Saturday, April 16, 2016

Diary April 16, 2016

Jatuh di pangkuan langit yang sama, merayu serta merajuk untuk diharap, berwarna jingga.

Kedua mata ini belum kehilangan dayanya. Detik yang berjalan tak membantu mata ini untuk beristirahat. Raja waktu sedang berbaik hati, memberikan keindahan di tengah malam berkabut, bagi ia yang belum tahu jalan pulang. Gulir waktu dibuatnya berjalan terlambat, seraya aku sedang menikmati celah-celah kecil yang bisa ku manfaatkan demi mengais sepeser kebahagiaan.

Tubuh ini telah banyak menjadi saksi percintaan antar dimensi. Perbedaan setiap detil ruas sudah layaknya menjadi kudapan pagi hari. Pengharapan yang tak tergenggam namun patut untuk diperjuangkan. Menunggu dengan sabar, hingga nanti cawan porselen tersebut terisi penuh. Berkalbu bahwa semuanya kelak menjadi nyata. Harapan kata mereka.

Saat pelukan kabut menyelimuti malam ini, tak luput sang embun repot-repot jatuh turun ke Bumi. Menceritakan segala dongeng manusia yang dilihatnya dari langit ke tujuh, melalui tiap inci partikelnya yang selalu mendamba. Tawaku lepas dibuatnya. Mengguncang seluruh isi ruangan. Mendengarnya saja membuat perut ini kesakitan. Ia menyadarkanku bahwa sesungguhnya kita tak lebih dari makhluk konyol. 

Hati manusia terlalu banyak mengintervensi setiap kejadian. Seakan-akan sosok tersebut adalah ratu lebah mereka. Dan tubuhnya tak lebih dari seonggok kurir tak bermakna nyawanya. Eksistensinya terlalu mudah untuk digantikan dengan yang baru. Namun, setiap cerita selalu ada garis akhir. Batas penutup dari segala perjuangan penuh peluh, dengan sedikit menuangkan tinta kekesalan sedalam-dalamnya. Aku akui, membuat akhir adalah hal yang paling sulit untuk sebuah cerita.

Terlalu lama menjadi idola jawaban abu-abu, hal tersebut bukan masalah besar. Karena, semua cerita lebih baik tidak dibiarkan terjawab. 

Sesungguhnya aku juga salah satu orang yang terjebak dalam percintaan antar dimensi. Tersekat oleh dinding keraguan, tanpa ada pintu masuk. Terikat oleh kenikmatan kesendirian masing-masing, yang entah itu dusta atau bukan. Aku hanyalah makhluk yang tak bermateri, sedangkan ia berupa mutiara di dalam cangkang terbuka. Tidak ada yang mampu untuk mengais keindahannya. Tetapi semua orang bisa merasakan kebahagiaan hanya dengan melihat dirinya. Sungguh pemandangan yang elok menurutku.

Hanya dengan satu garis melengkung terpampang di wajahnya, cukup untuk menghipnotis kawanan serigala yang haus akan darah segar. Ia mampu mengatur ritme gejolak di dada seindah melodi. Wajahnya lincah mengayunkan kata tanpa banyak basa-basi. Nada-nada yang terucap persis yang dinyanyikan oleh Siren legenda Yunani. Menghanyutkan para pelaut kedalam lautan terdalam.

Ya, kita berbeda dimensi. 
Harapan kata mereka.





0 comments:

Post a Comment

 
;