Sunday, January 10, 2016

Man Without Wings #2

Suara bel berbunyi. Ah, akhirnya Merry datang juga. Walaupun aku tidak mengharapkannya berada di sini, tapi aku sungguh mengharapkan dibuatkan makanan olehnya. Perut ini harus diberi sesuatu, satu bungkus rokok dan beribu cangkir kopi yang telah ku habiskan selama berada di surgaku benar-benar tidak bisa bertahan lama. Aku harus makan-makanan asli.

Kuturuni tangga lingkar khas rumahku dengan perlahan. Begitu sampai di lantai dasar, napasku terengah-engah. Hanya menuruni tangga saja begitu menguras stamina. 

Aku mengintip dari kejauhan, ada siluet seorang wanita yang berdiri menunggu untuk dibukakan pintu. Siluet tersebut menembus masuk melalui kaca serta gorden dibantu oleh cahaya matahari. Padahal hari ini hujan, tapi bayangan itu muncul begitu pekat adanya.

"Masih hidup?" Sambutan dari seseorang wanita yang tidak tahu diri.

Dia cukup manis hari ini, dengan tampangnya yang sudah terlihat baru saja dari salon, rambutnya yang melingkar-lingkar seperti cacing, setelan baju yang aku tidak tahu apa itu namanya, serta lipstik merah marun yang berkutat di bibirnya. 

"Jelas." jawabku ringan. Aku melemparkan pandangan pada kantong belanjanya. Bukan, itu bukan bahan makanan. Ada tulisan di kantong belanjaan tersebut, tetapi aku tidak bisa membacanya dengan jelas. Karena aku tidak memakai kaca mataku saat ini.

"Apa itu yang ada di tanganmu?" Tanyaku dengan nada yang cukup penasaran.

"Bukan apa-apa," wanita satu ini memang menyebalkan, "apa ada bahan makanan yang bisa aku masak di tempat ini? Aku tidak yakin." Hina Merry.

Kita tahu kita mempunyai rasa penasaran yang tinggi. Tapi kali ini Merry sungguh membuatku geram. Sekian lamanya aku mengurung diri di kamar, membuat toleransi sosialku tidak teratur. Walaupun itu hanya candaan, surgaku tidak patut untuk dihina. Merry harusnya tahu itu karena sudah menjadi sahabatku sejak sekolah dasar.

"Kenapa tidak kau belikan bahannya? Kalau kau sendiri tidak yakin?"

"Ayolah Deryl, kau tahu aku tidak suka belanja sendirian. Bukan karena aku pelit, tapi kau paling tahu bagaimana diriku yang tidak suka berjalan sendirian di antara keramaian." Aku Merry dengan bermelas manja.

"Aku tidak mau repot. Lagipula masih banyak makanan instan yang bisa ku makan tanpa perlu keluar rumah." 

"Benarkah? Coba kita lihat dapurmu." Pinta Merry. 

Dari wajahnya, aku dapat melihat sesuatu. Sesuatu yang hanya bisa ku lihat di mata cokelat itu. Kami beranjak dari pintu depan menuju dapur.  Derap kaki kami begitu terdengar jelas. Tanda kesunyian rumah yang mengaung dalam hati. Bukan hanya kamarku saja yang merefleksikan diriku, hal tersebut berlaku juga dengan rumah ini.

"Astaga!" Teriak Merry dengan lantang. Suaranya dapat memecahkan gendang telinga balita yang berumur 15 tahun.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Lihat apa yang ada disini. Bumbu masakan tercecer dimana-mana. Piring dan gelas pecah semua. Cucian piring menumpuk. Kulkas yang kosong melompong. Hanya ada satu bungkus mi instan disini, bagaimana cara kita memakannya?" 

Sungguh Merry hari ini begitu menyebalkan.

"Kita bisa berbagi
" belum sempat melanjutkan pembicaraan Merry menyela tenggorokanku. "Lihat Deryl betapa kurusnya dirimu ini. Aku tidak sudi berbagi makanan untuk orang yang menderita busung lapar." Ketus Merry.

"Sungguh Merry kau begitu berisik hari ini. Kenapa kau tidak kembali saja ketempat asalmu." Bentakku dengan emosi yang memuncak. Mood hari ini sedang tidak terlalu bagus. Tolong Merry jangan membuatku memarahimu lebih dari ini.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu kau semarah ini. Tapi itu karena aku hanya peduli terhadapmu. Kedua orang tuamu memintaku untuk mengawasimu semenjak kejadian itu. Melihat kau begitu terpukul membuatku merasakan hal yang sama. Maaf kan... Aku sungguh
—"

Aku tidak sanggup melihat dua butir kecokelatan itu memproduksi air mata. Air matanya terjatuh begitu sendu. Aku tidak tahu kenapa Merry begitu lucu hari ini. Aku juga tidak tahu kenapa Merry begitu menyebalkan hari ini. Yang aku tahu, tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Merry, tanpa sempat ia melanjutkan kalimat terakhirnya.

"Aku juga. Ayo kita berbelanja." Dengan nada lembut, aku mengiyakan ajakan Merry sebelumnya.

Senyuman mengulas di bibirnya. Lipstik merah marun yang dari tadi berkutat di bibirnya, sekarang tampak kemilau.

Sebelum kami berangkat, kami memutuskan untuk membersihkan seisi rumah. Tentu saja sifat Merry yang selalu mengomel datang kembali. Tetapi aku menyambut hangat omelan itu, karena sayapku perlahan tumbuh kembali. 

"Oh iya. Ini untukmu." Merry memberikan kantong belanja yang kuperhatikan dari tadi, setelah dua jam membersihkan rumah ini. Termasuk kamarku.

Aku tidak menyangka Merry memberikanku sebuah topi rajutan.

"Sekarang musim hujan tahu. Sebaiknya kau menjaga kepala itu agar tak membeku. Aku merajutnya sendiri. Tentu saja merek yang ada di kantong tersebut hanya kantong belanja bekas. Aku tidak ingin dihina olehmu karena memberikan sebuah barang murahan." Canda Merry memecahkan suasana. Aku hampir tidak pernah lagi tertawa seperti ini. Aku tidak tahu selama ini Merry mempunyai sisi seperti ini. Tawaku tidak tertahankan. Merry pun juga ikut menertawai tawaku yang idiot ini. 

Aku memeluk Merry sekali lagi. Sisa tawa masih tidak menghilang saat itu juga. Aku berkata, "Terima kasih untuk kepedulianmu pada makhluk yang tak berguna ini." Saat itu, setelah kulepaskan dekapan pelukanku, aku mengecup dahinya. Bukan sebagai tanda cinta. Tapi sebagai bakti persahabatan. 

"Sama-sama manusia idiot." Tawa pun lepas sekali lagi bersamaan dengan berhentinya hujan.


*********


Kami sudah sampai di sebuah supermarket ternama di kota ini. Selama perjalanan, Merry tidak mau membiarkanku mengemudikan mobilnya. Katanya, "Aku tidak ingin di supiri oleh manusia yang kondisi kejiwaannya tak jelas." Sial kataku. Ucapan Merry memang ada benarnya. Tidak lucu kalau aku membiarkan kegilaan yang ada pada diri ini mencuat, pada saat aku mengemudikan mobil Merry. 

Kami berbelanja cukup banyak. Satu troli dan satu keranjang hanya untuk keperluan rumahku. Berisikan bahan makanan, peralatan rumah, serta barang-barang tak penting lainnya. Uangku mengendap cukup banyak, karena aku jarang sekali berbelanja. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan tanpa Merry. Bersyukur sebesar-besarnya atas makhluk ciptaan Tuhan satu ini.

Setelah agenda kami yang cukup melelahkan. Kami menyinggahi sebuah taman terdekat dari supermarket. Taman ini dihiasi dengan banyak pohon cemara yang mengitarinya. Air mancur yang tepat berada di tengah taman. Genangan air yang belum surut. Dan cahaya matahari yang menyiapkan diri untuk bersinar kembali.

Tak banyak pengunjung yang berada di taman itu. Mungkin karena hujan yang baru saja mengguyur. Hanya ada tiga orang anak kecil yang bermain gembira di atas ayunan, serta pasangan senja yang menikmati masanya. 

Pasangan senja ini tidak melakukan banyak hal. Hanya mengamati sekitar, serta membicarakan sesuatu. Aku bisa menebak kalau mereka sedang mengulang kembali kenangan-kenangan bagaimana mereka bertemu. Menceritakan kenapa dia memilih satu sama lain sebagai teman hidup. Begitu romantis senja hari ini.

Kami berdua memilih bangku tak jauh dari tiga orang anak yang sedang bergembira itu. Tiba-tiba Merry memecahkan keheningan,

"Hiduplah sebagaimana mestinya Deryl. Aku tahu kamu lebih suka untuk berada di masa itu. Jangan sampai itu semua menjadikanmu seorang manusia masa lalu. Yang tidak tahu bagaimana cara untuk hidup saat ini."

Aku tidak tahu angin apa yang membuat Merry berbicara seperti ini. Tapi dia seperti pembaca pikiran yang jitu. Satu-satunya orang yang bisa memasuki blackhole, dan keluar dengan selamat. Itulah Merry.

Aku tanggapi drama Merry kali ini,

"Untuk apa manusia tinggal saat ini? Kalau nyatanya mereka punya masa lalu yang lebih baik dari pada kehidupan yang sekarang
—"

"Aku mengerti maksudmu. Tapi bukan itu yang aku maksud Deryl." Sela Merry sigap.

"kau tahu Merry? Tidak ada kepastian yang ada di dunia ini. Berjuta-juta langkahmu tidak akan membimbingmu pada satu kepastian. Bermilyar-milyar pengetahuanmu, tidak akan pernah membimbingmu pada kepastian, satu centimeter pun. Kau tahu apa yang pasti?"

"Perpisahan." Jawaban cerdas dari Merry terlontar. 

"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menemukan jawabannya. Tapi, itu jawaban yang tepat. Walau dengan orang tua sekalipun, perpisahan selalu ada bukan?" Jelasku.

"Apa tidak ada lagi hal pasti yang bisa kau percayai selain perpisahan?" Wajah Merry menunjukan keseriusannya. 

"Ada."

"Sungguh? Aku ingin tahu apa yang pasti di dunia ini selain perpisahan. Aku ingin mendengar jawaban gilamu lebih jauh." Keseriusannya mulai memudar. Udara pekat yang sedari tadi mengitari sekeliling kami perlahan menguap.

"Tentu saja." Nadaku dengan memancing rasa penasaran Merry.

"Jangan membiarkan aku menunggu Deryl. Kau akan tahu apa akibatnya." Gertak sambal mulai diluncurkan.

"Tetapi aku tidak yakin kau akan menyetujui jawabanku atau tidak."

"Katakan saja padaku Deryl!" Teriak lantang Merry menghujam. 

Seketika Merry membuat kami menjadi sorot pandang. Anak-anak yang sedang bermain langsung terkejut seketika. Gelengan pasangan senja yang mengira kami sepasang kekasih yang tolol untuk menjalani hubungan. Serta pejalan kaki yang mendadak menorehkan kepalanya pada sumber suara.

"Tidak bisakah kau tenang? Hari ini kau sungguh berisik. Apa kau sedang datang bulan?" Candaku dibarengi dengan seulas senyum. Merry dengan senantiasa membalas dengan pukulan ringan yang di daratkan pada bahuku yang rapuh.

"Aduh." Erangku

"Tidakkah kau dengar bunyi tersebut? Bahuku retak." 

"Tidak lucu Deryl." Aku Merry dengan wajah super terlipat-lipat.

"Hal yang pasti di dunia ini selain perpisahan adalah..."

Merry mulai berjalan menjauh mendekati anak-anak yang bermain. Diambilnya segenggam pasir yang berada tepat di samping ayunan anak-anak.

Dia mulai melemparkan pasir tersebut ke arah tubuhku. Berusaha menghentikan hujatan pasir yang bertubi-tubi dengan meminta Merry untuk segera berhenti sembari menutupi wajahku agar tidak kemasukan pasir tersebut.

"Baiklah-baiklah."

"Hal tersebut adalah persahabatan... Adalah persahabatan... Persahabatan aku dan kamu." Jawabku dengan bersusah payah agar benda itu tidak masuk ke dalam mulutku.

Hujatan pasir berhenti. Kita saling memandangi satu sama lain. Mata kami menampilkan cahayanya masing-masing. Angin berhenti berhembus. Sedangkan kami masih menjadi bahan tontonan dari mata-mata yang berusaha tidak peduli itu.

Tiba-tiba Merry membalikan badannya. Mendekatkan langkahnya menuju tiga orang anak yang sedang bermain gembira. Apa yang sedang ia lakukan? Tiga anak tersebut mengangguk senang dengan ucapan yang dikatakan oleh Merry. Ketiga anak tersebut beserta Merry mengambil segenggam Pasir. 

Pertama mereka berempat bermain begitu saja. Membiarkan aku duduk sendirian disini. Dengan butiran pasir yang menemani. Aku biarkan saja mereka menikmati dunianya sendiri. Demi menghilangkan rasa bosan, aku mengambil handphoneku. Lalu kusetel musik yang sudah kutancapkan earphone. 

"Untuk sekarang, setidaknya aku bisa menikmati angin berhembus di dunia luar. Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini. Terimakasih untuk kesempatan yang kau berikan Merry," gumamku lirih dari dasar hati.

Tiba-tiba...

Hujatan pasir datang kembali. Kali ini tidak hanya Merry yang melemparkan gumpalan pasir tersebut, ketiga anak tadi juga ikut melemparkannya.

"Dengar ya adik-adik, persahabatan adalah yang pasti di dunia ini. Jika kalian ingin mempertahankan persahabatan kalian, lakukanlah hal seperti ini pada sahabat kalian. Mengerti?" Ocehan Merry yang tidak masuk akal. Tapi kalimat tersebut di iyakan dengan mudah oleh anak-anak.

"Jadi ini sahabat kakak? Apa dia berharga untuk hidup kakak?" Ucapan tak terduga dari salah seorang anak kecil memberikan keheningan. Begitu polosnya mempertanyakan kehidupan berharga.

"Begitu berharga sampai kakak bisa melihat isi kepalanya." Jawab Merry dengan lugas. Tidak dan tanpa keraguan.

Aku melihat kedua butir mata cokelat itu. Tidak. Mereka tidak mengancam untuk menjatuhkan air mata. Tapi yang aku lihat saat ini adalah permata. Yang membuat mata Merry menjadi mengkilap serta berkemilau. 

Tiba-tiba hujan mengguyur kembali. Anak-anak serta pasangan senja berlalu lalang mencari tempat perlindungan. Sedangkan aku masih duduk di bangku dan Merry berdiri di depanku.

Kali ini aku tidak bisa membaca matanya. Matanya terlihat sayu. Tidak bisa kubedakan lagi apakah permata atau air mata yang mengalir membanjiri wajahnya. Hujan yang tidak tahu diri menghapus keindahan itu semua.

"Kau tahu Deryl? Biarpun hujan pernah membawa orang kesayanganmu pergi. Mereka akan kembali lagi. Menetes jatuh. Tepat di telapak tangan kita yang tergenggam erat. Kau pasti bertanya bagaimana. Kau tidak perlu mencari jawabannya. Dan kau tidak perlu jatuh dari langit untuk menemukannya. Karena orang yang kau sayangi layak untuk kembali pada dirimu seorang."

Kedua sayapku resmi tumbuh kembali. Aku kini tidak takut untuk melihat kebawah, seberapa tinggi pun aku terbang. Karena walapun sayap ini tidak berguna lagi. Merry akan senantiasa merobek sayap kecilnya, dan menemaniku selamanya di atas tanah.

Hujan mulai menerjang lebih kejam. Kami berdua masih pada posisinya. Sahabat menjadi cinta? Aku tidak yakin. Yang aku yakini saat ini, perpisahan tidak berlaku bagi kami.


0 comments:

Post a Comment

 
;