Sinar matahari yang mencuat dari sela-sela jendela yang terbuka lebar, menyeruak menerangi kegelapan ruangan dengan hitungan detik. Memusnahkan dunia ilusifku secara paksa, dan membombardir segalanya. Di saat aku membuka mata, satu-satunya hal yang tak mati oleh cahaya matahari adalah gelapnya pikiranku.
Cahaya matahari merusak semuanya, kenapa ia tidak bisa membiarkan Sang Kegelapan hidup dengan tenang untuk sehari saja?
Tetapi walau begitu, aku tidak membencinya. Matahari selalu memberikan penawaran indah ketika ia bangkit, serta memberi penutup yang luar biasa manis, tidak pernah ia alpa.
Hari ini hanyalah hari yang membosankan sama seperti hari-hari lainnya. Semuanya tampak seperti baik-baik saja, terlalu lurus, tak berwarna, sunyi, dan tanpa harapan sedikitpun. Aku sudah lupa cara menikmati matahari seperti sebelumnya. Tanpa disadari, tubuh dan umurku berkembang begitu cepat, hingga kepribadianku tidak bisa mengimbanginya. Dan mungkin aku akan mati seperti kebanyakan orang, mati dengan kehampaan.
Bagiku, yang masih hidup di awang-awang masa lalu, satu senyuman dari seseorang mungkin bisa menggerakan "kakiku" ke dunia sekarang.
Ketika aku berdoa, hampir semua setiap doa-doaku, hanya untuk kebahagiaan orang tuaku. Tidak pernah aku meminta untuk dosa-dosaku di ampuni atau diberikan petunjuk tentang arti kebahagiaan. Karena aku tahu, Tuhan tidak akan pernah mengabulkan permintaan dari seseorang yang selalu menyangkal eksistensi diri-Nya.
Tetapi, Tuhan selalu bisa membaca pikiran terdalam manusia ya. Ia mengirimkan "sesuatu" tanpa perlu kita meminta. Dan "sesuatu" itu secara telak dan mutlak adalah hal yang paling kita butuhkan.
Aku yang sekarang mempunyai sebuah harta karun yang teramat sangat berharga dan tak ternilai, Your name.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment