Sekarang aku sedang bernostalgia kembali dengan manga-manga lama yang sudah pernah kubaca sebelumnya. Tak hanya alunan nada yang bisa menyimpan memori, semua hal bisa mengantongi kenangannya masing-masing. Jujur saja, saat aku membacanya, pikiran ini seperti dibawa terbang kembali pada masa itu. Walaupun aku sudah tahu jalan ceritanya akan berjalan seperti apa, namun itu tidak masalah. Membacanya kembali hanya cara sederhanaku untuk bisa merasakan kembali setangkai kenangan yang terlupa.
Kala itu aku memutuskan untuk cuti kuliah selama setahun. Selama cuti kuliah, aku tidak berkeinginan sama sekali untuk pulang ke tempat asal. Aku lebih memilih untuk tinggal di sini sampai libur semester genap dimulai. Dan saat itu juga adalah masa di mana aku baru-baru saja putus dengan pacarku. Kenangan tersebut juga termasuk di dalamnya, ditambah pula hal itu terjadi karena kebodohanku sendiri. Tak ada kata selain 'idiot' untuk mendeskripsikan diriku pada waktu itu.
Andai saja mesin waktu itu nyata, akan kuperbaiki semuanya. Lalu, semenjak itu aku sadar, kehilangan seseorang membuatku lebih menghargai betapa spesialnya waktu seseorang yang telah diberikan kepada kita tiap momennya. Pikirku dulu waktuku dengannya tak terbatas. Namun ternyata tidak.
Tak lama setelah kejadian itu, pola hidupku berubah berantakan. Satu harian ku habiskan mengurung diri di kamar, atau mengajak beberapa teman pergi keluar untuk bermain paket malam di warnet hingga pagi, menonton serial film hingga tamat, membaca manga-manga romance ataupun tragedy, dan melakukan hal apapun itu selama bisa mendistraksi kekacauan jasmani yang tak terlihat tersebut. Perputaran itu terus berjalan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Hingga suatu hari, diri ini tak sanggup lagi melarikan diri dari kenyataan. Tiap gelisah, geram, sedih, takut, cemas, khawatir, dan sesal yang terpendam mendobrak paksa untuk keluar. Pada akhirnya air mataku jatuh. Tak kuasa lagi menahan apa yang seharusnya dikeluarkan. Ku tarik selimut dan mulai membungkus diriku ke dalamnya. Pikiranku melayang entah ke mana. Aku tak bisa melakukan apapun selain menangis. Untuk kedua kalinya aku menangisi dirinya.
Masih dengan mata sembab, dan suara parau, aku mencoba meraih handphone ku. Ku telepon ibuku saat itu. Seperti biasa ibuku selalu cepat mengangkat teleponnya. Saat itu aku mengatakan bahwa aku memutuskan untuk pulang, dan kembali lagi ke Jogja saat liburan semester genap selesai. Ibuku menyetujuinya tanpa bertanya.
Aku terbang ke Bali seminggu kemudian. Di bandara aku dijemput oleh ibuku, beserta keluarga kecil kakak perempuanku. Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat sedikit perubahan terjadi selama aku pergi ke Jogja. Banyaknya kios-kios baru yang mengisi pinggiran jalan yang sebelumnya kosong. Sistem lalu lintas yang mulai banyak diperbaharui. Asrama polisi yang awalnya kumuh menjadi megah. Dan kurang lebih sisanya masih sama.
Selama di sana, aku tidak merasakan ada perbedaan yang terjadi ketika aku masih di Jogja. Pelarianku terasa sia-sia. Kekosongan dalam diri ini makin membentang luas. Segala upaya telah ku lakukan untuk menyingkirkan anomali ini. Termasuk menghindari segala tempat dan hal yang mungkin bisa membangkitkan kenangan. Sesekali aku berpergian dengan kawan lama ke suatu tempat untuk menghilangkan penat. Pernah juga aku mengunjungi sekolahku dulu untuk melihat keadaan adik-adik kelasku yang saat itu menjadi pengurus organisasi siswa, bertanya apakah ada masalah yang terjadi di dalam sekolah atau tidak. Setelah mendengarkan cerita mereka, sungguh menyenangkan bagiku melihat orang-orang yang dulu pernah ada di sekitarku tumbuh dan berkembang begitu pesat. Itu cukup membuatku iri.
Hal yang paling menyebalkan di antara mereka semua adalah, baik teman-temanku maupun adik-adik kelasku yang kutemui pada saat itu, mereka secara serentak mempertanyakan satu pertanyaan yang sama, "Apakah kamu masih sama dia?" Pertanyaan itu perlahan-lahan sedikit menyiksa. Tiap berpapasan seorang kenalan yang tau hubungan kami, mereka selalu melontarkan pertanyaan itu. Ini sedikit tidak adil, kenapa hanya aku yang harus menjawab pertanyaan itu semua. Lalu, ketika ditanya lagi apa alasan kami berpisah, aku hanya menjawab bahwa tujuan kami sudah berbeda. Sesederhana itu.
Aku tidak mempunyai kesibukan pasti di sini. Terkadang aku membantu bisnis orang tuaku jika diperlukan. Setelah itu selesai, aku kembali lagi pada putaran-putaran kehidupan yang monoton itu. Anehnya, semenjak aku putus, aku kini menyukai dan selalu membaca cerita-cerita yang berbau love tragedy, ataupun drama slice of life. Riwayat browserku penuh dengan rekomendasi manga apa saja yang terbaik dan pas untuk dibaca. Awalnya aku tidak terlalu suka membaca komik lewat internet, aku lebih memilih untuk membeli bukunya. Selain lebih nyaman untuk dibaca, buku-buku tersebut bisa mempercantik rak bukuku. Berhubung komik yang sedang ku cari selalu tak tersedia di toko buku, terpaksa aku membacanya lewat internet.
Salah satunya ialah Kimi no Iru Machi, jika diartikan dalam bahasa inggris menjadi A Town Where You Live. Garis besar ceritanya cukup klise, namun alur ceritanya menarik. Tak hanya tokoh utama saja yang berkembang, namun side character-nya pun juga ikut tumbuh di sana. Membuat kita seperti ikut juga mengalami kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya. Kesedihan dan kebahagiaan yang dituangkan sang mangaka berhasil merasuki pembacanya yang satu ini. Fantasiku jatuh berlebihan karenanya. Bagi yang baru saja kehilangan seseorang, membiarkan imajinasi melayang karena cerita seperti ini, sedikit membuatku nyaman. Aku bisa hidup dalam karakter fiktif itu tanpa mengganggu realitas, dan menikmati akhir cerita yang bahagia sesuka hati.
Pada pertengahan februari aku harus kembali lagi ke Jogja untuk mengurus perpindahan ke kampusku yang baru. Memang masih sering aku terngiang-ngiang kenangan masa-masa itu. Tapi aku masih bisa mengatasinya sampai sekarang.
Berbaikan dengan masa lalu ternyata hal yang sulit.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comments:
Mantappp
Post a Comment