Hmmmm....
Ini adalah hari kesepuluhku berada di rumah. Setelah enam bulan lamanya ditempa di perantauan, aku dihisap kembali ke tempat semuanya dimulai. Tempat segala permasalahanku berasal dan bermuara. Bersatu padu menyambutku dengan hingar bingar, lalu olehnya dikenakkan mahkota duri di kepalaku sebagai sebuah simbol. Simbol yang mengekang kakiku untuk berlari dari kenyataan.
Aku tidak membenci tempat ini, dulu pernah namun sekarang tidak lagi. Seiring bertambahnya usia, tubuh dan hatiku larut dalam kepasrahan yang harus membuatku menerima segalanya yang sudah terjadi. Dan sekarang aku rasa aku telah bisa menerimanya sebaik yang aku bisa.
Mungkin aku akan berada di sini kurang lebih selama sebulan, dan kira-kira pertengahan bulan Februari aku harus sudah kembali lagi ke Jogja. Kebanyakan hal yang kulakukan di sini dihabiskan untuk membantu orang tuaku menjalankan bisnisnya, sesekali pergi nongkrong dan berlibur dengan kawan lama yang notabene itu-itu aja, sisanya direnggut oleh kasurku tercinta.
Secara mendadak, aku kehilangan alasan untuk memperhatikan hal-hal serta orang yang kupedulikan di Jogja sana ketika berada di sini. Entah apakah tempat ini mempunyai kekuatan mendistraksi, atau tempat ini memang mempunyai ruang isolasi tak terlihat hanya untukku seorang? Aku tidak tahu.
Yang jelas otakku seperti tidak punya waktu untuk memikirkan apapun yang berkaitan dengan kewajiban di Jogja, bahkan rasanya perasaanku juga dibiarkan tertinggal di sana. Sekalipun memikirkannya, bentuknya sekilas seperti angin berhembus. Wusssshhhhh, menghilang begitu saja dan terlupa.
Sebenarnya aku tidak sibuk-sibuk amat menjalani rutinitas sehari-hari hingga sampai melupakan kehidupanku yang lainnya di sana. Teramat banyak waktu yang bisa kugunakan untuk sekadar menyapa kebahagiaanku yang berada di Jogja sana. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku sendiri heran, apa sebenarnya yang aku pikirkan.
Sekarang pukul satu dini hari waktu setempat. Biasanya aku tak pernah tidur selarut ini. Di sini, perlahan-lahan jam tidurku kembali teratur, walau belum sepenuhnya. Demi menulis blog ini aku rela merusak lagi jam tidurku yang sudah mulai benar. Mataku mulai terkatup-katup tiap menulis bait kata. Beginilah perjuangan seorang manusia yang tidak mempunyai tempat curhat di dunia nyata. Sebelum tidur menghanyutkan kalimat yang ingin diucapkan, baiknya aku tuangkan sekarang juga.
Bohong ding. Sebenarnya mataku masih terang benderang. Ini semuanya gara-gara kopi buatan karyawan ibuku yang menyodorkan secangkir kopi padaku tiba-tiba. Well, biasanya tidak dibuatkan kalau tidak kuminta, tapi hari ini dia membuatkanku kopi begitu saja tanpa alasan yang kongkrit. Tetapi dua kalimat terakhir paragraf di atas memang kenyataan.
Aku selalu meminta kopi dengan sedikit gula, bahkan kadang-kadang tanpa gula. Kopi yang dipakai juga kalau tidak salah jenisnya robusta dan buatan produk lokal.
Panggil saja ia dengan si Mas. Si Mas ini adalah satu-satunya karyawan ibuku yang menjadi langgananku untuk soal membuatkan kopi. Sangat jarang aku meminta karyawan-karyawan lainnya untuk membuatkanku kopi selain dia. Bukan karena kopi buatannya enak, melainkan karena aku malas menjelaskan lagi bentuk kopi bagaimana yang aku inginkan.
Walau rasa kopi buatannya tidak menentu dari agak sedikit pahit, sedikit pahit, lumayan pahit, agak sedikit lumayan pahit, dan pahit, aku tak mempermasalahkannya. Mempertahankan rasa pahit yang sesuai secara terus menerus sama susahnya dengan usaha agar perasaan mencinta itu agar tetap ada. *Apasi
Tapi kali ini kopi buatan si Mas berbeda seratus persen. Kopi yang biasa dibuatkannya berwarna hitam polos, kini berubah menjadi warna cokelat kehitaman. Dilihat saja sudah tercium pahit bagaimana yang menanti. Aromanya seperti sudah siap membunuh rasa kantuk selama tujuh hari tujuh malam. Butuh waktu lama untuk membiarkan ampasnya larut ke dalam dasar cangkir. Aku pikir aku bisa mengatasinya, ternyata aku meremehkannya.
Benar saja, baru sedikit seruputan, kepalaku seperti mendapat tendangan salto tepat di belakang kepala. Hanya sedikit tegukan saja rasanya aku telah membiarkan kafein menghadirkan pesta di otakku. Dan pada akhirnya aku menyerah lalu membiarkan isi cangkir itu setengah tak terminum. Cepatlah berlalu pestamu itu kawan, biarkan manusia biasa ini kembali menikmati mimpi indah.
Ngomong-ngomong soal mimpi, semoga saja kita bertemu lagi di sana. Kasur tercintaku di sini suka menghadirkan mimpi-mimpi random, alias nggak jelas. Aku kepengen ngobrol panjang lebar lagi. Hadir kek gitu sekali-sekali.
Okelah kalau begitu, capek ngetik. Pengen nyoba tidur, siapa tau pesta kafeinnya udah kelar. Selamat malam ya buat yang di sana :)
Eh ini udah dini hari ding.


0 comments:
Post a Comment