Aku menginjaknya lagi. Tanah ini. Dimana semua berawal dan terpaksa diakhiri. Bijak maupun tercela.
Wahai Kota Pahit. Buatmu yang selalu bergelimang kemewahan, mengapa tidak kau tambal lubang kemiskinan hati yang semakin lama dan setiap hari mulai menunjukkan sifat parasitnya. Menggerogoti setiap inci keindahanmu. Menciptakan bau kaos kaki busuk dimana-mana. Menyelubungi dirimu dengan kabut-kabut yang dicintai para pendosa.
Hai Kota Pahit, tidak cukupkah memori gelap ini kau sanggah di raga?
Pintu maksiat yang selalu terbuka menjulur liar keluar tak bermakna.
Biarlah itu semua menjadi misteri yang entah kemana..
Mataku terbelalak, seraya mengumpulkan jiwa-jiwa yang terpencar luas di alam mimpi. Selimut yang kupakai saat ini tak kuasa menghadapi suhu. Membuat badan ini selalu terpaku. Surga ini ternyata tidak jauh berubah. Ku tinggalkan dengan rindang, dan aku kembali seperti rendang.
Masih menjadi tempat pembuangan sampah barang-barang manusia. Aku tidak peduli akan itu semua. Surgaku yang sesungguhnya tidak akan rusak hanya dengan satu ton sampah menyelimuti. Kedua mataku memperhatikan setiap sudut. Terkaget. Ada satu benda, yang menyita perhatian. Sebuah karikatur dua orang manusia, pangeran dan putri, terpenjara di dalam sebuah pigura hitam tak tersentuh. Tidak ada tangan-tangan jahil yang berani menyentuhnya. Pangeran dan putri itu tampak bahagia. Begitupun sampai sekarang. Walaupun hanya pangeran yang merasakan.
Kota Pahit. Tempat terjadi segalanya. Dan diakhiri dengan paksa. Hari-hari telah berlalu sejak aku tiba. Hari-hari juga telah berlalu dengan cara yang membosankan. Kenapa dua tempat yang selalu aku huni selalu menjadi penjara. Aku heran. Aku tak merasa hidup, baik di sini maupun di sana. Semua situasi memperlakukan diriku sebagai budak yang tak punya kuasa dan di jatuhkan hukuman penjara selamanya, atas kesalahan yang sama sekali entah.
Aku berusaha menyampaikan semampuku. Tetapi seperti ada tembok besar yang menghalangi ucapanku. Aku korek tembok itu dalam-dalam, yang sekiranya hanya berdiameter 10 cm, dan kutuliskan kalimat ini. Apapun yang kukatakan, apapun yang kulakukan, berjuta-juta yang kuberikan. Suara hatiku tidak akan sampai di puncak tertingginya. Mungkin aku harus lebih banyak belajar dengan pahit.
Pertapa-pertapa itu semua tidak ada yang aku kenal. Tidak dari mereka semua hidup dengan selayaknya. Mendramatisir keadaan harmoni menjadi tragedi. Aku meratap. Apakah di saat senja nanti, aku akan seperti mereka? Hidup hanyalah mendapatkan apa yang diinginkan. Atau hidup karena "aku" hidup?
Tunggu dulu, semenjak disini sekalipun tidak ada waktu nyata untuk bermakna. Lembaran kertas yang ter-cover rapi, menjadi pelarian waktuku. Penghibur disaat terhina. Peredam api kebosanan yang tercipta. Serta pembersih kotoran yang menggumpal di dada.
Tahu-tahu malam sudah berganti malam. Sadarku tidak bisa membedakannya. Jauh-jauh aku ingin menikmati keindahan. Tetapi yang kudapat hanyalah hinaan.
Oh waktuku yang berharga, sudah berapa kali kau disia-siakan oleh kota ini?
Jika saja hidup semudah merakit kopi, mungkin tak tercipta tragedi.
Apalah hidup hanya untuk menciptakan alibi.
Yang selalu tersembunyi rapi.
Di balik matahari yang tak menyinari.
Seperti duka yang berusaha lari.
Tanpa tahu kalau ia sudah mati.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment