Aku terbangun pukul dua belas siang tadi. Aku membuka mata dan segera mengambil kaca mataku yang tergeletak di samping bantal. Lemari yang dihiasi kaca menyambutku sesaat setelah aku mencoba duduk merelaksasikan badan. Rambutku berantakan. Samar-samar terlihat ada garis yang membekas disekujur wajah. Tanda betapa pulasnya aku tertidur.
Waktu sepertinya bergurau. Satu minggu liburanku terasa tidak ada apa-apanya. Menguap begitu saja. Di isi dengan duduk selama berjam-jam di depan komputer, dan hanya keluar saat perut mulai meminta jatahnya. Dan lihat sekarang, aku hanya menikmati sisa-sisa penghujung liburan, dengan menulis blog. Sungguh cara yang elegan untuk mengakhiri liburan. Waktu selalu saja begitu. Membiarkan dirinya berputar cepat di saat-saat seperti ini.
Aku tidak pernah bosan membahas waktu di sini. Mau kapanpun itu, waktu yang hilang selalu menyenangkan untuk diulas kembali. Sayangnya di kehidupan nyata, semua orang membiarkan waktu begitu saja. Mungkin tak pernah sedikit pun terbesit di pikiran mereka untuk mengoreksi kesalahan waktu yang berputar. Atau mungkin itu hanya imajinasiku saja? Ah, yang jelas mereka semua tidak pernah mau mengusut segala sesuatunya lebih dalam. Aku yakin itu.
Sebenarnya siapakah yang menentukan siang dan malam itu? Sudah seharusnya kah bahwa manusia memulai aktifitasnya pada pagi hari, bukan malam hari? Apa mungkin satu hari hanya terdiri dari 24 jam? Salahkah bila seorang manusia menentukan waktunya sendiri? Dan masih banyak lagi gumaman tentang waktu ini.
Di saat kita membutuhkan waktu sebagai penyembuh luka, ia berjalan sungguh lambat. Membuat kaki kita tertatih untuk meneruskan kehidupan fana ini. Dan ketika bahagia jatuh di mata kita, jarum jam melintas begitu saja. Lihat betapa egoisnya ia. Sepertinya otak kita hanya didesain untuk selalu menyalahkan waktu bukan? Apapun kondisinya, kita selalu begitu. Atau hanya otakku saja yang berpikiran seperti itu? Ah, aku tidak peduli.
Beberapa dari kalian mungkin berpacu kepada waktu yang akan datang. Menyusun rencana-rencana yang sudah kalian ramu untuk menjadi impian. Tetapi, sebagian orang, termasuk aku, masih hidup dalam bayang-bayang masa lampau. Kita selalu hidup di tepi tebing. Ini bukan melulu tentang cinta yang aku bicarakan. Melainkan waktu-waktu yang membuat kita menjadi manusia yang seperti saat ini. Apa yang kita lakukan di masa itu, mengubah kita sedemikian rupa menjadi sosok yang berbeda sama sekali. Puing-puing kecil kenangan yang masih tersimpan di memori aman tak tersentuh. Sepertinya tak ada sedikitpun keinginan otak untuk menghapusnya. Dan jika aku memilih loncat dari tebing itu, maka saat itulah yang dikatakan manusia telah berubah.
Semua orang berubah. Semua orang berkembang. Beberapa maju, dan sisanya memilih untuk tinggal. Tergantung aturan waktu yang diberikan kepada masing-masing orang. Kalian pasti sudah tahu, bahwa tiap manusia mempunyai waktu yang berbeda. Bukan aturan universal yang aku maksud, namun cara kerja waktu menyembuhkan luka kepada seseorang itulah jawabannya. Cepat atau lambatnya waktu yang berjalan, tergantung orang itu sendiri.
Untuk kalian yang tidak tahu cara menghindari kekejaman waktu, mungkin kalian harus mencari jawabannya sendiri. Seperti yang aku katakan, waktu tiap orang berbeda. Sampai sekarang pun aku masih mencari jawabannya. Namun yang aku tahu pasti, aku tidak akan mau menghabiskan waktuku hanya untuk mencari jawabannya. Aku tidak mau menjadi orang biasa saat kehabisan waktu. Meninggalkan bumi hanya untuk menjadi sama seperti lainnya?. Memikirkannya saja membuatku mual. Walaupun aku sendiri tidak tahu persis apa yang akan aku lakukan di masa depan nanti.
Semoga saja bintang jatuh di tidurku malam ini. Memberikan jawaban yang selalu aku tunggu..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment