Well, sudah lama aku nggak menulis diary, terakhir rasanya sudah dua minggu lebih yang lalu sejak terakhir aku mem-posting tulisanku. Rasanya seperti punya sesuatu yang tertinggal entah di mana ketika tidak menulis blog. Seakan-akan aku memiliki hutang yang harus segera dibayar. Padahal aku sendiri juga bingung, apa yang ingin aku tuliskan di dalam diary ini. dan mengapa aku harus merasa sebegitu bersalahnya jika tidak menulis? Ah, entahlah.
Baru-baru ini aku membuat blog baru. Alasannya sederhana saja, karena blog yang baru saja aku buat, dikhususkan hanya untuk menceritakan kenangan yang terjadi di dalam mata kameraku saja. Aku pikir tidak apa untuk menjadikannya satu di dalam sini, namun aku berubah pikiran. Blog ini sudah terlalu penuh dengan cuitan hati maupun pikiran yang tidak penting namun tetap aku sampaikan. Maka aku ingin membiarkan blog ini tetap sebagaimana mestinya. Walaupun isinya bisa saja aku hapus dan mengaturnya ulang, tetapi aku memilih untuk tidak melakukannya.
Kalian mungkin bisa mengunjungi blog baru ku di sini, jika kalian memang ingin membuang waktu kalian dengan sia-sia, aku menyambutnya dengan teramat senang.
Banyak kejadian yang sudah terjadi di sekitarku belakangan ini, dari yang berguna sampai yang super duper nggak penting. Tapi aku tidak akan membahasnya, karena aku lupa. After all, im just a normal human, sorry about that.
Tiga hari lagi, tepatnya hari Selasa, umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Nyepi. Sebagaimana yang kita tahu, pada hari itu bali akan terasa sunyi sekali. Kalian bisa melihat betapa lengangnya jalan aspal di depan rumahmu, hilangnya suara bising kendaraan bermotor, burung-burung bebas menyapa satu sama lain, saat relaksasi yang paling pas, tidurmu bisa 10x lipat lebih nyaman dari biasanya, dan orang non Hindu pun diwajibkan juga mentaati peraturan yang berlaku. Itulah sedikit dari banyaknya keistimewaan Hari Raya Nyepi.
Dari banyak hal yang istimewa tentang Nyepi, ada satu hal yang paling aku tunggu jika hari itu tiba. Yaitu malam hari.
Ketika Matahari digantikan oleh Bulan, ada sesuatu yang menakjubkan terjadi di langit Bali saat itu. Bintang-bintang tanpa ragunya bertebaran di angkasa. Tak perlu repot-repot menyediakan teleskop, mata telanjang pun lebih dari cukup untuk melihat keindahannya.
Terakhir aku melihatnya, bintang-bintang yang bertaburan itu mirip sekali dengan Bima Sakti. Aku bagaikan berada di luar angkasa, berandaku adalah kokpit pesawatku, dan rumahku adalah kursi penumpangnya. Kalian mungkin tidak memahaminya, tapi sungguh, satu kata yang akan terlontar dari bibirmu hanyalah satu, yaitu "indah", aku berani menjaminnya. Jujur, aku mengagumi keindahan malam saat Hari Raya Nyepi.
Aku sangat bingung bagaimana menggambarkannya. Indah, indah, indah, hanya itu yang aku ucapkan berulang-ulang di dalam hati.
Segelas teh lalu diantarkan oleh ibuku. Tak ingin rasanya aku cepat-cepat menghabiskan minuman yang berada di dalam cangkir itu. Aku memilih untuk menyeruputnya sediki demi sedikit, agar dapat menemaniku melihat keindahan tersebut sedikit lebih lama.
Bedanya ketika aku melihat wajahmu, aku tidak perlu teh, dan aku tidak perlu lama-lama untuk menunggu malam Nyepi tiba.


0 comments:
Post a Comment