***
Dia kini kembali kehidupan lamanya. Bukan. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Tahu-tahu senja sudah menyapa paginya, dan tidurnya selalu ditemani cahaya matahari. Waktu kehidupannya seakan-akan berputar terbalik. Yang ia sadar hanyalah, setiap matanya terbuka ia harus segera menghapus bayang-bayang yang tidak ingin dilihatnya. Sebab dari itulah ia selalu melarikan diri dari apa yang ada didepannya.
Bersembunyi dibalik kenikmatan hisapan asap yang tak terkendali. Perilaku yang tidak mencerminkan dia sama sekali. Jika orang-orang terdekatnya tahu, mungkin mereka semua tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya. Tapi ada satu orang yang selalu percaya dengan apa yang dikatakannya. Seolah-olah walaupun dunia mengenakkan mahkota duri diatas kepalanya, selalu ada orang yang selalu mengetahui kebenaran dibalik ucapannya. Dia.
Perutnya lapar. Sudah satu.. dua hari lebih tepatnya ia tidak memakan apapun. Hanya segelas air putih tiap harinya. Selalu saja begitu ketika menghabiskan waktunya di depan layar monitor komputernya. Dia harus mencari makan untuk memperpanjang hidupnya. Sesaat sebelum membuka pintu kamarnya, dihabiskannya satu batang rokok untuk mengganjal perutnya.
***
Sebut saja orang ini dengan apa yang kalian suka. Karena orang ini sudah tidak peduli lagi dengan pemikiran orang-orang bodoh macam kalian. Ya. Menurutnya semua orang yang ada disekitarnya adalah seonggok patung yang tak berguna, yang selalu menghalangi jalannya dimanapun, kapanpun. Sosok yang berisik dan tidak tahu aturan menghargai ketenangan orang lain. Begitulah pikiran dia tentang manusia-manusia disekitarnya.
Sampai umurnya mencapai kepala dua, luka lama masih belum bisa sembuh. Waktu sungguh berdusta. Mengapa diberikannya pengobatan yang begitu lama untuk hatinya? Sedangkan orang lain hanya memerlukan waktu yang cukup singkat untuk kembali ke dirinya semula.
Dia bagaikan manusia mati. Yang hanya hidup di masa lalu. Saat ini dia tidaklah hidup. Hanya sepotong daging busuk dengan tulang-tulang yang kehilangan sukmanya. Dia selalu berpikir, masa lalu adalah tempat yang begitu pantas untuk dirinya tinggal, sembari mencaci Tuhan. Dia tidak tahu apa salah Tuhan di kehidupannya. Tetapi dengan menyalahkan, manusia selalu bisa memecahkan masalah. Bagi dirinya.
***
Terangnya hari ini tidaklah seindah dulu. Hujannya hari ini tidaklah sehangat dulu. Semua selalu begitu. Sesuatu bisa berubah dengan sangat cepat. Tahu-tahu saja sudah berkembang begitu pesat, ada juga yang jatuh dan tak bisa berdiri lagi. Pria ini adalah salah satunya.
Manusia masa lalu yang tak bisa menjalani hidupnya sekarang. Selalu berkabung dengan memori-memori fana yang ia pikir bisa dihidupkannya. Seseorang yang selalu pesimis, tetapi berubah optimis karena impian.
Kesepian tidak membuat dirinya gila. Satu fakta yang ia tahu, kegilaan datang bukan karena kesendirian, tetapi keramaianlah yang mengundangnya. Pria penyendiri ini selalu berpikir, bagaimana bisa orang menghapus ingatan orang yang selalu atau pernah berada disampingnya? Bahkan kalaupun dia berada di posisi yang berlawanan, ia akan selalu menyimpan kenangan usang tersebut dalam buku album. Kelak akan ada waktu dimana ia akan tersenyum kembali melihatnya.
Tapi tetap saja, terkadang kesepian itu menyakitkan. Sudah lama tak digandengnya tangan mungil tersebut atau merangkul pundaknya disetiap langkahnya, membuat kesepian itu menusuk. Mengalahkan tajamnya pisau. Pelukan hangatnya membuat candu sang pria bangkit kembali. Ia tidak membutuhkan orang lain, ia butuh wanita itu. Wanita yang selalu menemani dan mengenalkan cerahnya dunia di kehidupannya.
Kesepian tidak mudah dihilangkan dengan sembarang orang.
***
Langkah kakinya menginjak tempat yang bernama sekolah. Ya. Sekolah Menengah Atas atau putih abu-abu. Dia berpikir kalau masa-masa ini akan dihabiskan sama seperti sebelumnya. Ia berjalan menapaki tangga, mengamati segala sudut tempat dimana dia akan di penjara selama tiga tahun. Banyaknya puntung rokok, dan sampah yang tak beraturan membuat dirinya geram.
Ia tidak banyak memilih dimana dia akan menghabiskan masa putih abu-abu tersebut. Tetapi saat ini ia menyesal dengan keputusannya. Ia duduk di bangku terbelakang ruangan, tepat di sudut. Sekarang dia resmi menjadi anak SMA.
Pertama dia bertemu wanita itu di sebuah kolam renang. Panggil saja dia Ail. Kebetulan kelas olahraganya berbarengan dengan kelas si Pria ini. Pria tersebut duduk di pinggiran kolam sambil mengamati sekitar. Selalu begitu. Walaupun tanpa kacanya ia tidak cukup yakin dengan apa yang dilihatnya. Tiga orang wanita menghampirinya. Salah satu berkata dengan cepat dan tidak dapat dicerna dengan baik oleh telinga si Pria.
Tetapi ia cukup yakin, bahwa wanita itu memintanya untuk menghubunginya nanti.
***
Dia. Ail. Ternyata memilih ekstrakulikuler yang sama dengan si Pria. Ia mulai banyak menghabiskan waktu dengan Ail. Teman-teman Ail mulai meminta si Pria untuk mendekatinya lebih gencar. Tetapi pada saat itu ia sendiri belum tahu apa yang dia rasakan. Ia pernah jatuh cinta. Tetapi tidak pernah tercapai. Kalaupun dia berhasil mendapatkan hati Ail, ia sendiri tidak tahu bagaimana berpacaran sebagaimana mestinya. Karena dia memang belum pernah mencobanya.
***
Sampai pada saat si Pria berhasil mendapatkan hati Ail. Ia sungguh bahagia saat itu. Tidak tahu mengapa, hanya saja dia begitu bersyukur pacar pertama yang dimilikinya adalah Ail. Sosok wanita bertubuh pendek, dengan rambutnya yang lurus, serta bibirnya selalu cerewet ketika ia berucap. Ia menyukai segala aspek yang dimiliki Ail.
Ideologi si Pria terpatahkan. Masa putih abu-abu memang yang terbaik.
Si Pria menghabiskan tiga tahun putih abu-abu bersama Ail. Ail membuatnya mengenal dunia luas. Pengalaman yang tak terbayangkan. Memori-memori cantik terbentuk dengan sendirinya. Segalanya begitu realistis, seolah dunia mimpi yang selalu diidamkannya menjadi nyata. Suka duka bersama yang larut dalam senja percintaan putih abu-abu.
Selama tiga tahun tersebut si Pria ini tak pernah lupa apa saja yang telah dihabiskannya di masa terindah ini. Semuanya terlalu banyak. Tetapi detilnya selalu mengenang. Bahkan hidup berdua pun di dunia ini ia sanggupi. Bukan karena cintanya terhadap Ail. Bukan juga karena pengalaman yang Ail berikan terhadap si Pria. Karena Ail itu sendiri. Kepiawaiannya sebagai wanita mengumpulkan rasa kagum di benak si Pria. Tidak pernah dilihatnya wanita yang sehebat dan setangguh itu setelah ibu dan neneknya.
Akrabnya si Pria dengan keluarga Ail membuat keseriusan hubungan mereka meningkat. Walaupun masih belum resmi meninggalkan putih abu-abu, si Pria mulai memikirkan masa depan apa yang akan dilakukan bersama Ail nanti.
Terlalu cerah langit yang ia tuju, tak pernah dilihatnya kebawah bahwa seberapa sakitnya kalau dia jatuh nanti.
***
Ail memutuskan untuk menlanjutkan pendidikan di luar kota, bersamaan dengan pindahnya orang tua Ail ke kampung halamannya. Itu cukup membuat rencana si Pria hancur berantakan. Ia berpikir tanpa melihat risiko yang akan terjadi. Tak rela dengan hancurnya rencana yang ia buat dengan Ail nanti, ia memaksa orang tuanya untuk mengizinkan dirinya untuk menempuh jenjang kuliah di luar kota juga. Walaupun tidak satu kota dengan Ail, tetapi ia sudah senang, ia cukup menumpangi bis selama empat jam kalau ingin bertemu Ail.
Sinar mataharinya mulai redup. Angin berhembus syahdu namun menusuk. Dinginnya malam kota Jogja mengajarkannya kembali tentang kesepian. Dia kini resmi menjadi mahasiswa.
Selama tinggal disana, si Pria selalu merasa dirinya uring-uringan. Tidak tahu apa dan mengapa. Seakan obat penenangnya habis. Dia butuh... Ya. Dia butuh Ail. Sudah hampir satu bulan lebih ia tidak melihat paras ayunya. Mendengar suaranya cukup menghilangkan rindu. Tapi ia butuh lebih. Ia butuh pelukan Ail. Kehangatannya. Aromanya. Nafasnya. Semua. Dia butuh semua.
Ia menyiapkan barang-barang yang kiranya diperlukan. Menuruni tangga indekosnya dengan tak sabaran. Menarik gas dalam-dalam, Ia berangkat menuju tempat Ail. Semarang.
Sendirian si Pria menelusuri gelapnya malam. Dinginnya hawa yang dirasakan di pertengahan jalan. Mencoba memutar memori tentang Ail membuatnya hangat. Ia meninggalkan keluhan tadi dibelakang. Ia harus memutar kembali memori-memori bahagia dengan Ail untuk menghilangkan rasa jenuh perjalanan.
Si Pria meraih handphone disaku jaketnya. Si Pria tahu bahwa malam ini Ail tidak berada di indekosnya. Dia berada di kampusnya, karena ada semacam perayaan setelah ospek. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya akan datang malam ini. Seketika saja ia ingin membuat kejutan pada Ail. Kegilaan yang selalu menyelubungi pikirannya sudah tidak tertahankan.
Ia mencoba menghubungi nomor Ail, tetapi mailbox. Kini ia bingung. Apa yang akan dilakukannya sekarang. Ia tidak tahu alamat Ail. Ia hanya tahu alamat kampusnya saja, itupun berkat GPS yang membantunya. Oh iya, baru saja teringat bahwa Ail pernah mengirimkan pesan melalui handphone temannya. Barangkali saat ini dia bersama temannya itu. Si Pria mencoba mencari nomor-nomor yang sudah tenggelam itu di kotak pesannya.
***
"Ini Ail, ada telepon buatmu," kata seorang temannya yang nomornya susah payah untuk di cari. Si Pria mengatakan bahwa dirinya berada di depan kampusnya saat ini. Hal tersebut membuat Ail tidak percaya. Seakan-akan ucapan si Pria adalah dusta,
Tubuh mungil tersebut keluar dari pintu gerbang kampus, menengok kekiiri dan kekanan dengan wajah yang bingung. Mencari sosok si Pria di kerumunan orang. Si Pria dapat melihatnya. Hanya saja wajah Ail yang kebingungan membuat si Pria tak berhenti tertawa. Cukup lama dibiarkan Ail mencari sosok kekasihnya.
Seorang Pria menghampiri Ail. Wajah ail yang kebingungan seketika berubah. Air matanya mengancam untuk jatuh. Si Pria berada di depannya dengan kebodohannya. Dari tampangnya, Ail ingin mengucapkan sesuatu tetapi terlalu susah untuk berbicara.
Si Pria tidak tahu kenapa air mata wanita itu begitu berarti saat itu. Melihatnya menangis membuat si Pria bahagia dan juga sedih di saat bersamaan. Laksana mutiara jatuh dari wajah Ail. Kedua bola mata tersebut menghasilkan sesuatu yang begitu berharga. Membuat letih si Si Pria menguap begitu saja.
Si Pria menjadi yakin, bahwa Ail adalah teman hidupnya hingga tua nanti.
***
Sekali lagi, ternyata masa putih abu-abu adalah yang terbaik, Tidak ada kedewasaan yang menganggu jalannya cinta itu. Kanak-kanak namun bermakna. Egoisme di masa muda yang begitu indah.
Semuanya terjadi begitu saja. Menjelaskannya pun sulit dengan kata-kata. Apa yang terjadi melenceng jauh dengan apa yang dibuat oleh si Pria. Belum sempat diucapkannya kalimat perpisahan, seakan-akan ada yang terpotong. Si Pria tidak tahu menahu dan mempertanyakannya pada Tuhan, mengapa ini bisa terjadi.
Si Pria hancur. Padahal itu semua tak lain dan tak bukan karena emosi sesaat yang ia timbulkan hari itu. Coba saja dia berpikir jernih pada saat itu, Mungkin saat ini ia masih bisa menikmati sinar matahari. Ini bukan penyesalan, tapi kebodohan.
Terlalu banyak waktu yang dihabiskan bersama Ail, membuat hubungan sosial dengan teman-temann si Pria berkurang. Wajar saja, karena selama ini si Pria menganggap Ail adalah teman satu-satunya. Si Pria hancur. Tidak ada orang yang sudi mendengar ceritanya. Suaranya terikat. Tenggorokannya sudah penuh menyimpang kalimat-kalimat yang terpendam. Ia kini tak lagi mempunyai tempat untuk bercerita.
Apa yang akan dilakukannya tanpa Ail? Makhluk anti sosial yang selalu berdiri dengan menopang di bahu Ail, kini harus jatuh berkali-kali hanya untuk berdiri dengan kaki sendiri. Kesusahan hidup terjadi satu persatu di kehidupannya. Hidup menjadi hunian bagi orang-orang bodoh yang percaya bahwa cinta itu soal kasih sayang. Nyatanya cinta itu adalah nafsu.
Cinta sendiri adalah kegilaan. Dibuatnya layu atau mekar bunga kehidupan. Dibuatnya sayap untuk terbang, namun tidak diberikan tempat peristirahatan. Semua terlihat tidak masuk akal!
###
Ketika cinta hilang, semua terlihat tidak menarik lagi. Pria yang diam-diam menyimpan bunga di balik badannya, terlihat seperti orang bodoh. Seseorang yang selalu menangis karena dikhianati, terlihat seperti mayat yang sudah tidak punya otak lagi. Seorang wanita yang percaya dengan kesetiaan kekasihnya di tempat yang sangat jauh, membuat si Pria ini ingin memuntahkan isi perutnya di wajah wanita itu.
Ketika cinta hilang, semua hal menjadi tidak masuk akal. Tetapi ketika cinta datang, semua fatamorgana adalah nyata. Bahkan kantong keajaiban milik Doraemon pun menjadi kenyataann.
Itulah cinta, tidak tahu apa yang akan datang. But, everything is fair in love, termasuk bagaimana cinta itu akan menguap.
***
Si Pria lupa cara untuk jatuh cinta lagi. Pekerjaanya kini menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menjadi pemuja rahasia untuk seseorang.
###
Seseorang membuatku merasakan indahnya kehidupan, dan orang itu jugalah yang membuatnya layu.
Seseorang memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupanku, dan orang itu jugalah yang menhapus jawaban tersebut dan membiarkannya kosong.
Seseorang mengajarkanku untuk berbagi, kini orang itu mengambil semua apa yang aku punya. Harapan.
Seseorang membuatku merasa hidup, tetapi dipatahkannya dengan begitu mudah.


0 comments:
Post a Comment