Sabtu dini hari kemarin pukul 02.30 WIB aku dan temanku Rio berangkat menuju Magelang. Lebih tepatnya kami berdua akan pergi menuju Punthuk Setumbu, salah satu destinasi wisata di daerah Magelang yang mempunyai objek wisata sunrise. Sebenarnya pada Kamis malam aku sudah merencanakan akan pergi sendirian ke tempat itu dan berangkat pada Jum'at dini hari. Tapi saat itu aku keasikan bermain game di komputerku lalu tanpa sadar matahari sudah menyambut masuk dari lubang ventilasi.
Sayang sekali aku batal berkencan dengan diriku sendiri, maafkan aku diriku.
Aku rasa berjalan jauh hanya dengan seorang diri akan mengajarkanku tentang arti-arti yang belum dapat kutemukan sampai saat ini. Bukan ingin untuk melebih-lebihkan, tapi nyatanya begitu. Dalam hidupmu, segala sesuatunya tergantung pada dirimu sendiri, dan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering kali menggelintir di otak manusia, kamu sendiri yang harus mencarinya, entah dengan cara bagaimana.
Dalam kurun waktu 24 jam, bisa sampai setengahnya aku menghabiskan waktuku dengan diriku sendiri. Tiap hari selalu begitu, waktuku bersama diriku sendiri lebih banyak ketimbang waktuku untuk pekerjaan sosial di luar sana. Hal-hal yang biasa aku lakukan saat sendirian pun tidak sepenuhnya berkesan, terkadang malah tidak berguna sama sekali. Dan dari sekian lamanya aku hidup, aku tidak mengenali siapa yang ada di dalam tubuh ini dan apa maunya. Itulah permasalahanku.
Kita kembali lagi ke topik awal.
Aku hanya membawa sedikit barang ketika hendak pergi, karena memang nggak ingin repot-repot, apalagi jarak tempuh ke sana tidak terlalu jauh. Berbekal sebuah tas, kamera, tripod, dan uang lima puluh ribu, kami pun meluncur.
Seperti yang sudah diduga ketika berpergian dini hari, jalanan luar biasa lengang. Lampu jalan yang remang dan redup itu terasa terang sekali. Aku tidak tahu kalau jalan yang sebesar itu, yang selalu diramaikan oleh bus serta kendaraan besar lainnya, terlihat begitu romantis jika lengang begini. Pas rasanya jika yang duduk di kursi belakang motormu saat itu adalah kekasihmu. Berdua di jalan yang sepi sunyi, saling menghangatkan satu sama lain di tengah dinginnya angin malam, diiringi suara klakson bus yang nyaring, serta diterangi sayup-sayup lampu jalan, sungguh nuansa yang tak terganti pikirku. Sayang, yang ada di belakangku saat itu adalah seorang pria.
Kalau tidak salah kami tiba pukul empat kurang sepuluh menit, tidak sulit untuk mencari tempatnya, akses jalannya pun cukup mudah. Loket tiket belum dibuka sampai benar-benar pukul empat tepat. Aku melihat sekeliling dan ternyata hanya ada sekitar dua puluh orang termasuk kami. Sengaja aku memarkir diriku di depan gerbang loket agar dilayani lebih dulu. Ketika sudah memegang tiket masuk, aku bergegas mengajak Rio agar segera masuk, karena aku ingin mempunyai waktu lebih untuk memilih spot mana yang menurutku paling tepat. Dan kami berdua adalah orang yang pertama kali masuk pada saat itu.
Layaknya dataran tinggi, kami harus berkorban tenaga untuk bisa mencapai puncak. Aku sempat bertanya kepada penjaga parkir motor, katanya jarak antara pintu masuk sampai puncak adalah 300 meter. Bentuk medan tanahnya tidak terlalu curam, apalagi sepanjang jalannya sudah dibuatkan tangga, mempermudah sekali untuk manusia-manusia macam aku. Setelah setengah perjalanan berlangsung, aku memaksa berhenti untuk istirahat. Walaupun medannya mudah, tetapi aku hanyalah seorang manusia dengan stamina super cetek, jadi mohon dimaklumi. Dua menit kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi.
Sampai di puncak, yang ada hanyalah gelap gulita. Rasanya mustahil untuk melihat spot mana yang terbaik. Aku jadi tidak tahu garis yang sejajar dengan matahari terbit.
Sambutan yang akan kalian dapat ketika sampai di puncak.
Satu-satunya pemandangan yang indah yang kudapat di kegelapan itu adalah gemerlap cahaya yang nggak kalah bagusnya dengan pemandangan Bukit Bintang pada malam hari. Dengan bermodalkan insting amatirku, aku mulai mencari spot lalu mendirikan tripod untuk mencoba mengambil beberapa gambar.
Keletihan perjalanan 300 meter itu sekejap langsung lenyap ketika disuguhkan pemandangan seperti itu.
Kemudian hal berikutnya yang kulakukan adalah membeli kopi. Jangan khawatir haus atau lapar, di sana terdapat warung kecil yang menyediakan minuman dan juga pop mie, lumayan untuk mengganjal matamu dari kantuk dan jeritan perut.
Selanjutnya yang kami lakukan hanyalah menikmati suasana yang ada.
Selama beberapa saat kami sempat tidak melihat matahari yang harusnya sudah beranjak naik, akibat kabut yang begitu tebalnya. Terlihat sekali bagaimana malunya cahaya matahari untuk menampakkan dirinya. Aku dan Rio serta pengunjung lainnya mulai menampakkan raut wajah sedikit kecewa, beberapa sudah meninggalkan posisinya dan memilih untuk duduk saja. Karena tak mau usahaku sia-sia, aku masih mantap menunggu dengan posisi yang tak bergeser satu milimeter pun, sembari ditemani pasangan asing yang sedang asik berciuman tepat di sampingku.
Penantianku mulai menghasilkan sesuatu, dan pasangan asing itu sudah tak lagi menempelkan bibirnya satu sama lain. Kabut yang tadinya menutupi segala pengelihatan kian memudar. Walaupun tidak sepenuhnya memudar, setidaknya cahaya matahari masih bisa membelah itu semua demi menyapa kami semua. Ketika matahari sudah mulai menampakan dirinya, gemerlap cahaya malam yang baru saja kita lihat sudah digusur oleh lebatnya kabut.
Aku bagai berada di atas awan.
Rasanya saat itu aku sedang menjadi predator yang berdiri agung di puncak rantai makanan. Akulah yang tertinggi dari yang tertinggi. Walaupun hanya imajinasiku saja, tapi perasaan itu sungguh mengagumkan sekali!



Kalau kalian perhatikan lagi, dari puncak Punthuk Setumbu kalian bisa melihat Candi Borobudur dari tempat itu. Dan kini matahari sudah bersinar penuh, tidak ada lagi kabut yang mengganggu pekerjaannya. Potret-potret inilah yang menjadi klimaks-ku menikmati matahari terbit. Semoga kalian bisa ikut menikmatinya.
Puas rasanya jikalau sudah memiliki apa yang kita inginkan. Perjalananku di sini ternyata tidak sia-sia. Cuaca pun tampaknya sedang berpihak kepadaku hari itu. Tidak ada hambatan-hambatan yang berarti selama proses. Senang sekali rasanya berpergian seperti ini. Jujur saja, walaupun dari kecil aku tinggal di daerah penuh kawasan wisata, bahkan menjadi salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia, jarang sekali aku bisa menikmati wisata-wisata itu seperti kali ini. Aku tidak tahu alasannya, mungkin niatku yang menjadi pembeda.
Setelah matahari mulai meninggi, hal yang kami berikutnya adalah mengambil potret diri masing-masing untuk kenang-kenangan, tak lengkap rasanya jika tidak melakukannya.
Kalau tidak salah saat itu waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB, aku sudah kehabisan objek gambar. Sinar matahari sudah sepenuhnya menyeruak. Seketika itu Rio menyarankanku untuk mengambil gambar seorang kakek tua yang sedang duduk di gubuk sambil menghisap rokoknya. Mungkin kakek tua itu yang membersihkan tempat ini dari rumput liar, karena ia juga memegang sebuah arit di tangannya.
Tak perlu pikir panjang, aku pun menyetujui gagasan itu. Perlahan aku menghampiri kakek tersebut, seolah-olah aku sedang kebingungan mencari objek gambar. Aku berhenti tepat di depannya, dan langsung mengambil posisi sedikit jongkok.
Awalnya si kakek tidak sadar bahwa ada sebuah mata kamera yang sedang menghunuskan pandangan tepat kepada dirinya. Lalu tak lama kemudian kakek itu mulai melirikku. Mungkin dia sudah mulai merasakan risih melihat ada orang yang senantiasa setengah jongkok dengan begitu lama di depannya. Karena tak mau kelihatan seperti penguntit yang mengambil gambar orang secara diam-diam, aku pun terpaksa sedikit ber-akting (padahal kenyataanya memang penguntit).
Saat matanya mulai bertatapan langsung pada mata kameraku, aku langsung mengalihkan pandangan dan berpura-pura seolah sedang mengambil gambar yang ada di sekitarnya. Entah itu tanah, semut, ranting pohon, kentut orang, aku hanya menjepret asal, apapun itu asal bisa menutupi niatku untuk mengambil gambar dirinya.
Ketika ia mulai beranjak dari tempat duduknya, memilih untuk berdiri menyandar di pagar pembatas, diam-diam aku juga mengikutinya. Sepertinya aku punya bakat untuk menjadi penguntit, kenapa tidak ku sadari dari dulu? Hahaha
Dan beginilah hasilnya, baa dumm tsss!
Dan yang terakhir, saat perjalanan turun ke bawah, aku melihat pemandangan yang lumayan membuat eyegasm. Sungguh, tempat ini tak henti-hentinya memanjakan mata.
Itulah beberapa kenangan yang dapat aku bagikan mengenai perjalanan kali ini. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sini, udaranya sejuk. Tapi karena kami harus pulang untuk ikut meramaikan wisuda kakak-kakak alumni himpunan kami di kampus, aku pun mengikhlaskannya untuk pergi.
Aku tidak tahu angin akan menggiring kakiku ke mana lagi. Semoga saja aku bisa singgah lagi ke tempat-tempat seperti ini lagi. Semoga.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact