Thursday, December 29, 2016 0 comments

Diary December 29, 2016 Infinite Stupidity

Hidup sebagai pengangguran. Itulah yang kurasakan sekarang. Menghabiskan detik demi detik di sebuah bilik berukuran 2x3 meter yang menjadi istanaku. Tak banyak kegiatan produktif yang kulakukan. Bahkan bisa dibilang tidak ada sama sekali. Duduk berjam-jam di depan komputer, entah itu sekadar berselancar di dunia maya, atau bermain games. 

Well, sesungguhnya aku tak ingin menghabiskan liburanku dengan sepi begini, tak juga meriah tentunya. Sebenarnya aku tidak meminta lebih. Hanya saja, bisakah seseorang ini mendapatkan kedamaian batin di bulan keparat ini?

Oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tolong lupakan kalimatku barusan. Bulan ini sungguh indah.

Hmmm.
Apa yang akan kita bahas hari ini? Oh iya! Bagaimana tentang seseorang yang pernah bodoh untuk seseorang, dan seseorang yang rela membodohi dirinya sendiri. Alasannya kenapa? Mungkin karena secara kebetulan aku mempunyai pengalaman atas keterkaitan yang erat mengenai menjadi bodoh dan seseorang yang rela membodohi dirinya sendiri. Sesungguhnya pengalaman itu cukup kental jika dirasa-rasa kembali.

Inilah kekuatan magis dari bilik persegi. Hal-hal yang tidak penting untuk dirisaukan kembali selalu menggoda untuk didiskusikan. Di mana-mana dapat kita lihat terjadinya human error atau aku lebih suka mengatakannya dengan istilah disfungsi hati. Itu cukup elegan bukan untuk didengar?

Apa yang ku maksud disfungsi hati ini bukan tentang bagaimana hati tak lagi berfungsi sebagai penawar racun di tubuh kita, mengatur sirkulasi hormon, dan sebagainya. Bukan seperti itu. Disfungsi hati yang aku ceritakan di sini adalah bagaimana seseorang lebih memilih untuk menutup mata dan dengan sukarela mendengar kebohongan, daripada melihat kenyataan yang penuh omong kosong.

Sulit sekali menjelaskan bagaimana rasanya. Tetapi hal itu berlangsung begitu saja. Kalian tidak pernah tahu apa dan siapa yang sedang berjalan di sampingmu saat itu. Yang semula aku pikir semuanya akan baik-baik saja, dan berjalan seperti apa yang sudah direncanakan. Kemudian kenyataan selalu menggiringku pada keputusasaan. Namun selalu berhasil ku tepis mentah-mentah. Untuk beberapa waktu aku bisa menahan semuanya. Tetapi "batas" selalu menjadi penutup cerita.

Orang bodoh dengan orang yang membodohi dirinya sendiri berjalan berdampingan pada suatu masa. Tidakkah itu lucu bagi kalian? Tentu tak ada masa depan bagi mereka di sana. Lebih baik mereka tak pernah bertemu. Sepertinya hampir tidak ada gunanya kombinasi mereka berdua di dunia ini. Atau lebih baik mereka mati saja? 

Orang normal pasti akan mengatakan bahwa, "Setiap orang punya kesempatan." Tapi coba lihat, kesempatan apa yang aku punya di sini? Tampaknya mataku sangat bermasalah di sini. Melihat kesempatan saja tidak becus. Bagaimana bisa membawa tubuh ini ke tahap perkembangan. Yang ada hanyalah jalan di tempat. Bukan hal yang mustahil jika sampai kapanpun jiwa ini akan selalu tersesat dalam pencarian tujuan. Terkadang menjadi bodoh hanya membutuhkan keberuntungan untuk menang.

Mengorbankan segalanya demi seseorang juga terdengar menggelikan. Aku kenal orang seperti itu. Atau lebih tepatnya "pernah". Orang ini melakukan apapun yang diminta oleh orang yang dicintainya. Setiap kali pertikaian umum sepasang kekasih terjadi, ia selalu menjadi pihak yang mengalah. Dirinya membiarkan angin menghempaskan raganya begitu saja, berseluncur serta terombang-ambing di atas tariannya. Padahal jika ia jatuh, hati serapuh itupun akan hancur menjadi debu dalam sekejap. Membodohi diri sendiri juga ada batasannya asal kau tahu.

Anehnya, mereka berdua bertemu. Selalu berjalan bersama-sama seperti sahabat sejati. Mereka percaya tak ada orang yang lebih pantas berdiri di samping mereka selain mereka sendiri. Apa yang ada di depan mereka, tak lebih mereka jadikan sebuah objek hiburan. Mereka adiktif satu sama lain. Ketergantungan yang hanya dapat dipuaskan dengan selalu bersama. 

Satu hal yang tak mereka sadari. Perlahan ada yang menggerogoti itu semua. 
Mau tau hal itu apa?

Boredom! Bosan! 

Memang apa lagi? Kalian pikir aku bakal memberikan jawaban istimewa? Hahahha, nggak bakal. Lagi pula tak ada jawaban yang pantas selain itu.

Hidup ini membosankan. Selalu ada yang beruntung dan tidak. Ada yang terlahir kaya dan juga gelandangan. Pintar dan bodoh. Susah dan mudah. Mencintai tapi tak dicintai. Berusaha namun disia-siakan. Mempercayai tetapi dikhianati. Dia yang menanam namun orang lain yang menuai. Berbicara jujur selalu didustakan. Berbicara dusta semakin dicap pembohong.

Sebenarnya apa yang dunia ini mau? 

Akhir-akhir ini dia selalu hadir di mimpiku. Aku sudah tak mengingat jelas bagaimana, namun samar-samar aku masih bisa membayangkannya. Dia hanya mengucapkan sepatah dua kata kepadaku. Namun yang dilontarkannya selalu sebuah pertanyaan. Pertanyaan dan pertanyaan. Hanya itu yang ia lakukan di setiap mimpiku akhir-akhir ini.

Namun kalian tahu apa? Apapun itu pertanyaannya, selalu ku jawab dengan senang hati. Air mataku meluap ke mana-mana. Jantungku berdegub sama kencangnya seperti hujan kemarin. Tanganku mengalami tremor parah. Dengan lantang kusuarakan jawaban atas pertanyaannya. Seketika kebahagiaan membanjiri sekujur tubuhku. 

Begitu aku menjawab pertanyaannya, secara otomatis mataku selalu langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa itu semua hanyalah mimpi. Namun dengan alaminya ada senyuman di wajahku ketika ku terbangun. Tanpa harus ada komedi, hal itu terjadi begitu wajar dan murni.

Hey, walaupun cuman hanya imajinasiku, tapi aku senang bisa berbicara denganmu seperti bagaimana aku mengenalmu dulu. Silahkan mampir setiap waktu. Pintu ini selalu terbuka setiap saat. Jadi jangan sungkan-sungkan ya ^^.

P.S: Kamu terlihat manis dengan rambut pendek itu. Hahahaha.

Wednesday, December 21, 2016 0 comments

Diary December 21, 2016 I'm Sucks

Manusia semakin mudah menciptakan sesuatu. Demikian pula bagaimana mudahnya mereka menentukan nasib-nasib orang yang berada di bawah kakinya. Banyak hal-hal yang dibolak-balikan faktanya oleh mereka. Arogansi tak berujung semakin menggiring kita kepada kehancuran masif. Para pemimpin mulai mengibarkan panji absolutnya. Di mana pikir mereka masyarakat hanyalah hewan ternak tak berpendidikan. Tak heran jika adanya hari akhir sudah diprediksi sejak dahulu kala.

Aku tidak mengatakan apa yang terjadi ini seratus persen karena ulah mereka semua. Di sadari atau tidaknya, kita juga ikut bermain di dalamnya.

Mungkin saja ketika suatu negara dibombardir tanpa ampun, dirimu hanya duduk manis sembari meneguk secangkir teh di depanmu, dan tangan kirimu asyik mengotak-atik media sosial di ponselmu. Berpura-pura iba dengan memberi lantunan doa di postinganmu dengan hashtag super komplit. Pikirmu hal seperti itu membantu? Tentu! Bagi kaum masa kini hal seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membantu kawanan manusia yang mati secara massal.

Lebih mudah untuk membantu wanita yang sedang dilecehkan di jalanan dengan mengunggah video rekaman amatir kita. 

Seiring mudahnya informasi diciptakan, semakin mudah pula manusia mengirim doa-doa yang tak akan sampai. Alias tersesat. Hahaha. 

Well, aku tidak ingin berperan sebagai misionaris di sini. Aku sama seperti kalian semua. Aku cuman bisa diam. Bahkan terkadang aku tertawa melihat kejadian-kejadian yang seharusnya tidak kutertawakan. Hei, lagipula kita tak bisa melakukan apa-apa di sini. Kalau mau jadi superhero sungguhan, seharusnya kalian sudah terbang menuju lokasi kejahatan sejak lama. Itupun kalau rudal berbaik hati mempersilahkanmu lewat. Pfft.

Sebenarnya aku adalah manusia yang baik hati asal kau tahu. Aku punya beberapa sisi yang mungkin juga kalian punya. Aku bisa merasa super kasihan terhadap sesama secara berlebihan. Membantu sesuka hati pada siapapun tanpa meminta sedikit pujian ataupun sepeser uang. Selalu menerima dengan lapang jika menjadi pihak yang disingkirkan ketika sudah tidak diperlukan lagi. Ataupun hanya bisa menjadi pendengar di suatu lingkup obrolan. Pada akhirnya aku hanya bisa terpaksa diam.

Diam. Diam. Dan diam.

Bukannya kita memiliki kesempatan untuk bersuara? 
Tidak! Selama kita dipimpin orang-orang bodoh. 
Tidak! Jika masih ada dari kita yang lebih mementingkan untuk membalas ucapan ketimbang mendengarkan.
Tidak! Ketika kalian tidak mempunya siapa-siapa untuk sekadar bersandar.

Kesal sekali melihat hal-hal tolol yang berkecamuk saat ini. Manusia saling bunuh. Para petinggi yang makin tak bermutu. Orang bodoh kian terkenal. Perang agama yang tak kunjung usai. Perdebatan tak berguna yang berkepanjangan. Peraturan-peraturan konyol. Pemusnahan kreasi. Kebebasan dengan syarat, Arghhhh, apapun itu, semuanya bikin muak.

Menjijikan sekali bagaimana aku hanya bisa duduk dan terdiam begitu cantiknya di sini seperti kalian semua. Menuliskan ini semua tak sedikitpun membuat keadaan ini menjadi lebih baik. Tak sedikitpun.


Sunday, December 11, 2016 0 comments

Diary December 11, 2016 Art Of Grey

Belakangan ini aku mempelajari sesuatu. Mungkin di luar sana hal ini sudah menjadi hal basi yang tak perlu dibahas lagi. Beberapa di antara kalian pun pasti juga menganggapnya demikian. Atau mungkin kalian tidak percaya sama sekali? Boleh saja, itu sesuka kalian. Yang ingin aku katakan di sini adalah betapa idiotnya kita ini. Hidup hanya dengan modal kepercayaan, tanpa tahu apa yang kita jalani sesungguhnya. 


Baikkah itu? Burukkah itu? Pantaskah kita menaruh harapan di sana? Apa ada yang paling mulia selain ketulusan tanpa pertanyaan? Membiarkan anak domba terlepas di lautan penuh kebebasan tanpa ada seorangpun gembala yang menuntunnya, bukankah itu sedikit kejam? Oh, itu bukan level kejam lagi namanya, namun sadistic.



"Kehidupan hanyalah panggung drama," kata mereka. Aku tidak terlalu senang mendengar ataupun menggunakan kalimat itu. Ya walaupun sedikit benar, tapi kurasa ada yang sedikit salah di sana. Jika diandaikan kepada realitas, pantaskah seorang pengemis menjadi aktor di sebuah pentas masif seperti itu? Bisa jadi dia mungkin dibutuhkan sebagai peran pembantu. Tapi coba kalian pikir, untuk apa hidup jika hanya menjadi sebuah eksistensi yang hanya secuil kotoran hidung. Menjijikan sekali.



Kalian mungkin bisa menarik contoh di sebuah lingkaran sosial. Lihatlah bagaimana cara mereka menjunjung tinggi kata "kebersamaan" itu. Menjeritkan semboyan yang hanya dimiliki oleh mereka sendiri. Di kejauhan aku mendengar salah seorang meneriakkan, "Solidaritas tanpa batas!" Dengan api yang berkobar di kedua matanya. Sungguh aku ingin ketawa.



Nyatanya di belakang panggung, semua manusia sosial itu berlomba-lomba hanya untuk merebutkan satu hal. Peran utama. 



Tampaknya aku lari dari topik awal. Dasar aku, selalu bersemangat jika membahas hal-hal yang hanya ada di imajinasiku saja. Baiklah kita mulai dari awal lagi.



Aku setuju jika dikatakan bahwa hidup itu sesungguhnya taruhan besar-besaran. Dari sebelum kita dilahirkan di muka bumi, bahkan kita sudah memulai permainan ini. Siapapun yang membaca ini berarti kalian sudah mengantongi kemenangan pada taruhan pertama. Selamat! Anda memenangkan selembar tiket untuk hidup di dunia.



Hahaha.



Haha.



Ha.



H...



Sampah!



Siapa pula yang ingin ikut bertaruh jika pada akhirnya jadi begini. Aku terlahir menjadi seorang penjudi terburuk. Terimakasih untuk siapapun yang telah memberiku tiket tak berguna itu. Brengsek!


 
;