Wednesday, March 30, 2016 0 comments

Diary March 30, 2016

Hidup itu permainan dengan skala besar ya. Tidak semua orang bisa menjadi pemain yang handal, tetapi semua orang boleh bermain dengan bebas.

Butuh memakan waktu yang lama untuk aku membangun "dinding" sekokoh ini. Detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan. Tidak pernah aku bosan-bosan membuatnya semakin lebih tinggi dan tinggi dari sebelumnya. Untuk menepis segala bentuk permainan sampah yang sedang berkecamuk.

"Dinding" ini begitu tinggi, orang-orang tidak akan bisa pernah bisa masuk dengan mudah. Sedangkan di dalamnya, hanyalah sunyi dan hampa. Tidak ada untungnya bagi siapapun yang hendak bertamu.

Aku tidak tahu mengapa, bahwa inilah menurutku yang orang-orang sebut sebagai "rumah". Begitu nyaman, simetris, tidak menyakitkan, dan juga bisa aku atur sesuka hati.

Setelah sekian lama berteman dengan gelap, aku melihat ada secercah cahaya kecil yang menembus dari lubang "dinding" yang cacat. Aku terheran, sejak kapan lubang ini tercipta? Dan mataku dibuat silau olehnya.

Dia bersinar satu hari penuh tanpa alpa. Di antara terheran dan terkesima, apa hanya aku yang dapat melihatnya? Atau di luar sana begitu cerah?

Semakin lama waktu berlalu, aku malah ingin berteman dengannya. Tak cukup bagiku hanya melihat sinar yang berdiameter kecil itu. Aku ingin berkomunikasi.

Tololnya, aku direpotkan oleh "dinding" yang aku buat. Sang Waktu tidak bisa mengikis kekokohannya. Aku tidak tahu lagi bagaimana menghancurkannya. 

Seketika aku tersadar saat kulihat cahaya tersebut semakin lama semakin besar. Ia mengikisnya! Itulah caraku satu-satunya untuk keluar dari pertahanan yang aku bangun. 

Mungkin aku hanya bisa menunggu di sini untuk terbang ke dunia bebas lagi. Tanpa tahu kehilangan macam apa yang pertama kali akan aku dapat.

Seberapa banyak pun manusia yang mengajakmu terbang dengan ideologi-ideologi mereka, tidak akan pernah membuat kakimu tergerak.

Tiga kata yang begitu singkat namun susah untuk dipatahkan, Kepercayaan, Tuhan, Cinta.

We're built for drama isn't?

Namun apapun itu, aku tidak peduli. Aku sudah cukup lelah lari dari realitas nan kejam ini. 

Untuk sekali dalam seumur hidup, biarkan aku menjadi seekor kunang-kunang. Yang akan bersinar begitu terang dari pada yang lainnya, ketika mendapatkan impiannya. Dan mati keesokan harinya. 


Sunday, March 27, 2016 0 comments

Diary March 27, 2016

Sinar matahari yang mencuat dari sela-sela jendela yang terbuka lebar, menyeruak menerangi kegelapan ruangan dengan hitungan detik. Memusnahkan dunia ilusifku secara paksa, dan membombardir segalanya. Di saat aku membuka mata, satu-satunya hal yang tak mati oleh cahaya matahari adalah gelapnya pikiranku.

Cahaya matahari merusak semuanya, kenapa ia tidak bisa membiarkan Sang Kegelapan hidup dengan tenang untuk sehari saja?

Tetapi walau begitu, aku tidak membencinya. Matahari selalu memberikan penawaran indah ketika ia bangkit, serta memberi penutup yang luar biasa manis, tidak pernah ia alpa.

Hari ini hanyalah hari yang membosankan sama seperti hari-hari lainnya. Semuanya tampak seperti baik-baik saja, terlalu lurus, tak berwarna, sunyi, dan tanpa harapan sedikitpun. Aku sudah lupa cara menikmati matahari seperti sebelumnya. Tanpa disadari, tubuh dan umurku berkembang begitu cepat, hingga kepribadianku tidak bisa mengimbanginya. Dan mungkin aku akan mati seperti kebanyakan orang, mati dengan kehampaan.

Bagiku, yang masih hidup di awang-awang masa lalu, satu senyuman dari seseorang mungkin bisa menggerakan "kakiku" ke dunia sekarang. 

Ketika aku berdoa, hampir semua setiap doa-doaku, hanya untuk kebahagiaan orang tuaku. Tidak pernah aku meminta untuk dosa-dosaku di ampuni atau diberikan petunjuk tentang arti kebahagiaan. Karena aku tahu, Tuhan tidak akan pernah mengabulkan permintaan dari seseorang yang selalu menyangkal eksistensi diri-Nya. 

Tetapi, Tuhan selalu bisa membaca pikiran terdalam manusia ya. Ia mengirimkan "sesuatu" tanpa perlu kita meminta. Dan "sesuatu" itu secara telak dan mutlak adalah hal yang paling kita butuhkan.

Aku yang sekarang mempunyai sebuah harta karun yang teramat sangat berharga dan tak ternilai, Your name.



Monday, March 21, 2016 0 comments

Fly Well

Untuk ukuran seorang manusia, aku selalu percaya, bahwa pada dasarnya manusia diciptakan dengan sayap yang membentang lebar yang melekat erat di tulang punggungnya. Hanya saja Adam memilih kaki untuk menikmati kasarnya tanah Bumi yang ia injak. Tahu-tahu kita yang sebagai ampas-ampasnya tidak bisa berbuat apa-apa akan keputusan itu.

Tapi hal ini juga bisa kita jadikan sebagai gambaran tentang kepercayaan. Kita lahir ke Dunia Sampah ini dibantu oleh kedua orang tua kita. Kita tidak bisa memilih bagaimana kita akan lahir, keluarga macam apa yang akan membimbing kita, kaya atau miskin, baik atau kasar, beragama atau tidak sama sekali. Yang kita tahu hanya penyesalan, bahwa memilih tidak berlaku bagi dunia ini.

Semakin kita bertumbuh serta berkembang, seberapa banyak doktrin tentang kehidupan yang telah kau cerna? Apakah ada dari semua itu yang membuatmu takut untuk melangkah?

Lupakan kiasan klise itu.

Kita selalu diajarkan semenjak dini bahwa teori C adalah yang paling benar. Jika kau melanggarnya, petaka menantimu. Kakimu yang berideologi kebebasan tidak bisa menerimanya. Ia ingin mencoba segala teori-teori yang ada. Tapi selalu ada hambatan yang menghalanginya, ialah rasa takut. Kita diajarkan tentang kebenaran, bukan mencoba dan menilai sendiri. Sekalipun kita bisa menilai sendiri, kita sudah terlambat. Usia bermain banyak di sini tampaknya.

“Seperti apa dunia mu?” 

Seorang wanita tiba-tiba memecahkan keheningan di udara. Suaranya menembus alunan musik yang aku salurkan melalui earphone ku. Tidak bisakah orang-orang membiarkan aku tenang walau hanya untuk sesaat?

“Abstrak. Kamu nggak bakal mengerti. Lagian ini bukan sesuatu yang pantas untuk aku ceritakan.”
“Wah apakah ini bentuk sarkastik darimu? Gini-gini aku juga lumayan suka berfilsafat lho.”
Apa-apaan wanita ini.
“Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Tapi kalau dipikir-pikir aku tidak bertanya soal kamu suka berfilsafat atau tidak. Aku tidak peduli.” Jawabku dengan nada ketus. Berharap wanita ini segera melenyapkan eksistensinya sekarang juga.

Ia tidak merespon jawabanku. Apa perkataanku terlalu kasar untuk seseorang yang aku tidak kenal? Tapi dilihat dari mimik wajahnya, ia tidak ada rasa kesal sedikitpun. 

Masih juga tanpa jawaban, wanita itu malah memandangi wajahku dalam-dalam. Matanya begitu bulat namun tajam. Itu sungguh membuatku muak. 

“Bisakah kau pergi sekarang? Kedamaianku adalah absolut. Jangan rusak surga kecilku ini.” Imbuhku ringan. Masih dengan harapan yang sama.
“Hera. Namaku Hera. Aku sama sepertimu yang muak dengan aturan dunia. Bisakah aku bergabung di Surga kecilmu itu? Aku tidak punya tempat di sini. Sekolah ini, rumahku, di manapun, aku tidak diterima. Tapi ketika melihatmu yang terduduk manis sendiri di bawah rindangnya pohon Beringin ini, aku tahu kita bisa membuat dunia sendiri.” 

Wanita itu mengucapkan kata-katanya begitu lurus tanpa terbata. Semua ucapannya menggunakan intonasi yang proporsional. Yang artinya, aku tolak pun dia akan selalu kembali. Seperti bumerang.

“Aku suka kata-katamu. Tetapi yang harus kamu tahu, aku tidak menerima makhluk berisik di dalam surgaku. Bisa diatur?” 

Wanita itu membalas dengan sebuah senyuman tanpa arti. Begitu rapi dan teratur. Jarang sekali ada yang bentuk yang sesimetris itu di dunia yang berat sebelah ini. Pastinya, kata “tentu” terselip di balik senyuman itu. 

“Ringga.” Sambil menjulurkan tanganku, tanda untuk meresmikan ikatan khas manusia.
“Mulai dari sekarang, duniamu dan duniaku akan melakukan merger. Semoga saja tidak ada anomali yang terjadi diantara dua buah penggabungan imajinasi.” Jelasnya dengan begitu cerdas.

Aku tidak tahu apa dan kenapa, tapi wanita ini begitu jauh ada di depanku. Kenapa ia harus repot-repot membalikkan badannya untuk bergabung dengan pecundang sepertiku. 

“Mungkin kamu berpikir dirimu pecundang yang selalu menyendiri, yang dengan gagahnya bisa menciptakan kenyamanan tanpa perlu orang lain bukan?”
“Kita baru saja bertemu Hera. Tapi kenapa rasanya kamu seolah-olah tahu segalanya tentang apa yang aku pikirkan beserta lapisannya? Pertemuan kita baru berlangsung kurang lebih dari sepuluh menit. Tetapi dari segi bicaramu seakan-akan kita sudah berteman seperti sepuluh tahun lamanya.” Tanyaku dengan terheran-heran. Siapa sebenarnya wanita yang di depanku ini. 

Aku merasa aneh di sini. Aku yang sebagai penonton, yang menikmati segala adegan-adegan yang terjadi di panggung, tetapi di tonton juga oleh seorang penonton yang aku tidak tahu asal usulnya. Chaos macam apa ini? 

“Aku tidak tahu apapun tentangmu. Yang aku bicarakan adalah ‘dirimu’ yang berada di duniamu. Aku tahu segalanya tentang duniamu.”
“Sebelum otakku pecah dan menyeruak kemana-mana, tolong hentikan apa yang akan kamu katakan selanjutnya. Aku bertaruh kalimat selanjutnya akan lebih menyeramkan.”

Hera hanya tertawa kecil mendengar respon ku. Mungkin ia sadar bahwa aku sedang ketakutan di sini. 

“Baiklah, sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan bahwa aku suka duniamu. Maksudku dunia kita berdua. Aku yakin dunia itu akan menjadi satu kesatuan yang absolut dengan tatanan yang tidak merumitkan kebahagian.”
“Otakku ingin meledak sekarang. Pergilah! Aku akan selalu berada di sini pada jam yang sama.”
“Begitu ya. Tidak bisakah kau mengusirku dengan cara yang lebih cerdas?"
"Get lost!"
“Ya! Sampai jumpa besok Ringga!"
"Ya."

Dengan cepat wanita itu menghilang. Langkahnya begitu ringan, malah dia hampir seperti terbang. 

Pohon Beringin di Taman ini sudah menjadi saksi, bahwa ternyata sepasang kaki bisa menjadi sayap yang unik dengan caranya sendiri. Sayap ternyata tidak melulu tentang ‘terbang’, tetapi kebebasan.

Matahari mulai tenggelam, mungkin lebih baik aku pulang. 
Oh surga kecilku, aku datang!
Tuesday, March 15, 2016 0 comments

Everybody Lies

Aku menyadari bahwa aku adalah seorang pesimis. Itu semua karena aku tahu, apa yang saat ini di depanku tidak dapat aku lampaui atau jalani. Aku tahu batasanku, aku tahu kelemahanku, aku tahu sisi tersampah yang mengendap di tubuh ini. Tetapi semua orang sibuk memberi argumen-argumen untuk membuat kita selalu bangkit. Kenapa mereka masih juga tidak sadar?

Pada dasarnya, semua orang ingin bermain sebagai peran utama. Ada yang keberatan hanya bermain sebatas figuran dan juga ada yang puas hanya sebagai penonton. Tetapi pasti ada satu bagian kecil, dimana mereka semua ingin bermain sebagai pemeran utama. 

Aku yang saat ini begitu puas hanya dengan menjadi seorang penonton dan juga perekam adegan, saat ini terseret oleh hasutan liar yang membawaku dan ingin menjadikanku sebagai pemeran utama.

Kenikmatannya hanya berlangsung sementara. Di detik ini juga, aku merasakan penyesalannya. Tahu-tahu semuanya terjadi seperti yang selalu aku bayangkan, hanya saja kenapa aku selalu memungkirinya? 

Semua orang adalah pembohong. Terutama aku. 

Kenapa semua orang tidak bisa membiarkan sedikit ekspetasiku berjalan sesuai yang aku inginkan? Aku tidak tahu apa salahku pada kalian semua, tapi kalian selalu menghancurkan mimpiku.

Semua orang adalah pembohong.

Mereka melakukan sebuah kebajikan dengan satu alasan busuk yang digenggamnya erat-erat.

I don't trust people anymore

Maybe yesterday's not tomorrows regret, But today is.

Langkahmu hari ini, adalah penyesalanmu untuk keesokan hari. Selamat menikmati hidup berdampingan dengan penyesalan.

Friday, March 11, 2016 0 comments

Diary March 11, 2016

Suasana ini begitu ramai, di waktu yang sama tempat ini begitu senyap. Ratusan manusia berkumpul di tempat ini. Hanya saja aku tidak bisa merasakan keramaian yang terjadi.

Hari ini dia datang lagi, aku tidak memperdulikan semuanya. Tak lebih dari seonggok patung tak berguna. Hanya ia seorang yang memiliki nyawa diantara sampah-sampah ini.

Ia begitu manis dan juga diam, menikmati sesuatu yang ada di depannya dengan pandangan elegan. Sungguh.

Jika saja aku memiliki sebuah kamera, aku akan mengambil momen ini jutaan kali. 

Sedikit pun aku tidak berani untuk berada di dekatnya. 

This life's sucks. 











0 comments

Diary March 10, 2016

Tanpa didasari apapun, waktu melongsorkan segalanya. Dia tidak bekerja sebagaimana mestinya, tetapi ia menjanjikan sesuatu yang pasti. Tanpa sadar aku sudah melupakan semuanya.

Ini bukanlah hari yang spesial, bukan juga hari yang biasa-biasa saja. Tapi hanya saja, ini hari yang aku tunggu-tunggu. Dimana semuanya menjadi 'cukup' untuk menikmati kehidupan. 

Love is a beautiful pain, right?

Aku tidak terlalu yakin. Tetapi sejak kapan manusia mempunyai labelnya masing-masing? Doktrin ini sudah menjadi parasit bagiku untuk menjalin sebuah relasi. Seakan-akan ada tembok yang membatasi pergaulan manusia. 

Wanita itu memberiku senyuman, yang ntah mengapa itu adalah sesuatu yang aku cari-cari selama ini. Rasanya ada satu tujuan yang tercapai dalam hidupku.

Hanya saja aku merasa bahwa ia memiliki 'tembok' yang menjulang begitu tinggnya, yang rasanya tidak mungkin untuk aku capai. Perbedaan kualitas manusia berlaku bagi kami berdua. Aku bahagia hanya dengan memandanginya dari kejauhan. Tetapi saat kita saling mengobrol satu sama lain, aku merasa sosok hina ini tidak pantas untuk mendapatkannya. 


Aku selalu melihat ke cermin. Bukan berarti aku mencintai diriku sendiri. Tapi apakah dengan sosok ini aku bisa mendapat tempat di realita?

Rasanya aku ingin membiarkan semuanya dengan apa adanya. Dimana aku hanya bisa menjadi pendengar, dimana aku hanya menjadi sebuah penengah, semua mata tidak ada yang memperhatikanku, tidak ada yang peduli bahwa aku ada atau tidak, dan membiarkan eksistensiku lenyap tanpa jejak. Aku tidak masalah dengan itu semua.

Aku adalah sosok abu-abu dimana aku bisa menjalani dua sisi kehidupan, hitam dan putih. Bukannya warna abu-abu adalah warna yang mencerminkan seseorang yang kesepian bukan?

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berharap sedikitpun pada kehidupan. Yang terjadi, terjadilah.

 
;