Friday, January 27, 2017 0 comments

Diary January 27, 2017 Ready to Create Memories!

Seperti biasa, aku menulis blog hanya kala dini hari. Tidak ada alasan spesifik kenapa bisa begitu, hanya saja mungkin inilah waktu yang nyaman untuk seseorang untuk bercerita. Dimana suara hiruk pikuk manusia sosial tak lagi didengar, hilangnya suara mesin baja beroda yang berderu-deru, dan hanya menyisakan pelukis cerita beserta beberapa pendengarnya. Aku suka itu, apapun ceritanya, kupikir semuanya akan terdengar romantis jika diceritakannya pada dini hari begini.

Sebenarnya aku tidak mempunyai apa-apa untuk diceritakan. Tadinya aku sudah ingin tertidur. Namun di tengah perjalanan, antara alam ini dengan dunia mimpi, jembatan yang aku lalui itu tiba-tiba rontok, alias hancur lebur. Asal kalian tahu, hal yang seperti ini sangat lumrah di kegiatan tidurku. Setelah itu terjadi, otakku tak henti-hentinya mengimajinasikan sesuatu. Ketimbang aku memikirkan yang aneh-aneh, menulis blog rasanya menjadi pilihan yang paling bijak.

Oh iya!

Sabtu kemarin aku resmi mempunyai sebuah kamera! Aku memang sudah lama menginginkan benda ini. Alasannya sih simpel, karena aku ingin mempunyai hardcopy dari semua kenangan yang telah terjadi, dan aku ingin memasukkannya ke dalam lembaran-lembaran frame.

Awalnya sih ibuku menawarkanku untuk membeli handphone baru sesaat setelah aku kembali ke rumah, karena dilihatnya ponsel milikku ini sudah mulai nggak jelas kelakuannya. Di telepon suka sulit, padahal hidupku di Jogja sana bukan di tengah-tengah hutan.

Lalu dengan seketika aku melihat cahaya yang akan mengabulkan impian lama. Berhubung ibuku orangnya pengertian, dengan cepat aku langsung menegosiasikan tawaran ponsel barunya dengan sebuah kamera, alhasil tanpa bersusah payah hal itu terwujud dengan mudahnya. Ibuku memang malaikat.

Sebenarnya aku juga ingin mempunyai handphone baru. Smartphone-ku ini sudah ketinggalan tiga generasi, apalagi operating system-nya sudah nggak bisa diperbarui lagi, nggak bisa digunakan buat meng-upgrade aplikasi terbaru, sering lemot-lemotan juga, kadang sampai nggak bisa dipake buat telepon atau ditelepon orang (Ibuku yang paling sering jadi korbannya), pesan yang dikirim lima menit lalu bisa jadi nyampenya tengah malem, mata kameranya udah mulai rabun, dan masih banyak lagi!

Tetapi, dari sekian banyaknya alasan, mempunyai handphone baru nggak bakal membantuku menghilangkan rasa kesepian, semahal apapun itu. Bukan karena sombong, tapi semua orang bebas mempunyai pendapat masing-masing kan? Yang aku inginkan hanyalah nggak mau melupakan ingatan. Otakku nggak pernah mengingat kebahagian banyak, keseringan kenangan suram yang sering awet di kepala. 

Dengan handphone yang bisa dikatakan sudah butut di zaman ini, aku sedikit mempunyai keramaian tersendiri di dalamnya. Aku bahagia ibuku masih bisa mengisi penuh daftar panggilan telepon masuk, aku senang ketika benda ini menerima pesan dari si Mbak, aku suka sejarah yang dilalui benda ini sejak awal aku membelinya, apapun yang berkaitan dengan memori, kurasa handphone ini lebih banyak menyimpan kenangan-kenangan dibandingkan barang-barang milikku lainnya. 

Cita-cita sejak dua tahun yang lalu kini tercapai sudah. Sekarang aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengenang. Otakku juga nggak perlu terbebani dengan yang namanya mengingat. Tinggal menekan pelatuk dengan komposisi yang pas, krekkk, sebuah kenangan tercipta!

P.S: Sebenernya ini cuitan dari dua hari yang lalu, hanya saja baru malem ini aku upload. Pertama dikarenakan ketiduran pas waktu nulis. Kedua, kelupaan.
Monday, January 23, 2017 0 comments

Diary January 23, 2017 Vague

Hmmmm....
Ini adalah hari kesepuluhku berada di rumah. Setelah enam bulan lamanya ditempa di perantauan, aku dihisap kembali ke tempat semuanya dimulai. Tempat segala permasalahanku berasal dan bermuara. Bersatu padu menyambutku dengan hingar bingar, lalu olehnya dikenakkan mahkota duri di kepalaku sebagai sebuah simbol. Simbol yang mengekang kakiku untuk berlari dari kenyataan.

Aku tidak membenci tempat ini, dulu pernah namun sekarang tidak lagi. Seiring bertambahnya usia, tubuh dan hatiku larut dalam kepasrahan yang harus membuatku menerima segalanya yang sudah terjadi. Dan sekarang aku rasa aku telah bisa menerimanya sebaik yang aku bisa.

Mungkin aku akan berada di sini kurang lebih selama sebulan, dan kira-kira pertengahan bulan Februari aku harus sudah kembali lagi ke Jogja. Kebanyakan hal yang kulakukan di sini dihabiskan untuk membantu orang tuaku menjalankan bisnisnya, sesekali pergi nongkrong dan berlibur dengan kawan lama yang notabene itu-itu aja, sisanya direnggut oleh kasurku tercinta.

Secara mendadak, aku kehilangan alasan untuk memperhatikan hal-hal serta orang yang kupedulikan di Jogja sana ketika berada di sini. Entah apakah tempat ini mempunyai kekuatan mendistraksi, atau tempat ini memang mempunyai ruang isolasi tak terlihat hanya untukku seorang? Aku tidak tahu.

Yang jelas otakku seperti tidak punya waktu untuk memikirkan apapun yang berkaitan dengan kewajiban di Jogja, bahkan rasanya perasaanku juga dibiarkan tertinggal di sana. Sekalipun memikirkannya, bentuknya sekilas seperti angin berhembus. Wusssshhhhh, menghilang begitu saja dan terlupa. 

Sebenarnya aku tidak sibuk-sibuk amat menjalani rutinitas sehari-hari hingga sampai melupakan kehidupanku yang lainnya di sana. Teramat banyak waktu yang bisa kugunakan untuk sekadar menyapa kebahagiaanku yang berada di Jogja sana. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku sendiri heran, apa sebenarnya yang aku pikirkan.

Sekarang pukul satu dini hari waktu setempat. Biasanya aku tak pernah tidur selarut ini. Di sini, perlahan-lahan jam tidurku kembali teratur, walau belum sepenuhnya. Demi menulis blog ini aku rela merusak lagi jam tidurku yang sudah mulai benar. Mataku mulai terkatup-katup tiap menulis bait kata. Beginilah perjuangan seorang manusia yang tidak mempunyai tempat curhat di dunia nyata. Sebelum tidur menghanyutkan kalimat yang ingin diucapkan, baiknya aku tuangkan sekarang juga.

Bohong ding. Sebenarnya mataku masih terang benderang. Ini semuanya gara-gara kopi buatan karyawan ibuku yang menyodorkan secangkir kopi padaku tiba-tiba. Well, biasanya tidak dibuatkan kalau tidak kuminta, tapi hari ini dia membuatkanku kopi begitu saja tanpa alasan yang kongkrit. Tetapi dua kalimat terakhir paragraf di atas memang kenyataan.

Aku selalu meminta kopi dengan sedikit gula, bahkan kadang-kadang tanpa gula. Kopi yang dipakai juga kalau tidak salah jenisnya robusta dan buatan produk lokal.

Panggil saja ia dengan si Mas. Si Mas ini adalah satu-satunya karyawan ibuku yang menjadi langgananku untuk soal membuatkan kopi. Sangat jarang aku meminta karyawan-karyawan lainnya untuk membuatkanku kopi selain dia. Bukan karena kopi buatannya enak, melainkan karena aku malas menjelaskan lagi bentuk kopi bagaimana yang aku inginkan.

Walau rasa kopi buatannya tidak menentu dari agak sedikit pahit, sedikit pahit, lumayan pahit, agak sedikit lumayan pahit, dan pahit, aku tak mempermasalahkannya. Mempertahankan rasa pahit yang sesuai secara terus menerus sama susahnya dengan usaha agar perasaan mencinta itu agar tetap ada. *Apasi

Tapi kali ini kopi buatan si Mas berbeda seratus persen. Kopi yang biasa dibuatkannya berwarna hitam polos, kini berubah menjadi warna cokelat kehitaman. Dilihat saja sudah tercium pahit bagaimana yang menanti. Aromanya seperti sudah siap membunuh rasa kantuk selama tujuh hari tujuh malam. Butuh waktu lama untuk membiarkan ampasnya larut ke dalam dasar cangkir. Aku pikir aku bisa mengatasinya, ternyata aku meremehkannya.

Benar saja, baru sedikit seruputan, kepalaku seperti mendapat tendangan salto tepat di belakang kepala. Hanya sedikit tegukan saja rasanya aku telah membiarkan kafein menghadirkan pesta di otakku. Dan pada akhirnya aku menyerah lalu membiarkan isi cangkir itu setengah tak terminum. Cepatlah berlalu pestamu itu kawan, biarkan manusia biasa ini kembali menikmati mimpi indah.

Ngomong-ngomong soal mimpi, semoga saja kita bertemu lagi di sana. Kasur tercintaku di sini suka menghadirkan mimpi-mimpi random, alias nggak jelas. Aku kepengen ngobrol panjang lebar lagi. Hadir kek gitu sekali-sekali.

Okelah kalau begitu, capek ngetik. Pengen nyoba tidur, siapa tau pesta kafeinnya udah kelar. Selamat malam ya buat yang di sana :)











Eh ini udah dini hari ding.
Sunday, January 1, 2017 0 comments

Diary January 1, 2017 New Year, New Lost

Katakan satu hal tentang bagaimana seorang manusia dapat jatuh cinta?

Beberapa orang menjawabnya dengan mudah. Dan beberapa hanya membiarkan perasaan yang ada hanyalah ada. Semua orang punya alasannya masing-masing mengapa ia memilih untuk jatuh cinta. Bahkan terkadang mereka sendiri tidak tahu bahwa virus itu telah menyebar di dalam dirinya tanpa sempat diketahui. Membiarkan diri mereka perlahan-lahan terhisap oleh kenikmatan yang fana.

Tetapi yang aku alami ini berbeda. Aku dan dia terhubung satu sama lain melalui ruang dan waktu yang berbeda. Tempat yang hanya muncul ketika seharusnya muncul. Tidak setiap hari kita bisa bertemu, hanya jika ia memang berkehendak saja.

Pertemuan kami selalu singkat, tetapi segalanya bermakna. Puas sekali melihatnya dari jarak sedekat ini. Kami bisa bersenda gurau semalam suntuk jika kami mau. Tidak seperti waktu-waktu bahagia pada umumnya. Detik bergulir begitu lambat di sini. Tak terbayang bagaimana gembiranya aku jika bisa memamerkan ini kepada orang-orang. Tetapi sayang, matahari terbit selalu berhasil memaksaku untuk melupakannya. Sial.

Jatuh cinta itu proses misterius. Penjelasan sains mungkin sudah berulang kali menerangkan bahwa jatuh cinta itu salah satu dari human error. Menurutku, apapun itu narasi singkat mengenai proses jatuh cinta, semuanya terdengar absurd. Jatuh cinta itu tidak ada yang masuk akal. Terjadinya pun tidak diduga-duga. Seketika timbul begitu saja.

Kalau masih ada yang berpikir kenapa seseorang bisa jatuh cinta kepada seseorang, mungkin kalian sudah melontarkan satu-satunya pertanyaan tidak berguna se-antero jagat raya. Tidak peduli tempat atau waktu, siapapun bebas menyukai siapa saja. Bahkan seorang gelandangan pun bebas mencintai seorang ratu jika ia mau. Masalahnya adalah berani atau tidaknya dia mengatakannya?

Aku bukanlah orang bijak. Sedikitpun tak pernah aku berpikir demikian. Tapi berbahagialah bagi kalian yang sekarang sedang memendam rasa kepada seseorang. Tidak perlu memaksakan diri untuk mendapatkan segalanya. Biarpun keindahannya bukan kamu yang menuai, itu tak jadi masalah. Karena apapun yang menjadi milik, akan selalu pergi. Akan selalu begitu sampai ia benar-benar menemukan rumah. Yang kalian butuhkan saat ini hanyalah menyiapkan diri menjadi rumah yang ideal baginya, dan selalu menyambut hangat langkah kakinya saat masuk ke dalam pintumu.

Tetapi aku sih tidak akan melakukannya seperti itu.

Sekali lagi aku tegaskan, aku bukanlah orang bijak. Yang aku katakan belum tentu itulah yang aku lakukan. Memangnya menjadi lebih baik demi seekor kutu loncat adalah sebuah perjuangan? Itu sama saja dengan kebodohan. Ketololan agung yang tak bisa diselamatkan lagi.

Debur ombak berdesir kencang. Cahaya remang-remang berkilauan sepanjang tepi. Di atas kepala, bintang-bintang menyapa ramah. Membuat hati merasa di rumah yang tak pernah terjamah.

Begitulah jatuh cinta kurasa.

Rasanya tak perlu banyak memperdebatkan tentang bagaimana mendapatkan seseorang yang terkasih. Apalagi menceritakan perasaan yang tak tersampaikan pada semua orang. Berharap seolah-olah itu bakal meringankannya. Ku pikir tak perlu serepot-repot itu memikirkan nafsu hati.

Semua orang akan kehilangan. Semua orang akan meninggalkan seseorang. Apa yang datang tak akan ragu juga untuk pergi. Mencintai bukan perkara sepele. Semua orang tahu itu. Pertanyaannya adalah, masih pentingkah arti memiliki itu sekarang untukmu?

Sebenarnya aku kesal membahas hal-hal seperti ini. Tetapi otakku terlalu sempit untuk memikirkan hal lain. Khas otakku, membanjiri dirinya sendiri dengan badai yang sudah lama berlalu. 

Andai saja aku bisa meminta pertolongan kepada seseorang untuk menyingkirkan penyakit yang sudah lama berkembang biak ini, kira-kira akankah ada yang sudi menolongku?











Ahhh, tahun sudah berganti cangkang lagi.  Aku kalah untuk kesekian kalinya.

 
;