Seperti biasa, aku menulis blog hanya kala dini hari. Tidak ada alasan spesifik kenapa bisa begitu, hanya saja mungkin inilah waktu yang nyaman untuk seseorang untuk bercerita. Dimana suara hiruk pikuk manusia sosial tak lagi didengar, hilangnya suara mesin baja beroda yang berderu-deru, dan hanya menyisakan pelukis cerita beserta beberapa pendengarnya. Aku suka itu, apapun ceritanya, kupikir semuanya akan terdengar romantis jika diceritakannya pada dini hari begini.
Sebenarnya aku tidak mempunyai apa-apa untuk diceritakan. Tadinya aku sudah ingin tertidur. Namun di tengah perjalanan, antara alam ini dengan dunia mimpi, jembatan yang aku lalui itu tiba-tiba rontok, alias hancur lebur. Asal kalian tahu, hal yang seperti ini sangat lumrah di kegiatan tidurku. Setelah itu terjadi, otakku tak henti-hentinya mengimajinasikan sesuatu. Ketimbang aku memikirkan yang aneh-aneh, menulis blog rasanya menjadi pilihan yang paling bijak.
Oh iya!
Sabtu kemarin aku resmi mempunyai sebuah kamera! Aku memang sudah lama menginginkan benda ini. Alasannya sih simpel, karena aku ingin mempunyai hardcopy dari semua kenangan yang telah terjadi, dan aku ingin memasukkannya ke dalam lembaran-lembaran frame.
Awalnya sih ibuku menawarkanku untuk membeli handphone baru sesaat setelah aku kembali ke rumah, karena dilihatnya ponsel milikku ini sudah mulai nggak jelas kelakuannya. Di telepon suka sulit, padahal hidupku di Jogja sana bukan di tengah-tengah hutan.
Lalu dengan seketika aku melihat cahaya yang akan mengabulkan impian lama. Berhubung ibuku orangnya pengertian, dengan cepat aku langsung menegosiasikan tawaran ponsel barunya dengan sebuah kamera, alhasil tanpa bersusah payah hal itu terwujud dengan mudahnya. Ibuku memang malaikat.
Sebenarnya aku juga ingin mempunyai handphone baru. Smartphone-ku ini sudah ketinggalan tiga generasi, apalagi operating system-nya sudah nggak bisa diperbarui lagi, nggak bisa digunakan buat meng-upgrade aplikasi terbaru, sering lemot-lemotan juga, kadang sampai nggak bisa dipake buat telepon atau ditelepon orang (Ibuku yang paling sering jadi korbannya), pesan yang dikirim lima menit lalu bisa jadi nyampenya tengah malem, mata kameranya udah mulai rabun, dan masih banyak lagi!
Tetapi, dari sekian banyaknya alasan, mempunyai handphone baru nggak bakal membantuku menghilangkan rasa kesepian, semahal apapun itu. Bukan karena sombong, tapi semua orang bebas mempunyai pendapat masing-masing kan? Yang aku inginkan hanyalah nggak mau melupakan ingatan. Otakku nggak pernah mengingat kebahagian banyak, keseringan kenangan suram yang sering awet di kepala.
Dengan handphone yang bisa dikatakan sudah butut di zaman ini, aku sedikit mempunyai keramaian tersendiri di dalamnya. Aku bahagia ibuku masih bisa mengisi penuh daftar panggilan telepon masuk, aku senang ketika benda ini menerima pesan dari si Mbak, aku suka sejarah yang dilalui benda ini sejak awal aku membelinya, apapun yang berkaitan dengan memori, kurasa handphone ini lebih banyak menyimpan kenangan-kenangan dibandingkan barang-barang milikku lainnya.
Cita-cita sejak dua tahun yang lalu kini tercapai sudah. Sekarang aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengenang. Otakku juga nggak perlu terbebani dengan yang namanya mengingat. Tinggal menekan pelatuk dengan komposisi yang pas, krekkk, sebuah kenangan tercipta!
P.S: Sebenernya ini cuitan dari dua hari yang lalu, hanya saja baru malem ini aku upload. Pertama dikarenakan ketiduran pas waktu nulis. Kedua, kelupaan.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact