Friday, April 1, 2016

Diary April 1, 2016

Setiap hari aku selalu berpikir, aku mungkin tidak bisa menjadi pemilik sinar terangnya. Tak juga inti kehidupannya. Akulah sampah yang tertiup angin semilir melewati hadapannya. Tak terindah, maupun berguna. Tatkala senja, aku selalu meratap. Terus meratap. Hingga aku bertanya, bahwa apa diriku ini?
Aku selalu menyangkalnya, selalu dan selalu. Dan, semuanya terasa begitu dingin tanpa arah.

Entah sejak kapan, aku menjadi seorang masokis. Yang begitu adiktif akan rasa sakit. Mengerang-erang untuk terus di jatuhkan dalam dan semakin dalam dari jurang yang teramat tinggi. Saat aku jatuh, aku meminta angin untuk menekanku lebih keras, aku meminta reruntuhan bebatuan menjatuhi tubuhku, aku memelas kepada rombongan burung gereja untuk mendengar pinta ini. Dengan harapan, semakin tertusuknya aku di bawah nanti.

Ketika aku tahu bagaimana rasanya sakit teramat dalam, mungkin aku akan menyalahkan Tuhan. Siklus manusia bukan?

Padahal kita sendiri yang ingin terbang, tapi tidak siap untuk jatuh. Kita sendiri yang berharap ingin mencintai, tetapi tidak siap untuk tak dicintai. Selalu berharap dari kejauhan, tetapi tidak terima akan kenyataan. Selalu berjuang sendiri, namun mengeluh jika tak dibantu. Apalah ini.

Hidup sebagai masokis dengan ideologi pesimisme sungguh bencana. 

Bagaikan tumbuhan yang selalu bisa hidup tanpa air dan pupuk. Sebagai sosok independen, itu bukanlah kebanggaan. Karena ia sudah terbiasa. Hanya saja, ketika ia diberi setetes air dan segenggam kompos, itu akan menimbulkan rasa candu yang luar biasa bagi dirinya. Karena ia sudah lupa, bagaimana rasanya bernostalgia dengan "sesuatu" yang pernah hilang, dan kini ia rasakan kembali.

Dasar aku. Aku termakan oleh keyakinanku sendiri. 

Permasalahannya disini,
bagaimana ketika tumbuhan tersebut tak lagi diberikan setetes air dan segenggam kompos tiap harinya, minggunya, atau tahunnya? 

Tumbuhan yang selalu beridiri dengan independen, dengan mudahnya bergeser menjadi dependen. Ketergantungan. Ketika hal itu terjadi, bagaimana kita bisa menyelamatkan sang tumbuhan tersebut?

Tentu butuh waktu yang lama untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Kembali pun, tidak akan sama seperti sebelumnya. Dan sepanjang waktu, tumbuhan tersebut, akan tersiksa oleh hama yang bisa disebut candu. Sungguh begitu lama dan ada kemungkinan hama tersebut tak akan pernah hilang. Candunya beralih dari kenikmatan setetes air dan segenggam kompos, menjadi borok yang selalu menggerogotinya setiap hari.

Tak lagi ia percaya dengan semuanya. 

***

Bangunan tinggi disana-sini.
Orang-orang berlomba menciptakan hiruk pikuk. 
Musik berdentang begitu lantang menusuk gendang. 
Yang tua bercerita tentang kehidupan. 
Yang muda selalu omong kosong tentang keberanian. 
Agama berusaha menjadi pemersatu semua anomali. 
Para pemimpin hanya bisa memberi ilusi. 
Pendosa semakin berjaya. 
Ketulusan hanyalah fana. 
Dan semua yang aku lihat hanyalah fatamorgana.
Akulah sepi diantara ramai.

***

Karena semuanya percuma, kunang-kunang tidak akan bisa terbang menyentuh bulan, dan cahayanya tak akan pernah bisa lebih terang dibandingkan bintang-bintang di sekitarnya.

Biarkan kunang-kunang ini tenggelam dalam harapannya. Hingga suatu saat, ada yang menyadari usahanya dari kejauhan. Harapan akan selalu menghasilkan harapan yang lainnya. Dasar aku.

0 comments:

Post a Comment

 
;