Hidup sebagai pengangguran. Itulah yang kurasakan sekarang. Menghabiskan detik demi detik di sebuah bilik berukuran 2x3 meter yang menjadi istanaku. Tak banyak kegiatan produktif yang kulakukan. Bahkan bisa dibilang tidak ada sama sekali. Duduk berjam-jam di depan komputer, entah itu sekadar berselancar di dunia maya, atau bermain games.
Well, sesungguhnya aku tak ingin menghabiskan liburanku dengan sepi begini, tak juga meriah tentunya. Sebenarnya aku tidak meminta lebih. Hanya saja, bisakah seseorang ini mendapatkan kedamaian batin di bulan keparat ini?
Oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tolong lupakan kalimatku barusan. Bulan ini sungguh indah.
Hmmm.
Apa yang akan kita bahas hari ini? Oh iya! Bagaimana tentang seseorang yang pernah bodoh untuk seseorang, dan seseorang yang rela membodohi dirinya sendiri. Alasannya kenapa? Mungkin karena secara kebetulan aku mempunyai pengalaman atas keterkaitan yang erat mengenai menjadi bodoh dan seseorang yang rela membodohi dirinya sendiri. Sesungguhnya pengalaman itu cukup kental jika dirasa-rasa kembali.
Inilah kekuatan magis dari bilik persegi. Hal-hal yang tidak penting untuk dirisaukan kembali selalu menggoda untuk didiskusikan. Di mana-mana dapat kita lihat terjadinya human error atau aku lebih suka mengatakannya dengan istilah disfungsi hati. Itu cukup elegan bukan untuk didengar?
Apa yang ku maksud disfungsi hati ini bukan tentang bagaimana hati tak lagi berfungsi sebagai penawar racun di tubuh kita, mengatur sirkulasi hormon, dan sebagainya. Bukan seperti itu. Disfungsi hati yang aku ceritakan di sini adalah bagaimana seseorang lebih memilih untuk menutup mata dan dengan sukarela mendengar kebohongan, daripada melihat kenyataan yang penuh omong kosong.
Sulit sekali menjelaskan bagaimana rasanya. Tetapi hal itu berlangsung begitu saja. Kalian tidak pernah tahu apa dan siapa yang sedang berjalan di sampingmu saat itu. Yang semula aku pikir semuanya akan baik-baik saja, dan berjalan seperti apa yang sudah direncanakan. Kemudian kenyataan selalu menggiringku pada keputusasaan. Namun selalu berhasil ku tepis mentah-mentah. Untuk beberapa waktu aku bisa menahan semuanya. Tetapi "batas" selalu menjadi penutup cerita.
Orang bodoh dengan orang yang membodohi dirinya sendiri berjalan berdampingan pada suatu masa. Tidakkah itu lucu bagi kalian? Tentu tak ada masa depan bagi mereka di sana. Lebih baik mereka tak pernah bertemu. Sepertinya hampir tidak ada gunanya kombinasi mereka berdua di dunia ini. Atau lebih baik mereka mati saja?
Orang normal pasti akan mengatakan bahwa, "Setiap orang punya kesempatan." Tapi coba lihat, kesempatan apa yang aku punya di sini? Tampaknya mataku sangat bermasalah di sini. Melihat kesempatan saja tidak becus. Bagaimana bisa membawa tubuh ini ke tahap perkembangan. Yang ada hanyalah jalan di tempat. Bukan hal yang mustahil jika sampai kapanpun jiwa ini akan selalu tersesat dalam pencarian tujuan. Terkadang menjadi bodoh hanya membutuhkan keberuntungan untuk menang.
Mengorbankan segalanya demi seseorang juga terdengar menggelikan. Aku kenal orang seperti itu. Atau lebih tepatnya "pernah". Orang ini melakukan apapun yang diminta oleh orang yang dicintainya. Setiap kali pertikaian umum sepasang kekasih terjadi, ia selalu menjadi pihak yang mengalah. Dirinya membiarkan angin menghempaskan raganya begitu saja, berseluncur serta terombang-ambing di atas tariannya. Padahal jika ia jatuh, hati serapuh itupun akan hancur menjadi debu dalam sekejap. Membodohi diri sendiri juga ada batasannya asal kau tahu.
Anehnya, mereka berdua bertemu. Selalu berjalan bersama-sama seperti sahabat sejati. Mereka percaya tak ada orang yang lebih pantas berdiri di samping mereka selain mereka sendiri. Apa yang ada di depan mereka, tak lebih mereka jadikan sebuah objek hiburan. Mereka adiktif satu sama lain. Ketergantungan yang hanya dapat dipuaskan dengan selalu bersama.
Satu hal yang tak mereka sadari. Perlahan ada yang menggerogoti itu semua.
Mau tau hal itu apa?
Boredom! Bosan!
Memang apa lagi? Kalian pikir aku bakal memberikan jawaban istimewa? Hahahha, nggak bakal. Lagi pula tak ada jawaban yang pantas selain itu.
Hidup ini membosankan. Selalu ada yang beruntung dan tidak. Ada yang terlahir kaya dan juga gelandangan. Pintar dan bodoh. Susah dan mudah. Mencintai tapi tak dicintai. Berusaha namun disia-siakan. Mempercayai tetapi dikhianati. Dia yang menanam namun orang lain yang menuai. Berbicara jujur selalu didustakan. Berbicara dusta semakin dicap pembohong.
Sebenarnya apa yang dunia ini mau?
Akhir-akhir ini dia selalu hadir di mimpiku. Aku sudah tak mengingat jelas bagaimana, namun samar-samar aku masih bisa membayangkannya. Dia hanya mengucapkan sepatah dua kata kepadaku. Namun yang dilontarkannya selalu sebuah pertanyaan. Pertanyaan dan pertanyaan. Hanya itu yang ia lakukan di setiap mimpiku akhir-akhir ini.
Namun kalian tahu apa? Apapun itu pertanyaannya, selalu ku jawab dengan senang hati. Air mataku meluap ke mana-mana. Jantungku berdegub sama kencangnya seperti hujan kemarin. Tanganku mengalami tremor parah. Dengan lantang kusuarakan jawaban atas pertanyaannya. Seketika kebahagiaan membanjiri sekujur tubuhku.
Begitu aku menjawab pertanyaannya, secara otomatis mataku selalu langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa itu semua hanyalah mimpi. Namun dengan alaminya ada senyuman di wajahku ketika ku terbangun. Tanpa harus ada komedi, hal itu terjadi begitu wajar dan murni.
Hey, walaupun cuman hanya imajinasiku, tapi aku senang bisa berbicara denganmu seperti bagaimana aku mengenalmu dulu. Silahkan mampir setiap waktu. Pintu ini selalu terbuka setiap saat. Jadi jangan sungkan-sungkan ya ^^.
P.S: Kamu terlihat manis dengan rambut pendek itu. Hahahaha.


0 comments:
Post a Comment