Sudah tidak kuat lagi rasanya aku menahan untuk menceritakan semua ini. Perasaan sudah geram sekali untuk mengungkapkan. Awalnya aku ingin membiarkannya berlalu begitu saja, tapi ada saja yang suka melempar garam di area luka. Hidup juga begitu, kadang hobi sekali untuk bercanda. Dia tidak tahu bahwa sense humornya parah sekali, sampai-sampai bikin muak saja.
Di saat-saat seperti ini aku selalu teringat kata-kata mantan pacarku, kalau dipikir dan setelah mengalaminya, apa yang dia katakan ada benarnya juga. Dulu aku sering sekali berdebat dengannya gara-gara pendapatnya tentang ini, aku rasa apa yang dia pikirkan ini adalah sebuah pernyataan konyol. Tapi sekarang malah aku yang merasa bodoh karena tidak menyadarinya jauh lebih cepat. Dan sekarang aku mesti repot-repot menuai apa yang aku tanam.
Seperti yang selalu aku katakan dari dulu, kepergian adalah sesuatu yang pasti. Kita tidak tahu kapan, namun cepat atau lambat pasti akan tiba waktunya. Seberapa besar langkah yang sudah kita persiapkan untuk menghindarinya, tidak akan berpengaruh sama sekali. Tidak ada gunanya menentang hukum alam. Yang ada hanyalah membiarkan ekspetasi kita melayang-layang tak tergenggam.
Aku sudah melihat banyak sekali orang datang dan pergi di hidupku. Mereka semua datang dengan cara yang berbeda-beda, tak sedikit juga ada yang datang dengan cara-cara yang unik. Ada yang mengetuk, dan ada juga yang langsung main nyelonong saja. Setiap kali ada yang datang di kehidupanku, aku selalu berpikir, "apakah orang ini akan bertahan lama diam di kehidupanku?" atau, "apa kehadirannya akan berpengaruh dalam hidupku?". Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggeliat di pikiranku sepersekian detik sebelum aku hendak menjulurkan tanganku demi sebuah tanda perkenalan.
Dari setiap orang-orang yang pergi, semuanya selalu meninggalkan tanda tanya besar. Sekuat apapun aku mencari jawabannya, yang kudapatkan hanyalah tangan kosong. Percuma mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas-jelas menjadi kodrat alam. Kepergian orang-orang sudah cukup banyak meninggalkan tanda tanya, tak perlu lagi kau melemparkan sejuta tanda tanyamu juga kepadanya hanya demi sebuah jawaban, karena semuanya bakal sia-sia.
Itu yang aku pelajari dalam hidupku.
Di mana-mana orang yang bertamu harus selalu berpamitan kepada tuan rumah ketika ingin pergi. Kita selalu diajarkan untuk seperti itu bukan?
Tapi ketika orang-orang yang selalu masuk di rumahmu selalu datang dan pulang tanpa berpamitan, lama kelamaan bukannya kalian akan berpikir bahwa mungkin ajaran sudah mulai berganti? Atau mungkin begitulah cara bertamu yang sesungguhnya, pergi tanpa berpamitan.
Seperti sebuah kepercayaan yang sudah mengakar di dalam diri, apa yang aku percayai belum tentu kalian percaya. Sulit untuk mengindahkan pendapat orang di zaman sekarang, walau begitu aku sambut perbedaan dengan teramat senang. Tapi ntah kenapa orang-orang sebegitu sulitnya memahami itu semua.
Apa salah ketika aku melakukan apa yang sudah menjadi kepercayaanku? Aku sangat menghargai sekali orang-orang yang tidak menyinggung atau mengolok keputusan orang lain dan menerima segalanya dengan rasa penuh pengertian.
Bagi segelintir orang yang terlanjur nyaman, pergi bukanlah sesuatu yang mudah asal kalian tahu. Mungkin kalian bisa melihat dari luar bahwa orang itu baik-baik saja, jadi kalian bisa dengan sesuka hatinya menggoda orang tersebut atau bahkan mencaci maki keputusannya. Ingatlah, yang kalian lihat hanyalah bungkusnya saja.
Uhhh sial, tak bisakah aku pergi meninggalkan ini semua dengan sedikit ketentraman dalam hati? Melangkah pergi saja sudah menjadi hal yang sangat sulit. Ditambah lagi fakta bahwa aku harus meninggalkan orang-orang yang sudah membantu membentukku menjadi manusia macam sekarang ini, membuat perasaanku menjadi lebih tak karu-karuan.
Jika diilustrasikan, mungkin perasaanku akan berbentuk seperti nasi omelet yang sedang kawin dengan kaktus sambil jongkok, nggak jelas.
Kata seseorang, aku lebih suka pergi meninggalkan benci. Aku tak membantahnya. Karena aku memang lebih benci dengan diriku sendiri yang harus terpaksa pergi. Bukan hanya itu, dari awal memang aku benci diriku sendiri. Benci karena tak bisa berbuat apa-apa, benci karena hanya bisa membuat orang sekitarku merasa sedih, benci karena selalu tidak bisa diandalkan, benci karena tidak berguna, benci karena aku sangat menjijikan, benci dengan nasibku sendiri, dan kalau dilanjutkan lagi mungkin aku bakal bunuh diri karena saking bencinnya aku dengan diriku sendiri.
Kalian semua boleh membenciku, jika perlu kalian boleh sediakan mahkota duri lalu pakaikan itu di kepalaku. Kalian boleh menganggap semua yang aku katakan dusta. Kalian boleh menghapus namaku di daftar hadir hidup kalian. Kalian bahkan sangat diperbolehkan meminta dunia untuk tidak lagi mempercayaiku. Pokoknya terserah kalian saja deh.
Aku tidak marah apalagi sampai dendam pada kalian semua. Siapapun boleh membenciku, tapi aku tak ada sedikit niatan untuk menjadikan kalian musuh, dan tak ingin juga menjadikan aku sebagai musuh kalian. Itu pilihan kalian sendiri mau menganggapku bagaimana setelah ini, aku tidak ingin ikut campur lebih jauh.
Aku menulis ini tak lebih hanya untuk melampiaskan hasrat pribadiku yang tak tersalurkan. Sungguh tidak ada keinginan untuk berkonfrontasi. Aku hanya ingin menuliskan apa yang sedang aku pikirkan. Karena cuma di sinilah satu-satunya tempatku berkata bebas. Satu-satunya tempat yang dengan senang hati menyambut kegelisahanku dan selalu mendengarkan apapun yang aku ceritakan.
Walau bagaimanapun, kita semua sudah berbagi yang namanya kenangan. Nama boleh terlupa, tapi kenangan tidak. Karena sesungguhnya aku tidak ingin semuanya berakhir begitu saja, dan semoga kehidupan berbaik hati untuk tetap membiarkan otakku terus mengingat kalian semua sampai aku tutup usia nanti.


0 comments:
Post a Comment