. Suara hatiku tidak akan sampai di puncak tertingginya. Mungkin aku harus lebih banyak belajar dengan pahit.

Pertapa-pertapa itu semua tidak ada yang aku kenal. Tidak dari mereka semua hidup dengan selayaknya. Mendramatisir keadaan harmoni menjadi tragedi. Aku meratap. Apakah di saat senja nanti, aku akan seperti mereka? Hidup hanyalah mendapatkan apa yang diinginkan. Atau hidup karena "aku" hidup?

Tunggu dulu, semenjak disini sekalipun tidak ada waktu nyata untuk bermakna. Lembaran kertas yang ter-cover rapi, menjadi pelarian waktuku. Penghibur disaat terhina. Peredam api kebosanan yang tercipta. Serta pembersih kotoran yang menggumpal di dada.

Tahu-tahu malam sudah berganti malam. Sadarku tidak bisa membedakannya. Jauh-jauh aku ingin menikmati keindahan. Tetapi yang kudapat hanyalah hinaan.

Oh waktuku yang berharga, sudah berapa kali kau disia-siakan oleh kota ini?

Jika saja hidup semudah merakit kopi, mungkin tak tercipta tragedi.
Apalah hidup hanya untuk menciptakan alibi.
Yang selalu tersembunyi rapi.
Di balik matahari yang tak menyinari.
Seperti duka yang berusaha lari.
Tanpa tahu kalau ia sudah mati.

Friday, January 15, 2016 0 comments

Diary January 15, 2016

Aku tidak tahu persis apa yang sedang aku lakukan sekarang. Membalik jam tidur manusia yang tak seharusnya. Menghabiskan malamnya hingga subuh menjelang dengan membaca manga. Meratap masa depan yang akan dimiliki. Selalu begitu tiap malamnya.

Saat ini yang sedang aku lakukan adalah menulis sebuah diary, yang harusnya menjadi curahan hati bagi penulisnya. Satu yang harus kalian tahu, aku tidak punya banyak untuk dicurahkan. Hidupku terlampau sunyi untuk didaki. Terlalu dangkal untuk diselami. Dan terlalu gelap untuk disinari. 

Kekosongan diri yang tak terbatas membuat raga ini hanya belulang berdaging. Tanpa memiliki kecerdasan berkualitas seperti insan lainnya.

Aku tahu. Aku akan mencobanya.

Nilai semester ini semuanya sampah. Lebih rendah dari sampah. Di pastikan bahwa aku harus menempuh semester perbaikan. Which is, aku harus membayar lebih untuk mengikutinya. Bussiness school with bussiness systems. 

Mereka bilang mahasiswa kampus ini di haruskan untuk mengikuti mata kuliah dengan baik dan benar. Agar tidak menempuh semester perbaikan karena biayanya relatif mahal.

Itu semua kedok. Ketololan yang membuatku gila. Idiotic!

Teman-temanku semuanya pada berbondong-bondong mendaftar semester perbaikan. Mengorbankan waktu liburannya dengan kuliah. Aku tidak habis pikir, sebegitu pentingnya nilai untuk ampas-ampas ini? Atau takut kalau lulus dengan waktu yang lama? 

Aku juga seperti kalian. Ingin lulus dengan cepat. Tapi aku tak ingin memutuskan waktuku yang berharga dengan keluargaku. Sedikitpun tak berarti nilai itu dibandingkan kebersamaan yang harmoni.

Aku sudah tak sabar untuk kembali pulang ke pulau dewata. Melepaskan penat, dan beristirahat dengan kedua sayapku. Ibu dan keluargaku.


1 comments

Man Without Wings #3

Aku memandangi wajah Merry untuk kesekian kalinya. Dia terlihat begitu manis ketika tidur. Bukan. Lebih tepatnya ketika dia tidak membuat suara apapun alias diam. Seraya aku memandangi wajah mungil itu, aku tidak bisa melakukan apapun. Dengan polosnya Merry tertidur di pangkuanku. 

Kami sampai di rumahku dengan tidak wajar. Pakaian kami sudah menampung berliter-liter air dan di hiasi lumpur taman. Terima kasih untuk Merry. Karenanya, kami begitu terlihat seperti gelandangan. 

Tapi aku cukup senang hari-hari seperti ini terjadi. Menjadi amnesia sesaat dengan beban yang aku pikul saat ini. 

***
Aku sungguh tidak tahan lagi dengan posisi ini. Sudah dua... tiga jam lebih aku tidak bisa kemana-mana dan melakukan hal apapun. Lebih baik aku memindahkan wanita ini ke kamarku. Segera aku menggapai tubuh Merry dengan keseluruhan dan bersiap untuk mengangkatnya. 

"Satu... Dua... Tiga..." hitung diriku di dalam hati.


Tubuh Merry ternyata cukup ringan. Tidak seperti kelihatannya. Wajar saja, seorang model harus menjaga penampilannya. 

Dengan hati-hati aku berjalan sembari menggendong Merry. Derap langkahku begitu ringan. Tidak ada suara yang mengiri langkahku. Menaiki tangga melingkar khas rumahku dengan waspada. Berusaha untuk tidak membangunkan Merry dengan membenturkan kepalanya ke dinding tangga.

Sesaat setelah tiba di depan kamarku, Merry tiba-tiba membuka matanya.

"Bagaimana rasanya menggendong wanita cantik lelaki ampas?" 

Dengan suara lirihnya Merry kembali menutup matanya lagi.

"Diamlah wanita berisik, atau aku akan melemparkan tubuh kapas ini dan menggulingkannya di tangga tepat di belakangku." Jawaban yang senantiasa aku berikan terhadap kalimatnya barusan.

Aku membuka pintu kamarku dengan bersusah payah. Segera pintu terbuka, aku meletakkan tubuh Merry di atas kasur surgaku. Dia sedikit bergumam. Aku tidak tahu apa yang sedang di gumamkannya, dan aku tidak peduli, 

Jam masih menunjukkan belum tengah malam. Sedikit udara segar mungkin cukup untuk mengakhiri hari ini. Aku segera menuju beranda kamar. Walau hanya dua lantai, udara dingin begitu lihai menggigilkan tubuhku. Lebih baik aku nyalakan sebatang rokok untuk mengimbanginya.

Tidak seperti biasanya bintang-bintang tidak menampakkan dirinya bersama rembulan.

Sunday, January 10, 2016 0 comments

Man Without Wings #2

Suara bel berbunyi. Ah, akhirnya Merry datang juga. Walaupun aku tidak mengharapkannya berada di sini, tapi aku sungguh mengharapkan dibuatkan makanan olehnya. Perut ini harus diberi sesuatu, satu bungkus rokok dan beribu cangkir kopi yang telah ku habiskan selama berada di surgaku benar-benar tidak bisa bertahan lama. Aku harus makan-makanan asli.

Kuturuni tangga lingkar khas rumahku dengan perlahan. Begitu sampai di lantai dasar, napasku terengah-engah. Hanya menuruni tangga saja begitu menguras stamina. 

Aku mengintip dari kejauhan, ada siluet seorang wanita yang berdiri menunggu untuk dibukakan pintu. Siluet tersebut menembus masuk melalui kaca serta gorden dibantu oleh cahaya matahari. Padahal hari ini hujan, tapi bayangan itu muncul begitu pekat adanya.

"Masih hidup?" Sambutan dari seseorang wanita yang tidak tahu diri.

Dia cukup manis hari ini, dengan tampangnya yang sudah terlihat baru saja dari salon, rambutnya yang melingkar-lingkar seperti cacing, setelan baju yang aku tidak tahu apa itu namanya, serta lipstik merah marun yang berkutat di bibirnya. 

"Jelas." jawabku ringan. Aku melemparkan pandangan pada kantong belanjanya. Bukan, itu bukan bahan makanan. Ada tulisan di kantong belanjaan tersebut, tetapi aku tidak bisa membacanya dengan jelas. Karena aku tidak memakai kaca mataku saat ini.

"Apa itu yang ada di tanganmu?" Tanyaku dengan nada yang cukup penasaran.

"Bukan apa-apa," wanita satu ini memang menyebalkan, "apa ada bahan makanan yang bisa aku masak di tempat ini? Aku tidak yakin." Hina Merry.

Kita tahu kita mempunyai rasa penasaran yang tinggi. Tapi kali ini Merry sungguh membuatku geram. Sekian lamanya aku mengurung diri di kamar, membuat toleransi sosialku tidak teratur. Walaupun itu hanya candaan, surgaku tidak patut untuk dihina. Merry harusnya tahu itu karena sudah menjadi sahabatku sejak sekolah dasar.

"Kenapa tidak kau belikan bahannya? Kalau kau sendiri tidak yakin?"

"Ayolah Deryl, kau tahu aku tidak suka belanja sendirian. Bukan karena aku pelit, tapi kau paling tahu bagaimana diriku yang tidak suka berjalan sendirian di antara keramaian." Aku Merry dengan bermelas manja.

"Aku tidak mau repot. Lagipula masih banyak makanan instan yang bisa ku makan tanpa perlu keluar rumah." 

"Benarkah? Coba kita lihat dapurmu." Pinta Merry. 

Dari wajahnya, aku dapat melihat sesuatu. Sesuatu yang hanya bisa ku lihat di mata cokelat itu. Kami beranjak dari pintu depan menuju dapur.  Derap kaki kami begitu terdengar jelas. Tanda kesunyian rumah yang mengaung dalam hati. Bukan hanya kamarku saja yang merefleksikan diriku, hal tersebut berlaku juga dengan rumah ini.

"Astaga!" Teriak Merry dengan lantang. Suaranya dapat memecahkan gendang telinga balita yang berumur 15 tahun.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Lihat apa yang ada disini. Bumbu masakan tercecer dimana-mana. Piring dan gelas pecah semua. Cucian piring menumpuk. Kulkas yang kosong melompong. Hanya ada satu bungkus mi instan disini, bagaimana cara kita memakannya?" 

Sungguh Merry hari ini begitu menyebalkan.

"Kita bisa berbagi
" belum sempat melanjutkan pembicaraan Merry menyela tenggorokanku. "Lihat Deryl betapa kurusnya dirimu ini. Aku tidak sudi berbagi makanan untuk orang yang menderita busung lapar." Ketus Merry.

"Sungguh Merry kau begitu berisik hari ini. Kenapa kau tidak kembali saja ketempat asalmu." Bentakku dengan emosi yang memuncak. Mood hari ini sedang tidak terlalu bagus. Tolong Merry jangan membuatku memarahimu lebih dari ini.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu kau semarah ini. Tapi itu karena aku hanya peduli terhadapmu. Kedua orang tuamu memintaku untuk mengawasimu semenjak kejadian itu. Melihat kau begitu terpukul membuatku merasakan hal yang sama. Maaf kan... Aku sungguh
—"

Aku tidak sanggup melihat dua butir kecokelatan itu memproduksi air mata. Air matanya terjatuh begitu sendu. Aku tidak tahu kenapa Merry begitu lucu hari ini. Aku juga tidak tahu kenapa Merry begitu menyebalkan hari ini. Yang aku tahu, tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Merry, tanpa sempat ia melanjutkan kalimat terakhirnya.

"Aku juga. Ayo kita berbelanja." Dengan nada lembut, aku mengiyakan ajakan Merry sebelumnya.

Senyuman mengulas di bibirnya. Lipstik merah marun yang dari tadi berkutat di bibirnya, sekarang tampak kemilau.

Sebelum kami berangkat, kami memutuskan untuk membersihkan seisi rumah. Tentu saja sifat Merry yang selalu mengomel datang kembali. Tetapi aku menyambut hangat omelan itu, karena sayapku perlahan tumbuh kembali. 

"Oh iya. Ini untukmu." Merry memberikan kantong belanja yang kuperhatikan dari tadi, setelah dua jam membersihkan rumah ini. Termasuk kamarku.

Aku tidak menyangka Merry memberikanku sebuah topi rajutan.

"Sekarang musim hujan tahu. Sebaiknya kau menjaga kepala itu agar tak membeku. Aku merajutnya sendiri. Tentu saja merek yang ada di kantong tersebut hanya kantong belanja bekas. Aku tidak ingin dihina olehmu karena memberikan sebuah barang murahan." Canda Merry memecahkan suasana. Aku hampir tidak pernah lagi tertawa seperti ini. Aku tidak tahu selama ini Merry mempunyai sisi seperti ini. Tawaku tidak tertahankan. Merry pun juga ikut menertawai tawaku yang idiot ini. 

Aku memeluk Merry sekali lagi. Sisa tawa masih tidak menghilang saat itu juga. Aku berkata, "Terima kasih untuk kepedulianmu pada makhluk yang tak berguna ini." Saat itu, setelah kulepaskan dekapan pelukanku, aku mengecup dahinya. Bukan sebagai tanda cinta. Tapi sebagai bakti persahabatan. 

"Sama-sama manusia idiot." Tawa pun lepas sekali lagi bersamaan dengan berhentinya hujan.


*********


Kami sudah sampai di sebuah supermarket ternama di kota ini. Selama perjalanan, Merry tidak mau membiarkanku mengemudikan mobilnya. Katanya, "Aku tidak ingin di supiri oleh manusia yang kondisi kejiwaannya tak jelas." Sial kataku. Ucapan Merry memang ada benarnya. Tidak lucu kalau aku membiarkan kegilaan yang ada pada diri ini mencuat, pada saat aku mengemudikan mobil Merry. 

Kami berbelanja cukup banyak. Satu troli dan satu keranjang hanya untuk keperluan rumahku. Berisikan bahan makanan, peralatan rumah, serta barang-barang tak penting lainnya. Uangku mengendap cukup banyak, karena aku jarang sekali berbelanja. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan tanpa Merry. Bersyukur sebesar-besarnya atas makhluk ciptaan Tuhan satu ini.

Setelah agenda kami yang cukup melelahkan. Kami menyinggahi sebuah taman terdekat dari supermarket. Taman ini dihiasi dengan banyak pohon cemara yang mengitarinya. Air mancur yang tepat berada di tengah taman. Genangan air yang belum surut. Dan cahaya matahari yang menyiapkan diri untuk bersinar kembali.

Tak banyak pengunjung yang berada di taman itu. Mungkin karena hujan yang baru saja mengguyur. Hanya ada tiga orang anak kecil yang bermain gembira di atas ayunan, serta pasangan senja yang menikmati masanya. 

Pasangan senja ini tidak melakukan banyak hal. Hanya mengamati sekitar, serta membicarakan sesuatu. Aku bisa menebak kalau mereka sedang mengulang kembali kenangan-kenangan bagaimana mereka bertemu. Menceritakan kenapa dia memilih satu sama lain sebagai teman hidup. Begitu romantis senja hari ini.

Kami berdua memilih bangku tak jauh dari tiga orang anak yang sedang bergembira itu. Tiba-tiba Merry memecahkan keheningan,

"Hiduplah sebagaimana mestinya Deryl. Aku tahu kamu lebih suka untuk berada di masa itu. Jangan sampai itu semua menjadikanmu seorang manusia masa lalu. Yang tidak tahu bagaimana cara untuk hidup saat ini."

Aku tidak tahu angin apa yang membuat Merry berbicara seperti ini. Tapi dia seperti pembaca pikiran yang jitu. Satu-satunya orang yang bisa memasuki blackhole, dan keluar dengan selamat. Itulah Merry.

Aku tanggapi drama Merry kali ini,

"Untuk apa manusia tinggal saat ini? Kalau nyatanya mereka punya masa lalu yang lebih baik dari pada kehidupan yang sekarang
—"

"Aku mengerti maksudmu. Tapi bukan itu yang aku maksud Deryl." Sela Merry sigap.

"kau tahu Merry? Tidak ada kepastian yang ada di dunia ini. Berjuta-juta langkahmu tidak akan membimbingmu pada satu kepastian. Bermilyar-milyar pengetahuanmu, tidak akan pernah membimbingmu pada kepastian, satu centimeter pun. Kau tahu apa yang pasti?"

"Perpisahan." Jawaban cerdas dari Merry terlontar. 

"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menemukan jawabannya. Tapi, itu jawaban yang tepat. Walau dengan orang tua sekalipun, perpisahan selalu ada bukan?" Jelasku.

"Apa tidak ada lagi hal pasti yang bisa kau percayai selain perpisahan?" Wajah Merry menunjukan keseriusannya. 

"Ada."

"Sungguh? Aku ingin tahu apa yang pasti di dunia ini selain perpisahan. Aku ingin mendengar jawaban gilamu lebih jauh." Keseriusannya mulai memudar. Udara pekat yang sedari tadi mengitari sekeliling kami perlahan menguap.

"Tentu saja." Nadaku dengan memancing rasa penasaran Merry.

"Jangan membiarkan aku menunggu Deryl. Kau akan tahu apa akibatnya." Gertak sambal mulai diluncurkan.

"Tetapi aku tidak yakin kau akan menyetujui jawabanku atau tidak."

"Katakan saja padaku Deryl!" Teriak lantang Merry menghujam. 

Seketika Merry membuat kami menjadi sorot pandang. Anak-anak yang sedang bermain langsung terkejut seketika. Gelengan pasangan senja yang mengira kami sepasang kekasih yang tolol untuk menjalani hubungan. Serta pejalan kaki yang mendadak menorehkan kepalanya pada sumber suara.

"Tidak bisakah kau tenang? Hari ini kau sungguh berisik. Apa kau sedang datang bulan?" Candaku dibarengi dengan seulas senyum. Merry dengan senantiasa membalas dengan pukulan ringan yang di daratkan pada bahuku yang rapuh.

"Aduh." Erangku

"Tidakkah kau dengar bunyi tersebut? Bahuku retak." 

"Tidak lucu Deryl." Aku Merry dengan wajah super terlipat-lipat.

"Hal yang pasti di dunia ini selain perpisahan adalah..."

Merry mulai berjalan menjauh mendekati anak-anak yang bermain. Diambilnya segenggam pasir yang berada tepat di samping ayunan anak-anak.

Dia mulai melemparkan pasir tersebut ke arah tubuhku. Berusaha menghentikan hujatan pasir yang bertubi-tubi dengan meminta Merry untuk segera berhenti sembari menutupi wajahku agar tidak kemasukan pasir tersebut.

"Baiklah-baiklah."

"Hal tersebut adalah persahabatan... Adalah persahabatan... Persahabatan aku dan kamu." Jawabku dengan bersusah payah agar benda itu tidak masuk ke dalam mulutku.

Hujatan pasir berhenti. Kita saling memandangi satu sama lain. Mata kami menampilkan cahayanya masing-masing. Angin berhenti berhembus. Sedangkan kami masih menjadi bahan tontonan dari mata-mata yang berusaha tidak peduli itu.

Tiba-tiba Merry membalikan badannya. Mendekatkan langkahnya menuju tiga orang anak yang sedang bermain gembira. Apa yang sedang ia lakukan? Tiga anak tersebut mengangguk senang dengan ucapan yang dikatakan oleh Merry. Ketiga anak tersebut beserta Merry mengambil segenggam Pasir. 

Pertama mereka berempat bermain begitu saja. Membiarkan aku duduk sendirian disini. Dengan butiran pasir yang menemani. Aku biarkan saja mereka menikmati dunianya sendiri. Demi menghilangkan rasa bosan, aku mengambil handphoneku. Lalu kusetel musik yang sudah kutancapkan earphone. 

"Untuk sekarang, setidaknya aku bisa menikmati angin berhembus di dunia luar. Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini. Terimakasih untuk kesempatan yang kau berikan Merry," gumamku lirih dari dasar hati.

Tiba-tiba...

Hujatan pasir datang kembali. Kali ini tidak hanya Merry yang melemparkan gumpalan pasir tersebut, ketiga anak tadi juga ikut melemparkannya.

"Dengar ya adik-adik, persahabatan adalah yang pasti di dunia ini. Jika kalian ingin mempertahankan persahabatan kalian, lakukanlah hal seperti ini pada sahabat kalian. Mengerti?" Ocehan Merry yang tidak masuk akal. Tapi kalimat tersebut di iyakan dengan mudah oleh anak-anak.

"Jadi ini sahabat kakak? Apa dia berharga untuk hidup kakak?" Ucapan tak terduga dari salah seorang anak kecil memberikan keheningan. Begitu polosnya mempertanyakan kehidupan berharga.

"Begitu berharga sampai kakak bisa melihat isi kepalanya." Jawab Merry dengan lugas. Tidak dan tanpa keraguan.

Aku melihat kedua butir mata cokelat itu. Tidak. Mereka tidak mengancam untuk menjatuhkan air mata. Tapi yang aku lihat saat ini adalah permata. Yang membuat mata Merry menjadi mengkilap serta berkemilau. 

Tiba-tiba hujan mengguyur kembali. Anak-anak serta pasangan senja berlalu lalang mencari tempat perlindungan. Sedangkan aku masih duduk di bangku dan Merry berdiri di depanku.

Kali ini aku tidak bisa membaca matanya. Matanya terlihat sayu. Tidak bisa kubedakan lagi apakah permata atau air mata yang mengalir membanjiri wajahnya. Hujan yang tidak tahu diri menghapus keindahan itu semua.

"Kau tahu Deryl? Biarpun hujan pernah membawa orang kesayanganmu pergi. Mereka akan kembali lagi. Menetes jatuh. Tepat di telapak tangan kita yang tergenggam erat. Kau pasti bertanya bagaimana. Kau tidak perlu mencari jawabannya. Dan kau tidak perlu jatuh dari langit untuk menemukannya. Karena orang yang kau sayangi layak untuk kembali pada dirimu seorang."

Kedua sayapku resmi tumbuh kembali. Aku kini tidak takut untuk melihat kebawah, seberapa tinggi pun aku terbang. Karena walapun sayap ini tidak berguna lagi. Merry akan senantiasa merobek sayap kecilnya, dan menemaniku selamanya di atas tanah.

Hujan mulai menerjang lebih kejam. Kami berdua masih pada posisinya. Sahabat menjadi cinta? Aku tidak yakin. Yang aku yakini saat ini, perpisahan tidak berlaku bagi kami.


Friday, January 8, 2016 1 comments

Man Without Wings #1

Aku beranjak dari kasur setelah menghabiskan—oh, aku sudah lupa berapa batang rokok yang aku hisap hari ini—barang yang tak berguna ini. Melihat sebuah pena yang terus memanggil untuk diceritakan sesuatu. Sesuatu hal yang ntah itu apa.  Siapa yang tahu, kalau manusia hanya membutuhkan sebuah pena untuk menggambar impian.

Pena yang aku punya hanyalah sebuah pena biasa. Tapi dengan sebuah pena biasa, aku berani menciptakan mimpi yang hanya tersimpan didalam hati. Mengeluarkan segala bentuk inspirasi dan celotehan tidak penting, yang selalu malu-malu untuk menampakan dirinya. Untuk orang-orang yang tidak mempunyai tempat di dunia ini, kertas putih dan sebuah pena sudah lebih dari cukup untuk menemani pahitnya senja kehidupan.

Perlahan aku angkat pena kecil yang tertidur diatas sebuah meja kayu usang, dan mengambil secarik kertas yang tersimpan di laci meja tersebut. Aku tidak tahu apa yang akan aku tulis, tapi pena itu seolah-olah berkata, “Pegang aku, hanya dengan memegangku kau akan tahu apa yang aku tulis.” Kertas putih suci tidak berkomentar apa-apa. Barangkali ia terlalu pasrah, atau jangan-jangan ia diam-diam ingin menjadi saksi dari mimpi kecil seseorang yang tidak mempunyai apa-apa selain sebuah pena ditangannya.

Selama beberapa waktu aku tidak berhasil menuliskan apapun. Sang pena berdusta. Tidak mungkin orang yang sedang kacau mampu menuliskan satu patah kata pun. Berbicara soal kacau, ruangan yang aku sebut kamar ini terlalu tidak berbentuk. Laksana pesawat terbang yang mendarat dengan paksa ke tanah, dan jatuh berkeping-keping. Begitu berantakan.

Tanpa disadari atau tidak, kamar ini perlahan merefleksikan kondisi kejiwaanku. Aku tidak mempermasalahkan itu. Kamarku sudah menjadi surga yang tak terjamah—walau Adam sekalipun—yang sengaja diciptakan Tuhan hanya untuk diriku seorang.

Kalaupun aku meninggalkan tempat ini, suatu saat akan selalu ada rasa ingin kembali. Rumah disebut rumah karena kita nyaman berada didalamnya. Tidak peduli seberapa hancur isinya. Pakaian kotor yang berhamburan disana-sini. Puntung rokok yang menyembul keluar dari asbak. Abu rokok yang bersatu dengan debu. Kasur yang tidak berbentuk. Lima kantong sampah yang berisikan bekas makanan instan. Jendela yang selalu terbuka. Coretan dinding dimana-mana. Dan sepenggal kisah tentang aku dan seseorang.

Terdapat satu keindahan yang hanya bisa di dapat dikamar sekotor ini. Keluarga burung gereja yang mendirikan istananya, tepat di dahan pohon cemara samping jendela yang tak pernah tertutup. Mataku selalu mengawasi keseharian mereka. Tak jarang seulas senyum tipis dari wajahku menampakkan dirinya.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebenarnya aku tidak ingin mengangkatnya. Karena sudah tahu siapa yang menelepon ponsel yang sudah berjamur itu. Hanya sahabatku, Merry.

Dengan terpaksa aku meraih ponsel tersebut. Sudah dua minggu, atau tiga minggu? Aku tidak menghiraukannya. Beberapa detik setelah aku mengangkatnya, langsung kujauhkan ponsel dari telingaku. Ada sesorang yang berteriak di ujung sana. Tanpa pikir panjang aku langsung mematikan panggilan itu. Aku sungguh tidak menyukai kebiasaan Merry yang ini. Suara yang ia hasilkan sudah seperti baling-baling helikopter. Sungguh, ia harus merubah kebiasaan ini.

Ponselku bergetar kembali. Merry lagi. Manusia itu tidak pernah menyerah.

  “Kenapa?” jawabku

Ia tidak langsung menjawabnya, kali ini dia tidak berteriak seperti tadi. Suaranya lirih dan terdengar cemas.

  “Kau dimana?”

  “Di rumah,” sahutku.

  “Sudah berapa hari kau tidak melihat matahari?”

  “Entah, sejak hari itu mungkin.”

  “Sudah makan? Apa mau kubuatkan makanan di tempatmu?”

  “Tidak usah. Tempat ini kaya akan makanan instan.”

  “Tidak baik! Tunggu, aku segera kesana.”

  “Terserah, tapi rumah ini sudah tidak berbentuk setelah kau tinggalkan sebulan yang lalu.”

  “Kau sedang apa?”

  “Menulis.”

Ada jeda setelah aku berkata seperti itu. Selama jeda itu aku memperhatikan keluarga burung gereja yang sedang asik bermain dengan anak-anaknya di istana mereka.

  “Hmmm. Sejak kapan kau menulis? Lagi pula apa yang sedang kau tulis?”

  “Kau terlalu banyak bertanya. Segeralah kesini. Sebelum aku mengunci pintu rumahku dan melarangmu masuk kedalam,” kataku sembil memijat-mijat kening. 

Kelakuan wanita satu ini yang selalu penasaran dengan hal-hal baru yang aku buat. Yah, karena dia memang teman masa kecil yang selalu merepotkan dan ingin tahu segalanya.

  “Tidak sebelum kau menjawabnya!” Ia menekankan perkataannya. Tanda rasa penasaran yang sudah memuncak, tapi masih dalam tahap wajar. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika rasa penasarannya sudah sampai level puncak gunung Everest.

  “Setelah kau sampai disini,” jawabku ringan.
  
  “Oke! Tiga puluh menit aku akan sampai disana dan menjitak kepalamu yang sudah membuat aku penasaran.”

  “Ya,” kataku ringan.

Kali ini sudah tidak ada lagi gangguan. Aku harus kembali ke pena yang sudah menungguku. Sampai saat ini aku belum juga menuliskan bait-bait kata. Pikiranku terlalu abstrak untuk dituangkan. Buntu. Merry jelas akan menertawakanku. Wanita sialan itu selalu menggoda mimpi seseorang. Setelah itu aku pasti tidak berkeinginan menulis lagi dibuatnya.

Pernah aku bermimpi menjadi seorang arsitektur pada saat sekolah dasar, katanya gambarku seperti seorang anak autis. Pernah aku bermimpi menjadi seorang musisi, kata Merry sense musikku tidak bagus. Awalnya aku tidak peduli, tapi lama kelamaan orang-orang mengatakan yang sama.  Baiklah Merry menang. Yang paling parah waktu aku pernah bermimpi menjadi seorang Youtube-ers, dan baru mengupload sebuah vlog kedalamnya. Aku menceritakan pada Merry, dan sudah kuduga. Impian ku di sambut hinaan olehnya. Katanya aku sudah mirip seperti anak autis yang sibuk dengan dunianya sendiri. Satu kelas menertawai dan mencemoohku setelah Merry menyebarluaskannya. Hari itu juga aku langsung menghapus akun Youtube ku.

Salah memang terlalu memikirkan perkataan orang.  Mimpi tidak terwujud karena seseorang bilang begitu padamu. Seharusnya aku mengacuhkan hinaan Merry dan berjalan kedepan. Yah, bagaimanapun aku tidak menyesal. Yang buruk terjadi karena sebuah alasan bukan?

Jam berapa ini? Kenapa Merry lama sekali sampai disini. Sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu sejak ia menelpon barusan. Aku tahu, aku hanya mencari alasan. Setidaknya aku harus menulis satu paragraf, sebelum wanita itu datang. Satu kalimat pun belum tersusun di kertas ini. Harus segera menulis. Harus.

Aku melemparkan kepalaku kesamping, tempat jendela yang tak pernah tertutup berada. Butir-butir air mendarat diatasnya. Crescendo. Sebutan untuk hujan yang jatuh hari ini. Di awali dengan butiran lembut—bertahap—berubah menjadi riuk.  Suara yang dihasilkan juga seperti crescendo.

Sebenarnya aku tidak suka saat hujan turun. Aku tidak tahu kenapa dan mengapa. Tetapi hujan selalu merampas sesuatu dariku, dan dibawanya tenggelam bersama ke dalam tanah. Seberapapun usaha mu melawan hujan, hujan selalu punya cara untuk membuatmu tidak berdaya.
0 comments

Somebody make me alive, then shatter me

Cerita ini berawal dari seseorang yang tidak pernah tahu apa yang akan di lakukan, dimana orang-orang berpikir bahwa masa yang akan dijalani tersebut adalah masa-masa terindah sepanjang hidup. Seseorang yang cukup anti sosial hingga tidak peduli akan bencana yang sedang terjadi disekitarnya. Tentu saja itu hanya perumpamaan. Ia menyangkal pandangan tersebut dan membuangnya mentah-mentah. Masa putih abu-abu mereka bilang.

***

Dia kini kembali kehidupan lamanya. Bukan. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Tahu-tahu senja sudah menyapa paginya, dan tidurnya selalu ditemani cahaya matahari. Waktu kehidupannya seakan-akan berputar terbalik. Yang ia sadar hanyalah, setiap matanya terbuka ia harus segera menghapus bayang-bayang yang tidak ingin dilihatnya. Sebab dari itulah ia selalu melarikan diri dari apa yang ada didepannya. 

Bersembunyi dibalik kenikmatan hisapan asap yang tak terkendali. Perilaku yang tidak mencerminkan dia sama sekali. Jika orang-orang terdekatnya tahu, mungkin mereka semua tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya. Tapi ada satu orang yang selalu percaya dengan apa yang dikatakannya. Seolah-olah walaupun dunia mengenakkan mahkota duri diatas kepalanya, selalu ada orang yang selalu mengetahui kebenaran dibalik ucapannya. Dia.

Perutnya lapar. Sudah satu.. dua hari lebih tepatnya ia tidak memakan apapun. Hanya segelas air putih tiap harinya. Selalu saja begitu ketika menghabiskan waktunya di depan layar monitor komputernya. Dia harus mencari makan untuk memperpanjang hidupnya. Sesaat sebelum membuka pintu kamarnya, dihabiskannya satu batang rokok untuk mengganjal perutnya.

***

Sebut saja orang ini dengan apa yang kalian suka. Karena orang ini sudah tidak peduli lagi dengan pemikiran orang-orang bodoh macam kalian. Ya. Menurutnya semua orang yang ada disekitarnya adalah seonggok patung yang tak berguna, yang selalu menghalangi jalannya dimanapun, kapanpun. Sosok yang berisik dan tidak tahu aturan menghargai ketenangan orang lain. Begitulah pikiran dia tentang manusia-manusia disekitarnya. 

Sampai umurnya mencapai kepala dua, luka lama masih belum bisa sembuh. Waktu sungguh berdusta. Mengapa diberikannya pengobatan yang begitu lama untuk hatinya? Sedangkan orang lain hanya memerlukan waktu yang cukup singkat untuk kembali ke dirinya semula. 

Dia bagaikan manusia mati. Yang hanya hidup di masa lalu. Saat ini dia tidaklah hidup. Hanya sepotong daging busuk dengan tulang-tulang yang kehilangan sukmanya. Dia selalu berpikir, masa lalu adalah tempat yang begitu pantas untuk dirinya tinggal, sembari mencaci Tuhan. Dia tidak tahu apa salah Tuhan di kehidupannya. Tetapi dengan menyalahkan, manusia selalu bisa memecahkan masalah. Bagi dirinya. 

***

Terangnya hari ini tidaklah seindah dulu. Hujannya hari ini tidaklah sehangat dulu. Semua selalu begitu. Sesuatu bisa berubah dengan sangat cepat. Tahu-tahu saja sudah berkembang begitu pesat, ada juga yang jatuh dan tak bisa berdiri lagi. Pria ini adalah salah satunya.

Manusia masa lalu yang tak bisa menjalani hidupnya sekarang. Selalu berkabung dengan memori-memori fana yang ia pikir bisa dihidupkannya. Seseorang yang selalu pesimis, tetapi berubah optimis karena impian.

Kesepian tidak membuat dirinya gila. Satu fakta yang ia tahu, kegilaan datang bukan karena kesendirian, tetapi keramaianlah yang mengundangnya. Pria penyendiri ini selalu berpikir, bagaimana bisa orang menghapus ingatan orang yang selalu atau pernah berada disampingnya? Bahkan kalaupun dia berada di posisi yang berlawanan, ia akan selalu menyimpan kenangan usang tersebut dalam buku album. Kelak akan ada waktu dimana ia akan tersenyum kembali melihatnya. 

Tapi tetap saja, terkadang kesepian itu menyakitkan. Sudah lama tak digandengnya tangan mungil tersebut atau merangkul pundaknya disetiap langkahnya, membuat kesepian itu menusuk. Mengalahkan tajamnya pisau. Pelukan hangatnya membuat candu sang pria bangkit kembali. Ia tidak membutuhkan orang lain, ia butuh wanita itu. Wanita yang selalu menemani dan mengenalkan cerahnya dunia di kehidupannya. 

Kesepian tidak mudah dihilangkan dengan sembarang orang. 

***

Langkah kakinya menginjak tempat yang bernama sekolah. Ya. Sekolah Menengah Atas atau putih abu-abu. Dia berpikir kalau masa-masa ini akan dihabiskan sama seperti sebelumnya. Ia berjalan menapaki tangga, mengamati segala sudut tempat dimana dia akan di penjara selama tiga tahun. Banyaknya puntung rokok, dan sampah yang tak beraturan membuat dirinya geram. 

Ia tidak banyak memilih dimana dia akan menghabiskan masa putih abu-abu tersebut. Tetapi saat ini ia menyesal dengan keputusannya. Ia duduk di bangku terbelakang ruangan, tepat di sudut. Sekarang dia resmi menjadi anak SMA.

Pertama dia bertemu wanita itu di sebuah kolam renang. Panggil saja dia Ail. Kebetulan kelas olahraganya berbarengan dengan kelas si Pria ini. Pria tersebut duduk di pinggiran kolam sambil mengamati sekitar. Selalu begitu. Walaupun tanpa kacanya ia tidak cukup yakin dengan apa yang dilihatnya. Tiga orang wanita menghampirinya. Salah satu berkata dengan cepat dan tidak dapat dicerna dengan baik oleh telinga si Pria. 

Tetapi ia cukup yakin, bahwa wanita itu memintanya untuk menghubunginya nanti. 

***

Dia. Ail. Ternyata memilih ekstrakulikuler yang sama dengan si Pria. Ia mulai banyak menghabiskan waktu dengan Ail. Teman-teman Ail mulai meminta si Pria untuk mendekatinya lebih gencar. Tetapi pada saat itu ia sendiri belum tahu apa yang dia rasakan. Ia pernah jatuh cinta. Tetapi tidak pernah tercapai. Kalaupun dia berhasil mendapatkan hati Ail, ia sendiri tidak tahu bagaimana berpacaran sebagaimana mestinya.  Karena dia memang belum pernah mencobanya.

***

Sampai pada saat si Pria berhasil mendapatkan hati Ail. Ia sungguh bahagia saat itu. Tidak tahu mengapa, hanya saja dia begitu bersyukur pacar pertama yang dimilikinya adalah Ail. Sosok wanita bertubuh pendek, dengan rambutnya yang lurus, serta bibirnya selalu cerewet ketika ia berucap. Ia menyukai segala aspek yang dimiliki Ail. 

Ideologi si Pria terpatahkan. Masa putih abu-abu memang yang terbaik.

Si Pria menghabiskan tiga tahun putih abu-abu bersama Ail. Ail membuatnya mengenal dunia luas. Pengalaman yang tak terbayangkan. Memori-memori cantik terbentuk dengan sendirinya. Segalanya begitu realistis, seolah dunia mimpi yang selalu diidamkannya menjadi nyata. Suka duka bersama yang larut dalam senja percintaan putih abu-abu. 

Selama tiga tahun tersebut si Pria ini tak pernah lupa apa saja yang telah dihabiskannya di masa terindah ini. Semuanya terlalu banyak. Tetapi detilnya selalu mengenang. Bahkan hidup berdua pun di dunia ini ia sanggupi. Bukan karena cintanya terhadap Ail. Bukan juga karena pengalaman yang Ail berikan terhadap si Pria. Karena Ail itu sendiri. Kepiawaiannya sebagai wanita mengumpulkan rasa kagum di benak si Pria. Tidak pernah dilihatnya wanita yang sehebat dan setangguh itu setelah ibu dan neneknya.

Akrabnya si Pria dengan keluarga Ail membuat keseriusan hubungan mereka meningkat. Walaupun masih belum resmi meninggalkan putih abu-abu, si Pria mulai memikirkan masa depan apa yang akan dilakukan bersama Ail nanti. 

Terlalu cerah langit yang ia tuju, tak pernah dilihatnya kebawah bahwa seberapa sakitnya kalau dia jatuh nanti.

***

Ail memutuskan untuk menlanjutkan pendidikan di luar kota, bersamaan dengan pindahnya orang tua Ail ke kampung halamannya. Itu cukup membuat rencana si Pria hancur berantakan. Ia berpikir tanpa melihat risiko yang akan terjadi. Tak rela dengan hancurnya rencana yang ia buat dengan Ail nanti, ia memaksa orang tuanya untuk mengizinkan dirinya untuk menempuh jenjang kuliah di luar kota juga. Walaupun tidak satu kota dengan Ail, tetapi ia sudah senang, ia cukup menumpangi bis selama empat jam kalau ingin bertemu Ail.

Sinar mataharinya mulai redup. Angin berhembus syahdu namun menusuk. Dinginnya malam kota Jogja mengajarkannya kembali tentang kesepian. Dia kini resmi menjadi mahasiswa.

Selama tinggal disana, si Pria selalu merasa dirinya uring-uringan. Tidak tahu apa dan mengapa. Seakan obat penenangnya habis. Dia butuh... Ya. Dia butuh Ail. Sudah hampir satu bulan lebih ia tidak melihat paras ayunya. Mendengar suaranya cukup menghilangkan rindu. Tapi ia butuh lebih. Ia butuh pelukan Ail. Kehangatannya. Aromanya. Nafasnya. Semua. Dia butuh semua.

Ia menyiapkan barang-barang yang kiranya diperlukan. Menuruni tangga indekosnya dengan tak sabaran. Menarik gas dalam-dalam, Ia berangkat menuju tempat Ail. Semarang.

Sendirian si Pria menelusuri gelapnya malam. Dinginnya hawa yang dirasakan di pertengahan jalan. Mencoba memutar memori tentang Ail membuatnya hangat. Ia meninggalkan keluhan tadi dibelakang. Ia harus memutar kembali memori-memori bahagia dengan Ail untuk menghilangkan rasa jenuh perjalanan.

Si Pria meraih handphone disaku jaketnya. Si Pria tahu bahwa malam ini Ail tidak berada di indekosnya. Dia berada di kampusnya, karena ada semacam perayaan setelah ospek. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya akan datang malam ini. Seketika saja ia ingin membuat kejutan pada Ail. Kegilaan yang selalu menyelubungi pikirannya sudah tidak tertahankan.

Ia mencoba menghubungi nomor Ail, tetapi mailbox. Kini ia bingung. Apa yang akan dilakukannya sekarang. Ia tidak tahu alamat Ail. Ia hanya tahu alamat kampusnya saja, itupun berkat GPS yang membantunya. Oh iya, baru saja teringat bahwa Ail pernah mengirimkan pesan melalui handphone temannya. Barangkali saat ini dia bersama temannya itu. Si Pria mencoba mencari nomor-nomor yang sudah tenggelam itu di kotak pesannya.

***

"Ini Ail, ada telepon buatmu," kata seorang temannya yang nomornya susah payah untuk di cari. Si Pria mengatakan bahwa dirinya berada di depan kampusnya saat ini. Hal tersebut membuat Ail tidak percaya. Seakan-akan ucapan si Pria adalah dusta, 

Tubuh mungil tersebut keluar dari pintu gerbang kampus, menengok kekiiri dan kekanan dengan wajah yang bingung. Mencari sosok si Pria di kerumunan orang. Si Pria dapat melihatnya. Hanya saja wajah Ail yang kebingungan membuat si Pria tak berhenti tertawa. Cukup lama dibiarkan Ail mencari sosok kekasihnya. 

Seorang Pria menghampiri Ail. Wajah ail yang kebingungan seketika berubah. Air matanya mengancam untuk jatuh. Si Pria berada di depannya dengan kebodohannya. Dari tampangnya, Ail ingin mengucapkan sesuatu tetapi terlalu susah untuk berbicara.

Si Pria tidak tahu kenapa air mata wanita itu begitu berarti saat itu. Melihatnya menangis membuat si Pria bahagia dan juga sedih di saat bersamaan. Laksana mutiara jatuh dari wajah Ail. Kedua bola mata tersebut menghasilkan sesuatu yang begitu  berharga. Membuat letih si Si Pria menguap begitu saja.

Si Pria menjadi yakin, bahwa Ail adalah teman hidupnya hingga tua nanti.

***

Sekali lagi, ternyata masa putih abu-abu adalah yang terbaik, Tidak ada kedewasaan yang menganggu jalannya cinta itu. Kanak-kanak namun bermakna. Egoisme di masa muda yang begitu indah.

Semuanya terjadi begitu saja. Menjelaskannya pun sulit dengan kata-kata. Apa yang terjadi melenceng jauh dengan apa yang dibuat oleh si Pria. Belum sempat diucapkannya kalimat perpisahan, seakan-akan ada yang terpotong. Si Pria tidak tahu menahu dan mempertanyakannya pada Tuhan, mengapa ini bisa terjadi.

Si Pria hancur. Padahal itu semua tak lain dan tak bukan karena emosi sesaat yang ia timbulkan hari itu. Coba saja dia berpikir jernih pada saat itu, Mungkin saat ini ia masih bisa menikmati sinar matahari. Ini bukan penyesalan, tapi kebodohan. 

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan bersama Ail, membuat hubungan sosial dengan teman-temann si Pria berkurang. Wajar saja, karena selama ini si Pria menganggap Ail adalah teman satu-satunya. Si Pria hancur. Tidak ada orang yang sudi mendengar ceritanya. Suaranya terikat. Tenggorokannya sudah penuh menyimpang kalimat-kalimat yang terpendam. Ia kini tak lagi mempunyai tempat untuk bercerita.

Apa yang akan dilakukannya tanpa Ail? Makhluk anti sosial yang selalu berdiri dengan menopang di bahu Ail, kini harus jatuh berkali-kali hanya untuk berdiri dengan kaki sendiri. Kesusahan hidup terjadi satu persatu di kehidupannya. Hidup menjadi hunian bagi orang-orang bodoh yang percaya bahwa cinta itu soal kasih sayang. Nyatanya cinta itu adalah nafsu.

Cinta sendiri adalah kegilaan. Dibuatnya layu atau mekar bunga kehidupan. Dibuatnya sayap untuk terbang, namun tidak diberikan tempat peristirahatan. Semua terlihat tidak masuk akal! 

###

Ketika cinta hilang, semua terlihat tidak menarik lagi. Pria yang diam-diam menyimpan bunga di balik badannya, terlihat seperti orang bodoh. Seseorang yang selalu menangis karena dikhianati, terlihat seperti mayat yang sudah tidak punya otak lagi. Seorang wanita yang percaya dengan kesetiaan kekasihnya di tempat yang sangat jauh, membuat si Pria ini ingin memuntahkan isi perutnya di wajah wanita itu.

Ketika cinta hilang, semua hal menjadi tidak masuk akal. Tetapi ketika cinta datang, semua fatamorgana adalah nyata. Bahkan kantong keajaiban milik Doraemon pun menjadi kenyataann.

Itulah cinta, tidak tahu apa yang akan datang. But, everything is fair in love, termasuk bagaimana cinta itu akan menguap.

***

Si Pria lupa cara untuk jatuh cinta lagi. Pekerjaanya kini menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menjadi pemuja rahasia untuk seseorang.

###

Seseorang membuatku merasakan indahnya kehidupan, dan orang itu jugalah yang membuatnya layu.

Seseorang memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupanku, dan orang itu jugalah yang menhapus jawaban tersebut dan membiarkannya kosong.

Seseorang mengajarkanku untuk berbagi, kini orang itu mengambil semua apa yang aku punya. Harapan.

Seseorang membuatku merasa hidup, tetapi dipatahkannya dengan begitu mudah.




Wednesday, January 6, 2016 0 comments

Diary January 1, 2016

Diawali dengan countdown, terlahirlah malam tahun baru yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya.

Ada yang baru di tahun 2016 ini. Setelah mengarungi gelapnya goa yang tidak pasti akan membawaku kemana. Masih berjalan tanpa henti, belum menemukan tanda-tanda akhir perjalanan. Tetapi tahun ini, aku mendapatkan sebuah lentera kecil yang akan membimbingku serta menemani gelapnya goa sial ini.

Aku mengatakan pada diriku sendiri, bahwa di tahun yang baru ini aku harus mempunyai tujuan
2 comments

Perspective

Aku tidak tahu mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikir. Menurutku, akal pikir manusia lambat laun dan dengan sendirinya akan menghilangkan eksistensi ke-Tuhanan itu sendiri. Apa yang salah dari sebuah sudut pandang? Jelas banyak. Sayangnya Tuhan menciptakan seorang manusia dengan berjuta-juta perspektif, namun tak diberikannya sebuah kemampuan untuk melihat perspektif orang lain dengan seimbang.

Manusia selalu berkeinginan untuk menjadi satu kedaulatan dengan manusia-manusia lain. Tapi tindakannya tidak mencerminkan pikirannya. Apa yang dilihatnya, selalu beda dengan yang orang lain lihat. Sikap apatis dan mau menang sendiri sudah menjelma menjadi sosok nyata yang tak terelakkan. Tanpa sadar bumi menjadi pembuangan sampah bagi aspirasi manusia didalamnya.

Aku selalu mengeluh. Kenapa setiap manusia tidak diciptakan dengan satu sudut pandang yang sama. Bukannya dunia akan lebih indah dan terawat ketimbang saat ini? Tapi aku sadar, penemuan-penemuan hebat yang berguna sampai saat ini, ada karena jutaan sudut pandang yang berkumpul menjadi satu. 

Nahas nya, aku selalu menyangkalnya. Hidup manusia akan lebih mudah, kalau sesama manusia diciptakan dengan sebuah perspektif yang dimana orang-orang tidak ada lagi yang mati dengan sia-sia. Terlalu banyak korban akibat sudut pandang yang gila. Tak terhitung jumlahnya, bahkan mungkin saat ini masih banyak orang yang menjadi tahanan akal pikir manusia tersebut. 

Kita memang tidak diciptakan untuk bersatu. Egoisme yang selalu mendahului kepentingan bersama, menghancurkan dunia ini. 

Sadar atau tidak, banyak orang bodoh yang menyatakan kesempurnaan ideologinya sebagai pemersatu perdamaian dunia. Nyatanya hanya semu. Tidak ada yang kekal. Tercipta dari kerakusan tidak akan bisa di lunakkan dengan cara yang seperti itu. Kalian sendiri tahu, apa permasalahan dunia saat ini.

Diciptakan-Nya berbagai jenis manusia, terkait dengan suku, ras, agama, harta, keberuntungan, tragedi, manusia untuk pertama kalinya menginjakkan sebuah tempat dimana semua itu hanya menjadi rasa pahit. Dari lahir kita selalu di didik oleh kedua orang tua, atau bahkan orang yang tidak tahu siapa kedua orang tua mereka, selalu di ajarkan tentang kebaikan dari kecil. Tapi apa mereka semua sadar, yang mereka ajarkan sedari dini menjadi tinta permanen yang tidak tahu bagaimana kita menghapus dan membenarkannya.

Aku bersyukur, orang tuaku mengajarkanku bagaimana berdiri dengan kaki sendiri, Tidak kuinginkan tinta permanen tersebut hilang dari kertas putih kehidupanku. 

Tapi untuk sekali lagi, 
aku sungguh benci bahwa kreatifitas harus mati ditangan perspektif.
Sunday, January 3, 2016 0 comments

Secret Admirer

Aku menancapkan pandanganku pada sosok wanita bertubuh mungil, yang tinggi badannya kurang lebih dari pundakku. Dia duduk sendirian, termenung sambil memandangi acara yang sedang berlangsung. Pada saat itu kami berada di sebuah event yang diadakan oleh himpunan mahasiswa kampus. Aku menjadi panitia, sedangkan ia seorang alumni himpunan mahasiswa tersebut.

Selalu ku sempatkan mata ini untuk memandang keelokan wajahnya yang entah bagaimana sangat sulit untuk dijelaskan. Sebenarnya aku sudah lama menjadi pengagum rahasia wanita itu. Aku tidak tahu apa yang membuat dirinya yang selalu saja membuat rasa penasaran dalam benak ini. Sosoknya yang pendiam dan tidak banyak bicara. Penampilan yang selalu menunjukkan kecerdasannya. Suaranya yang lemah namun tegas. Dan yang pasti, kepiawaian pribadinya yang mendamba.

Tahu-tahu aku sudah menjadi pemuja rahasia. Ia pasti tidak tahu, ada dua mata yang selalu mengawasinya. Dan tahu-tahu juga aku sudah mencari segala informasi tentang dirinya diam-diam. Sebut saja aku seorang kriminal. 

Walaupun belum banyak informasi yang aku punya saat ini, tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk terus menggali seluk beluk tentang dirinya. Kapanpun dan dimanapun, menyempatkan diri untuk membedah cara-cara agar mendapatkan apa yang ku inginkan.

Tidak. Aku tidak sedang menguntitnya. Aku tahu batasan. Tapi aku tidak terkendali dengan hausnya cerita akan dirinya. 

Dia sendirian. Dalam arti status hubungan. Namun aku tidak sendirian untuk soal mengejarnya. Aku bukan laki-laki yang bisa frontal dihadapan wanita yang kukagumi. Sosok mulia yang sebisa mungkin akan terus kujaga layaknya harta karun kehidupan. 

Sadar bahwa aku bukan lelaki yang pantas untuk berada di sampingnya. Tapi aku tidak akan kalah soal mencintai.

Cinta diam-diam sudah menjadi ciri khasku. Tidak pernah kusampaikan. Selalu terpendam. Lalu jatuh sendirian. Sedih.

Tidak menyangkal betapa pengecutnya diri ini. Pengecut yang selalu berada di balik senyuman indahnya. Aku cukup bangga dengan sebutan itu. 

Setidaknya dengan manjadi pemuja rahasia, aku tidak merusak kesucian dan kemuliaannya.

Sehari sebelum lahirnya hari baru di tahun 2016, aku memberanikan diri untuk menghubunginya dengan sosmed. Berawal dari temanku yang memaksa untuk mengirimkan pesan padanya. Yang ternyata direspon cukup baik olehnya. Bahagia sungguh. Akhir percakapan aku tutup dengan mengucapkan kalimat "happy new year," padanya. Tepat pukul 00.00

Hari-hari berikutnya aku tidak punya keberanian lagi untuk bertukar pesan. Dengan sosok hina ini aku takut menganggu dirinya. Takut kalau jika kita bertemu nanti, tidak ada suara yang terucap dari bibir kami masing-masing. Aku lebih memilih untuk melihatnya dari kejauhan. Dari pada harus melihatnya memusuhiku dan berjalan menjauh.

Aku puas dengan keadaan saat ini.

Apa tidak apa-apa kalau hati ini sedikit berharap? Walaupun nantinya asa ini nantinya tak tergenggam. Walaupun ia tidak tahu betapa aku mengenal dirinya lebih dari siapapun. Walaupun usaha ku akan senantiasa pupus.

Aku akan selalu menjadi penggemar rahasiamu kak...


 
;