Sunday, January 3, 2016

Secret Admirer

Aku menancapkan pandanganku pada sosok wanita bertubuh mungil, yang tinggi badannya kurang lebih dari pundakku. Dia duduk sendirian, termenung sambil memandangi acara yang sedang berlangsung. Pada saat itu kami berada di sebuah event yang diadakan oleh himpunan mahasiswa kampus. Aku menjadi panitia, sedangkan ia seorang alumni himpunan mahasiswa tersebut.

Selalu ku sempatkan mata ini untuk memandang keelokan wajahnya yang entah bagaimana sangat sulit untuk dijelaskan. Sebenarnya aku sudah lama menjadi pengagum rahasia wanita itu. Aku tidak tahu apa yang membuat dirinya yang selalu saja membuat rasa penasaran dalam benak ini. Sosoknya yang pendiam dan tidak banyak bicara. Penampilan yang selalu menunjukkan kecerdasannya. Suaranya yang lemah namun tegas. Dan yang pasti, kepiawaian pribadinya yang mendamba.

Tahu-tahu aku sudah menjadi pemuja rahasia. Ia pasti tidak tahu, ada dua mata yang selalu mengawasinya. Dan tahu-tahu juga aku sudah mencari segala informasi tentang dirinya diam-diam. Sebut saja aku seorang kriminal. 

Walaupun belum banyak informasi yang aku punya saat ini, tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk terus menggali seluk beluk tentang dirinya. Kapanpun dan dimanapun, menyempatkan diri untuk membedah cara-cara agar mendapatkan apa yang ku inginkan.

Tidak. Aku tidak sedang menguntitnya. Aku tahu batasan. Tapi aku tidak terkendali dengan hausnya cerita akan dirinya. 

Dia sendirian. Dalam arti status hubungan. Namun aku tidak sendirian untuk soal mengejarnya. Aku bukan laki-laki yang bisa frontal dihadapan wanita yang kukagumi. Sosok mulia yang sebisa mungkin akan terus kujaga layaknya harta karun kehidupan. 

Sadar bahwa aku bukan lelaki yang pantas untuk berada di sampingnya. Tapi aku tidak akan kalah soal mencintai.

Cinta diam-diam sudah menjadi ciri khasku. Tidak pernah kusampaikan. Selalu terpendam. Lalu jatuh sendirian. Sedih.

Tidak menyangkal betapa pengecutnya diri ini. Pengecut yang selalu berada di balik senyuman indahnya. Aku cukup bangga dengan sebutan itu. 

Setidaknya dengan manjadi pemuja rahasia, aku tidak merusak kesucian dan kemuliaannya.

Sehari sebelum lahirnya hari baru di tahun 2016, aku memberanikan diri untuk menghubunginya dengan sosmed. Berawal dari temanku yang memaksa untuk mengirimkan pesan padanya. Yang ternyata direspon cukup baik olehnya. Bahagia sungguh. Akhir percakapan aku tutup dengan mengucapkan kalimat "happy new year," padanya. Tepat pukul 00.00

Hari-hari berikutnya aku tidak punya keberanian lagi untuk bertukar pesan. Dengan sosok hina ini aku takut menganggu dirinya. Takut kalau jika kita bertemu nanti, tidak ada suara yang terucap dari bibir kami masing-masing. Aku lebih memilih untuk melihatnya dari kejauhan. Dari pada harus melihatnya memusuhiku dan berjalan menjauh.

Aku puas dengan keadaan saat ini.

Apa tidak apa-apa kalau hati ini sedikit berharap? Walaupun nantinya asa ini nantinya tak tergenggam. Walaupun ia tidak tahu betapa aku mengenal dirinya lebih dari siapapun. Walaupun usaha ku akan senantiasa pupus.

Aku akan selalu menjadi penggemar rahasiamu kak...


0 comments:

Post a Comment

 
;