Katakan satu hal tentang bagaimana seorang manusia dapat jatuh cinta?
Beberapa orang menjawabnya dengan mudah. Dan beberapa hanya membiarkan perasaan yang ada hanyalah ada. Semua orang punya alasannya masing-masing mengapa ia memilih untuk jatuh cinta. Bahkan terkadang mereka sendiri tidak tahu bahwa virus itu telah menyebar di dalam dirinya tanpa sempat diketahui. Membiarkan diri mereka perlahan-lahan terhisap oleh kenikmatan yang fana.
Tetapi yang aku alami ini berbeda. Aku dan dia terhubung satu sama lain melalui ruang dan waktu yang berbeda. Tempat yang hanya muncul ketika seharusnya muncul. Tidak setiap hari kita bisa bertemu, hanya jika ia memang berkehendak saja.
Pertemuan kami selalu singkat, tetapi segalanya bermakna. Puas sekali melihatnya dari jarak sedekat ini. Kami bisa bersenda gurau semalam suntuk jika kami mau. Tidak seperti waktu-waktu bahagia pada umumnya. Detik bergulir begitu lambat di sini. Tak terbayang bagaimana gembiranya aku jika bisa memamerkan ini kepada orang-orang. Tetapi sayang, matahari terbit selalu berhasil memaksaku untuk melupakannya. Sial.
Jatuh cinta itu proses misterius. Penjelasan sains mungkin sudah berulang kali menerangkan bahwa jatuh cinta itu salah satu dari human error. Menurutku, apapun itu narasi singkat mengenai proses jatuh cinta, semuanya terdengar absurd. Jatuh cinta itu tidak ada yang masuk akal. Terjadinya pun tidak diduga-duga. Seketika timbul begitu saja.
Kalau masih ada yang berpikir kenapa seseorang bisa jatuh cinta kepada seseorang, mungkin kalian sudah melontarkan satu-satunya pertanyaan tidak berguna se-antero jagat raya. Tidak peduli tempat atau waktu, siapapun bebas menyukai siapa saja. Bahkan seorang gelandangan pun bebas mencintai seorang ratu jika ia mau. Masalahnya adalah berani atau tidaknya dia mengatakannya?
Aku bukanlah orang bijak. Sedikitpun tak pernah aku berpikir demikian. Tapi berbahagialah bagi kalian yang sekarang sedang memendam rasa kepada seseorang. Tidak perlu memaksakan diri untuk mendapatkan segalanya. Biarpun keindahannya bukan kamu yang menuai, itu tak jadi masalah. Karena apapun yang menjadi milik, akan selalu pergi. Akan selalu begitu sampai ia benar-benar menemukan rumah. Yang kalian butuhkan saat ini hanyalah menyiapkan diri menjadi rumah yang ideal baginya, dan selalu menyambut hangat langkah kakinya saat masuk ke dalam pintumu.
Tetapi aku sih tidak akan melakukannya seperti itu.
Sekali lagi aku tegaskan, aku bukanlah orang bijak. Yang aku katakan belum tentu itulah yang aku lakukan. Memangnya menjadi lebih baik demi seekor kutu loncat adalah sebuah perjuangan? Itu sama saja dengan kebodohan. Ketololan agung yang tak bisa diselamatkan lagi.
Debur ombak berdesir kencang. Cahaya remang-remang berkilauan sepanjang tepi. Di atas kepala, bintang-bintang menyapa ramah. Membuat hati merasa di rumah yang tak pernah terjamah.
Begitulah jatuh cinta kurasa.
Rasanya tak perlu banyak memperdebatkan tentang bagaimana mendapatkan seseorang yang terkasih. Apalagi menceritakan perasaan yang tak tersampaikan pada semua orang. Berharap seolah-olah itu bakal meringankannya. Ku pikir tak perlu serepot-repot itu memikirkan nafsu hati.
Semua orang akan kehilangan. Semua orang akan meninggalkan seseorang. Apa yang datang tak akan ragu juga untuk pergi. Mencintai bukan perkara sepele. Semua orang tahu itu. Pertanyaannya adalah, masih pentingkah arti memiliki itu sekarang untukmu?
Sebenarnya aku kesal membahas hal-hal seperti ini. Tetapi otakku terlalu sempit untuk memikirkan hal lain. Khas otakku, membanjiri dirinya sendiri dengan badai yang sudah lama berlalu.
Andai saja aku bisa meminta pertolongan kepada seseorang untuk menyingkirkan penyakit yang sudah lama berkembang biak ini, kira-kira akankah ada yang sudi menolongku?
Ahhh, tahun sudah berganti cangkang lagi. Aku kalah untuk kesekian kalinya.


0 comments:
Post a Comment