Thursday, October 6, 2016

Diary October 6, 2016

Ku tulis catatan ini pada pukul dua dini hari, ketika saat-saat di mana perut mendapati dirinya kelaparan tengah malam, dan mata tak kunjung padam berkobar. Hujan mengiriku sembari angin semilir masuk melalui lubang ventilasi kecil yang terdapat di pojok ruangan. Dengan menggunakan boxer yang sejak SMP ku beli dan masih tetap ku gunakan, beserta sehelai singlet yang melapisi tubuh, tak ubahnya membuat ruangan ini menjadi sejuk. Panas tetap mengudara tampaknya.

Sampai saat ini, aku menulis blog hanya saat "ingin" itu tiba. Baik secara spontan maupun terencana. Apapun isi di dalamnya, tak lebih dari sekadar omong kosongku belaka. Bukan berarti kosong dalam arti sesungguhnya, namun hanya sontakan liar yang mencuat ketika tak terbendung lagi untuk ditahan. Tak ada keterkaitannya pada suatu medium. Sejenak aku juga terheran dan tersindir sendiri dengan apa yang aku tulis, namun apapun itu ketika saat aku membacanya kembali, senyum tipis tersungging dari bibirku.

Tak hanya foto yang dapat diabadikan dan tak hanya bahasa musik yang universal. Celotehan perasaan pada suatu masa tentang keindahan serta kesedihan tak kalah ingin untuk bersaing di bidang kekekalan. Bagiku yang tidak mempunyai banyak ruang untuk bercerita, blog menjadi suatu sahabat tersendiri yang membebaskanku untuk berbicara sesuka hati. Di mana segala pembacanya hanya sebuah patung bagiku, tak bicara, tak berjiwa. Walaupun sembilan puluh persen yang membaca tulisan ini hanya diriku seorang, tapi masih ada beberapa orang yang mungkin tidak punya kehidupan dan pekerjaan lain di luar sana, sampai-sampai mesti mengeluarkan waktunya sia-sia hanya untuk membaca blog pecundang ini. Poor you dude.

Siapapun kalian pembaca blog ini, jangan pernah mengatakan bahwa kalian adalah pembaca blog-ku tepat di depan wajahku. Just don't!

Setelah setahun menimba ilmu di kampus ini, di awal semester tiga, aku merasa banyak perubahan yang terjadi. Dari bagaimana aku bertingkah laku, tantangan kehidupan kuliah yang semakin menjadi, bertambahnya nama pada daftar buku teman ku, pengeluaran yang semakin tak beraturan, ketentraman berimajinasi di kamar semakin sulit didapatkan, keseruan bersama anggota organisasi, masalah yang tak kunjung padam, serta patah hati.


Banyak hal yang sulit aku sebutkan satu persatu. Soal patah hati, itu bukan karena aku sedang jatuh cinta, lalu harapanku pupus tak bersinar. Kata 'patah hati' itu kalau menurutku adalah sebuah kata yang pas untuk mendefinisikan sebuah disfungsi. Sampai titik itu ku rasa semuanya sudah paham.

Aku tidak mengikuti aliran apapun maupun ajaran apapun, namun aku percaya adanya reinkarnasi. Entah apa yang bisa membuat pikiranku mempercayainya, tetapi aku pun juga tak mempunyai teori maupun faktanya. Namun kepercayaan tetaplah kepercayaan. Keyakinan insan tercipta melalui unsur-unsur ketakutan dan keindahan otak masing-masing. Melebur menjadi satu dan menjadi pondasi kokoh yang menopang lurus atau tidaknya jalan hidup kita. 

Andai aku besok terlahir kembali, seperti apakah aku di masa nanti? Apapun! Selama aku masih bisa diberikan kesempatan untuk membaca ulang tulisan-tulisanku ini, dan juga me-refresh kembali segala disfungsi-ku.

0 comments:

Post a Comment

 
;