Tanpa didasari apapun, waktu melongsorkan segalanya. Dia tidak bekerja sebagaimana mestinya, tetapi ia menjanjikan sesuatu yang pasti. Tanpa sadar aku sudah melupakan semuanya.
Ini bukanlah hari yang spesial, bukan juga hari yang biasa-biasa saja. Tapi hanya saja, ini hari yang aku tunggu-tunggu. Dimana semuanya menjadi 'cukup' untuk menikmati kehidupan.
Love is a beautiful pain, right?
Aku tidak terlalu yakin. Tetapi sejak kapan manusia mempunyai labelnya masing-masing? Doktrin ini sudah menjadi parasit bagiku untuk menjalin sebuah relasi. Seakan-akan ada tembok yang membatasi pergaulan manusia.
Wanita itu memberiku senyuman, yang ntah mengapa itu adalah sesuatu yang aku cari-cari selama ini. Rasanya ada satu tujuan yang tercapai dalam hidupku.
Hanya saja aku merasa bahwa ia memiliki 'tembok' yang menjulang begitu tinggnya, yang rasanya tidak mungkin untuk aku capai. Perbedaan kualitas manusia berlaku bagi kami berdua. Aku bahagia hanya dengan memandanginya dari kejauhan. Tetapi saat kita saling mengobrol satu sama lain, aku merasa sosok hina ini tidak pantas untuk mendapatkannya.
Aku selalu melihat ke cermin. Bukan berarti aku mencintai diriku sendiri. Tapi apakah dengan sosok ini aku bisa mendapat tempat di realita?
Rasanya aku ingin membiarkan semuanya dengan apa adanya. Dimana aku hanya bisa menjadi pendengar, dimana aku hanya menjadi sebuah penengah, semua mata tidak ada yang memperhatikanku, tidak ada yang peduli bahwa aku ada atau tidak, dan membiarkan eksistensiku lenyap tanpa jejak. Aku tidak masalah dengan itu semua.
Aku adalah sosok abu-abu dimana aku bisa menjalani dua sisi kehidupan, hitam dan putih. Bukannya warna abu-abu adalah warna yang mencerminkan seseorang yang kesepian bukan?
Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berharap sedikitpun pada kehidupan. Yang terjadi, terjadilah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment