Manusia semakin mudah menciptakan sesuatu. Demikian pula bagaimana mudahnya mereka menentukan nasib-nasib orang yang berada di bawah kakinya. Banyak hal-hal yang dibolak-balikan faktanya oleh mereka. Arogansi tak berujung semakin menggiring kita kepada kehancuran masif. Para pemimpin mulai mengibarkan panji absolutnya. Di mana pikir mereka masyarakat hanyalah hewan ternak tak berpendidikan. Tak heran jika adanya hari akhir sudah diprediksi sejak dahulu kala.
Aku tidak mengatakan apa yang terjadi ini seratus persen karena ulah mereka semua. Di sadari atau tidaknya, kita juga ikut bermain di dalamnya.
Mungkin saja ketika suatu negara dibombardir tanpa ampun, dirimu hanya duduk manis sembari meneguk secangkir teh di depanmu, dan tangan kirimu asyik mengotak-atik media sosial di ponselmu. Berpura-pura iba dengan memberi lantunan doa di postinganmu dengan hashtag super komplit. Pikirmu hal seperti itu membantu? Tentu! Bagi kaum masa kini hal seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membantu kawanan manusia yang mati secara massal.
Lebih mudah untuk membantu wanita yang sedang dilecehkan di jalanan dengan mengunggah video rekaman amatir kita.
Seiring mudahnya informasi diciptakan, semakin mudah pula manusia mengirim doa-doa yang tak akan sampai. Alias tersesat. Hahaha.
Well, aku tidak ingin berperan sebagai misionaris di sini. Aku sama seperti kalian semua. Aku cuman bisa diam. Bahkan terkadang aku tertawa melihat kejadian-kejadian yang seharusnya tidak kutertawakan. Hei, lagipula kita tak bisa melakukan apa-apa di sini. Kalau mau jadi superhero sungguhan, seharusnya kalian sudah terbang menuju lokasi kejahatan sejak lama. Itupun kalau rudal berbaik hati mempersilahkanmu lewat. Pfft.
Sebenarnya aku adalah manusia yang baik hati asal kau tahu. Aku punya beberapa sisi yang mungkin juga kalian punya. Aku bisa merasa super kasihan terhadap sesama secara berlebihan. Membantu sesuka hati pada siapapun tanpa meminta sedikit pujian ataupun sepeser uang. Selalu menerima dengan lapang jika menjadi pihak yang disingkirkan ketika sudah tidak diperlukan lagi. Ataupun hanya bisa menjadi pendengar di suatu lingkup obrolan. Pada akhirnya aku hanya bisa terpaksa diam.
Diam. Diam. Dan diam.
Bukannya kita memiliki kesempatan untuk bersuara?
Tidak! Selama kita dipimpin orang-orang bodoh.
Tidak! Jika masih ada dari kita yang lebih mementingkan untuk membalas ucapan ketimbang mendengarkan.
Tidak! Ketika kalian tidak mempunya siapa-siapa untuk sekadar bersandar.
Kesal sekali melihat hal-hal tolol yang berkecamuk saat ini. Manusia saling bunuh. Para petinggi yang makin tak bermutu. Orang bodoh kian terkenal. Perang agama yang tak kunjung usai. Perdebatan tak berguna yang berkepanjangan. Peraturan-peraturan konyol. Pemusnahan kreasi. Kebebasan dengan syarat, Arghhhh, apapun itu, semuanya bikin muak.
Menjijikan sekali bagaimana aku hanya bisa duduk dan terdiam begitu cantiknya di sini seperti kalian semua. Menuliskan ini semua tak sedikitpun membuat keadaan ini menjadi lebih baik. Tak sedikitpun.


0 comments:
Post a Comment